
"Kau beli itu untuk siapa?" Tanya Alfian kepada Fajar.
Fajar yang sedang mencari-cari aksesoris rambut dari toko perhiasan yang ada di mall, hanya menjawab seadanya : "Seseorang,"
"Iya tapi siapa? Kau tidak seperti biasanya saja, tiba-tiba membeli perhiasan untuk seseorang? Berarti itu ada hubungannya dengan seorang perempuan, hah~ Jangan-jangan kau sudah ketemu dengan perempuan idamanmu ya?" terka Alfian sambil mengangkat sebuah jepit rambut bentuk kupu-kupu.
Memang, itu terlihat cukup biasa, tapi sayangnya di bagian kupu-kupu itu sendiri sebenarnya di hiasi dengan beberapa berlian, jadi walaupun terkesan sederhana, tapi sebenarnya harganya cukup menguras kantong uang saku bulanannya Fian sendiri.
Fajar yang hanya mengulas senyuman simpul itu pun membuat Alfian mampu menebak, kalau Fajar memang sedang di bumbui dengan bunga kasmaran.
"Tapi siapa? Kau bisa tidak, jangan membuatku penasaran?" ucap Alfian sambil menyikut lengan Fajar.
"Fian, bagaimana?" sampai suara Yuli yang datang dari belakang, menuntun Alfian untuk menoleh ke belakang, dan melihat Yuli yang sedang memakai perhaiasan.
Ya, memang benar, "'Yuli, apa maksudmu memakai perhiasan di pahamu? Kau sedang pamer?" lirik Alfian, dia melihat adanya perhiasan khusus seperti kalung, tapi sebenarnya itu di gunakan untuk bagian paha seorang perempuan, dan jika di padukan dengan gaun malam panjang berwarna dalam segala warna, tapi punya belahan kaki yang cukup panjang sampai paha, maka itulah perhiasan sebenarnya untuk mempercanitk keindahan dari tubuh pengguna.
Mendengar Alfian nampak tidak suka dengan niatnya yang sebenarnya ingin memamerkan keindahan kakinya dengan perhiasan tersebut, Yuli pun langsung membuang perhiasan itu ke wajah Alfian secara langsung.
"Ahhw..., Yuli, kau ini kenapa?" tanya Alfian, tidak peka.
"Tuh, aku tidak jadi beli," rutuk Yuli. 'Tidak peka sekali anak ini, percuma saja aku mengajaknya pergi ke toko perhiasan seperti ini.' gerutu Yuli, tidak puas hati dengan sikap Alfian kepadanya.
Fajar yang melihat sikap Yuli yang sedemikan marah kepada Alfian, segera membisikkan sesuatu kepadanya.
"Kau itu seharusnya tidak bersikap seperti itu, dia sedang memberimu kode. Buat dia senang, anggap saja barang yan kau ambil itu tidak cocok untuknya dan ganti dengan yang lain," bisik Fajar.
__ADS_1
Fajar yang lebih paham masalah soal percintaannya Alfian bersama dengan Yuli, langsung memberikan kode pada pegawai toko untuk mengambilkan satu kalung berwarna silver.
"Ini tuan," kata pegawai tersebut kepada Fajar.
Fajar pun menerima kalung itu, dan segera memberikannya kepada Fajar. "Rayu dia dengan ini, dia akan suka."
"Kau licik juga, kenapa kau bisa tahu kalau Yuli akan suka dengan ini?" tanya Afian dengan berbisik kepada Fajar.
"Jika kau memang memperhatikannya, kau akan tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. Kau hanya kurang rajin dalam masalah itu, cepat sana," ucap Fajar sekali lagi, dan menyikut lengan Alfian untuk segera pergi dari sana.
"Iya, iya." jawab Alfian dengan terpaksa, lalu dia pun melirik ke arah Yuli yang sedang berhadapan dengan kotak box yang berisi satu set perhiasan yang cukup mewah.
"Dasar, anak itu, masih saja tidak pek-"
"Yuli," panggil Alfian.
"Maaf, aku tadi mengatakan itu karena hanya kurang suka saja jika kau bel-"
"Kyaa~ A-alfian!" jerit Yuli, membuat suasana di toko itu sempat hening sesaat karena suara Yuli yang cukup nyaring itu.
"A-apa? Jangan mengguncang-guncang tubuhku kenapa?" Alfian yang kena imbas dari tenaga Yuli yang cukup besar, membuat Alfian di buat pusing karena tubuhnya di guncang-guncang dengan satu tangannya Yuli, sedangkan tangan Yuli yang lain sedang menscroll layar handphone nya.
"T-tuh kan! Lihat ini, buka matamu lebarlebar Fian, si anak emosian itu ternyata memang benar-benar ada di sini." dengan gembira, Yuli pun memperlihatkan layar handphone nya tepat di depan wajah Alfian, sampai Alfian sendiri refleks langsung menutup matanya, karena pencahayaan layarnya itu cukuplah tinggi.
"Kita kan sudah membahas waktu itu, jangan memikirkan dia lagi, kau kan sudah janji." tegur Alfian agar Yuli tidak lagi kerkesima lagi dengan Arvin, karena janjinya hanya berakhir di malam konser itu saja.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi aku kan hanya terkejut saja, lihat ini, ternyata anak itu kencan dengan dokter ini!" Yuli dengan sangat antusias malah langsung menempelkan layar handphone nya ke wajah Alfian.
Alfian yang tidak sabaran lagi karena tingkah Yuli, langsung merebut handphone itu dan melihat sepenggal berita yang heboh.
"Memangnya dia kencan dengan siapa lagi? Anak ketua jagung itu, apa masih belum kenyang juga sudah punya banyak biji jagung di sekitarnya?" ledek Alfian, menyindir Arvin yang pada dasarnya memang sudah sering gonta ganti perempuan untuk di ajak kencan, makannya Alfian pun tidak kaget, tapi apa yang membuat Yuli kaget ini adalah karena hal lain, yaitu perempuan yang di kencani oleh Arvin bukanlah sekedar perempuan yang biasanya di ambil dari bar, atau sekolah-sekolah tetangga, tapi dari angkatan mereka beberapa tahun lalu. "Vani-"
Fajar yang mendengar nama itu dengan cukup jelas, langsung menoleh ke arah belakang dan sama-sama menyebut nama Vani dalam hatinya. 'Dia kencan dengan mantan pacarnya sendiri? Apa dia akhirnya balikan dengannya?' pikirnya,
"Tuan, apa anda sudah memutuskan pilihan anda?"
Diberikan pertanyaan seperti itu, Fajar langsung menunjuk pada satu jepit rambut bentuk kupu-kupu berwarna silver, sebagai hadiah untuk Ashera.
"Apa mau di bungkus sekalian?" tanyanya lagi, seraya meletakkan beberapa perhiasan yang sempat di ambil tapi tidak menjadi salah satu pilihannya Fajar.
"Ya, bungkus saja," jawabnya, lalu memberikan kartu kredit miliknya kepada pegawai tersebut untuk pembayaran. 'Semoga dia suka. Semoga saja dia tidak sadar kalau ini bukan barang mahal. Karena jika dia tahu, pasti akan di tolak.' batin Fajar, tidak memperdulikan Fian dan Yuli yang akhirnya kembali akur karena membahas Arvin sebagai topik pembicaraan mereka berdua.
Tidak lama setelah itu, hadiah yang Fajar persiapkan untuk Ashera pun sudah jadi, dan hanya tinggal memberikannya saja.
"Ini kan Kak Vani? Apa artinya konser yang di adakan kemarin itu, penampilannya Arvin saat itu bertujuan untuk Kak Vani?" tanya Alfian kepada Yuli.
"Mungkin saja. Tapi aku tidak menyangka, kalau Arvin ternyata mantan pacarnya kak Vani ini? Dia itu cantik, sudah begitu semuda itu sudah jadi dokter dan membuka klinik sendiri. Apa artinya ini tanda-tanda kalau cinta mereka berdua bersemi lagi?" terka Yuli atas persepsinya sendiri.
"Kalian berdua, jika tidak jadi beli dan hanya ingin bergosip, lebih baik keluar dari sini," interupsi Fajar, dia langsung memberikan peringatan kepada kedua temannya itu.
Dan selagi berbicara memperingatkan mereka berdua, Fajar pun sempat melirik ke arah medsos yang di gunakan oleh Yuli yang memperlihatkan beberapa foto yang mana dua orang yang Fajar kenal, benar-benar menjadi bahan berita utama di sana.
__ADS_1
'Mau seberapa tercemar lagi namamu itu? Arvin? Apa kau benar-benar akan kembali dengan Kak Vani? Lebih baik aku akan tanya padanya langsung, dari pada aku penasaran dan hanya mendengar kabar burung seperti ini terus.' pikir Fajar, menarik kembali kepalanya dari posisinya yang tadi berada di antara kepalanya Yuli dan Alfian.