
KLEK....
Begitu Arvin membuka pintu untuk Ashera yang belum bisa masuk sesuka hatinya karena belum Arvin beri nomor sandi pintunya, hanya bisa menatap koridor apartemen yang sudah kosong.
"Apa yang dia lakukan dengan Daseon?" Gumam Arvin, merasa penasaran, karena Daseon selalu melakukan hal yang terlihat mencurigakan.
______________
"Ini punya siapa?" Di rumah apartemen Daseon, Ashera tiba-tiba saja di suguhkan teh mawar, lalu setelah itu Daseon memberikan paper bag kepada Ashera.
Isinya apa, Ashera belum tahu. Maka dari itu, saat di keluarkan, Ashera mendapatkan sebuah jaket yang cukup mirip dengan jaket yang Ahsera miliki, tapi sudah kotor, karena punya noda yang tidak bisa di hilangkan.
"Itu punya anda." Jawab Daseon dengan senyuman lemah.
Dia hanya merasa bersimpati kepada Ashera, karena barang berharga yang begitu disayangi Ashera layaknya nyawanya sendiri, harus bernasib sial.
Apalagi dengan hubungan dari gadis ini bersama dengan Tuan muda nya, benar-benar cukup buruk.
Daseon memang menyuruh untuk membuat surat kontrak dan memperlakukan gadis ini layaknya pembantu, seperti biasanya, tetapi di luar pikirannya, ternyata Tuan muda nya benar-benar memperlakukannya dengan cukup buruk.
'Tapi karena Ashera itu jelas terlihat seperti Ayah nya, aku pikir dia akan melebihi dari apa yang aku ekspektasikan. Sebaiknya aku biarkan saja dulu, jika nanti ada keributan lagi sampai membuat Ashera berada di titik terendah nya, aku baru bisa mengulurkan tanganku.' selesai berpikir, Daseon meletakkan cangkir teh nya ke atas lemek, lalu memberikan paper bag lebih kecil, bahkan ukurannya sebesar telapak tangannya Daseon.
"Tapi ini, terlihat seperti jaket milik Ayah saya yang sebelumnya-" Ashera langsung menutup mulutnya. Kenangan buruk yang terjadi pagi kemarin, membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
"Benar, sebelumnya jaket anda kan bernoda, saya yang mengambilnya untuk membersihkan noda itu. Bagaimana, apa anda puas?" Tanya Daseon dengan senyumannya.
Karena saking terkejutnya, Ashera yang sempat tidak bisa berpikir apapun untuk berbicara sejenak memberikan jawaban, di gantikan dengan anggukan cepat.
Daseon pun jadi lega, melihat senyuman itu ternyata benar-benar mengingatnya terhadap kenangan masa lalu Daseon saat dirinya kecil dulu, dan sempat di rawat oleh mendiang Ayah nya Ashera. Senyuman yang sama dengan wajah yang sama persis, siapapun akan mengira dengan jelas, bahwa Ashera sudah seperti salinan dari Ayah nya sendiri.
"Tapi kenapa anda mau melakukannya untuk saya? Lalu obat apa ini?" Tanya Ashera.
__ADS_1
"Saya melakukannya karena saya pikir anda memang layak untuk saya bantu. Anggap saja sebagai balasan karena anda akan menggantikan posisi saya." Jawab Daseon sekali lagi, tanpa kehilangan senyumannya.
"Posisi?"
"Anda-" Daseon menunjuk wajah Ashera dengan jari telunjuknya, lalu berkata lagi : "Iya. Sebagai pelayan pribadinya, saya akan di gantikan oleh anda yang secara harfiah peran anda akan melayani Tuan muda, ya kan?"
"I-itu benar." Ashera langsung kebingungan. Kata 'Melayani' dalam kutip menjadi pelayan ketimbang Istri, adalah maksud dari ucapan Daseon sendiri.
Sehingga Ashera pun tidak bisa menyangkal apapun yang di katakan oleh laki-laki ini.
"Lalu itu obat untuk pipi anda. Habis di tampar, kan? Jika anda mengoleskannya sebanyak tiga kali selama satu hari, bengkak anda akan hilang.
"Terima kasih." Kata Ashera dengan malu-malu.
Sejujurnya Ashera sedikit sedih, karena ia tahu makna dari apa yang di katakan oleh Daseon kepadanya.
Tapi jika mengetepikan hal tersebut, dan menganggap kalau dia tidak mendengar apapun, sebenarnya Ashera merasa bahagia.
Karena Daseon sendiri adalah pria yang Ashera sukai. Maka dari itu, di saat Daseon tiba-tiba mengajaknya minum teh bersama, Ashera pun merasa bahagia, ketika di samping semua itu, dirinya baru saja mendapatkan skors selama satu minggu, karena kejadian hari ini.
"Apa- saya boleh membalas kebaikan anda?" Tanya Ashera, lagi-lagi ia jadi tidak bisa menatap wajah Daseon lebih lama lagi, karena jika seperti itu, jantungnya yang sudah berdegup kencang, serasa akan lebih kencang lagi, sampai ia berpikir kalau hal tersebut akan memicu penyakit jantung.
"Sebaiknya tidak perlu, saya tidak ingin menimbulkan keributan diantara anda dengan Tuan muda." Kata Daseon memberitahu.
"Tapi- Lagian si Tuan muda itu, benar-benar membenci saya, jadi dalam pernikahan pun, kami berdua sama sekali tidak begitu peduli."
"Tapi bukankah anda sendiri yang mengatakan ingin pertanggung jawaban dari Tuan untuk menikahi anda? Saya pikir andalah yang menginginkan pernikahan ini."
DEG....
Satu sambaran petir tanpa kilatan juga tanpa adanya dentuman selain sentakan di jantungnya, membuat Ashera seperti baru saja mendapatkan sebuah tuduhan bahwa , "Apa anda baru saja berpikir kalau saya dengan sengaja menyerahkan diri saya kepada Tuan muda bren*sek itu untuk sekedar merubah kehidupan saya yang seorang pelayan untuk menjadi Nona terhormat?" Tanya Ashera.
__ADS_1
Lagi-lagi sebuah tuduhan terus beranggapan kalau dirinya melakukan hal licik. Jika tadi pagi sempat mendapatkan tuduhan dari teman sekelasnya sendiri sebagai pecuri, maka sekarang ia pun baru saja di tuduh kalau dia baru saja mencoba untu menaikkan statusnya dari pelayan jadi majikan dengan cara yang paling haram.
Rasa sakit hati yang berjalan menyusuri hatinya pun datang juga. Tapi berbeda ketika di tuduh pencuri di sekolahnya, sekarang, orang yang baru saja membuat tuduhan atas pemikirannya sendiri, justru adalah Daseon, laki-laki yang sebenarnya sudah Ashera sukai sejak dari kecil.
Maka dari itu, ketika mendapatkan tuduhan demikian dari mulutnya Daseon, ekspresi wajah Ashera yang tadinya sudah begitu senang, langsung menjadi diam seratus delapan puluh derajat.
Dan karena malu mengungkapkan perasaannya itu kepada orang yang ia sukai di depannya langsung, Ashera pun tidak begitu menantikan jawaban dari Daseon sendiri.
'Aku pikir dia akan tahu seperti apa perasaanku seperti apa saat dia tahu aku adalah korban dari situasiku. Ternyata aku terlalu berharap besar kepadanya.
Yah, mungkin saja dia juga sudah punya pacar. Jadi hentikan perasaan yang sudah bertepuk sebelah tangan ini, karena aku juga sudah menikah dengan anak dari majikanku sendiri, setidaknya aku harus menjaga posisiku sebagai orang yang akan melayani anak sekaligus cucu dari majikanku untuk satu tahun ke depan.' Pikir Ashera. Demi menjaga posisinya yang sekarang sudah menjadi Istri orang lain, ia pun akan menutup hatinya untuk tidak menyukai Daseon lagi.
Walaupun ia tahu kalau prosesnya akan sulit juga lama, tapi apa pedulinya itu?
'Aku tidak peduli lagi. Lagi pula, jika aku fokus pada satu orang saja, aku pasti akan bisa melupakan perasaanku. Ya kan? Aku bisa kan?' Namun, semakin mencoba meneguhkan hatinya, ia jadi merasa sakit hati sendiri.
Perjalanan hidupnya sudah kacau dari awal, tepatnya dari hari jum'at kemarin, ketika kesuciannya di renggut, dan masa single nya pun ia serahkan juga untuk pernikahan yang sebenarnya tidak ia inginkan, namun demi mendapatkan pertanggung jawaban dari Arvin, ia pun menutut hal tersebut, meskipun di samping itu, dirinya menyukai pria lain.
'Hah~ Kenapa aku jadi serakus ini ya? Jika Daseon tahu kalau aku menyukainya, aku pasti akan di tertawakan, seperti dia yang selalu saja tersenyum tanpa sebab, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.
Aku jadi benci ini, aku tidak suka dengan posisiku sendiri, karena aku harus menanggung dua beban hati sendirian.
Posisiku sekarang adalah Istrinya Arvin, tapi di satu sisi lagi, hatiku justru hanya untuk Daseon.
Kenapa aku jadi seperti wanita ja*ang seperti yang Arvin ucapkan kepadaku?' Dengan menahan pedih di dalam dada, dan air mata yang kian terbendung di pelupuk matanya, Ashera pun segera beranjak dari kursinya, mengambil kedua barang itu dan berkata : "Terima kasih, saya akan membalas kebaikan anda."
KLEK.
Pintu dari apartemen nya Daseon pun langsung tertutup begitu saja, meninggalkan Daseon sendirian, yang tiba-tiba saja merasa bersalah sendiri.
Niatnya hanya bercanda, karena ingin tahu bagaimana rekasi dan tanggapannya, dan tujuannya sendiri juga untuk melatih Ashera agar mental nya lebih kuat, tapi sayang sekali, Daseon tidak pernah berpikir saat melihat wajah Ashera yang begitu sedih, dengan wajah yang mirip persis dengan Ayahnya Ashera, ia melihat wajah itu benar-benar hampir menangis.
__ADS_1
".........?!" Daseon bingung, Terima kasih karena sudah membantu membersihkan noda pada jaket saya, juga salepnya. Nanti saya akan