Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
105 : Operasi


__ADS_3

"Uang itu?!" terkejut melihat uang yang begitu banyak hanya di berikan begitu saja dengan syarat untuk mempermalukan gadis yang ada di dalam gudang itu saja.


"Benar, banyak kan? Bahkan bisa kau gunakan untuk kipas-kipas," ucapnya dengan bangga, bahwa uang lima juta adalah sejumlah uang yang cukup banyak.


"Jika kau mau ikut melakukannya dengan kami, ini akan kami bagi tiga, tapi jika tidak mau, kau hanya perlu berjaga di sini, tapi uang yang kau dapatkan hanya seratus ribu saja," tawar remaja ini kepada temannya.


Sungguh, demi uang mereka bisa melakukan apapun, sekalipun itu akan menghancurkan masa depan milik Ashera, itulah yang di pikirkan oleh anak yang sedang ditawari kerja sama ini.


"T-tidak ah, kalian berdua saja, aku akan berjaga disini," keputusannya pun hanya bisa seperti itu, karena ia tidak mau berurusan dengan h al yang lebih besar dan terdengar vulgar itu.


"Yah, cemen sekali kau ini. Berarti kau yang bertugas untuk berjaga, ya~" ucapnya.


Anak ini pun menganggukkan tanda setuju.


KLEK...


Tidak lama setelah itu, Dini pun keluar, dan memberikan kode kepada mereka untuk segera masuk.


"Lihat, dia yang menggaji kami, pekerjaannya sederhana juga," senyum remaja ini kepada teman yang memilih untuk menjadi penjaga itu.


"Masuk sana, sudah aku pastikan dia sudah pingsan di tempat, dan obat bius yang ada di dalam juga sudah tidak ada lagi, jadi kalian bisa berakting sebagus mungkin." ucap Dini kepada mereka berdua.


"Ok," jawab mereka berdua secara serentak, sebelum akhirnya dia pun pergi dari sana untuk memulai pekerjaan mereka berdua.


Sedangkan Dini, dia yang melihat satu anak laki-laki itu tidak pergi dan hanya duduk saja, akhirnya membuat Dini bertanya. "Kenapa kau tida kikut?"

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin. Apa kau juga akan membayarku sebanyak kau membayar mereka jika aku melakukannya?" tanya anak laki-laki ini kepada Dini.


Dini pun membuka maskernya dan menjawab : "Aku bisa membayarmu lebih, tapi sesuai dengan bayarannya, kalau bisa lakukan dengan sungguh-sungguh, apa kau berani?" tanya Dini dengan senyuman liciknya.


_________


"Arvin, hah..hah..., kau kenapa semalam tidak datang?" tanya Alvian dengan nafas memburu, sebab Alvian hampir saja telat masuk sekolah, makannya, saat bertemu dengan Arvin, dia pun segera menghampirinya sekaligus menyusulnya.


Sedangkan Arvin yang hendak melangkahi tempat duduk yang di gunakan sebagai pembatas teras kelas, langsung Arvin urungkan niat itu karena sebuah tepukan keras di bahunya.


"Oh itu, aku baru saja ingat, kalau anak itu saja tidak berkata untuk mengharapkanku datang, jadi aku jelas tidak datang, kenapa?" tanya Arvin, dia pun akhirnya melompati pagar tempat duduk itu dengan begitu mudah, setelah itu pergi ke area lapangan, sebab sebentar lagi akan ada apel pagi, jadi dia juga harus segera bersiap untuk memanggil teman-temannya untuk berkumpul sebentar.


Alvian yang ingin sekali berbagi cerita, langsung mengekori Arvin pergi dan berkata : "Apa kau tahu?"


"Aku tidak tahu," ketus Arvin tanpa sungkan sama sekali.


"Hahah, lagian cara bicaramu lambat," ejek Arvin, lalu dengan langkahnya yang cepat dan lebar, begitu dia memasuki lapangan, Arvin langsung mengangkat tangannya dan menunjuk satu per satu geng nya. "Kau, jangan makan terus, ikut aku," memberikan sebuah kode dengan satu gerakan singkat kepala Arvin yang mengarah ke lapangan kepada salah satu anak buahnya yang sedang makan roti di bawah pohon kelapa.


"Iya, kak!" anak laki-laki ini pun segera bangkit dan membuang bungkus roti lalu begitu sudah sekalian minum, dia segera pergi mengekori Arvin dan Alvian dari belakang.


"Dini, dia ketahuan memalsukan undangan, bahkan sampai di permalukan satu angkatan kita, rasanya puas sekali," ucap Alivian di sela-sela Arvin sedang memberikan perintah kepada rekan nya tadi.


Arvin yang baru saja di ceritakan cerita singkat oleh Alvian, justru meresponnya dengan senyuman tipisnya, "Kau telat vian, aku yang lebih dulu tahu, soal Dini itu," ucapnya.


Setelah berkata dengan Vian sebentar, Arvin yang kebetulan lagi berpapasan dengan teman dari kelas C, yang baru saja membeli pulpen dan pensil dari koperasi, dia langsung menarik kerah baju dari anak tersebut.

__ADS_1


"Apa kau tidak membuka handphonemu?" tanya Arvin.


"Handphoneku ketinggalan di kelas, memangnya ada apa?" tanya laki-laki ini sambil berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan Arvin yang mencengkram kerah baju seragamnya dari belakang.


"Akan ada apel pagi untuk semua orang, bahkan termasuk guru, tapi aku punya acara sendiri dengan kalian selagi mereka apel, jadi kau ikut aku," sahut Arvin dengan raut muka miliknya yang datar.


"I-iya, tapi setidaknya lepaskan dulu cengkramanmu ini, kalau seragamku robek bagaimana?" pintanya.


"Kau kan hanya tinggal membelinya saja, apa repotnya sih," jawab Arvin, dia pun pada akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dari temannya tersebut.


"Apa kau tidak bisa bersikap lebih baikan sedikit?" tegur Alvian, tidak tega melihat teman-temannya itu malah diperlakukan benar-benar seperti anak buah sendiri tanpa memikirkan perasaan mereka.


Di ceramahi oleh Alvian, Arvin langsung menoleh ke samping kirinya, menatap Alvian dengan tatapan remeh, "Kalau begitu, kau yang pimpin pertemuan anggotaku, kau mau?" seringai Arvin.


Alvian tentu saja langsung menolak, karena ia sadar kalau dirinya sama sekali tidak memiliki bakat dalam memimpin. "Tapi setidaknya bicara baik-baik dengan mereka, kan?"


"Alvian, kalau kau merasa aku kurang kompeten menjadi pemimpin, dan terlihat seperti orang yang suka naik darah, mending kau yang gantikan aku, mau tidak?!" tegas Arvin.


Karena suaranya Arvin yang begitu tegas serta bicara dengan nada yang sedikit keras, nyali Alvian pun jadi menciut.


Padahal dari segi umur, serta ulang tahu, hanya beda hari saja, tapi perangai dari Arvin justru selain kasar, tegas, juga cukup pintar untuk memerintah orang lain tanpa pikir panjang seperti itu.


Di tambah dengan aura milik dari laki-laki di sampingnya itu, jelas kalau Arvin ini memang punya segudang gen yang cukup membuat siapapun merasa kalau Arvin itu bukanlah anak sekolah biasa, tapi seorang pemimpin kelompok gangster yang sedang menyamar jadi anak sekolahan.


"Kalau tidak mau, makannya jangan banyak menyoal apa yang aku lakukan," pada akhirnya Alvian malah ditegur balik oleh Arvin.

__ADS_1


"Iya, iya. Kau ini cerewet juga, ya," Gerutu Alvian, akhirnya dia juga yang kena semprot oleh Arvin. "Tapi bagaimana kau bisa tahu soal cerita tentang Dini?"


"Alvian! Jika kau hanya ingin bergosip denganku, lebih baik kau ceritakan saja sekalian dengan semua orang sekarang juga!" pekik Arvin dengan keras, sampai mereka semua yang tidak sengaja mendengar teriakannya Arvin yang begitu menggelegar, segera memusatkan perhatian mereka kepada ke empat orang tersebut.


__ADS_2