Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
102 : Kecebong


__ADS_3

Di dalam salah satu ballroom, banyak dari mereka yang hadir untuk memeriahkan pesta nya Fajar.


Tapi, begitu Dini masuk melewati kedua pintu besar itu, seketika semuanya memandang ke arahnya.


"Itu Dini, kenapa bisa masuk ya?"


"Wah, bukannya Dini katanya tidak bisa datang karena menjaga Ibu nya yang sakit?"


"Apa yang kalian lihat-lihat? Dini datang ya karena ingin menghadiri undangan yang dia terima dari fa-" belum sempat membela Dini, Fajar tiba-tiba muncul.


"Setiap orang yang aku undang, aku berikan undangannya secara langsung, tapi salah satu dari kalian semua yang datang, aku itu sama sekali tidak pernah mengundang Dini ke pestaku." Sela Fajar.


'Kan? Padahal aku sudah memberikan nya peringatan, tapi dia sama sekali tidak mendengarkannya.'


"Fa-" Belum sempat Dini berbicara, Fajar mendeliknya dengan tajam.


"Kau menipu anak buahku kan? Bahkan kedua temanmu itu, mengatakan kalau undanganmu di palsukan, padahal kau memalsukan undanganmu sendiri agar bisa masuk."


"Dini? Apa itu benar?'


"Jadi kau benar-benar tidak dapat undangan? Dan karena demi bisa pergi ke pesta, kau bahkan membuat undangan palsu, serta membohongi kami kalau ada orang yang menukar undanganmu dengan yang palsu, padahal kau sendiri yang melakukannya?" tanyanya.


'K-kenapa jadi seperti ini?! Hanya masalah undangan, aku bahkan belum mulai apapun, tapi aku sudah di permalukan lebih dulu!' Teriak Dini dalam hati, sekarang dia pun akhirnya jadi pusat perhatian dari mereka semua yang hadir di pesta tersebut.


"Dini, kau lagi-lagi membuat ulah." Gumam Arliana kepada Doni yang ada di sampingnya persis. "Kau punya saudara yang bertolak belakang denganmu. Kira-kira Doni, apa yang akan kau lakukan pada saudara yang bisa membuatmu di permalukan juga seperti ini?" Tanya Arliana kepada Doni.


"Aku tidak akan melakukan apapun. Walaupun dia adikku, karena aku sudah pernah memperingatkannya sebelum ini, aku akan membiarkan saja dia di permalukan seperti itu." Ujar Doni, sama sekali tidak begitu mempermasalahkan apa yang terjadi kepada Dini, karena Doni sendiri sudah cukup lelah untuk mengurus adiknya itu.


"Ternyata kau sudah menipu kami."


"Ini juga bukan hal yang mengherankan juga sih. Dia kan selama ini memang selalu punya akal bulus untuk mengerjai Ashera."

__ADS_1


'Ashera lagi, Ashera lagi! Kenapa mereka terus saja membahas Ashera?!' ronta Dini dalam hati. Dia sungguh, merasa tidak puas hati karena keinginannya untuk pergi ke pesta saja, seketika langsung ketahuan.


"Tapi Dini, jika kau memang ingin melanjutkan berpesta di tempatku, silahkan saja. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan, hanya karena satu orang penyusup." Ucap Fajar.


"Berarti kalau dia masu di sini terus, dia benar-benar punya muka badak."


"Hahaha, muka badak, aku sama sekali tidak pernah berpikir kalau Dini benar-benar punya muka badak."


Setelah berbicara seperti itu, tawa yang cukup menggelikan itu langsung mengisi ruang Ballroom tersebut.


"Tch, sial." Decih Dini. Dia yang tidak tahan dengan semua gunjingan yang mengatai namanya terus menerus tanpa henti, akhirnya dia memilih untuk pergi dari sana, meninggalkan pesta yang akan menjadi tempat paling meriah karena berbagai acara yang akan di hadirkan, akan segera mengisi waktu dari malam mereka semua.


__________


Di sisi lain.


"Terus, lebih cepat lagi."


"Bicara kan memang enak, tinggal buka mulut, mangap saja bisa buat orang bicara juga." jawab Ashera.


"Apa kau bahkan tidak bisa menutup mulutmu?"


"Kau ingin aku menutup mulutku selamanya? Jika yang kau maksud agar aku bisa diam terus, buat saja aku mati." Tukas Ashera terhadap ucapan dari Arvin.


Begitu sudah mengatakan hal tersebut, mereka berdua akhirnya terdiam satu sama lain.


Dengan wajah dan tubuh yang sudah berkeringat melebihi keringat dari orang yang sedang kepanasan, Arvin pun terus menggerakkan tangannya, mencari beban tubuh untuk membuat ototnya terlihat begitu jelas di mata Ashera.


"Sejak kapan kau bisa membuat tubuhmu jadi seperti ini?" Tanya Ashera. Selagi makan kuaci yang kulitnya sudah di buka, sehingga hanya tinggal di makan saja, tangan kirinya itu menyentuh pinggangnya Arvin, dan terus merabanya sampai kebagian perut.


"Jika aku menjawabnya, memangnya apa gunanya untukmu?"

__ADS_1


"Gunanya, jelas aku jadi tahu sejak kapan kau membuat tubuh berotot seperti ini, ya kan?" Balas Ashera saat itu juga. "Nih, makan." Dengan sengaja, Ashera pun mengambil dua buah kuaci berukuran besar itu ke dalam mulutnya Arvin.


Tidak seperti anak muda pada umumnya yang akan melakukan ini dan itu mumpung berduaan, maka dua orang ini justru melakukan hal lain.


"Bilang saja...nyam...nyam, kalau kau ingin merabanya terus, nyam...semalaman. Di ajak, tapi tidak mau-"


"Ya tidak mau lah, kau mau cari untung terus dari perempuan sepertiku? Buang sampah di dalam, dan di tinggal seenaknya ka-"


"Kau...kalau bicara tidak di filter dulu, mau menggodaku? Mumpung aku lagi bersemangat juga, kalau mau, akan aku lakukan." Jawab Arvin, dia pun terus melakukan push up, dimana di atas tubuhnya itu, Ashera justru tiduran di dalam posisi tengkurap di atas punggungnya persis, sehingga tubuh mereka berdua pun sangat dekat, bahkan jadi saling menempel satu sama lain.


"Apa kau tidak mengerti bahasa manusia, aku tidak mau, yang waktu itu saja juga belum habis, kayanya~"


Mendengar Ashera bicara demikian, Arvin pun tiba-tiba saja menghentikan olahraga push up nya, dan bertanya : "Apa maksudmu dari belum habis?"


Ashera sempat menyelipkan tangan kanannya itu ke bawah perutnya sendiri dan menjawab : "Kecebongmu. Walaupun kau sudah memberikanku obat kontrasepsi, tetap saja ada kemungkinan kalau kecebong milikmu itu masih hidup di dalam. Apa yang akan kau lakukan jika itu terjadi?"


Arvin pun menoleh ke samping kanannya dan menjawab : "Berarti apa yang tidak di harapkan memang harus terjadi. Tapi jika pada akhirnya memang seperti itu, Nenekku pasti akan senang, kau hanya tinggal membesarkannya dan melahirkannya saja. Mudah kan?"


TPLAK..


"Argghh!" Arvin langsung mengaduh kesakitan dengan belakang kepalanya yang di tampar dengan keras oleh Ashera.


"Mudah apaan?! Itu sangat susah, Arvin. Kau sih mendingan, tinggal pergi sana sini, seperti orang tanpa beban hidup setelah meninggalkan makhluk di dalam perutku, tapi aku?" Ashera jadi terdiam, dia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena keburu di telan perasaan mendalam yang masih membekas.


Perasaan bagaimana, brutalnya pagi itu di makan hidup-hidup oleh Arvin Akhtair Bagaskara.


Itu cukuplah menyiksa, menjadi titik terendah dirinya sebagai seorang perempuan yang masih menempuh hidup di bangku sekolah.


Dan akibat dari itu semua, sekarang mereka berdua pun jadinya harus berada di posisi untuk terikat dengan ikatan pernikahan.


Arvin, pria yang terlihat seperti seorang ketua gangster ini, pria bebas yang punya kedudukannya sendiri untuk mendapatkan banyak perempuan sesuka hatinya, diam-diam memiliki seorang istri simpanan yang tidak di ketahui oleh banyak orang.

__ADS_1


__ADS_2