Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
142 : Awal dan akhir yang berbeda


__ADS_3

"Walaupun dia laki-laki yang menyebalkan dengan julukan ketua geng berandal, apalagi karena dia menyita lipstick dan parfumku yang mahal~ Tapi! Malam ini! Melihat dia begitu keren, tiba-tiba aku juga jadi jatuh cinta padanya." kata Yuli dengan terus terang, dia pun kembali berteriak kencang, saking girangnya, karena bisa menonton koser dengan teman yang dia kenal secara langsung seperti itu.


"Yuli, kau mau mengkhianatiku?!" protes Alfian, tidak suka dengan ucapan yang baru saja menyeret perhatiannya kepada Yuli serta semua perempuan di sekitarnya yang terlihat sangat terpikat dengan laki-laki di atas panggung sana.


"Cintaku padanya hanya untuk semalam saja, jadi jangan marah dong, ya? Hanya semalam saja~" Yuli yang bahkan sama sekali tidak kehilangan akalnya untuk membujuk Alfian untuk tidak marah kepadanya, begitu ia bicara demikian, Yuli langsung mencium bibirnya Alfian beberapa kali.


Alfian yang mematung itu, langsung di sambut dengan senyuman Yuli yang begitu cerah.


"Ok? Setelah ini berlalu, hatiku akan kembali terbuka untukmu," katanya lagi.


"O-ok, baiklah, sana jatuh cinta padanya selama semalam," akhirnya Alfian pun takluk juga dengan bujukan maut yang baru saja di berikan oleh Yuli kepadanya.


___________


Malam itu, benar-benar menjadi malam yang begitu istimewa?


Seorang pria yang banyak menganggapnya sebagai orang yang garang karena punya banyak aura negatif yang mengelilingi tubuhnya, meskipun sosoknya hanya sekedar berdiri saja, bagaimana jika sosoknya seketika berubah menjadi malapetaka untuknya dalam artian lain?


Ashera, yang tidak tahu kalau anak itu malah menggantikan Bob untuk menjadi seorang drummer dalam konser tour dari band AliA, membuat Ashera yang tadinya hanya di penuhi dengan ekspresi wajah kebingungan, seketika itu juga dia pun sadar, kalau dirinya sekarang berhasil di pengaruhi oleh gen paling berbahaya yang ada di alam semesta ini.


Ya, alasan kenapa siang tadi Arvin mengatakan kepadanya. Heh, jangan menyesal ya, awas tambah naksir.


Semua ucapan yang tadinya hanya ia dengar dengan perasaan malasnya, kini justru ia langsung terhanyut dengan penampilan dari Arvin yang hanya memakai celana jeans serta jaket jeans tanpa lengan, dan tanpa memakai pakaian berupa kaos atau apapun itu, hal itu pun membuat tubuh atletisnya benar-benar terekspose dengan damage yang begitu besar.


Apalagi karena di tambah tubuh Arvin yang benar-benar sudah mulai berkeringat cukup banyak, pesona itu pun benar-benar membuat Ashera akhirnya jadi merasa lelah sendiri.


"Apa dia tidak punya penampilan lain selain ini?" rutuk Ashera.


Melihat Arvin benar-benar bisa memukul drum dengan penuh tenaga seperti itu, Ashera pun di buat terpesona sendiri.


Inilah, yang di maksud oleh ucapan Arvin siang tadi, kalau penampilannya sebagai seorang drummer itu memang tidak main-main.


Perpaduan antara piano, gitar listrik, biola listrik, drum, dan juga vokalis yang bisa bernyanyi dengan begitu lantang serta semangat, Ashera benar-benar mengakui kalau konser malam ini benar-benar dipenuhi dengan semangat para penonton yang menontonnya.


'Kalau tangan itu digunakan untuk meninju orang, pasti orang itu sudah mati di tempat.' lirih Ashera dalam benak hatinya. 'Tapi kenapa aku tidak tahu kalau dia punya bakat untuk main drum ya? Yang aku lihat dia hanya suka marah-marah pada orang lain, menghina dan memprovokasi orang lain. Sejak kapan dia punya waktu untuk main drum, di saat dia lebih suka ke main dengan perempuan lain.'


Ashera yang hanya punya segelintir akses kebiasaan Arvin berkat Daseon, hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri tanpa bisa menemukan jawaban pastinya.


'Sudahlah Ashera, jangan pikirkan lagi bagaimana dia bisa main drum semahir itu.' dia yang lelah jika berdiri terus, akhirnya dia pun memilih duduk sambil menonton Arvin konser di balik samping panggung.


Benar, jika mengecualikan semua staf karyawan yang ada di sekitarnya, Ashera pun adalah satu-satunya orang yang bisa menonton secara langsung, dan bahkan dari jarak yang cukup dekat seperti itu.


'Dia memang pria yang berbahaya, bisa-bisanya, sekalinya aku nonton konser, justru yang aku tonton adalah anak itu terus. Arvin, mau sampai mana kau terus membuatku bimbang seperti ini?' ucap Ashera dalam hati.


Sebagai seorang perempuan dengan penglihatan normal, jelas ia sendiri cukup tersiksa juga jika yang harus dia hadapi adalah pria dengan tingkat egois, percaya diri, serta pesona yang cukup tinggi.


Apalagi karena Arvin sebenarnya adalah suaminya, dia pun benar-benar terikat dengan semua hal yang di lakukan oleh laki-laki yang ada di depan sana.


'Aku akui, kalau aku memang lemah dengan pesonanya. Tapi apa harus sampai seperti ini?' Ashera yang tidak mau matanya ternodai dengan penampilan Arvin yang mengekspos kan tubuh bagian atasnya seperti itu, dia pun memilih untuk memejamkan matanya, dan menikmati saja lagu yang sedang di bawakan oleh vokalis dari wanita jepang itu.


Sampai 1 jam kemudian---


"Bob? Apa yang terjadi padanya?" Arvin bertanya pada Bob yang sedang duduk sambil menemani Ashera yang sudah tertidur di atas kursi yang di jejer menjadi satu.

__ADS_1


"Kelihatannya dia kelelahan,"


"Haish, padahal aku rela capek agar dia bisa menontonku pertunjukkanku, sekarang dia malah tidur? Enak sekali dia," meskipun Arvin menggerutu dengan dada penuh rasa kesal, tetapi karena tidak tega saja melihat Ashera mau menunggunya sampai selesai, Arvin yang baru saja diberikan handuk oleh staf, untuk menyeka keringatnya yang benar-benar membanjiri tubuhnya, begitu tubuhnya sudah kering, Arvin pun langsung menggendong tubuh Ashera ala bridal. "Karena acaranya sudah selesai, aku mau pulang dulu,"


"Tidak mau istirahat dulu?" tanya Bob.


"Tidak, lebih baik aku langsung istirahat di rumah," ujar Arvin, dia pun pada akhirnya membawa Ashera pergi dari sana, karena tidak enak melihat Ashera sampai tiduran di kursi, hingga Bob yang memang terlihat tidak berani membangunkan Ashera yang sudah terlalu lelap tidur, memilih untuk duduk menemaninya.


"Arvin, tunggu," Bob yang baru saja sadar dengan tujuannya itu, langsung mencegat Arvin pergi.


"Ada apa?"


"Aku sudah menolak permintaan mereka yang ingin bertemu denganmu untuk mengucapkan terima kasih karena kau mau menggantikan posisiku, tapi mau bagaimanapun aku harus memberimu imbalan yang setara juga, katakan saja padaku jika kau butuh bantuanku,"


"Begitu ya, untuk sekarang bahkan aku belum punya pikiran untuk membuatmu membalas jasaku ini. Tapi jika memang butuh, aku akan menghubungimu," jawab Arvin, sambil memperbaiki posisi bawaannya itu, agar tidak membuat Ashera merasa kurang nyaman.


"Janji ya? Jika bukan karenamu menolak imbalan berupa uang, aku pasti tidak akan pernah memikirkan untuk menawari bantuanku, kalau begitu hati-hati di jalan, asistenku sudah membuat rute agar kau bisa keluar dengan aman tanpa ketahuan orang-orang,"


"Ok, makasih bantuannya, aku akan menggunakan asistenmu itu dengan baik," jawab Arvin, kembali memunggungi Bob, Arvin pun berjalan pergi dari sana.


Setelah kepergiannya Arvin, seorang laki-laki paruh baya yang merupakan produser dari acara itu, langsung menghampiri Bob.


"Bob, teman yang menggantiknmu itu kemana?"


"Dia sudah pergi,"


"Bob, kenapa kau malah membiarkan anak itu pergi?"


"Ya, mau bagaimana lagi, kekasihnya kan butuh perhatian untuk segera pulang, apa saya harus mencegatnya juga?" kata Bob dengan jujur tapi juga tidak sepenuhnya jujur.


Dia adalah penanggung jawab dari berjalanannya konser itu, jadi begitu tahu kalau Bob tidak bisa tampil, tapi konsernya masih bisa di selamatkan berkat Arvin, dia sebenarnya ingin berterima kasih serta memberikan tawaran kepadanya Arvin untuk tampil di beberapa konser lain.


Tapi karena sudah seperti ini, dia pun tidak bisa berbuat apapun, bahkan ketika dirinya mencoba untuk mengejar Arvin, dia malah diperlihatkan Arvin yang benar-benar menggendong seorang gadis di kedua tangannya.


Padahal tampil di konser selama 1 jam non stop, tapi laki-laki muda itu masih bisa mampu untuk menggendong seorang perempuan di kedua tangannya yang pasti sudah lelah.


"Ashera, kita pulang~" kata Arvin kepada Ashera yang sedang tertidur lelap di gendongannya. Tapi rupanya di balik Ashera yang sedang terlelap tidur itu, Arvin pun diam-diam memberikan senyuman lembut hingga memberikan kecupan di dahinya Ashera.


"Uhmm..." dehem Ashera tanpa sadar.


"Tuan, ini mantel anda," kata asisten milik Bob, menaruh mantel coat berwarna abu itu di kedua bahunya Arvin, sedangkan kaos miliknya di gunakan untuk menutupi tubuhnya Ashera. "Saya akan memandu anda untuk pergi ke mobil anda."


Tanpa sepatah kata, Arvin pun berjalan mengikuti Asistennya Bob ke sah satu parkiran mobil yang letaknya cukup terpisah dengan tempat parkiran dari para pemilik kendaraan para penonton.


"Apa anda yakin mau mencegat orang yang itu?" tanya Bob, berhasil mengejar laki-laki paruh baya ini, karena untungnya sang pak Produser ini tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, karena melihat kemesraan Arvin dalam memperlakukan Ashera di gendongannya itu.


"Tidak, tapi aku yakin suatu saat nanti, aku pasti akan bertemu dengannya lagi." jawab pak Produser ini.


Mendengar hal itu, Bob pun tersenyum ramah, karena mau mengerti situasinya Arvin.


_________


Padahal, di situasi Arvin sebenarnya.

__ADS_1


Setelah berhasil keluar dari area panggung, dia pun bernafas lega.


"Hei, bagaimana dengan aktingku tadi?" tanya Arvin kepada asistennya Bob yang sedang berjalan memimpin.


"Itu terlalu bagus Tuan, bahkan saya sendiri mengira anda benar-benar tulus untuk melakukannya," jawabnya, merasakan kacamatanya sedikit melorot, dia langsung memperbaiki posisinya.


"Ah, ternyata dibalik kau menggunakan kacamata bundar seperti anak kutu buku, ternyata kau punya penglihatan yang cukup bagus juga, kalau aku cuman sekedar akting," puji Arvin dengan seringaian nakalnya, karena dia menyadari bahwa asistennya Bob ini cukup cerdik.


Membalas senyuman Arvin, anak ini pun segera menjawab dengan bangga, "Tentu dong, anda itu tadi melakukan akting untuk menghindari bertemu dengan produser dari acara kami kan? Maka dari itu, saya pun langsung membantu anda," jawab anak ini dengan bangganya.


"Hahaha, ok, itu cukup bagus, setelah ini kalian akan lanjut tour kemana?" tanyanya.


"Yang paling dekat setelah korea, kami akan mengadakannya di china,"


"Melihat Bob dalam kondisi seperti itu, kelihatannya akan ada penjadwalan ulang,"


"Iya, ini kejadian yang tidak terduga juga, karena sampai harus mengalami kecelakaan segala. Tapi untung saja, Tuan Bob tidak apa-apa selain cedera di tangannya saja. Untuk sementara memang akan ada waktu untuk pemulihan, hanya saja jika hari ini kami tidak bertemu dengan anda, sudah pasti kami kan kesulitan untuk mencari pengganti Tuan Bob malam ini.


Tapi Tuan, kalau boleh tahu, apa alasan dari Tuan tiba-tiba mau membantu Tuan Bob?"


"Hahh~"


Mendengar Arvin tiba-tiba saja menghela nafas dengan kasar, anak itu pun sempat terkejut.


"Padahal kau bisa bicara panjang lebar seperti itu, tapi apa kau bahkan sampai sekarang tidak tahu alasanku membantu kalian?"


"Ada kalanya menanyakan pada orangnya langsung, jauh lebih baik dari pada membuang waktu dengan mencoba menebak-nebak," jelasnya, seraya mendelik ke arah Arvin.


"Sebenarnya bukan karena sesuatu yang besar, tapi bisa memperlihatkan kemampuanku pada anak ini, rasanya cukup seru juga," jawab Arvin dengan sedikit mengatur kembali posisi tubuh Ashera.


"Hoo, apa anda menyukai gadis itu?" tanyanya, tanpa membuat langkah mereka berdua berhenti.


"Entahlah, awalnya aku tidak suka. Pertemuan kami adalah yang terburuk, jadi awalnya aku tidak suka, tapi setelah waktu berlalu, perlahan aku mulai memahaminya, aku tidak bisa terlalu lama membenci dia, karena mau bagaimanapun tidak ada yang bisa aku benci kecuali penampilannya sih," terus terang Arvin, membuat asistennya Bob itu mengangguk paham.


"Pasti berat ya?"


"Berat? Ini lebih berat dari pada buldoser yang ada di pusat kontruksi. Memangnya kau mengerti apa yang aku rasakan?"


"Tidak terlalu sih. Tapi jika dari sudut pandang saya, meskipun awalnya terlalu buruk, hasil akhirnya pasti bisa indah.


Paling mudahnya sih, seperti seorang pelukis. Awalnya pasti gambarannya jelek, bahkan yang menggambarnya langsung tidak menyukainya, dan langsung membuangnya. Tapi karena dia sudah terikat ingin menjadi seorang pelukis yang handal, semakin dia berlatih, seiring waktu ketika hasil gambarannya bagus, dia akan langsung menyukai karyanya sendiri.


Jadi tidak masalah jika di awal pertemuan anda itu, anda tidak menyukainya, tapi perlahan pasti anda akan semakin mahir dalam memahami perasaan ingin untuk mengerti dan dimengerti oleh kekasih anda. Pasti banyak cekcok ya?"


"Ya, aku akui ucapanmu bagus juga, tapi sudah dulu, aku tidak ingin terlalu banyak mendengar dongeng," pungkas Arvin, tidak ingin pembicaraannya lebih panjang lagi dari ini, karena mau bagaimanapun, anak itu tetaplah orang asing yang lebih dari pada teman-teman sekolahnya.


Mengerti sekaligus memahami maksud dari Arvin itu, ia pun hanya mengulas senyum simpul dan akhirnya mereka berdua pun sampai di salah satu parkiran yang letaknya memang sedikit jauh, karena banyaknya lahan parkir yang harus di gunakan.


"Itu mobil anda, dan ini kuncinya," memberikan kunci kepada Arvin. "Saya sudah membersihkan dan mengatur AC mobil agar aromanya tidak terlalu mengganggu anda,"


"Ohh, kalau saja kau bukan asistennya Bob, aku pasti akan merekrutmu untuk jadi anak buahku, tapi sudahlah, aku pergi, terima kasih sudah membersihkan mobilku," tutur Arvin kepada anak tersebut.


"Hmm..hati-hati di jalan ya Tuan?" dengan senyuman ramahnya, dia pun melambaikan tangan kepada Arvin yang sudah masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Arvin pun menjawab salam perpisahan itu dengan kedipan lampu sorot mobil bagian depan, sebelum akhirnya Arvin pun pulang dengan membawa Ashera yang sudah tertidur pulas.


__ADS_2