
“Selamat malam Tuan, Nona-” sapa beberapa staf hotel yang tidak sengaja berpapasan dengan Tuan dan Nona muda yang baru pertama mereka lihat.
Seorang gadis dan laki-laki muda yang punya penampilan yang cukup berkesan, karena dari segi pakaian, entah dari atas sampai bawah, mereka berdua memakai pakaian barang branded. Bahkan tidak kalah dengan pakaian itu sendiri, wajah mereka berdua pun benar-benar sangat membuat mereka sama-sama terpesona.
“Halo Tuan, Nona-” sapa mereka lagi, ketika Arvin maupun Ashera berjalan bersama memasuki lift.
‘Jadi ini tujuannya? Tapi menjadi pusat perhatian dari mereka, aku benar-benar merasa tidak nyaman.
Apalagi dengan sepatu boots heels ini, kenapa aku harus memakai sepatu yang tidak nyaman ini? Rasanya sedikit berat.
Walaupun aku sudah belajar berkali-kali, tetap saja susah. Ini membuatku menderita, apalagi pakaian dan make up ini, sungguh, aku lebih baik tidur atau mandi saja. Ini sangat tidak nyaman.’ ucap Ashera dalam hati.
Ashera, dia benar-benar mengeluh karena dia harus memakai pakaian yang tidak bisa dia pakai, dan salah satunya adalah dengan memakai rok rimpel di atas lutut berwarna hitam, di padukan dengan kaos putih yang senada dengan apa yang Arvin pakai, lalu di dobeli dengan jaket jeans, sehingga saat ini Ashera pun benar-benar memperlihatkan kakinya yang jenjang.
“Kau kenapa?” tanya Arvin dengan menunduk ke bawah, karena meskipun Ashera sudah memakai sepatu yang punya hak sedikit tinggi, tetap saja tidak membuat gadis ini terlihat tinggi.
Buktinya, Ashera saja sekarang tingginya hanya sebatas bahunya Arvin saja.
Benar-benar, perbandingannya sangat besar.
Namun, Ashera pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, tidak mau mengungkapkan keluhannya itu secara langsung kepada Arvin di depan banyak orang.
TING…
Tidak lama setelahnya, lift pun sampai di lantai satu, dan mereka berdua pun segera pergi keluar.
“Tuan, ini kuncinya,” seorang resepsionis perempuan, datang menghampiri sambil memberikan kunci mobil yang sudah di pesan oleh Arvin sebelum mereka berdua turun ke lobby.
‘Sebenarnya dia mau membawaku pergi kemana sih?’ batin Ashera, terus memperhatikan Arvin yang nampak sangat santai dalam bersikap di depan siapapun, sedangkan Ashera sendiri lumayan canggung, karena mendapatkan perhatian dari banyak orang, termasuk mereka para staf perempuan yang diam-diam mencuri pandang ke arah mereka berdua.
“Kira-kira mereka berdua siapa ya? Aku baru pertama kali melihatnya.”
“Aku juga baru pertama kali melihat mereka berdua. Atau bisa saja mereka berdua pendatang baru yang menyewa kamar saat kita berdua cuti kemarin?”
“Itu bisa jadi, tapi mereka berdua serasi ya? Sepatu, dan bahkan pakaiannya benar-benar couple. Aku jadi iri, kapan aku bisa dapat cowo seperti itu ya?”
“Laki-laki berambut pirang itu tampan juga. Tapi mereka berdua- apakah sepasang kekasih?”
“Eh, lihat saja cincin di jari manis mereka berdua, berarti mereka memang sudah bertunangan. Yah, sayang sekali, tapi aku akan tetap mengagumi pria itu,”
“Apa mereka berdua artis dari luar ya?”
Ucap para staf hotel, saling berbisik mengutarakan pendapatnya saat melihat kesan pertama mereka begitu melihat Arvin dan Ashera yang berhasil mengelabui mereka semua dengan penyamaran mereka.
__ADS_1
Ashera yang tidak tahu apapun rencana apa yang sedang Arvin gunakan sampai membuat mereka berdua untuk menyamar segala, hanya berjalan mengikutinya saja, sampai mereka berdua menemukan sebuah mobil berwarna putih keluaran terbaru yaitu BMW i8, dimana kali ini mobil ini adalah desain asli dari BMW itu sendiri, tidak seperti yang Arvin punya di garasi, yang sudah di modifikasi dengan desain dari mobil BMW lawas.

Dari situlah, Ashera yang sebenarnya sudah banyak melihat banyak mobil di garasi utama rumah Ravarden, hanya mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu membuka pintu mobil yang terbuka ke arah atas.
BRAKK…
‘Ternyata di bagian dalamnya seperti ini? Tapi- dia kan umurnya baru 17 tahun, apa ia di sini sudah diperbolehkan untuk mengendarai mobil?’ Ashera berpikiran demikian karena aturan dari anak muda untuk mengendarai mobil adalah 20 tahunan, tapi ini?
Arvin sebenarnya berhasil melanggar semua peraturan yang ada di korea.
“Jangan ngebut–ngebut,”
“Apa gunanya mobil sport tapi tidak ngebut?” balas Arvin, menyeringai dengan begitu liciknya, Arvin langsung menancap pedal gas.
BRRMM….
“Kyaa..!” dan Ashera yang hendak memakai sabuk pengaman, sontak langsung terkejut setengah mati, bahkan karena perbuatan Arvin yang langsung menginjak rem dengan mendadak, Ashera hampir saja menabrak dashboard mobil. “Arvin!”pekik Ashera, dan Arvin yang sudah memprediksi kalau Ashera akan berteriak, sudah lebih dulu menutup kedua telinganya.
“Kau jadi orang terus terkejutan mulu, sini kedua kakimu,” perintah Arvin, menawarkan kedua pahanya itu agar kedua kakinya Ashera di pangku di pahanya Arvin.
Sontak saja Ashera langsung menggunakan kedua tangannya itu untuk menutup pahanya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Aku kan sudah mengatakannya tadi, jadi ja*a*ng kecilku, sini!”
“Tidak mau, apa harus segitunya? Lagi pula kau kan mau menyetir, harus lihat ke depan, jangan melakukan hal lain.” oceh Ashera, menasehati Arvin agar berbuat baik dalam berkendara.
‘Dia berisik juga.’ karena permintaan kecilnya itu tidak Ashera turuti, Arvin pun pada akhirnya memutuskan untuk memberikannya hukuman, yaitu dalam kecepatan. “Berarti kau jangan salahkan aku untuk yang satu ini, karena kau menolakku.” kata terakhir Arvin, sebelum dia memutuskan untuk menginjak gas dengan cukup dalam.
BRRMMM….
“Akhh..!” Ashera yang kembali di kejutkan dengan permainan Arvin yang sebenarnya, segera memegang sabuk pengaman yang sudah dia pasang itu dengan cukup kuat. Dan karena ketakutannya itu, Ashera pun memejamkan matanya.
Dalam jarak yang begitu panjang, tujuan yang begitu jauh serta harus melewati jalan tol yang begitu jauh, Arvin benar-benar seperti orang gila yang mengebut sampai di angka 150 Km/jam.
‘Kenapa sih dia terus saja emosian?’ detik hati Ashera, memendam rasa takut di dalam dadanya.
Awalnya, dirinya merasa ketakutan dengan kecepatan yang sedang ditempuh oleh laki-laki di sebelahnya. Sungguh, apakah anak di sampingnya itu sedang kesetanan?
Banyak kendaraan yang sedang sama-sama menempuh perjalanan dengan jalan itu, tapi dengan gilanya, Arvin malah menggunakan skill menyetirnya di jalan bebas hambatan seperti ini.
“Nanti kalau ditilang bagaimana?” tanya Ashera sambil menahan tekanan dari jantungnya yang terus memacu adrenalin nya dengan sangat tinggi. “Dan apa kau yakin ini aman? Kau menyeretku menjemput maut,”
__ADS_1
“Ashera, apa kau tidak tahu arti dari rasa senang?” lirik Arvin, tapi tangannya tetap dengan lihai mengelola semua tombol dan stir mobilnya dengan sangat profesional. “Di tilang atau tidak, urusan belakangan, yang penting adalah tujuan kita.” imbuhnya.
Ashera yang awalnya takut, dan setiap kali Arvin memutar stir ke arah kanan atau kiri dengan cepat, Ashera refleks memejamkan matanya, takut kalau mobilnya menyenggol kendaraan yang lain, perlahan jantungnya jadi terbiasa?
“...!” Ashera yang bingung itu pun menyentuh dadanya sendiri, dan dia benar-benar tidak merasakan sensasi denyutan ulu hati ataupun jantung yang berdebar dengan cepat.
“Kau kenapa lagi?” tanya Arvin, dibuat bingung dengan sikap Ashera yang tiba-tiba saja jadi aneh itu.
“Jantungku masih ada kan?” tanya Ashera.
“Kenapa kau tanya hal aneh kepadaku? Jika kau tidak ada jantung, atau sudah mati, berarti aku sedang bicara dengan arwah?” sahut Arvin dengan nada malas, lalu dia segera mengambil arah kanan sebagai tujuan berikutnya, sesuai dengan arahan dari GPS yang terpasang di monitor di dashboard nya, tentu saja cara yang paling keren, dia sebenarnya sedang mencoba untuk pamer kepada perempuan di sebelahnya, tapi bahkan setelah melakukan hal gila dalam kecepatan, dan apapun itu, Ashera perlahan bereaksi seperti sudah terbiasa.
“Jantungku, aku tidak lagi berdebar, bagaimana ini bisa terjadi? Padahal kau bahkan sampai menaikkan kecepatannya lagi, tapi kenapa aku seolah sudah terbiasa ya?” tanya Ashera lagi.
Sebuah pertanyaan yang bagi Arvin cukup sinkron dengan keadaan mereka berdua saat ini, membuat sudut bibir Arvin sempat naik membentuk sebuah bulan sabit terbalik yang cukup menyeramkan.
Tapi sebab Ashera hanya terfokus pada apa yang terjadi pada dirinya, dia pun tidak sempat melihat senyuman yang hanya bertahan beberapa detik saja.
‘Padahal sudah pernah ngebut dengan mobilku, tapi kelihatannya ingatannya itu benar-benar dipendam dengan baik oleh Hera ya? Manis sekali kepribadiannya yang satunya itu, sampai tidak mau memberikan akses Ashera untuk tahu apa yang pernah Hera lakukan dengan tubuhnya itu.’ pikir Arvin.
Karena kecepatan mobil yang dia miliki, Arvin pun menempuh jalan yang melewati tepi pantai, dan disitulah mereka berdua pun diperlihatkan mata hari terbenam.
WHUSSHH…..
Angin laut yang datang bersamaan dengan air laut yang akhirnya digulung dalam bentuk ombak, hal tersebut akhirnya sukses menjerang batu karang yang tidak jauh dari jalan yang harus mereka lewati.
BYURR…..
‘Wahh…., dingin sih, tapi lihat itu, pemandangannya sangat bagus, apa dia mengajakku kencan?’ benak hati Ashera sambil melirik ke arah Arvin yang dengan sengaja sedikit menurunkan kecepatannya sampai di titik 80 km/jam, sehingga kendaraan yang dibawa Arvin pun benar-benar melintasi pinggiran pantai itu dengan begitu eksotisnya. ‘Tapi aku baru sadar, kenapa ada mobil yang mengikuti kita?’
Karena Ashera penasaran, Ashera pun sempat menoleh ke belakang, tapi dengan cepat Arvin langsung mengerjai Ashera sekali lagi dengan membuat sentakan karena mengerem mendadak di tengah-tengah mobil masih bergerak maju.
CKITT…
BRMMM…
“....!” Ashera yang terkejut itu langsung melamun. “Kenapa kau suka begi- kya!”
CKIT…
BRMMM…
__ADS_1
“Pfft, aku tidak bisa membiarkan kau menoleh ke belakang.” ucap Arvin, memberitahu.