
“Bagaimana? Apa kau setidaknya meminjamkan dia untukku?”
Ashera pun langsung berekspresi serius.
“Kenapa aku harus melakukan itu? Dia kan tunanganku, jadi apa hakmu menginginkan pria yang sudah jadi milikku?” tanya Ashera dengan gamblang.
Ekspresi wajah dari perempuan yang tadinya hanya datar saja, tiba-tiba saja menyunggingkan senyuman meremehkan. “Ternyata kalian berdua datang kesini tanpa tahu apapun ya?”
‘Itu apa maksudnya?’ detik hatinya.
WHUSSHH…..
Angin malam yang terasa lebih hangat dari pada biasanya, kembali berhembus, di saat itulah kapal pesiar yang sedang berlayar di tengah laut itu, tiba-tiba saja air laut yang di lewatinya itu, punya perubahan warna yang sangat mencolok.
Dimana setiap gelombang yang tercipta, menciptakan air laut yang tiba-tiba punya cahaya biru yang cukup cantik.
Tapi hal itu tidak membuat Ashera takjub atau apapun, sebab yang sedang dia perhatikan dengan sangat teliti adalah siapakah perempuan ini?
“Karena kapal ini punyaku, berarti semua yang ada di sini akan kembali menjadi milikku, termasuk tunanganmu itu. Hera-”
Mendengar hal tersebut, Ashera semkain di buat terkejut.
Pikiran macam apa yang ada di dalam otak dari perempuan tersebut?
_____________
“Tuan Adolv kembali menang.” kata wanita berambut pirang ini kepada mereka semua.
“Hebat sekali dia, jangan-jangan permainan pertama tadi, hanya untuk sekedar pemanasan saja, dan sengaja mengalah dengan wanita itu.” ucap salah satu penonton.
Jika berada di dalam kerumunan banyak orang, maka dengan demikian harus bisa ekstra bertahan dari segala gosip ataupun topok yang sedang merea semua bahas.
Termasuk tentangnya tadi.
__ADS_1
‘Lumayan, bisa dapat banyak, tapi dimana Ashera?’ sudut mata Arvin pun mencari ke tempat terakhir dimana Ashera tadi duduk. Tapi begitu melihatnya, tidak ada satu orang pun yang duduk di kursi istirahat di sana.
Lantas kemana perginya istrinya itu?
Namun selain dari Ashera yang tiba-tiba saja menghilang, Arvin pun mendapati sebuah kenjanggalan yang dia dapatkan, yaitu chip yang dia dapat dari pria paruh baya tadi, dia sempat bermain sampai lima kali putaran, dan hasilnya jelas kalau Arvin selalu menang.
Hanya saja di sini ada yang berbeda. ‘Kenapa chip nya sangat ringan? Bahkan di bandingkan dengan ini, dia lebih ringan separuhnya.’
Arvin pun dalam diam memperhatikan chip yang sudah dia dapatkan itu. Untuk berjaga-jaga, Arvin pun menyuruh wasit tersebut untuk memberikannya kantong baru, agar Arvin bisa memasukkan chip yang dia dapatkan dari pria tua tadi secara terpisah.
‘Kayanya ini palsu. Aku belum pernah melihat chip yang palsu sih, tapi jika beratnya saja ringan seperti ini, ini harus di selidiki. Tapi sebelum itu aku harus menyetor semua chip ini, dan memisahkan ini untuk tidak di hitung lebih dulu.’ sesuai dengan pikirannya, Arvin menyetor hasil pendapatannya di meja respsionis untuk menukarnya dengan uang asli, sedangkan sesanya dia tangguhkan lebih dulu untuk di selidiki lebih lanjut, tapa banyak alasan, untuk menghindari keributan.
Setelah menyelesaikan urusannya, Arvin pun kembali dan mencari keberadaan dari Ashera.
“Apa kalian melihat tunanganku?”
Karena banyak dari mereka yang sudah melihat wajahnya, jelas ada yang menunjuk ke arah dek kapal yang ada di depan sana.
“Sebenarnya dia pergi kemana?” tanya Arvin pada dirinya sendiri. Lalu dia pun mencoba membuka menilik handphone nya, dimana dia melihat adanya titik merah, dimana lokasi Ashera berada.
Tapi yang membuatnya terkejut adalah Ashera ada di lantai bawah.
‘Tunggu, kenapa anak itu malah pergi ke lantai bawah? Aku kan sudah menyuruhnya untuk tidak pergi dari sisiku, tapi jika dia bahkan tiba-tiba saja berada di sini, pasti ada sesuatu yang salah.’ Arvin jadi mulai curiga dengan yang terjadi oleh Ashera kali ini.
Curiga dengan penampakan itu sendiri, Arvin memutuskan untuk pergi dari sana untuk mencari Ashera.
‘Ini tidak sesuai dengan rencana, bahkan di luar yang aku pikirkan. Kenapa Ashera bisa kesana sih? Dia pasti tidak sendirian. Karena dia bahkan tidak tahu seperti apa di dalam kapal ini ada apa saja, tidak mungkin dia lebih bodoh dari ayam.
Tapi aku harus tetap pergi mencarinya. Kalau tidak, bisa bahaya. Apalagi ini kan ide dari Luna, dan aku sendiri yang mengiyakan untuk membawanya pergi ke sini, makannya ini juga jadi tanggung jawabku juga.’ hanya bisa bertindak sebisanya, Arvin berjalan cepat mengikuti arah kemana Ashera pergi itu.
_____________
Di kediaman Ravarden.
__ADS_1
Nenek Tina kini sedang di pijat oleh Luna, dan di saat itulah beliau pun angat suara.
“Luna, apa kau pikir ini akan baik-baik saja, menyuruh cucuku sendiri pergi kesana?”
“Tenang Nyonya, Tuan dan Nona, beliau adalah dua orang yang sebenarnya bisa di ajak kerja sama, jadi tidak ada masalah apapun.” jawab Luna dengan santai, agar Nyonya majikannya itu tidak ikut panik, jika Luna bicara gugup atau apapun yang membuat suasana hati dari majiknanya menjadi down.
“Kenapa kau menganggapnya seperti itu? Padhala Arvin dan Ashera saja belum lama kenal, karena selama ini mereka berdua hidup di tempat yang bahkan saling bertolak belakang.”
“Bahkan jika musuh saja bisa menjadi sekutu, dan orang tidak di kenal bisa jadi musuh atau teman dalam sekali tahap, lantas apa mereka berdua tidak punya hubungan demikian? Lagi pula Tuan muda dan Nona kan sudah mulai sering bersama, jadi pasti sudah saling memahami.” penjelasan dari Luna pun membuka pikiran baru Nenek Tina, kalau apa yang di katakannya itu memang ada benarnya juga.
“Kau benar, tapi ini juga termasuk berbahaya juga kan?”
“Nona sudah di bekali ilmu bela diri tanpa dia sadari, karena saya membekalinya lewat Hera, jadi tidak masalah Nyonya. Dan kalau Tuan muda, sebaiknya jangan di tanya lagi.
Beliau itu sudah seperti preman, jadi bahkan ilmu bela dirinya sudah tidak di ragukan lagi.
Beliau terlalu bar-bar untuk sebagai Tuan muda, namun tetap saja beliau adalah cucu anda yang terbaik, walaupun dengan caranya sendiri.”
“Ih Luna, kenapa ucapanmu selalu saja benar ya? Arvin itu seperti berandalan, tapi dia tetap saja pintar, ini aneh, kenapa manusia bisa begitu ya?” Nenek Tina sendiri pun terheran, kana semenjak SD sampai SMP, saat Arvin masih tinggal di rumah, tidak terlihat kalau Arvin pernah belajar serius, tapi meskipun begitu, nilainya tidak bisa di ragukan lagi, makannya Nenek Tina sendiri heran, kenapa bisa begitu.
“Ini kan hanya kesimpuland nari hati saya Nyonya.”
“Tapi Luna, aku masih kepikiran juga. Yang mereka beruda hadapi di kapal itu kan adalah sekelompok orang yang tidak bisa di remehkan.”
“Nyonya~” Luna malah jadi ngambek sendiri, karena majikannya malah bersikap demikian, “Padahal dari segi status, tentu saja Ravarden punya pengaruh yang lebih tinggi dari mereka. Mereka semua itu harus di kasih pelajaran, di tangkap di masukkan penjara.
Demi nama baik perusahaan anda, yang mengembangkan pabrik pembuatan kapal pesiar, jangan sampai Ravarden malah dicap buruk, karena ketahuan kalau salah satu pembeli kapal anda malah mempergunakan properti yang dibeli dari perusahaan anda malah di gunakan untuk hal ilegal.”
“C-cukup Luna, cukup. Aku paham, jangan terlalu ngegas begitu,” panik Nenek Tina melihat betapa Luna serius dalam menanggapi ucapannya tadi, sampai bicara saja sangat menggebu-gebu.
“Hahh..hah.., m-maafkan saya, saya jadi terbawa emosi.” Luna pun meminta maaf setelah dia bisa mengatur kembali nafasnya dengan sangat baik, sehingga dia pun bisa bicara dengan normal lagi dan kembali dalam mode miliknya yang terlihat tenang dan penuh dengan keanggunan, tapi tetap memperlihatkan ketegasan.
“Hahaha, iya…, pijatanmu, lanjutkan.” jawab Nenek Tina, dia pun kembali menyuruh Luna untuk melanjutkan urusannya.
__ADS_1