Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
42 : Kepribadian ganda


__ADS_3

Tidak seperti yang Arvin pikirkan, ternyata neneknya datang untuk membahas sesuatu yang setidaknya tidak berhubungan dengannya secara langsung.


Karena jika itu terjadi, maka identitas dirinya merupakan cucu dari Nenek Tina, akan terbongkar, dan semua usahanya untuk bisa bebas dari yang namanya terikat dengan nama Ravarden, bisa kandas.


Dia tidak ingin di perlakukan berlebihan, cukup Daseon saja yang memperlakukannya sebagai Tuannya, tidak dengan yang lain. Itu yang di harapkan oleh Arvin.


"Arvin, kita mau apakan barang-barang ini?" Tanya Anggih, dengan semua barang yang akan menjadi sampah.


"Yang bisa di bakar, di bakar saja, langsung. Jangan pakai di buang ke tong sampah." Perintah Arvin, memandang banyaknya sampah yang dia dapatkan dari melakukan razia kelas.


"Ok, aku akan pergi memanggil Pak Joni untuk membantuku." ucap Anggih, lalu pergi keluar dari gudang dan meninggalkan Arvin sendirian.


Arvin pun memandang satu kantong plastik sampah yang ia tahu isinya apa.


Dengan tampang seperti orang yang begitu waspada, Arvin diam-diam membuka salah satu kantong sampah itu dan menemukan sebuah kotak yang dijadikan bahan pembicaraan sekelas, karena alat kontrasepsi itu.


Dan tanpa merasa bersalah sedikitpun, Arvin mengambil semua isinya, lalu mengembalikan kotaknya ke dalam, mengikatnya lagi dan meninggalkannya pergi.


'Lumayan, aku jadi tidak repot-repot membelinya.' Arvin tersenyum lemah dengan barang yang ada di saku blazer nya sekarang.


___________


"Sekarang kita bisa pulang." Ucap Daseon.


"Memangnya boleh?" Tanya Ashera dengan ragu kepada Vani.


"Iya, selama banyak istirahat dan minum obat teratur, dalam dua hari kedepan, pasti sembuh. Setidaknya, kurangi dulu pekerjaan dan beban yang membuatmu terus kepikiran. Ini resepnya, dan terimakasih sudah datang kesini." Jelas Vani, layaknya seorang dokter.


Ya, Vani memang seorang dokter muda. Tapi karena tidak mau terikat dengan banyak aturan di rumah sakit dia lebih suka membuka klinik dan menerima pasien yang sakit biasa.

__ADS_1


Tentu, akan menerima pasien lain, tapi ujung-ujungnya, dia akan melemparkannya ke ayahnya yang bekerja di rumah sakit.


"Ini obatnya, dan semoga lekas sembuh." Kata Vani dengan ramah, sampai senyuman cantik itu, juga berhasil memukau Ashera sendiri yang merupakan perempuan juga.


"Aku iri." Ucap Ashera dengan singkat.


"Iri kenapa?"


"Kau cantik. Dan Arvin juga terlihat peduli denganmu."


Vani sekilas melirik ke arah Daseon, sebuah sikap paling bertolak belakang dari Ashera yang semalam, masih saja melekat pada diri perempuan ini.


"Bukannya Arvin juga peduli denganmu?"


"Peduli apa? Dia hanya bisa marah sana marah sini, aku sampai di buat pusing mendengar suaranya yang garang itu. Sampai-" Ashera sengaja menggantungkan kalimatnya. Entah mau membicarakannya juga atau tidak soal cerita berikutnya, Ashera sedang berpikir-pikir, membuat Vani dan Daseon juga penasaran.


"Ashera." Vani memegang kedua tangannya Ashera dengan penuh perasaan. Telapak kulit tangan yang begitu lembut itu pun menyentuh permukaan punggung kulit Ashera. Tentu saja, perbuatannya Vani ini, jelas membuat Ashera merasa kalau dirinya dan Vani ini, memang bagaikan bumi dan langit.


"Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri dalam memberikan perhatian. Dimatamu, mungkin Arvin terlihat seperti orang yang terus memarahimu tanpa sebab, emosinya yang tinggi, membuatmu merasa tertekan.


Tapi sebenarnya cara dia memarahimu juga karena dia mempedulikanmu. Kalau dia tidak peduli, mana mungkin dia membawamu kemari, apa kau paham?" Pesan Vani, mengingatkan kepada Ashera bahwa tidak sepenuhnya kalau apa yang membuat Arvin marah adalah karena Ashera serba salah, melainkan karena Arvin tidak ingin Ashera melakukan hal ceroboh yang membuat khawatir dirinya itu.


"Paham. Tapi bagaimana dengan seragam ini? Ini kan punyamu?" Ashera melirik pada seragam yang sedang Ashera pakai. Itu adalah seragam pinjaman dari Vani.


"Bawa saja, itu untukmu. Lagi pula, memangnya aku masih memakai seragam sekolah SMA? Kan yang masih sekolah itu kau, bukan aku." Jawab Vani, membuka segala pikiran Ashera untuk lebih berwawasan lagi, bahwa apa yang di lihat bukan berarti itulah sifatnya.


"Terima kasih atas kebaikanmu." Tutur Ashera.


"Iya. Sama-sama." Vani pun memberikan senyuman ramah kepada Ashera.

__ADS_1


Dan di hari itu juga, Daseon pun membawa Ashera pulang ke rumah, alias ke apartemen.


"Nona, kenapa anda memberikan seragam sekolah penuh kenangan itu kepada dia?" Salah satu seorang perawat yang baru saja masuk, bertanya kepada majikannya itu.


"Biarin, memangnya kenapa? Apakah aku harus hidup dalam kenangan? Lagi pula itu hanyalah seragam, dan aku juga sudah tidak memakainya juga." Jawab Vani, dia tidak mempermasalahkan seragam penuh kenangan itu di berikan kepada Ashera, karena dirinya juga sudah tidak membutuhkannya lagi.


Baginya, semua kenangan hanyalah berisi masa lalu yang tidak akan mengubah apapun antara dirinya bersama dengan Arvin, sebagai mantan kekasihnya dulu.


_____________


Sore itu, di apartemen, semua furnitur sudah sepenuhnya di ganti.


Benar, dalam semalam, gedung yang sempat terkena sambaran petir itu, sudah berhasil di buat dalam kondisi seperti sedia kala, sehingga mereka bertiga pun bisa pulang ke rumah mereka masing-masing.


Dan, tentu saja, Daseon kembali ke tempatnya yang ada di lantai bawa persis. Lalu yang ada di dalam rumah Arvin sekarang, adalah Arvin dan Ashera sendiri.


Mereka berdua sama-sama baru saja pulang, dan juga masuk bersama juga.


"Sebenarnya siapa kau?" Tanya Arvin dengan tatapan menyelidik, karena sikap dari Ashera yang sungguh berbeda dari biasanya.


Ashera yang sedang membungkuk untuk melepas sepatunya, kembali berdiri dan berbalik, menghadap Arvin sepenuhnya.


Pria tinggi semampai dengan tubuh atletis, serta wajah tampan yang menjadi banyak incaran banyak perempuan di luar sana.


"Tentu saja aku Ashera." Matanya penuh dengan keberanian, bahkan untuk saling menatap lawan bicaranya, Ashera yang ini benar-benar tidak memliki ketakutan apapun di mata berwarna hitam sedikit kecoklatan itu.


"Tapi, kau seperti orang lain."


Ashera hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. "Begitukah?"

__ADS_1


Arvin jadi mengernyitkan matanya, betapa percaya dirinya Ashera yang ada di depannya itu, sampai tidak lagi bicara formal kepadanya. "Bahkan dari cara bicaramu. Apa kau punya kepribadian ganda?"


__ADS_2