
"Dan aku punya saksi untuk itu." Enzo akhirnya datang juga dan menyela suasana tegang diantara mereka semua.
'Saksi? Padahal jelas-jelas tidak ada saksi sama sekali saat aku menendang motornya itu. Dan dia juga yang memulai duluan. Tapi lebih daripada itu, kenapa perempuan ini justru bisa ada di sini? Jadi gadis taruhan pula. Haa..., konyol, tapi karena sudah seperti ini, aku akhirnya tahu kalau perempuan ini memang bukanlah perempuan baik-baik juga.
Wajahnya yang sok polos itu sama sekali tidak bisa membohongiku. Bahkan dibandingkan membeli kopi, dia malah datang kesini agar bisa mencari pria lain.
Benar-benar deh, jadi dia adalah ******* muda yang mau menempel pada pria lain? Ternyata bagus juga rencananya itu ya.' Pikir Arvin terus menatap bengis Ashera yang bahkan tidak tahu apa-apa, tiba-tiba jadi bahan untuk pemenang lomba.
"Arlina, jadi alasan kau me-"
"Hahaha, dia kelihatan mau nangis. Arlina, jangan-jangan kau memaksanya ya?" Tanya teman Enzo.
"Tidak, dia yang datang sendiri ingin jadi gadis taruhan. Mungkin saja dengan seperti itu, dia bisa kenal lebih dekat dengan kalian." Jawab Enzo.
"Apa yang dia katakan benar. Dia ingin menonton pertandingan kalian, tapi karena dia tidak bisa membayar tiket masuk, jadi dia lebih suka memilih agar dirinya jadi taruhan juga." Ucap Arlina, mendukung semua ucapan yang dikatakan oleh Enzo barusan.
"Wah, enak nih. Ternyata perempuan ini punya ide yang brilian juga. Demi dekat dengan kita, dia mau jadi gadis taruhan." Goda laki-laki yang menjadi juara kedua di pertandingan itu.
Karena tertarik, laki-laki ini pun berjalan mendekati Ashera.
"T-tidak, semua yang d-dikatakan mereka bo..hong." Kata Ashera dengan wajah sudah panik.
"Kau menganggap kami pembohong ha? Kurang diuntung sekali kau, sudah masuk kesini, tapi menuduh kami berbohong. Kan kau sendiri yang memohon ingin ikut menonton dengan kita." Balas Arlina, merasa tidak terima karena ia tidak mau mendengar tuduhan yang di katakan oleh Ashera itu.
"Hei-hei, Arlina, dia pasti ketakutan karena yang menang itu adalah orang misterius ini, makannya perempuan ini jadi ketakutan, karena tidak tahu seperti apa wajahnya. Mungkin seorang yang buruk rupa, makannya takut dan mau menangis seperti ini." Ucap teman dari Enzo ini sambil mengusap ujung kepala Ashera.
Ashera yang ketakutan langsung menepis tangan itu.
PLAK....
"Kasar sekali," Ketus pria ini selepas mendapatkan tamparan kuat di tangan yang barusan di pukul oleh Ashera.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku." Delik tajam Ashera kepada laki-laki tersebut.
"Wah, dia berani sekali memukul tangannya." Satu bisikan pun muncul dari salah satu penonton.
"Dia tidak tahu siapa yang barusan tangannya di pukul ya? Dasar perempuan tengil, sombong sekali ya."
'Tidak, aku..., aku kenapa bisa ada disituasi seperti ini? Aku jadi takut. Aku mending tinggal di rumah Nyonya besar, aku mau pulang saja.' Ashera menunduk, dan wajahnya pun sudah murung ingin menangis, karena ia benar-benar tidak mau menjadi bahan bulan-bulanan mereka untuk menghinanya.
Cukup satu orang saja yang menghinanya, yaitu Arvin.
Hanya itu saja yang Ashera inginkan ketimbang di hina di depan mereka semua dan di tuduh dengan sesuatu yang bahkan tidak Ashera lakukan.
"Hahaha, tapi jelek seperti itu kenapa mau mendaftar jadi gadis taruhan? Siapa yang mau coba?"
"Eh, tapi juara pertama malam ini kan kebetulan main curang, bukankah pantas jika dia dibawa saja sama orang ini?" Dan tatapan dari mereka semua pun langsung tertuju kepada Arvin yang dari tadi diam.
'Lagi-lagi aku jadi kena sial lagi. Semenjak waktu itu, aku selalu saja mendapatkan sesuatu yang jauh dari ekspektasiku.' Benak hati Arvin, benar-benar merasa jengkel sendiri karena selain tidak jadi mendapatkan uang banyak, dirinya juga harus dipertemukan dengan Istrinya sendiri yang justru di jadikan bahan untuk tontonan.
BRUK...
Dengan dorongan di akhir, Ashera pun sempat terhuyung ke depan dan sempat menubruk tubuh Arvin.
"M-maaf." Ashera langsung mendorong pelan tubuh Arvin agar bisa menjaga jarak.
"Eleh, sok minta maaf, pasti setelah ini mereka berdua akan bersenang-senang. Ya, lumayan kan itu? Menang tapi dengan cara curang, tapi akan menang jika bisa olahraga bersama di atas tempat tidur." Hina mereka lagi.
"Hahaha, pastinya lah itu."
"Sudah-sudah." Sela Arlina, merasa senang melihat penderitaan yang dialami oleh Ashera yang tidak tahu apa-apa jadi harus mendapatkan hinaan dari teman-temannya Arlina sendiri. "Aku akan mengirim uang 5 dan 10 juta lewat rekening, sedangkan kau-" Arlina menoleh ke arah Arvin. "Ini hadiahmu." Dengan sombongnya, Arlina melempar uang sebanyak satu juta itu ke arah Arvin.
Arvin yang tidak mau tahu apa yang mau mereka semua katakan, langsung menangkap uang itu sebelum jatuh ke jalan.
__ADS_1
"Karena pertandingan sudah selesai, yang mau ikut aku ke bar, silahkan ikut. Aku yang bayar, jadi tidak usah sungkan. Bahkan kamu Ashera, jika kau mau merasakan seperti apa bar itu, kau juga bisa ikut" Ucap Arlina memancing perhatian mereka semua lagi untuk kesekian kalinya.
"Halah, jangan bawa perempuan dekil seperti dia, itu mengganggu pemandangan kami Arlina." Protes salah satu dari mereka.
"Iya, aku juga tidak mau kalau dia ikut dengan kita."
"Yah~ Apa boleh buat, karena kalian tidak memperbolehkan Ashera ikut, Ashera, kau pulang saja dengan pria itu. Dadah~" Arlina pun memberikan lambaian tangan dengan senyuman mengejek yang begitu jelas kepada Ashera yang sudah tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali.
"Ayo pergi ikut dengan Arlina"
"Ayo..., ayo, mumpung Arlina sedang baik hati,"
Dan semua orang di sana pun pergi, sampai dalam kurang waktu kurang dari dua menit, sekarang hanya tinggal mereka berdua saja yang ada di sana, yaitu Ashera juga Arvin.
"A-anu Tuan, apa saya boleh ikut tuan sampai di jalan raya saja?" Tanya Ashera dengan ragu-ragu.
'Kenapa kau harus ikut denganku? Lagian kau kan punya sepatu roda.' Tatap Arvin, melihat ke arah bawah, Arvin menemukan kalau Ashera pergi tidak menggunakan sepatu biasa, melainkan sepatu roda. 'Termos? Jadi dia membawa termos ke luar rumah agar kopi pesananku tetap panas?'
Arvin tidak tahu soal itu, tapi mau bagaimanapun Arvin bersiteguh untuk tidak menuruti keinginan kecil dari Ashera.
Maka dari itu, Arvin yang hanya diam membisu itu, langsung naik kembali ke atas motor.
"Tuan, saya boleh ikut ya?" Tanya Ashera dengan wajah memelas.
'Ikut-ikut? Memangnya aku tukang ojek? Sana pulang sendiri. Lagian, aku juga tidak mau identitasku ketahuan oleh dia.' Arvin pun tetap tidak menghiraukan permintaan dari Ashera, dan langsung mengendarai motornya pergi meninggalkan Ashera sendirian di tengah jalan.
WUSHH~
Angin malam yang begitu dingin itu berhembus menerpa tubuhnya. Walaupun Ashera sudah memakai pakaian tebal, tetapi Ashera yang cukup sensitif dengan suhu dingin, tetap tidak membuat tubuhnya terasa hangat.
'Dia pasti malu, karena aku tiba-tiba mau nebeng dengannya. Lagian aku dan dia juga tidak kenal.' Ashera menatap sendu kepergian dari pria tersebut. 'Ya sudahlah, lagian karena aku akhirnya bisa keluar dari situasi tadi, pulang sendirian juga bukan masalah untukku.' Pikirnya lagi.
__ADS_1