
"Apa yang barusan dia katakan? Misi? Dia mau membuatku disiplin di tangannya? Yang benar saja, aku tidak akan pernah tunduk pada orang lain, bahkan pada pelayan sepertimu." Kata Arvin terhadap Ashera.
Bagaikan dua koin yang memiliki sisi berbeda, Ashera benar-benar berubah menjadi sisi yang satunya lagi.
Pasti, jika yang satu lemah, maka yang satu kuat, dan itu tercantum jelas pada Ashera yang ini.
"..." Dengan tatapan yang begitu datar, seolah dia tidak begitu tertarik dengan segala kalimat yang keluar dari mulut yang tidak bisa di filter ketika berbicara, Ashera langsung memberikan tekanan kuat di bagian leher Arvin, dan di satu sisi lagi, ketika lututnya menekan di daerah perut, maka permukaan kakinya itu dengan sangat sengaja menekan junior kecil milik anak ini.
"Ukhh...!"
"Bagaimana? Bukannya banyak perasaan yang kau dapatkan menjadi satu?" Seringai Ashera, berhasil membuat Arvin yang terkenal sombong ini, bisa ia taklukan.
Benar, Arvin tidak mampu untuk berkutik lagi, sebab saat tangan kanannya di tindih dengan lutut dari kaki kirinya Ashera, lengan kiri Ashera menghimpit tepat ke leher Arvin, tangan kanannya yang menekan tangan kiri Arvin, dan dua hal lagi, lutut kanan menekan tepat bagian perut dekat dengan ulu hati, dan ujung kakinya menekan area pribadinya, maka semua bagian titik Vitalnya pun terkunci dengan cukup baik.
Bergerak sedikit, rasa saki yang luar biasa di bagian ulu hatinya pun bisa membuat tubuhnya merasakan ancaman lebih besar daripada perut yang di pukul dengan tangan. Apalagi jika sudah menyangkut leher, saat itu juga dia pun bisa mati tercekik.
"Lepas!"
"Aku akan melepas ini jika kau mengiyakan untuk ikuti semua arahanku."
"Memangnya apa hakmu membuatku menuruti kemauanmu? Kau itu hanyalah pe.la.yan." Balas Arvin dengan akhir kalimat lebih di tekan, untuk memperingatkan status Ashera yang asli tetap saja adalah seorang pelayan.
Ashera yang awalnya terdiam dengan mulut terus tertutup serta mata yang menyajikan tidak adanya rasa ketertarikan terhadap ucapannya Arvin sebelumnya, tiba-tiba saja tertawa cekikikan bagaikan orang gila.
Orang gila di mata Arvin sendiri.
"Hahh~ Jika aku pelayan, memangnya kenapa? Toh pada akhirnya statusku sudah jadi Istrimu." jawab Ashera dengan senyuman cerah tapi memiliki tatapan mata jenaka. "Kalau kau terus menganggapku pelayan, berarti kau suami dari seorang pelayan dong." Imbuhnya.
Perempatan siku dari dahi Arvin pun muncul, dia merasa tersinggung dengan status yang baru saja di ucapkan oleh Ashera ini, tepatnya pada kalimat suami pelayan.
"Tuh kan, kau tersinggung? Makannya walaupun pekerjaanku memang pelayan, tapi tanpaku, tanpa adanya pelayan, memangnya kau bisa tumbuh besar seperti ini?" Jelas Ashera lagi.
Arvin jadi terdiam, membuat alasan yang pas untuk bersilat lidah dengan perempuan ini pun sama sekali tidak muncul.
__ADS_1
Kenapa begitu?
Karena kata-katanya tepat, Ashera pun benar-benar berhasil membuat Arvin jadi kehilangan kata-katanya sendiri.
"Jika kau jawab iya, aku akan melepaskanmu, tapi jika masih tidak mau, maka jangan salahkan aku kalau aku akan pakai cara lain yang pasti bisa membuatmu mengatakan iya." Ucap Ashera, memberitahu Arvin.
"Dengan kata lain, aku tidak punya pilihan selain iya?" Tanya Arvin saat itu juga, membuat Ashera yang tadinya ingin istirahat untuk diam lebih dulu, tiba-tiba Ashera justru tersenyum lebar.
"Syarat selesai." Kata Ashera dan langsung melepaskan tubuh Arvin dari teknik kuncian nya tadi.
'Ha?' detik hati Arvin.
Melihat mata melotot yang tersirat arti kata dari kebingungannya Arvin, Ashera pun langsung menjawab : "Kau tadi kan sudah bilang iya."
"Siapa yang mengatakan itu sebagai jawaban?!" balas Arvin detik itu juga.
"Halah~ Ujung-ujungnya aku juga tetap akan membuatmu mengatakan iya." jawab Ashera dengan nada selamba.
'Aku merasa seperti di permainkan.' Benak hati Arvin. Seharusnya saat ini adalah saat di mana dirinya bisa meraih kesenangannya.
Tapi apa sekarang?
Arvin saat ini justru sedang di permainkan oleh Ashera itu sendiri.
"Apa kau akhirnya menyesal membuatku mengembalikan keadaanmu?" Tanya Ashera, mencibir Arvin yang nampak begitu khawatir sendiri.
'Anak ini, benar-benar ingin minta aku tabok mulutnya ya? Bukannya Kemarin sore mulutnya mengeluh ingin tidur dan tidak mau bangun, tapi sekarang dia malah berani mengancam majikannya sendiri. Kalau aku bilang kepada nenek.' Arvin awalnya berpikir untuk mencoba mengadu soal Ashera, tapi semuanya kandas.
Tapi seperti orang yang mampu memprediksi masa depan, Ashera sudah langsung bicara saat itu juga. "Arvin, aku tidak akan takut dengan semua ancamanmu. Itu berlaku untukku saja sih, bukan diriku yang satunya lagi karena yang satunya lagi cukup penakut.
Tapi akan aku beritahu, nenekmu yang menginginkanku untuk membuatmu lebih disiplin ketimbang kau mendisiplinkan anak-anak saat di sekolah. Jadi jika mau mengadu, silahkan mengadu, karena pekerjaanku memang ini, dan posisiku memang untuk menuntumu ke jalan yang benar.
Bagus kan peranku sebagai pelayan, Istrimu, bahkan jadi pemandu untuk orang tersesat sepertimu." Beber Ashera tanpa ada kata sungkan sedikitpun.
__ADS_1
"Argh-!" Persetan dengan pelayan ataupun istrinya, tapi kata orang tersesat, sudah menjadi pemicu bagi Arvin ingin memukul kepala Ashera ini.
Ya, bahkan tangannya sudah ingin sekali memukul kepala Ashera, tapi langsung Arvin tahan, karena tatapan jenaka itu terlihat seperti kalau Ashera akan membalasnya dua kali lipat jika Arvin benar-benar memukulnya.
Tentu saja, ada satu konsekuensi lagi, yaitu neneknya. Akan lebih parah lagi jika sudah berurusan dengan neneknya.
Maka dari itu, Arvin kali ini akan berusaha untuk menahan diri.
Setelah perbincangan singkat alasan kenapa Ashera terlihat tidak takut lagi kepadanya adalah karena sudah di dukung oleh neneknya dari belakang, Arvin pun jadi tidak bisa berbuat apapun?
'Kali ini saja, aku akan mengalah, tapi akan aku pastikan bahwa tidak akan ada kekalahan pada diriku terhadap dia sesi berikutnya.' tatap Arvin, begitu melihat perempuan yang lebih pendek sejengkal dari dagunya, membalas tatapannya dengan keberanian yang di milikinya.
Sungguh, seseorang yang tidak bisa ditebak, karena perempuan ini sudah sepenuhnya berubah dari sebelumnya.
______________
Namun, semua harapan yang sudah Arvin kunci dalam-dalam bahwa dirinya tidak akan kalah dari Ashera, justru Ashera buka sesuka hatinya, sehingga saat ini Arvin pun menjalankan hukuman pertama dari Ashera.
PLAK....
PLAK....
"Ashera!" Pekik Arvin, dia langsung merebut alat pemukul lalat itu ke sembarang arah, atau lebih tepatnya, saat Arvin membuangnya ke arah belakang, alat pemukul lalat itu pun langsung masuk kedalam tong sampah.
"Ya? Namaku cantik ya? Makannya namaku terus saja di panggil dengan mulut seksimu itu?" Goda Ashera, begitu melihat tangannya saat ini sudah tidak memegang apapun untuk membuat hukuman kepada Arvin agar patuh dalam menjalankan sesi push up.
"Jangan mengatakan hal konyol. Meskipun namamu cantik sekalipun, jika wajahmu jelek apa yang harus di banggakan?" Timpal Arvin atas ucapannya Ashera yang memancing emosinya Arvin sendiri.
"Terus?" Ashera ingin tahu seberapa banyak yang ingin di katakan oleh anak ini untuk menghinanya terus.
"Walaupun sekarang kau memang cukup sombong, bahkan sok angkuh, jika kau sudah tidak ada dan di gantikan dengan Ashera yang satunya lagi, aku akan membuatnya membayar semua yang kau lakukan ini.
Dan sudah jelas kan? Dia yang tidak berani membantah ucapanku saja, pasti tidak akan berani mengadu kepada nenekku. Dan semua usahamu untuk membatasiku akan sia-sia." Jelas Arvin panjang lebar.
__ADS_1
"...." Ashera pun jadi terdiam sejenak. Bagaimana bisa ada orang seperti ini di dalam hidupnya?