Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
181 : Pangkuan


__ADS_3

Arvin yang tidak mau kalah juga, akhirnya mau melayqni permainan dari Tina. 


Tiga menit kemudian. 


“Dua, tiga, enam, enam, lima. Jumlah dua puluh dua.” ucap si wasit dengan perolehan yang di miliki oleh Tina. 


Lalu giliran Arvin dan Ashera yang bersama-sama mengocok dadu itu, akhirnya mendapatkan : “Enam, enam, enam, lima, empat. Jumlah, dua puluh tujuh. Tuan Adolv menang.”


Tiga menit berikutnya.


“Dua puluh satu dan dua puluh lima, Tuan Adolv.”


Sekali lagi permainan berlangsung. 


“Aku pinjam uangmu.” pinta Tina kepada salah satu temannya. 


Temannya pun memberikan miliknya kepada Tina yang terlihat seperti orang yag sedang balas dendam. 


“Dua puluh lima, dan tiga puluh, Tuan Adolv menang,” dan wasit itu lagi-lagi memberikan kemenangan kepada Arvin. 


“Wahh, gila, apa ini yang namanya keberuntungan? Padahal beberapa waktu lalu dia selalu kalah, meskipun< hanya menang satu kali, tapi ini bahkan sudah melewati kata hoki, ini benar-benar hebat.”


“Ini baru pertama kalinya bisa melihat ada yang terus menang secara berturut-turut.”


“Dia bisa jadi kaya dalam sekejap lah itu.”


“Yah, ini benar-benar di luar prediksi, dan wanita itu sudah kehabisan chip nya sendiri.” semua orang pun melirik ke arah Tina yang sudah kehabisan uang. 


‘Sial, kenapa aku terus kalah? Ini sangat menyebalkan, aku malah jadinya di permalukan oleh anak ingusan itu!’ gerutu wanita ini di dalam hati. Dia benar-benar sangat tidak suka dengan hasil akhir yang terus mendukung Arvin dan Ashera untuk mendapatkan kemenangan bertubi-tubi. 


Sedangkan Arvin, dia terus menatap Ashera yang masih duduk di atas pangkuannya itu. 


'Aku bisa terus menang. Wow… Apa ini keahlianku?' Ashera memuji dirinya sendiri. 'Menang, artinya aku bisa membalikkan keadaannya Arvin!' 


Ashera malah bangga sendiri, padahal sampai beberapa waktu yang lalu, Ashera tidak suka dalam permainan judi, pada akhirnya dia pun benar-benar berhasil di hasut oleh Arvin. 


“Tina- sudah.” tegur pria ini kepada Tina. 


“Tapi-”


“Jika kau melakukannya lagi, kau akan mempermalukan dirimu lagi lebih dari ini.” bisiknya. 


Mendengar hal tersebut, Tina pun mengurungkan niatnya untuk lanjut. 


“Apa kalian sudah menyerah?” tanya Arvin kepada ke empat orang tersebut. 


“Aku sudah meremehkanmu,”


“Ternyata kau punya keberuntungan yang sangat besar-”

__ADS_1


“Dasar, kau pasti menipu kami.”


“Yah, untung saja aku hanya bermain dua kali saja, tidak sepertimu, Tina. Kau memang tidak sabaran.” lirik temanya Tina ini kepada wanita tersebut yang menjadi pembuat onar dirinya sendiri. 


Setelah permainan tersebut selesai, banyak dari mereka yang ingin mencoba keberuntungannya dengan melawan Arvin. 


Tapi sejak saat itu juga, Arvin terus dalam kemenangannya. 


Apa ini berkat langit? Atau apa?


“Hahaha, tidak apa sedikit, yang penting anda mencobanya kan?” ucap Ashera, tertawa canggung dengan lawan mainnya sendiri karena bermain dengan chip senilai lima ratus ribu.


“Kau memang gadis yang ramah,”


‘Ashera, kau bahkan tertawa dengan laki-laki lain.’ kata Arvin dalam hatinya. Melihat Ashera melayani orang yang ingin melawannya, Arvin pun terus menatapnya tanpa mengalihkan sedikitpun perhatiannya pada gadis yang berhasil dia hasut itu. ‘Tapi apa ini memang benar-benar keberuntungan? Aku bahkan sama sekali tidak pernah membayangkannya kalau perempuan ini akan seberguna ini.’ pikirnya lagi.


__________


Flashback sepuluh jam yang lalu.


Kala itu Arvin yang sudah bangun dari tidurnya lebih dulu, tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari Luna. 


DRRTTT…..


‘Tumben dia menghubungiku? Dia tidak pernah menghubungiku kecuali ada alasan yang penting.’ pikir Arvin. 


“Tumben menghubungiku? Ada apa?” tanya Arvin, langsung pada poin intinya. 


-“Tuan muda, karena kebetulan anda ada di Korea, apakah anda bisa sekalian membantu hal yang sedang mendesak ini?”-


“Memamngnya aku akan di bayar berapa jika aku melakukannya? Kau kan sering menyuruh majikanmu ini melakukan hal yang berat, tidak sesuai sekali dengan posisiku yang sebenarnya.” jawab Arvin panjang lebar, berharap kalau Luna yang sedang memberikannya perintah kepadanya, bisa memberikan biaya jasanya dengan harga yang setimpal. 


-“Maaf Tuan, ini agar anda bisa terbiasa dengan pekerjaan berat anda. Saya tahu memang tidak sopan, karena menyuruh anda seperti ini, tapi ini memang cukp penting. Dan untuk bayaran anda, anda pasti akan senang jika anda sekalian merampas banyak uang di kasino.”-


“Hohh~ Kau sedang menghasutku ya?”


-“Hanya menawarkan saja, kalau anda tidak mau ya tidak masalah.”-


“Aku mau, pasti menyenangkan, bisa bermain di kasino.”


-“Jika anda memang ingin punya banyak keberuntungan, maka bawalah Ashera dengan anda. Ah, maksudku Nona Ashera.”-


“Hmm? Kenapa aku harus melakukannya dengan membawa anak itu? Kau mau membuatku kesulitan ya?” tekan Arvin. 


-“Walaupun Nona Ashera terlihat seperti hanya bekerja sebagai seorang pelayan biasa, tapi ketika dia beralih kepribadian menjadi Hera, saya sudah banyak melatih yang bisa saya latih kepadanya. Terutama dalam hal berjudi, dia bisa melakukannya untuk anda degan sangat baik.”- jelas Luna dengan panjang lebar. 


“Kau mau menipuku ya? Membuatku mengambil resiko di dalam misi yang karu berikan kepadaku?” tukas Arvin, dia masih tidak percaya dengan perkataannya Luna. 


-“Maka dari itu, untuk membuat anda percaya, bukankah anda harus bisa melihatnya sendiri? Meskipun tanpa kepribadian yang satunya lagi, dia masih tetap bisa melakukannya. Jadi coba saja.”-

__ADS_1


“Kau ini- apa nenek tahu soal ini?”


-“Justru karena ini perintah dari Nyonya besar lah, anda harus melakukannya dengan sempurna. Buat Nona bisa berbaur lebih banyak orang kalau bisa, tapi dengan satu syarat, buat penyamaran yang bagus, agar anda dan Nona tidak ketahuan oleh orang lain. Sisanya biar saya dan Daseon yang urus.”-


Arvin awalnya berpikir keras untuk mengambil keputusan. Tapi setelah itu, Arvin pun mengiyakannya saja. “Katakan, memangnya apa yag harus aku lakukan?” 


-”Misi anda hanya sederhana, temukan empat orang ini, saya kirimkan file nya kepada anda.”-


Setelah menerima folder yang di kirim oleh Luna, Arvin pun mendapatkan adanya empat foto orang yang harus Arvin cari. 


-“Anda bisa sekalian bersennag-senang, jadi tidak perlu gegabah.”-


“Bicara saja memang mudah, tapi aku akan melakukannya.” jawabnya. 


____________


Flashback Off.


Arvin pun menemukan adanya empat orang yang dia cari, dua orang ada di depan bartender, dan dua lainnya sedang berbicang di sudut ruangan. 


Dan satu orang yang paling menarik perhatiannya adalah Ashera sendiri yang terus saja mendapatkan kemenangan di setiap sesi permainan. 


‘Dia bisa jadi aset yang sempurna. Apa dia adalah orang yang membawaku dalam keberuntunganku?’ Arvin akhirnya menyetujui akan ucapannya Luna, bahwa Ashera memang bisa di manfaatkan dengan cukup baik. 


“Nona Hera menang.”


“Yahh~ Kenapa dia menang terus ya?”


“Mungkin kau memang tidak punya hoki, jika berhadapan dengan mereka berdua.” peringat temannya kepada rekannya yang kalah main taruhan. 


Sedangkan Ashera, dia langsung menoleh ke belakang dan berkata : “Nih, setelah ini kau bisa makan semua chip ini sampai kenyang.” Ashera malah memberikan satu kantong chip berwarna hitam itu kepada Arvin, lalu beranjak dari pangkuannya, karena kakinya sudah cukup kesemutan. 


“Kau mau pergi kemana?”


“Kakiku sudah kesemutan, aku ingin duduk sendiri.” jawab Ashera. 


Tapi karena kesemutan itulah, Ashera yang hendak berdiri itu pun kembali jatuh dan kembali duduk di atas pangkuannya Arvin. 


BRUKK…


“...?!” Ashera yang kebingungan itu, langsung menoleh ke arah Arvin yang terlihat sedang melamun menatapnya terus. 


“Kau memang tidak harus pergi dari pangkuanku. Hera.” 


‘Kenapa aku jadi sakit hati sendiri, ketika dia terus saja meyebutku hera?’ pikirnya. ‘Padahal sebutanku kan Shera. Tapi ya sudah lah, memang dia peduli dengan perasanku yang seperti itu?


Ngomong-ngomong kenapa tubuhku mau-mau saja duduk di pangkuannya ya? Terus di bawahnya, sial, aku merasakannya dengan sangat jelas dan nyata.’ Ashera yang merasa kakinya cuku lemas, bahkan di gerakkan sedikitpun dirinya jadi seperti tidak punya tenaga, membuatnya terus mengernyitkan matanya. ‘Aku tidak bisa menghilangkan pikiran kotorku. Ya ampun, apa otakku bahkan sudah di nodai oleh Arvin?


Padahal dulu aku membentaknya, bahkan aku merasa sangat menyesali perbuatan yang aku lakukan bersama dengannya, karena dia merenggut kesucianku. Tapi ini apa? Huhh..’ 

__ADS_1


__ADS_2