
Tepat di jam sembilan pagi, dua kelas di gabung untuk mengikuti pelajaran olahraga.
Tentu saja mereka semua bersiap untuk mengikuti kegiatan olahraga dengan memakai seragam olahraga mereka masing-masing.
"Ok, pelajaran di pagi yang cerah ini adalah berlari."
"Hah?!" All.
Semua orang tidak suka pelajaran olahraga karena di anggap tidak menyenangkan, apalagi membuat mereka sangat benci ada pada perempuan, karena mereka tidak ingin make up mereka luntur.
"Hah...hah...hah...apa?! Apa kalian semua akan mengeluh dengan pelajaran dari bapak ha?!" Pekik guru olahraga ini, namanya Pak Reno, dia bisa di bilang cukuplah tegas, makannya sekali teriakan sudah keluar dengan lantang dari mulutnya, maka semuanya langsung diam. "Walaupun kalian semua anak dari orang kaya, tapi di sini itu status kalian tidak ada sama sekali, kalian semua setara, jadi mau kalian ingin protes bapak ini pemarah, dan memarahi kalian sampai kalian mengadu kepada orang tua kalian, Bapak tidak ada masalah sama sekali. Mengerti?!" Teriaknya lagi, suaranya yang keras seperti speaker membuat mereka semua ingin sekali menutup telinga.
Mereka tentu saja sudah di katai seperti itu berulang kali, bahwa Pak Reno sama sekali tidak takut dengan ancaman dari kedua orang tua anak didiknya yang bisa saja datang kepadanya hanya karena menindas.
"Mengerti"
"Mereka tidak akan pernah mengerti pak, lihat saja wajah-wajah itu, semua perempuan di sini malah pakai make up, padahal kita juga akan latihan berenang juga, mereka tidak pernah sekalipun menggunakan otaknya." Cibir Arvin dengan senyuman sombongnya.
Tentu saja, senyuman nakal yang terukir di bibir seksinya itu mencerminkan kalau ia akan membuat perkara pada mereka semua, dan mungkin saja ada pengecualian, karena Istrinya yang berdiri di barisan paling pojok belakang sendiri, sama sekali tidak memakai make up.
'Dia selalu saja berhasil menghindar dari hukumanku ya?' Arvin jadi semakin tersenyum lebar, membuat semua orang di sana langsung bergidik ngeri dengan senyuman Iblis yang nampak akan memporak porandakan kehidupan sekolah mereka semua.
Peran yang sangat bagus, sebagai seksi keamanan, dia membawa pekerjaan itu untuk menindas banyak orang juga.
"Arvin, kelihatan nya kau hari ini sudah punya rencana lagi." Terka pak Reno.
"Jika apa yang akan aku sita banyak, itu bisa menguntungkan kita Pak, di jual, bisa punya banyak uang kas untuk kas sekolah kita. Jadi tidak ada yang di rugikan sama sekali, kecuali mereka yang sudah berniat ingin merugikan sendiri." Ucapan Arvin merujuk pada barang-barang terlarang yang seharusnya tidak di bawa oleh kaum hawa.
Itulah, sebabnya ia bicara demikian untuk mengancam mereka semua.
__ADS_1
"Dan tentu saja teman-temanku sedang membereskannya." Imbuhnya lagi, berhasil membuat semua orang di sana, termasuk para perempuan langsung berteriak keras.
"Arvin!!!!"
Dan semua perempuan di sana, jadi marah, juga panik sendiri, sebab make up yang belum lama mereka beli, harus dijadikan pengorbanan lagi, dan perkara itu di dalangi oleh Arvin yang terlihat seperti laki-laki yang nakal, tapi kenyataanya di balik senyuman mautnya itu, banyak lelucon yang mengarah pada mereka masuk kedalam jurang keputusasaan mereka.
Arvin, dia seorang pemimpin yang tegas.
Sedangkan Dini, ada perasaan lega yang terdalam, ketika ia sudah berhasil mencuri undangan miliknya Ashera dan juga sudah menempatkannya di tempat yang cukup aman.
'Untung saja aku menyimpan nya disamping meja guru, karena aku sengaja menempelkannya di sana, tidak akan ada orang lain yang tahu.' pikir Dini.
Sedangkan dari kejauhan, Ashera pun mengamati raut muka Dini yang menyiratkan ada perasan senang sekaligus lega.
Walaupun tidak tersenyum, tapi karena ada sedikit perubahan dalam gerak bibirnya sesaat tadi, Ashera pun tahu kalau Dini pasti sudah melakukan sesuatu di dalam kelas.
Pak Reno tiba-tiba bertepuk tangan sambil berteriak : "Sudah-sudah, jangan ribut lagi atau kalian akan tetap terperangkap di sini sampai jam olahraga selesai." Maksudnya jika mereka terus mengulur waktu, berarti waktu yang di habiskan untuk jam pelajaran olahraga akan jadi sia-sia tanpa mendapatkan banyak hasil yang berarti. "Kalian semua lakukan pemanasan dulu, Arvin, kau pimpin mereka untuk melakukan pemanasan.
Setelah itu, lari keliling kolam sebayak empat kali, nanti akan di adakan penilaian, jadi kalian semua harus ikuti arahan dari Arvin, apa kalian semua paham?!"
"Paham pak." Sebagian besar perempuan menjawabnya dengan nada lesu, tapi tidak dengan sebagian besar laki-laki yang semangat karena ia jadi akan melihat pemandangan luar biasa ketika seorang perempuan basah-basahan.
____________
"Fajar, apa alasanmu sampai membuat undangan semahal ini?" Tanya Yuli, dia adalah pacarnya Alfian. Dia baru saja mendapatkan undangan dari Fajar, dan bagi orang yang pintar, ia akan menemukan sesuatu yang tidak akan di pikirkan oleh si penerima undangan.
"Hanya lima puluh ribu selembar, apanya yang mahal?"
"Hah? Mentang-mentang orang kaya, lima puluh ribu selembar itu lumayan untuk makan di restoran, walaupun sekali makan." Bebel Yuli. Dia benar-benar tahu karakteristik orang yang tidak peduli dengan uang adalah dengan membeli barang mahal yang sebenarnya barang itu barang yang cukup sepele, dan termasuk undangan yang sedang di pegang oleh Yuli kali ini.
__ADS_1
Dia saat ini memegang sebuah senter kecil juga, senter yang mengeluarkan cahaya ultraviolet, dan jika di paparkan di balik selembar undangan yang kosong itu, ia akan melihat namanya sendiri tercantum dengan cukup jelas di sana, bahkan di sertai dengan adanya gambar kupu-kupu yang memperlihatkan keindahannya.
'Bahkan ada agar tidak ada yang bisa memanipulasi undangannya, ada barcode segala.' Yuli yang cukup teliti itu terus melihat-lihat setiap inchi dari undangan berwarna hitam yang cukup mewah itu, karena ada setiap tinta yang tergores di atas kertas tersebut berwarna emas, walaupun bukan emas asli, tapi tetap saja terkesan mewah.
"Kenapa kau begitu memikirkan biaya pengeluaran undangan yang aku buat sendiri itu?"
"Apa? Kau yang membuatnya sendiri?" terkejut Yuli dengan cara Fajar menangani keinginannya sendiri adalah dengan menggunakan cara dan kemampuan nya sendiri pula.
"Ya iyalah, apa arti spesial selain membuatnya sendiri? Aku hanya butuh bahan-bahannya saja, dan untuk proses pembuatan untuk selembar undangan, aku hanya memperkirakan sendiri kalau totalnya lima puluh ribu. Begitulah, lagi pula aku tidak ingin ada yang menyelinap masuk dengan menggunakan undangan palsu." Ketika ekspresi wajahnya tadi memperlihatkan wajah ramah, seketika saat mengatakan kata 'palsu' tiba-tiba saja sorotan matanya pun berubah menjadi lebih dingin.
"Apa berarti memang ada orang yang tidak kau undang?" Tanya Yuli.
""Begitulah. Orang yang suka membuat onar, pasti akan membuat onar di tempat lain, dan aku sama sekali tidak ingin hal itu terjadi di pestaku nanti. Makannya, kau jangan mengatakan pada siapapun, karena kau menyadari udanganku ini di buat dengan cara khusus." Pinta Fajar kepada Yuli.
"Aku sih tidak peduli dengan undangan ini, yang penting aku bisa ikut pesta dan makan-makan di sana. Jangan lupa juga untuk menyiapkan dessert yang enak." Lirik Yuli, meminta dessert enak dan mahal di sana, karena Yuli memang suka makan.
"Kau jangan khawatir perutmu kosong, karena aku pasti akan memastikan kalau mereka semua justru akan mati kekenyangan." Jawab Fajar dengan senyuman sinis nya.
Yuli yang melihat senyuman membunuh itu terlukis di bibir seksi yang tidak pernah di jamah siapapun itu, hanya bisa melongo saja.
Padahal Fajar adalah orang yang tidak begitu suka tersenyum. Tapi, sekalinya tersenyum, maka semua orang yang melihatnya akan memilih untuk mati.
Sebuah senyuman yang membunuh. Kematian maut tanpa berdarah, selain jantung yang menjadi pemicu utama mereka akan terkena serangan jantung.
'Untung saja aku tahan dengan senyuman itu. Tapi- tidak biasanya anak ini tiba-tiba tersenyum. Apalagi karena dia tersenyum sinis seperti itu, pasti akan banyak yang mengira kalau Fajar sedang merencanakan pembunuhan masal.' Pikir Yuli ditengah-tengah dia menikmati secangkir kopi buatan pribadi dari Fajar tadi. "Ngomong-ngomong Fajar, apa kau juga bahkan mengundang si Ashera itu?"
Mendengar nama Ashera keluar dari mulutnya Yuli, Fajar pun langsung
Dan dua orang yang sedang bercengkrama di ruang Osis itu pun terus berlangsung.
__ADS_1