
Huh? Malu, padahal sampai beberapa hari yang lalu, kau datang ke rumahku dan naik ke tempat tidurku juga."
'Terserah kau mau bicara apa, aku cuma ingin agar kau keluar dari kamar mandi!' Tapi sayang sekali, kalimat itu tidak bisa Ashera keluarkan, sebab kalau bicara lebih banyak lagi, sudah pasti yang akan rugi itu adalah Ashera sendiri, walaupun saat ini dirinya sedang dalam posisi rugi besar juga.
'Padahal tubuhnya tidak ada menarik-menariknya, kenapa saat itu aku masih saja mengingatnya dengan jelas kalau aku menikmatinya? Benar, kalau perempuan ini tetap di sini, sudah pasti suatu hari lagi, aku akan menggunakan tubuhnya itu lagi.
Padahal dia itu tidak setara denganku, masa aku meniduri pelayanku sendiri? Sangat tidak mungkin, aku tidak ingin membuatnya seperti itu.
Tapi jika aku terus merasa gengsi dengan keberadaannya di sini, aku juga akan rugi.
Hah..., memang yah, ini sangat tidak di duga.' Arvin menghela nafas panjang.
Ashera yang melihat pria itu menghela nafas sebegitu kasarnya, bulu kuduknya tiba-tiba langsung berdiri.
Arvin sudah berkacak pinggang dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menyisir rambut serabai yang masih separuh sedikit basah itu.
'Benar, ini memang tidak terduga, karena aku yang biasanya tinggal sendirian, tiba-tiba jadi ada orang lain yang tinggal denganku.
Walaupun dia anak dari salah satu pelayan nenek ku, tapi tetap saja, kenyataannya sudah cukup jelas, kalau dia sudah jadi Istriku. Istri..., istri, hahaha....jadi aku sudah jadi suaminya ya? Hm, sekalipun aku sudah membuat surat kontrak pernikahan dengannya, tapi benar, lebih baik lakukan apa yang aku inginkan.
Walaupun aku tidak begitu menyukai dia, karena dia udik, bahkan tidak ada cantik-cantiknya sama sekali, selama dia bisa di manfaatkan, berarti aku tetap mendapatkan keuntungan.
__ADS_1
Lagi pula, lelah juga aku mengurus ini dan itu, hanya karena aku tidak suka dengannya. Yang penting, asal dia nurut saja dengan semua ucapanku, aku bisa memberikannya sedikit kebaikanku.' Arvin pun kembali menatap Ashera yang masih saja menunduk itu. Karena keputusannya sudah bulat dengan semua yang barusan ia pikirkan, Arvin pun angkat bicara. "Ashera,"
"Iya?" Sahut si empu dengan nada ragu-ragu.
"Jangan menunduk." Arvin pun memberikannya perintah.
"..." Tapi Ashera tetap saja menunduk.
"Kalau kau tidak ingin aku terus marah kepadamu, lebih bagus kau menurut saja dengan mudah dengan semua perintahku. Itu akan jauh lebih baik pada dirimu. Kau tidak ingin aku terus memusuhimu kan? Jika kau seperti itu, maka baik aku maupun kau sendiri, suasananya jadi sama-sama tidak tegang, kan?"
"Asal perintah anda itu masih cukup masuk akal," Tanpa sadar Ashera bergumam lirih.
"Aku mendengarnya." Arvin malah jadinya bersandar ke pintu, dan terus menonton hal unik dari Istrinya yang sedang duduk dengan perasaan malu yang sudah tidak bisa di bendung lagi itu.
"Lagi pula aku ini masih waras lah ya, jadi aku tidak akan membuatmu melakukan hal yang tidak masuk akal, sampai membuatku rugi sendiri sampai membuang waktuku karena harus menunggu, gara-gara kau tidak bisa mengurusnya." Jelas Arvin dengan percaya dirinya yang cukup tinggi itu.
'Baguslah kalau begitu. Tapi mau sampai kapan dia akan berdiri di situ? Apa dia tidak merasa jijik dan bau? Aku ini sedang BAB loh, kenapa malah terus menontonku sih?' Bahkan, gara-gara kedatangan Arvin, rasa sakit dari perutnya jadi menghilang dan berujung pada dirinya yang sudah tidak memiliki mood untuk melanjutkan BAB lagi. "Apa anda bisa keluar?"
"Sampai kau selesai BAB dan cebok, aku akan keluar setelah itu."
"Ha?! Anda gila ya?"
__ADS_1
"Bukannya gara-gara kau, aku sudah jadi gila?" Dan benar saja, Arvin pun tiba-tiba saja menatapnya dengan tatapan jenaka. Sungguh konyol, tentunya, sebab selama ini kan ekspresi wajah Arvin selalu saja serius dan dingin, tapi kali ini benar-benar seperti orang gila!
'S-sebenarnya apa yang di pikirkan orang ini terhadapku? Citranya itu, ternyata jika di luar sekolah, malah lebih tidak masuk akal lagi.' Padahal jika saat di sekolah, Arvin terus menunjukkan wajah tegasnya, tapi diluar itu, maka wajahnya yang lain pun muncul juga, dia adalah orang yang seperti bar-bar.
Tidak, bukan hanya itu saja, tampangnya apalagi saat tersenyum sinis itu, Arvin akan berubah seperti seorang preman yang ingin memerasnya.
"Saya mohon, sebaiknya anda keluar, disini kan tempatnya bau."
"Maksudnya, bau mesum, benar kan?" Ledek Arvin, lagi-lagi tersenyum sinis.
BLUSHH....
Ashera yang sudah tidak mampu untuk membendung perasaan malunya, langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Jika anda ingin sarapan pagi, anda harus keluar dari sini dulu."
"Tch..., satu syarat lagi, buatlah dirimu itu lebih berguna dari pada sekedar menangis. Karena aku tidak suka jika ada orang di sekitarku, tapi tidak berguna sama sekali. Paham?" Peringat Arvin.
"Hmm saya paham." Dengan anggukan kecil seperti itu, Arvin pun memutuskan untuk keluar.
"Lain kali kunci pintunya, atau jika ada yang kedua kalinya dan aku masuk lagi, aku yakin kau tidak akan berakhir selamat seperti ini." Pesan terakhir Arvin kepada Ashera sebelum Arvin akhirnya keluar dari sana.
KLEK....
__ADS_1
"Hahhh~" Ashera langsung lemas, betapa menyusahkan nya jika hidup bersama dengan seorang laki yang tidak bisa di atur seperti itu. Itu pertama kalinya untuk Ashera, karena selama ini, tidak ada satu pun orang yang dekat dengannya, bahkan jika itu seorang laki-laki, maka sebenarnya Arvin adalah yang pertama kalinya dekat dengannya, dan sekaligus pertama kalinya bagi Ashera melayani majika seperti dia itu.