
Setelah beberapa hari liburan di Korea, mereka akhirnya pulang ke rumah.
Tentu saja, baik itu Fajar, Yuli, Alfian, Arvin dan Ashira pun sama-sama pulang di hari yang sama .
Namun di sini ada kendala pada Ashera. Sekarang raut mukanya berekspresi datar, tangannya menopang dagunya, dan dia terus melirik ke arah kanan dan kiri.
Tepatnya mungkin sebagai kompensasi Apa yang terjadi malam tadi karena harus melayani Arvin, dia pun jadinya duduk di kursi roda.
"Wow...lihat laki-laki itu. Perhatian sekali dengan kekasihnya ya? Aku jadi, iri kapan ya aku bisa punya kekasih seperti dia." salah satu pengunjung bandara melihat Arvin dan Ashera dan perlahan kehadiran dari dua orang tersebut menjadi perhatian para penumpang yang sedang duduk untuk menunggu jadwal terbang mereka.
'Malam tadi sangat memuaskan. Aku jadi menginginkan lagi.' batin Arvin, diam-diam memuji dengan keberhasilan dirinya malam tadi dalam mencetak rekor untuk menghabiskan beberapa roda untuk bisa memuaskan hasrat dalam tubuhnya akibat obat perangsang.
Lain hal dari Arvin yang merasa senang dan bangga, Ashera justru sebaliknya. Dia ngambek, gara-gara pangkal pahanya benar-benar sakit atau jalan saja jadi merasa malas sebab itu menguras tenaganya.
'Jujur emang enak sih. Tapi aku kenapa harus menjadi orang yang selalu tersiksa di akhir?' Ashera tentu saja merasa tidak adil karena Arvin mendapatkan rasa puasnya, sedangkan Ashera mendapatkan rasa sakit di bagian akhir.
"Tuan muda," tiba saja ada seorang perempuan yang mendekat dan menghalangi jalan mereka berdua.
Meskipun Arvin sudah menggunakan masker, tentu saja dia akan tetap terlihat tampan meskipun wajahnya ditutupi. Ya, bahkan sebenarnya dari segi berpakaian dan punya postur tubuh yang tinggi, mau di lihat dari manapun, tetap saja akan nampak keren dan akan selalu menarik perhatian kalangan perempuan.
"Apa?" tanya Arvin dengan ketus. Sedangkan Ashera, dia hanya menatap perempuan tersebut dengan tatapan yang sangat malas. Bahkan dia memilih diam saja, karena dia tahu apa motif dari perempuan tersebut yang tiba-tiba menyerobot menghalangi jalan mereka berdua tidak lain adalah untuk minta foto bersama.
"Apa aku boleh minta foto bersama denganmu?" tanya wanita ini, dia mengharapkan sesuatu kepada Arvin.
"Tidak bisa."
"Loh kenapa tidak boleh padahal bukan hanya ingin foto saja bersama denganmu." masih mencoba untuk membujuk Arvin.
"Ya Tuhan kenapa kok malah tanya kenapa? Aku kan tidak ingin foto bersama denganmu, Itu saja alasan kenapa aku menolakmu, masa tidak paham?"
Wanita tersebut pun langsung menurunkan tangannya yang sudah bersiap ingin foto bersama Arvin dengan handphonenya sendiri.
Dia gagal, padahal dia sangat ingin sekali bisa mendapatkan fotonya.
Namun Arvin yang cuek itu langsung pergi mendorong kursi roda yang sedang digunakan oleh Ashera, karena alasan pribadinya tentu dan terutama karena perbuatannya Arvin sendiri malam tadi.
"Kenapa kau tidak mau foto bersama dengannya? Dia juga cantik kok." Ashera bertanya kenapa Arvin menolaknya padahal pria ini jenis ini adalah orang yang suka berfoto dengan semua wanita cantik, maka dari itu di sosmednya saja ada sudah sekitar 2 juta penggemar.
"Dia merusak kebahagiaanku," jawab Arvin dengan singkat.
"Begitu pula? Memang apa yang membuatmu bahagia dan membuat orang itu bisa jadi masalah untukmu?" tanya Ashera dengan polosnya.
"Aku kan sedang memikirkan, meresapi apa yang sudah terjadi di antara kita berdua malam tadi. Itu sangat menyenangkan aku. Apa kau mau melakukannya lagi malam nanti?"
"Kau! Memangnya aku ini boneka ya? Aku sangat lelah, dan aku hanya ingin istirahat saja." celetuk Ashera dengan rasa kesal.
Dia tidak menyangkal kalau itu memang hal yang menyenangkan, akan tetapi tetap saja, harus ada batasan. Dan sekarang dia sudah mencapai batasannya sendiri, bahkan sampai berjalan saja rasanya menjengkelkan, Ashera pun sudah memilih untuk tidak melakukannya lagi.
__ADS_1
Setelah berbicara seperti itu Ashera pun terdiam sejenak dia mencoba menoleh ke belakang dan melihat Alvin terus menatap ke arahnya.
"Kenapa kau terus menatapku sih nanti wajahku bolong gimana?"
"Hah bolong? Yang ada makin tebal! Kau kan suka menatap wajahku juga, bener kan tebakanku?" ledek Arvin dengan sengaja.
Ashera pun kembali dibuat tersipu malu. dia setuju kalau laki-laki di belakangnya itu punya profesi rahasia sampai peran mulutnya sungguh sudah pintar sekali dalam merangkai kata-kata menjadi kalimat penuh dengan godaan seperti iblis yang menghasut.
Namun sayang sekali, Ashera akhirnya kalah dalam perdebatan itu, karena dia tidak bisa menyangkal ucapannya Arvin.
__________
Setelah mengarungi hari dan waktu yang panjang untuk bulan madu di Korea akhirnya mereka berdua sampai di rumah.
Namun rupanya mereka harus dihadapi dengan keberadaan neneknya Arvin dan juga Luna yang sudah berada di dalam apartemennya Arvin juga.
"Nyonya besar kenapa anda ada di sini?" tanya Ashera, dia yang cukup menghormati neneknya Arvin segera berdiri dari kursi rodanya tapi nenek tidak langsung mencegatnya.
"Ashera kau duduk saja tidak usah berdiri," tutur nenek Tina kepada Ashera.
"Tapi-"
"Nenekku sudah bilang begitu. Apa kau mau melawan perintahnya?" kata Arvin dengan makna yang sebenarnya melenceng dari yang sebenarnya.
"Arvin itu bukan perintah tapi permintaan, kau jangan membuat apa yang aku ucapkan adalah perintah." nenek Tina pun langsung menegur Arvin saat itu juga, membuat Arvin jadi merasa sedang di sindir. Meskipun itu hanya sekedar peringatan, tapi itu tetap saja mempengaruhi harga dirinya Arvin.
Setelah keheningan beberapa menit karena menunggu Luna menyiapkan minuman untuk mereka semua, nenek Tina pun angkat bicara : "Arvin Apakah sudah melakukan tugas yang Luna suruh kepadamu?" tanya nenek Tina.
Arvin sempat melirik ke arah Ashera, karena disini masih orang yang sebenarnya berkontribusi dalam kasus ini adalah Ashera sendiri.
"Semuanya sudah beres hanya tinggal membuat mereka pulang ke rumahnya masing-masing tanpa ada ketahuan oleh orang lain, karena kebanyakan dari mereka pergi karena ingin liburan bersama. Jadi tidak ada yang tahu kalau sebenarnya mereka diculik." Arvin jadinya menjelaskan secara singkat.
"Baguslah kalau seperti itu kalau begitu satu pertanyaan lagi untuk kalian berdua. Apakah kalian berdua menikmati bulan madu kali ini?" Nenek Tina bertanya dengan senyum penuh harap. "Dan ngomong-ngomong Ashera, sebenarnya kau kenapa? Pulang kok sampai harus duduk di kursi roda?"
Pertanyaan yang sangat memalukan, membuat Ashera pun jadinya terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dijawab karena pada akhirnya jawaban itu harus berasal dari Alvin. 'Biarkan anak itu saja yang menjawabnya karena dia yang punya nyali untuk bicara secara terus terang kepada neneknya sendiri.'
"Tentu saja kami berdua sangat menikmatinya ya kan Ashera?"
Lalu dengan polosnya Ashera menganggukkan kepalanya.
"Arvin aku kan bertanya kepada Ashera kenapa kau pula yang jawabnya?" timpal nenek Tina kepada Arvin memberikan peringatan lagi dan lagi.
"Toh jawabannya sama. Kenapa harus pilih-pilih," gerutu Arvin.
"Iya nyonya perjalanan kami menyenangkan kok. Bahkan saya tidak tahu kalau ternya Arvin bisa mengendalikan helikopter."
"Pfft itu bagus dong, apa kau suka? Entah kenapa dengan anak ini, padahal sukanya keluyuran, tapi dia bisa menerbangkan helikopter dalam kurung waktu beberapa bulan."
__ADS_1
Ashera menganggukkan kepalanya. Namun bukannya menjadi jawaban yang bagus tapi karena ekspresinya bertolak belakang dengan anggukan itu, nenek Tina pun jadinya curiga kepada Asera, apakah Ashera menyembunyikan rahasia darinya?
Sedangkan Luna yang sedari tadi menyimak pembicaraan di antara mereka bertiga akhirnya mencoba untuk menyela.
"Nyonya, sebaiknya pembicaraan ini kita hentikan sampai di sini saja, kalau bisa. Mengingat Tuan dan Nona muda kan baru juga pulang pasti mereka pasti masih sangat lelah, jadi ada baiknya jika pembicaraan ini dilanjut besok saja."
"Yah itu ada benarnya juga sih walaupun sebenarnya aku tidak sabar ingin bicara lebih banyak dengan mereka." sahut Nenek Tina atas perhatian dari Luna yang mau menegurnya tadi.
Arvin dan Ashara pun menyetujui usulan dari luna.
Tidak perlu membuang waktu lama nenek Tina yang paham dengan kondisi dua anak muda itu, akhirnya memutuskan untuk pergi. Tentu saja dia terus dikawal oleh Luna sebagai bodyguard-nya.
Kalau begitu kalian berdua istirahatlah lebih dulu. Nenek tidak akan mengganggu kalian berdua lagi untuk saat ini.
Luna pun membungkukkan tubuhnya lalu berjalan di belakang nyonya besar danar dari apartemennya sang tuan muda.
KLEK
Setelah dirasa mereka berdua benar-benar pergi pergi Arvin dan Ashara pun menghela nafas secara bersamaan
"Hahhh….."
"Terima kasih karena kau sudah mau menolongku. Aku tidak mungkin bisa menjawabnya dengan terus terang. Aku itu tidak sepertimu, kau punya percaya diri yang cukup tinggi sedangkan aku sebaliknya."
Setelah itu Ashera pun beranjak dari kursi rodanya dan berjalan pergi menuju kamar?
Tidak...!
Dia kembali lagi dia memilih untuk tidur di sofa yang bisa dijadikan sebagai tempat tidur karena bisa dibuat jadi ranjang juga
Arvin yang memperhatikan itu segera bertanya, "Apa kau masih tidak mau masuk ke dalam kamar itu? Padahal di sana lebih nyaman."
"Entah kenapa aku tidak ingin masuk. buktinya setiap kali aku masuk dan tidur di sana beberapa jam kemudian tubuhku pasti sudah ada di sofa lagi kan? Aku sendiri tidak sadar kalau aku bisa tidur berjalan ungkap Ashera. Dia setidaknya memberitahu kebenaran kepada Arvin.
"Apa kau mau tidur bersamaku saja di kamarku di lantai atas?" Arvin mencoba menawarkan kepada Ashera. untuk tidur bersama.
"Takutnya jika aku tidur bersama denganmu lagi, diam-diam kau bisa saja melakukannya lagi denganku. Aku tidak mau ke colongan. Aku sudah sangat lelah, jangan ganggu aku lagi, aku ingin tidur istirahat dan penuh ketenangan." omel Ashera, dia pun memejamkan matanya di atas sofa.
Tapi Arvin malah terkekeh. "Oh apakah kau sedang waspada denganku? Padahal kita sudah melakukannya sampai tiga kali. Kau sungguh terlambat Ashera." papar Arvin, tapi karena ucapannya tidak digubris oleh Ashera yang sudah tidur itu, Arvin pun jadi seperti baru saja berbicara dengan tembok.
"Padahal aku sedang bicara, tapi beraninya sudah tidur duluan ya?" gumam Arivin.
Meskipun gumaman itu sebenarnya masih bisaa di dengar oleh Ashera.
'Memangnya aku harus apa jika aku ternyata bisa berani terhadapmu?' kata hati Ashera yang paling dalam dia pun terus memejamkan matanya tanpa menanggapi ucapannya Arvin barusan.
Arvin yang merasa baru saja diabaikan, akhirnya memilih pergi dari sana dan istirahat di kamarnya sendiri. Itu jauh lebih baik ketimbang harus berdebat lagi dengan Ashera.
__ADS_1