
“Dimana? Disini hm?” Arvin pun menyetujuinya, dengan merekam suara milik Jellyna sebagai bukti, Arvin segera menyentuh daerah pribadinya Jellyna.
Namun karena alasan jijik, meskipun perempuan ini punya tubuh yang cukup memikat, Arvin hanya melakukannya dengan menekan-nekanya saja sampai Jellyna akhirnya menggila juga, padahal dia sama sekali tidak melakuan hal lebih dari pada menekannya dengan tangan yang masih terhalang oleh handuk komono itu.
Bukannya itu sangat terangsang?
Ya, tapi apa itu lebih baik? Apakah itu cukup menjadikan Arvin tergoda dengan tingkah menggila dari perempuan ini?
Jelas tidak, karena dia sendiri sudah punya yang lebih bagus dari pada ini.
“Ahh, lebih cepat, tolong.” pintanya.
__________
Di luar kamar. Karena di kamar itu memiliki fasilitas peredam suara yang cukup baik, mereka berempat pun sama sekali tidak mengetahui apapun yang terjadi di dalam kecuali samar-sama suara yang sedang mendes*ah.
“Sampai kapan kita bekerja seperti ini di bawah Nona muda?” salah satu dari mereka berempat bertanya dengan nada malas. “Apa kalian akan benar-benar bekerja dengan cara seperti ini?”
“Tapi ini pekerjaan dengan gaji yang cukup mahal.”
“Aku juga tahu itu, tapi masa iya, kita malah di perlakukan seperti orang yang harus tidak tahu apapun soal masalah Nona muda yang sudah punya sisi aneh yang sudah akut itu?”
“Ahh~ Adolv, lebih cepat, lagi..ayo lagi.”
Ketika mereka bertiga sedang bicara satu sama lain, salah satu diantara mereka malah sedang asik menguping.
Mereka bertiga pun langsung menyeret temannya itu agar tidak menguping suara yang sangat menghanyutkan itu.
“Kau apa-apaan sih, seperti tidak pernah dengar saja.” tegurnya.
“Iya nih, kau ini benar-benar menikmati pekerjaan ini ya?” tanya satu teman yang lainnya.
“Dasar, kau sudah terpengaruh hal buruk dari Nona.” yang lainnya pun sama-sama bicara menegur satu orang itu.
“Lagian, suaranya sangat menggugah.” jawabnya dengan terus terang, bahkan senyuman nakalnya itu pun langsung membuat ketiga temannya itu berekspresi penuh jijik. “Aku suka suara desa*annya, sangat nikmat.”
“Kalau kau suka, kenapa tidak minta sa alangsung pada Nona agar kau jadi bagian dari orang-orang yang sudah Nona koleksi?” tanyanya.
__ADS_1
“Katanya aku kurang cocok.”
“Yah, satu jerawat di wajahmu saja langsung menurunkan standar ketampananmu, wajar saja Nona menolakmu.” bebel temannya yang lain.
Sampai pintu yang tadinya tertutup, tiba-tiba saja terbuka.
KLEK…
Mereka berempat pun langsung menoleh ke belakang.
PLOK….
Satu tepukan dari Arvin, langsung membuat mereka berempat yang ingin bertanya dengan ekspresi wajah terkejutnya, langsung terhipnotis.
“Dua orang tetap di sini, dan dua orang lainya tuntun aku pergi ke gudang.” perintah Arvin sambil menggendong tubuh Ashera di belakang punggungnya.
“Baik Tuan.” jawab mereka berempat secara bersamaan.
_______________
Di dalam sebuah Gudang, ada empat orang yang sebelum ini melakukan permainan taruhan bersama dengan Arvin.
Baginya Itu adalah sebuah penghinaan yang sangat kejam, karena dirinya kalah dengan seorang anak kecil bau kencur.
“Huh aku benar-benar ingin sekali menghajar dia, bisa-bisanya aku terus kalah dengan dia, padahal aku sendiri adalah orang yang sudah cukup senior daripada dia.” oceh Tina, dia terus membicarakan Arvin.
“Ya ampun Tina, kenapa kau masih saja marah dengan hal itu? padahal kau sendiri mempermalukan dirimu sendiri, kenapa kau terus saja main dengan dia padahal kau sudah tahu dari awal dia hanya bermain-main saja. Maksudnya dia sebenarnya udah jago tapi sengaja di awal dia masuk main bersama dengan wanita tua itu, dia selalu mengalah.
“Sudahlah aku tidak mau mendengar ceramahmu. Aku benar-benar Ingin mengambil lagi uang milikku itu.” kata Tina sambil mendengus kesal.
“Kau mau mencuri atau bagaimana? Apa kau tahu dia naik ke sini tuh pakai apa? Dia itu pakai helikopter tahu.” tutur temannya lagi.
“Ah! Kenapa malam ini aku sial sekali sih? Kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki itu? Ini membuatku frustasi, uangku- ah uangku…~” akhirnya Tina pun jadinya merengek, karena uangnya sudah dibabat habis oleh Arvin.
Tidak memperdulikan apa yang ditangisi oleh Tina, pra paruh baya yang menjadi sosok ketua dari mereka bertiga, tiba-tiba saja angkat bicara. “Tapi apa kalian bertiga tidak merasa aneh dengan kehadiran dua orang itu?”
“Hah maksudnya siapa? Apakah Adolv dan Hera itu?” tanya pria berkacamata bulat ini.
__ADS_1
“Ya Iyalah memangnya siapa lagi kalau bukan mereka?” cetus pria ini.
“Ya kan aku cuman tanya. Memangnya ada apa dengan mereka berdua?” balasnya.
“Mereka berdua tiba-tiba datang ke sini. Apa kalian sudah mengecek daftar penumpang kapal ini?” tanya pria ini kepada salah satu rekannya itu.
“Sudah sih.” jawabnya singkat seraya membuka tablet.
“Lalu apa kau melihat ada nama mereka berdua?”
“Sebentar dulu, aku cek lagi.”
Wanita berambut pink itu pun terus menatap temannya yang sedang mengecek kembali daftar penumpang yang ada di tablet yang dipegangnya itu dengan seksama.
Jujur kalau temannya itu cukup tampan. Tapi sayangnya dia tidak suka dengan sifatnya yang terlalu blak-blakan, sangat tidak romantis.
Tapi mengetepikan hal tersebut tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari luar. Sontak mereka berempat pun langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu tersebut.
“Ini baru jam sembilan malam. Kenapa ada yang mengetuk pintu?” gumam Tina.
“Mungkin Nona membawakan mainan barunya ke sini, atau mungkin saja seorang pelayan sedang mengantarkan camilan untuk kita semua.” sela anak laki-laki ini.
“Daripada hanya menebak-nebaknya saja kalian cepat buka pintunya.” perintah si pria paruh baya ini.
Salah satu dari mereka pun mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri pintu tersebut.
Namun begitu dia membuka pintu itu, dia langsung dikejutkan dengan keberadaan dari laki-laki yang belum lama ini mereka temui yaitu Arvin.
‘Kenapa anak ini tiba-tiba ada di sini?’ batin pria ini, dia merasa sangat heran kenapa anak tersebut bisa tahu keberadaan dari gudang ini.
Tidak hanya dirinya yang terkejut, melainkan tiga orang di belakangnya pun sama-sama memperlihatkan ekspresi wajah terkejut mereka karena Arvin, orang luar yang baru saja mereka temui ternyata bisa mengetahui tempat rahasia ini dengan begitu mudahnya.
Tidak hanya Arvin saja yang datang karena di belakangnya ada dua orang Bodyguard dari nona Jellyna, entah apa yang sudah dilakukan kepada dua orang tersebut, tapi terlihat jelas kalau mereka berdua terkena hipnotis.
‘Gawat jangan-jangan dia adalah orang suruhan yang mau membongkar kasus ini?!’ panik pria ini. ‘Apakah nona Jellyna tahu soal ini? Atau sebenarnya anak itu sudah merencanakan dengan kata lain Nona Jellyna sudah terjebak dalam permainannya?
Pantas saja aku merasa janggal dengan kehadiran anak ini.’ pikir pria tua ini sebagai orang yang memimpin dari ketiga temannya itu.
__ADS_1
Sedangkan di sisi Arvin, dia terlihat sangat senang karena dia akhirnya bertemu dengan mereka berempat lagi.
‘Apakah ini sebuah takdir atau apa? Tapi sepertinya aku harus cepat membereskan keempat orang ini karena aku tidak bisa membiarkan Ashera di luar sana sendirian.’ pikir Arvin sambil menatap keempat orang yang ada di dalam gudang tersebut dengan tatapan datar.