
"Ashera! Apa yang kau lak-"
BRAK...
Arvin yang belum selesai bicara itu, ucapannya langsung di sela setelah dia mendapati Ashera yang tiba-tiba saja keluar dari kamar tamu, tempat kelam yang pernah di jadikan tempat mereka berdua menjalani masa sulit bersama saat pertama kali berdebat untuk tindakan ceroboh mereka berdua.
'Apa yang dia sembunyikan di dalam sana? Tapi kelihatannya percuma saja jika aku memaksa dia pergi dan memperlihatkan apa yang dia sembunyikan dariku.' Pikir Arvin. Karena dia merasa kalau memaksa adalah keputusan yang tidak berguna untuk situasinya saat ini, Arvin pun mencoba untuk menahan rasa penasarannya dari apa yang sedang Ashera kerjakan itu.
"Apa kau sudah lapar? Atau mau apa?" Tanya Ashera dengan cepat dan tidak lupa dengan mempertaruhkan wajah polosnya sebagai tameng untuk membuat serangan kepada Arvin.
"Ya iya lah. Kau lihat jam di sana, apa kau mau membuatku mati kelaparan gara-gara kau sibuk sendiri terus menerus sampai lupa waktu?" kata Arvin, membebel kepada Ashera.
Ashera yang baru saja menyadari kalau jam yang ada di atas televisi itu benar-benar memperlihatkan jam makan malam, Ashera pun bergegas pergi menuju dapur.
"Maaf, akan aku buatkan makan malammu." Ucap Ashera. Dia segera memakai Appron untuk mencegah pakaiannya kotor.
'Kesempatan. Dia masak, maka aku akan menyelinap masuk.' Pikir Arvin.
Tapi begitu niatnya itu sudah Arvin dapatkan, sayang sekali bahkan sebelum Arvin mengambil satu langkah menghampiri daun pintu itu, Ashera tiba-tiba saja berbalik dan menegurnya. "Arvin, jangan masuk. Kau tidak boleh masuk."
"Ha? Apa kau barusan melarangku masuk kedalam kamar milikku sendiri?" Tanya Arvin kepada Ashera yang sudah memegang pisau tajam.
Dengan ekspresi wajahnya yang cukup serius, Ashera yang kebetulan memegang pisau, tiba-tiba menghentakkan pisau itu dengan keras di atas talenan.
PRAKK.....
"Aku tahu kau adalah penguasa di dalam rumah ini, karena kau lah orang yang memiliki rumah ini. Tapi setidaknya berikan aku sedikit ruang untuk menutup rahasia yang sedang aku buat. Itu saja, jika kau mau makan, akan aku buatkan. Tapi jika kau mau masuk ke sana, maka tidak akan ada lagi makanan untukmu." Jelas Ashera.
Arvin yang akhirnya mendapatkan banyak larangan, apalagi masuk kedalam kamar yang menjadi saksi bisu takdir mereka berdua, hanya bisa berdecih saja, dan segera mengambil langkah mundur sebelum akhirnya dia memilih untuk pergi kedalam kamarnya sendiri dan menunggu Ashera selesai masak makan malam, sekaligus untuk belajar sedikit, karena besok sebenarnya sudah akan ada ujian.
___________
Di hari ujian.
__ADS_1
'Hah! Kenapa soalnya susah sekali?' Pikir Dini. Tepat di hari ujian, banyak murid yang mendapatkan jadwal terpisah, dengan sistem ganjil genap, nomor ganjil yang ada di nomor ujian paling belakang milik mereka, menentukan hari pertama mereka ujian.
Dan hari ini adalah ujian untuk nomor ganjil, dan secara kebetulan juga, nomor ujian Dini dan Ashera berbeda, jadi tidak akan ada pertengkaran ataupun trik licik untuk saling menjatuhkan, sebab Dini memilik kebencian yang cukup besar terhadap Ashera.
Tapi karena hari ini adalah hari aman, ketika Dini, Lidia, Arliana, Arvin, sedang menjalani sesi ujian mereka justru Ashera ada di rumah untuk mengejarkan pembuatan hadiah khas dari seni miliknya sebagai hadiah untuk Fajar.
Dia saat ini sedang mengurung di dalam kamar, tempat dimana hal paling tabu untuk anak muda, justru di lakukan dengan cukup bergairah.
"Setiap kali ku melihat ke arah tempat tidur itu, aku terus saja mengingat hari itu, tubuh ini, aku...benar-benar mengerang?" Begitu gumaman miliknya itu berakhir dengan kalimat 'mengerang', tiba-tiba saja Ashera pun tertawa mencibir.
Dia hanya tidak menyangka, kalau makanan yang di bawanya, berhasil membuat dirinya sebagai sarapan pagi si Tuan muda Arvin, dan hasilnya membuat mereka berdua jadi memiliki hubungan lebih dari sekedar majikan dan pelayan.
"Dia memang cukup ahli, berapa banyak jam terbang yang dia lakukan sampai punya banyak skill olahraga ranjang sebanyak itu? Dia sudah bekerja keras." Gumam Ashera dengan senyuman simpulnya.
Dia benar-benar hanya tidak menyangka saja bahwa dirinya justru jadi menerima banyak pembelajaran soal olahraga ranjang gara-gara peristiwa pagi itu, sampai Ashera, orang yang menjadi korban, justru menjadi orang yang masih mengingat jelas tragedi itu dengan cukup baik.
'Aishh...sudah-sudah, buang jauh-jauh, jika aku terus saja memikirkan itu, pekerjaanku saat ini tidak akan pernah selesai-selesai.' Pikir Ashera, dia pun memandang semua peralatan dan perlengkapan dari alat tulis yang sedang dia gunakan untuk membuat karya seni yang bisa dia kerjakan dengan skill miliknya.
"Tapi, hadiah itu sebenarnya bukan dari harga, mahal atau tidak, karena bagiku hadiah itu berasal dari ketulusan hati." Dengan meniatkan dirinya untuk bisa berkarya dalam membuat hadiah, Ashera pun dengan semangat memotong kertas warna-warni itu menjadi serutan yang panjang.
Dengan modal kertas, kertas hvs warna, pemotong kertas, penggaris, jarum quilling, juga quilling board.
Ya, seperti dua alat yang baru saja di sebutkan, Ashera membuat kreasi quilling paper untuk menjadi sebuah karya seni khas miliknya yang jelas akan berbeda dari yang lainnya.
Dan gara-gara itu juga, jam kerja yang dia butuhkan pun justru jadi melebihi jam belajar yang seharusnya dia gunakan untuk mempersiapkan ujian besok.
___________
Esok harinya, pagi yang cerah kembali mewarnai bumi pertiwi dengan segudang kisah baru yang akan di toreh oleh setiap manusia yang ada di bumi.
Menjalani hidup, serta menjalani jalan takdir mereka.
"Hahh, entah kenapa aku benar-benar merasa nyaman, semenjak dia jadi budak ku." Gumam Arvin. Pagi harinya, untuk pertama kalinya, dia pun merasa cukup damai, sebab hari ini adalah sesi ujian khusus untuk Ashera.
__ADS_1
Maka dari itu, begitu Arvin bangun pagi, dia pun tidak menemukan batang hidung dari Istrinya itu.
"Bahkan masakan pun sudah di siapkan cukup baik. Kalau seperti ini terus, aku akan tarik ucapanku kalau kehidupan dari orang yang sudah punya istri, adalah neraka, karena dia ternyata mengerti diriku lebih dari Daseon itu." ucap Arvin, dia kemudian berjalan menuju dapur untuk melihat apa makanan yang di sajikan oleh Ashera ini kepadanya.
Dan makanannya itu pun benar-benar cukup berkelas, seakan dia baru saja menemukan restoran pribadi miliknya.
Tapi, begitu Arvin duduk untuk menemukan rasa kenyang yang bisa dia ciptakan ketika dia bisa makan, sudut matanya tiba-tiba menelisik menemukan satu pintu yang ingin dia buka.
'Aku akan melihatnya, apa yang sedang dia kerjakan di sana.' Pikir Arvin. Seperti harapan begitu selesai makan, Arvin langsung pergi menghampiri pintu kamar tersebut.
Dia tahu, kalau pintu itu jelas di kunci. Tapi sebagai pemilik rumah, dia memiliki semua kunci cadangan, dengan begitu Arvin pun bisa masuk kedalam kamar tersebut.
KLEK....
'Kamarnya bersih? Tapi aku jelas bisa mencium aroma lem, tunggu..., ini ada aroma dari parfum pria juga. Apa artinya dia membeli sebuah parfum untuk di jadikan hadiah untuk Fajar?' Arvin terus masuk kedalam kamar miliknya yang ada di lantai dua.
Dia celingukan untuk mencari barang yang mencurigakan.
'Ketemu, aku akan lihat kau sedang membuat apa.' Seringai Arvin, melihat di atas lemari ada satu kotak kardus. Karena mencurigakan, Arvin pun mengambilnya, dan mencoba melihat isi dari kardus tersebut.
Dan, begitu Arvin menurunkan kardus tersebut, seketika ekspresi wajah Arvin yang awalnya cukup bersemangat sampai memberikan sebuah senyuman piciknya, tiba-tiba saja sirna dan tergantikan dengan ekspresi wajah yang begitu dingin.
"Ashera, kau ternyata niat sekali ya ingin memberikan hadiah kepada Fajar dengan hadiah seperti ini." Gerutu Arvin.
Karena merasa tidak suka melihat barang itu ada di dalam rumahnya, dimana kreasi seni kerajinan tangan Ashera berhasil membuat Quilling dengan nama Fajar, sebagai hadiah utama dari Ashera, Arvin segera membawa barang tersebut keluar, merusaknya dan akhirnya dia buang ke tong sampah besar yang ada di lantai basement.
BRUK....
"Dengan begitu, kau tidak akan bisa hadir maupun memberikan dia hadiah." Gumam Arvin, lalu dia pun meninggalkan hadiah yang masih setengah jadi itu di tong sampah, dimana tidak lama lagi akan ada truk sampah yang mengangkut sampah besar itu dan membuangnya ke pusat pembuangan.
PIP...PIP....PIP.....
Dan benar saja, ada truk berwarna hijau yang berjalan mundur ke belakang. Dengan alatnya yang canggih, truk sampah itu pun berhasil menjungkir balikkan tempat sampah besar itu dengan mudah, sampai akhirnya semua isi itu langsung berkumpul menjadi satu dengan sampah yang lainnya.
__ADS_1