Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
72 : Sisi belakang Arvin


__ADS_3

"Aku mau di bawa kemana?!" tanya perempuan ini. Tidak seperti biasanya, perempuan bernama Marlina ini, kini hanya memakai pakaian biasa dengan rambut hanya di kuncir satu ke belakang. Tapi seperti seorang penjahat kelas kakap, kedua tangannya Marlina di ikat dengan menggunakan borgol, dan matanya pun harus di tutup dengan kain berwarna hitam.


"Bertemu dengan seseorang." Jawab anak buah Arvin. Dia sama-sama masih muda dan bahkan seumuran dengan Arvin.


"Apa itu Arvin?"


"Dari pada banyak tanya, mending bicara saja langsung." Ucap laki-laki ini, dia pun mendudukkan Marlina di atas kursi yang sudah berhadapan dengan sosok Arvin yang lebih dulu ada di ruangan kecil itu.


"Kita bertemu lagi, bagaimana keadaanmu?" tanya Arvin, sekedar basa-basi sedikit.


"Arvin? Apa itu kau? Arvin, aku mohon, lepaskan aku."


"Untuk apa aku melepaskanmu, kan kau pagi tadi masuk ke kandang tempat aku tinggal. Apa aku bisa tanya apa alasanmu mencuri? Aku yakin kau tidak sekedar ingin mencuri uang ataupun emas punyaku, ya kan?" tanya Arvin lagi.


Dan karena kedua matanya Marlina memang di tutup, Arvin pun bertukar pesan dengan anak buahnya itu dengan bicara tanpa suara.


"Dia sudah aku berikan obat kejujuran yang dia minum sendiri. Sudah pasti perempuan ini akan bicara dengan jujur." itulah yang di ucapkan oleh anak buahnya Arvin untuk memberitahu Arvin bahwa Marlina sudah meminum obat kejujuran, dengan komunikasinya bicara tanpa suara.


"Tidak, aku mencuri karena gara-gara kau tidak mau membiarkan aku mampir ke rumahmu." Jawab Marlina dengan polos.


'Mampir ke rumah apa? Padahal dia saja bukan perempuan normal.' Pikir Arvin, dia menatap Marlina dengan begitu seriusnya, sebab ia tahu kalau Marlina ini bukan sekedar perempuan sembarangan. 'Tentu saja aku menikmati dia saat olahraga di ranjang, tapi bukan berarti aku cinta dengannya.


Walaupun parahnya, ternyata aku bukan pacaran dengan sembarangan perempuan.' Memikirkan itu, Arvin tersenyum sendiri.


Pagi tadi, saat penangkapan Marlina setelah di hajar habis-habisan oleh Ashera, Marlina hampir saja meminum pil bunuh diri.


Itu jika tidak di tindak secara langsung, jelas Marlina sudah mati. Dan satu hal lagi yang baru-baru ini terungkap kalau, 'Dia bukan manusia biasa. Ah, bukan..., maksudku di salah satu matanya, ternyata dia memakai mata palsu yang terlihat sangat nyata. Dan sayangnya, itu mata bukan sekedar mata biasa, karena ada teknologi tertanam di dalam matanya itu. Dan semua yang di lihatnya akan terkirim ke suatu tempat yang jelas aku masih belum tahu siapa perempuan ini sebenarnya selain identitas palsunya.


Marlina, dia hasil cobaan dari seseorang yang di tugaskan untuk merayuku. Berarti aku memang dari awal sudah di targetkan oleh seseorang yang tahu identitasku ya?


Tapi, aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Lagi pula aku tidak tahan jika ada orang yang memata-mataiku.'


Dengan mengangkat salah satu tangannya ke atas, ia pun memberikan kode kepada salah satu anak buahnya untuk melacak sinyal yang terhubung antara satu bola mata yang tertanam di tubuhnya itu dengan kemungkinan besar komputer milik seseorang.


"Jadi maksudmu kau tidak puas dengan semua barang yang aku belikan, sampai karena aku tidak mengizinkanmu kerumahku, makannya kau menerobos masuk kedalam rumahku?"


"Iya, aku tidak mungkin bohong padamu. Bahkan jika aku memang berbohong, memangnya apa gunanya untukku? Aku kan a-" Sampai di titik ni, ucapannya Marlina tiba-tiba menggantung dan tidak lama kemudian salah satu mata Marlina mengeluarkan darah sampai akhirnya tanpa meneriaki rasa sakit apapun, Marlina langsung tumbang.


BRUKK.....

__ADS_1


"Arvin, kenapa rasanya jadi horor seperti ini?" Tanya salah satu anak buah nya Arvin yang tadi berjaga di belakangnya Marlina.


"Aku sedang malas berdiri, jadi coba kau cek, apa dia masih hidup atau tidak." Perintah Arvin sambil menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.


Anak buah Arvin itu pun segera menghampiri Marlina yang baru saja jatuh ke lantai dengan darah mulai membasahi wajah cantiknya itu, kemudian ia pun mengecek denyut nadinya.


Baru juga ingin menjawab, tiba-tiba saja ada satu orang perempuan berkacamata bundar yang muncul dari dalam kegelapan sambil berkata : "Dia sudah mati. Karena ada sengatan aliran listrik di dalam pembuluh darah yang terhubung dengan otaknya, dia langsung mati tanpa merasakan sakit apapun.


Bagiku termasuk beruntung sih, karena dia tidak harus menderita lebih lama lagi, tapi tidak beruntungnya kau Arvin, kau jadinya tidak bisa menginterogasi nya lebih jauh lagi karena perempuan ini sudah mati duluan."


"Arin, bagaimana, apa yang kau dapatkan tadi?" Tanya Arvin, melirik ke arah Arin.


Sebenarnya dia adalah sepupunya, lebih tepatnya sepupu jauh. Tapi dia bisa dekat dengan Arliana adalah karena memang, tujuan dari Arin ini adalah agar dia bisa bergaul dengan Arliana yang terkenal sombong itu untuk berjaga-jaga saja, sebab Arliana juga bukan orang kaya seperti pada umumnya, sebab dia anak dari keluarga yang berpengaruh juga.


"Ya, hasil dari apa yang aku selidiki setelah melacak sinyal terakhirnya tadi sebelum dia menyebarkan nomor IP palsunya di seluruh negara, lokasinya masih ada di negara ini, di gedung terbengkalai distrik 15 daerah bekas pabrik yang sudah tidak di gunakan lagi. Dan- pabrik itu ada adalah pabrik kaca." Jelas Arin.


"Pabrik kaca? Pabrik itu belum lama tutup, tapi ada orang yang sengaja menggunakannya untuk tempat praktek ilegal? Apa begitu?" Tanya Arvin pada kedua teman sekaligus anak buahnya itu.


"Itu bisa jadi. Pabrik kaca ini termasuk masih modern, tempatnya bahkan jika hanya di bersihkan dari debu-debu, bisa di gunakan lagi. Tapi karena pabrik ini bangkrut, jadi di sana hanya tinggal gedungnya saja sih gara-gara semua mesinnya di jual kembali." Ungkap Arin dengan ekspresi wajahnya yang datar, dan bahkan terlihat dingin.


Arvin awalnya termenung sesaat karena sedang berpikir dulu. "Bagaimana dengan kemanannya?"


________


"Haduh, apa jangan-jangan dia berhasil melacak lokasiku?" Gerutu pria ini, dia mengacak rambutnya frustasi.


Pakaiannya yang seperti dokter karena menggunakan jas putih, tidak mengartikan kalau dia punya penampilan bersih. Di ruang itu, banyak sekali bungkus snack kosong yang tidak di buang, sehingga mengundang puluhan hewan, seperti tikus, maupun kecoa.


"Kenapa aku terllau ceroboh sih tidak memperhatikan kalau di dalam sana ada orang lain selain Arvin? Gara-gara itu, Marlina jadi di hajar habis-habisan oleh perempuan asing itu. Dan sekarang, mereka akan mencoba untuk menemukanku.


Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, sebelum aku tertangkap." Gerutu pria awal tiga puluh tahunan ini. Dia dengan buru-buru membanting laptopnya, lalu beberapa berkas yang ada di meja, langsung ia bakar untuk menghilangkan semua bukti bahwa di tempat itu di gunakan sebagai bahan penelitiannya.


Dan selain itu juga, dia pun langsung mencopot semua kabel yang terhubung di beberapa komputer dengan CPU, dan setelah itu tentu saja dia segera menghancurkan semua itu selagi bakaran dari kertas yang ada di sana mulai merambah ke seluruh lantai, karena semua sampah makanan yang di buang secara sembarangan itu.


BRAKK...


BRAKK....


Dan di detik berikutnya, tiba-tiba kaca jendela yang di tutup dengan tirai itu pecah berkeping-keping.

__ADS_1


PRANG....


PRANG.....


"Apa?!"


Tidak lama kemudian, batu yang di ikat khusus dengan sebuah kaleng, langsung menjadi penyebab ada asap yang langsung memenuhi ruangan tersebut.


"Uhuk..uhukk.." Asapnya yang langsung menyebar dengan cepat, membuat ia kesulitan untuk bernafas, dan tidak sampai di situ, sebab dari luar, tiba-tiba saja ada yang menembak bagian lehernya, dan mengakibatkan dia seketika tumbang di sana.


BRUK.....


'Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin mereka langsung menemukanku dengan cepat?' Pikir pria ini dengan mata yang sudah sayu, dan tidak lama setelah itu, ia pun tidak sadarkan diri.


____________


"Kau bilang jangan sembarangan menyerang, karena dia pasti punya banyak siasat dengan menggunakan otak jeniusnya? Tapi kenapa semudah ini?" Tanya Arvin kepada Arin yang memberikan peringatan kurang spesifik dan bahkan salah, sebab musuh yang Arvin hadapi itu terbilang gampang untuk di lumpuhkan, bahkan tanpa ia harus turun tangan sendiri, orang yang menjadi targetnya itu pun sudah tumbang di tempat.


"Apa salahnya mewaspadainya sebagai orang yang berbahaya?" sahut Arin, membuat Arvin tidak bisa menyangkal ucapannya itu.


"Sudah-sudah, aku tidak mau berdebat dengan orang lagi, aku akan masuk dan bawa dia dengan tanganku sendiri." kata Arvin, dia pun memakai pakaian khusus anti api dan segera menerobos masuk lewat jendela untuk menyelamatkan orang yang menjadi sasarannya Arvin kali ini.


Dengan di temani dua orang lainnya, yaitu Arin juga Divrin, saat Arvin masuk kedalam pabrik kaca dengan menaiki jendela lantai dua, mereka berdua justru sedang melamun sendiri.


"Divrin, apa kau dengar tadi? Arvin tidak mau berdebat dengan orang lagi? Apa maksudnya sebelum kita, dia sudah berdebat dengan orang lain selain kita?" Tanya Arin kepada Divrin.


Divrin melirik ke arah Arin yang masih duduk manis dengan memegang PC di tangannya, lalu Divrin yang sedang menjaga tali yang di gunakan oleh Arvin yang sedang masuk kedalam lantai yang mulai terbakar itu, ia pun menjawab : "Aku kira kau sudah tahu, karena kau ahlinya di bidang komputer, tidak sepertiku ini."


"Ha? Apa kau sedang menyindirku karena aku masih belum tahu apapun soal Arvin ini?" Tanya Arin dengan tatapan malas.


"Nah, jika kau sadar diri kalau kau benar-benar terlambat mendapatkan informasi ketimbang aku yang tidak ada otak selain otot untuk menghajar orang, bukannya kau lebih baik langsung mencari tahunya sendiri ketimbang aku?" Kata Divrin, malah ia berani mengatai dirinya sendiri yang di anggap bodoh selain itu berurusan antara otot dengan otot.


"Kau ini, benar-benar ah..., jariku sedang pegal, aku ingin jawaban langsung darimu itu." balas Arin dengan cukup menuntut kepada Divrin.


Dan Divrin sendiri, dia pun akhirnya menoleh ke samping dan menatap Arin yang sangat menginginkan sebuah jawaban secepat mungkin dari dirinya.


DHUARR.....


Dan ledakan yang berasal dari gedung itu, sontak membuat Arin dan Divrin langsung membelalakkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2