Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Sasaran


__ADS_3

‘Ada apa ini? Apa- apa aku benar-benar akan di keluarkan?’ Hanya dengan mendengar namanya yang tiba-tiba saja di panggil lewat pengumuman seperti itu, apalagi tepat di saat dia baru saja mengetahui soal masalahnya sendiri yang berhubungan antara nama baiknya dan juga harga dirinya, kedua kakinya Ashera pun jadi merasa gemetar sendiri. 


Dia tidak kuat untuk menghadapi semua kenyataan itu dalam satu gelombang ombak yang sangat tinggi itu. 


Pasti, dalam sekali gulungan, dia akan mati terseret dalam arus yang cukup kuat itu. Dan kali ini, Ashera harus mengahadapinya sendirian?


“Hei Ashera, kau di panggil tuh sama pak guru, apa kau jadi tuli, karena saking terkejutnya, rahasiamu terbongkar?” 


Suara tawa mereka pun kembali menyeimbangi kalimat ejekan yang di lontarkan oleh teman mereka kepada Ashera. 


“Hahahaha, pastinya. Sudah pasti dia sangat syok, lihat saja kakinya itu, sampai gemetaran seperti itu. Dia pasti sudah takut setengah mati.” sambil menunjuk ke arah sepasang kakinya Ashera yang sudah gemetar, semua orang di dalam kelas pun jadinya sama-sama kembali mengeluarkan tawanya. 


‘Apa ini sama saja memberitahu kenyataannya kepada Arvin? Padahal ucapan mereka yang menghinaku sangatlah menyakitkan, tapi kenapa aku justru jadi lebih takut jika aku berhadapan dengan Arvin? Apa yang harus aku lakukan sekarnag? Apakah aku di panggil untuk di keluarkan saat ini juga?’ segala pikiran yang terlintas di dalam kepalanya, membuat Ashera jadi merasa kalau masalahnya benar-benar lebih runyam ketimbang mendengarkan semua ejekan dari mereka semua. 


“Hie, lagi di tunggu! Atau kau sengaja masih berdiri di kelas kita, karena kau ingin di antar oleh kita ke depan guru BK dan semua guru di sekolah ini? Iya?” 


Ashera yang benar-benar sudah malu setengah mati, dengan harga dirinya yang benar-benar sudah cukup hancur karena video tersebut, tanpa sepatah kata lagi, langsung berlari keluar dari kelas. 


DRAP…DRAP….DRAP…..


“Hahaha, ya ampun, dia lari terbirit-birit seperti di kejar hantu saja.” ejek Lidia, dengan tatapan matanya yang cukup merendahkan, karena dia akhirnya merasa senang, jika lawannya itu bisa pergi dari kelasnya juga. 


_____________


Tanpa bukti, tanpa saksi mata, tanpa adanya dukungan, Ashera berlari menyusuri koridor sekolah dengan tangisannya. 


Dia benar-benar sangat malu, ketika banyak murid yang menatap ke arahnya. Dengan bisikan, gosip yang semakin diperluas tanpa bisa di hentikan, serta semua pikiran yang jahat yang mengatasnamakan kejahatan harus di adili, dan harus di ungkap secepat mungkin, tanpa mengerti apa yang di rasakannya. 


“Lihat itu, orangnya dia kan?”


“Eh iya, dia lari begitu pasti karena pengumuman tadi.”

__ADS_1


“Mencemarkan nama baik sekolah saja, anak seperti dia seharusnya tidak ada di sini.”


“Seharusnya mati saja sana. Aku dengar dia kan kerjanya hanya jadi seorang pelayan, jangan-jangan sebentar lagi selain di keluarkan dari sekolah, juga di keluarkan dari pekerjaannya?”


Lagi-lagi, semua tawa di atas derita orang kembali terdengar. 


‘Arvin, apa dia akan memarahiku? Atau dia tidak akan peduli denganku, karena aku mengkhianatinya? Kenapa aku malah lebih takut mengahdapi Arvin ketimbang semua hinaan dari semua orang? Kenapa aku seperti ini? 


Hikss..memangnya aku salah apa? Apakah aku pernah berbuat jahat kepada orang lain? Hiks..hiks…huahh…papa, kenapa hidupku jadi seperti ini? Seandainya dulu aku ikut denganmu, aku pasti tidak akan pernah menderita seperti ini. 


Walaupun Arvin perlahan muali perhatian, tapi ujung-ujungnya aku tetaplah anak pelayan yang pasti bisa di injak-injak oleh anak itu juga.’ tangisan dalam diamnya tidak bisa membuat air matanya yang sedari tadi dia tahan, bisa di bendung lebih lama lagi. 


Apalagi di detik saat di tengah perjalanannya menuju kantor BK, Ashera justru di pertemukan oleh Dini yang baru saja keluar dari kamar mandi. 


“Kau kelihatannya sangat panik ya, Ashera?” sebuah pertanyaan di sertai sindiran, akhirnya keluar juga dari mulut berbisa itu. 


Akibatnya, Ashera pun jadi semakin takut, dia semakin takut menjadi pusat perhatian, lebih dari pada yang sudah terjadi ini.


“He~ Kau mau kemana? Kelihatan buru-buru sekali.” Dini semakin memancing kepanikan milik Ashera dengan mencegatnya pergi seraya bertanya demikian. 


“Aku harus pergi, aku m-mohon minggir.” kata Ashera dengan nada penuh ketakutan. Bahkan nada yang keluar saja, benar-benar sangat lirih. Dia sungguh, tidak bisa menatap lawan bicaranya. 


Walaupun dia ada dugaan, dari ingatannya sendiri kalau Dini adalah pelakunya, tapi karena Ashera sendiri tidak ada bukiti untuk menudingnya, Ashera pun jadinya tersudutkan sendiri. 


Dia tidak bisa keluar dari situasi yang semakin memojokkannya.


“Aduh, kau bahkan menangis ya? Apa kau menangis karena kau ketahuan melakukan itu?” ledekan dari Dini, jadi semakin membuat suasana menjadi lebih panas. 


Mau mengatakan tidak, tapi buktinya saja sudah ada videonya. Ashera benar-benar tidak tahu harus bagaimana, caranya keluar dari situasinya sendiri yang sangat rentan itu. 


“Aku mohon minggir, aku harus pergi.”

__ADS_1


“Kenapa buru-buru sekali sih? Toh pak guru juga masih bisa menunggumu juga.” tepatnya, Dini sedang membuat Ashera menjadi tontonan dalam siaran langsung itu untuk semua orang di sana. 


Ashera mencoba untuk bersabar, tapi tidak dengan sikapnya yang ingin lolos dari jaungkauannya Dini. “Aku harus pergi, kenapa kau menghalangiku! Minggir!”


“...!” 


“Wah, dia ternyata masih bisa bersuara keras, betapa tidak malunya Ashera itu.”


“Dia malu, tapi dia marah. Tepatnya marah pada dirinya sendiri sih, karena ketahuan melakukan itu dengan empat orang laki-laki secara bergantian.” 


Ashera jadi semakin di dorong ke dalam jurang neraka. Dia sangat ketakutan, ingin lari dari sana, tapi tangannya bahkan masih saja di cengkram oleh tangannya Dini. 


“Tidak, aku tidak melakuannya, itu pasti bukan aku. Past-...pasti bukan,” dan Ashera pun akhirnya jadinya menangis, dia terus menarik diri agar tangannya bisa lepas dari cengkramannya Dini. 


“Giliran ketahuan, menangis? Dasar tidak tahu malu ya, jangan-jangan saat kau tidak ketahuan, kau sebenarnya bangga diri bisa memimpin empat orang itu?” ejekan dari Dini sukses membuat kesabaran Ashera pun habis. 


“Kau, kau pasti menjebakku kan, Dini, kaulah yang pasti menjebakku, gara-gara aku waktu itu membuatmu kena skors! Itu pasti balsanmu kepadaku, makannya kau melakukan ini kepadaku kan?!” Ashera yang sudah kehilangan kesabarannya itu, pada akhirnya dia pun berteriak tidak karuan kepada Dini, mengaluarkan semua isi hati dan pikirannya yang terus mencurigai Dini. 


“Hei, kalau ngomong itu pikir dulu, jangan asal fitnah ya!” Dini mulai marah, karena Ashera yang menudingnya secara langsung. 


Meskipun Ashera menuduhnya tanpa bukti, tetap saja, Dini merasa cukup terancam. 


“Tapi- tapi kaulah, satu-satunya orang yang selalu membenciku dari awal aku masuk sampai saat ini, jadi apa aku bahkan tidak bisa menuduh orang yang selalu menuduhku dalam semua ide licikmu itu! kenapa aku terus yang jadi sasaran seperti ini?! Memangnya aku sebenarnya salah apa kepadamu Din?! 


Aku bahkan tidak dekat denganmu, tapi kau itu selalu membuatku jadi orang yang terlihat sangat bermasalah! Aku muak! Aku benci orang sok kuat sok berkuasa sepertimu! Padahal kau itu orang yang paling kesepian!


Tapi karena kelemahanmu itu, kau membuatku ja-”


PLAKK…..


Ashera seketika langsung diam membisu dengan wajah membeku, begitu mendapatkan tamparan paling kuat yang mana, hingga detik itu juga telinganya pun jadi bedengung. 

__ADS_1


‘Sampai tamparan? Bahkan ketika semua orang hanya menghinaku, tapi dia bahkan sampai ringan tangan seperti itu kepadaku?’ 


__ADS_2