Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
144 : Tangan nakal 2


__ADS_3

KLEK...


Suara pintu yang terbuka itu membawa masuk kedua anak muda tersebut kedalam sebuah rumah yang cukup mewah.


Sekalinya Arvin masuk kedalam rumah, seketika itu juga otomatis semua lampu di dalam rumah itu jadi lebih terang dari pada sebelumnya.


Untuk sebuah tempat tinggal yang jarang di huni, banyak yang akan berpikiran kalau itu terlalu mewah untuk di tinggal mereka berdua.


Sebenarnya seperti itu, tapi-


Demi sebuah kenyamanan, apapun itu harus di miliki, walaupun akan di anggap sebagai pemborosan.


Namun- dari pada di katai pemborosan, semenjak Arvin semakin kesini selama beberapa minggu ini dia tidak berhubungan dengan wanita lain, dia menyadari satu hal. Begitu Ashera berada di sisinya, yang ada ia sama sekali tidak perlu membuang banyak uang untuk beli ini dan itu, berbanding terbalik dengan pacar-pacar sebelumnya yang ia anggap sebagai hiburan semata, mereka adalah orang-orang yang punya keinginan besar untuk mendapatkan dirinya, atau tepatnya tubuhnya, status, dan uangnya.


Tapi, menepis semua pikiran itu dari dalam kepalanya, yang paling penting sekarang ia akhirnya bisa pulang dan Istirahat.


Namun sayangnya ada yang ia cemaskan untuk satu orang yang berada di gendongannya itu, "Dia pasti belum makan malam,"


Pikirannya terus saja terngiang dengan apa yang dikatakan oleh dokter siang tadi, kalau Ashera memiliki maag, tapi bahkan si pemilik dari penyakit ini masih saja terlalu santai untuk langsung tertidur tanpa makan lebih dulu.


KRUYUUKK....


"Ungghh~" Ashera yang mulai terusik dengan suara perutnya sendiri, mulai membuka matanya. "Kenapa lapar? Perasaan baru makan," Ashera bergumam kalau dirinya sudah makan belum lama ini, padahal yang sebenarnya terjadi, Ashera saat sebelum tidur itu dia memang belum makan apapun.


Dia belum makan karena dia tidak tahu harus bagaimana untuk meminta, dan terlalu malu untuk bicara dengan orang asing yang tidak bisa dia mengerti apa yang di bicarakan mereka semua.

__ADS_1


Namun, walaupun sebenarnya Ashera tahu cara untuk meminta tolong dengan caranya sendiri, yaitu dengan bantuan dari aplikasi translate bahasa, tapi karena yang menjadi kendala terbesarnya itu sendiri adalah dia tidak ingin di pandang sebagai orang yang minta-minta, maka dari itu Ashera pun enggan untuk meminta makan kepada staf karyawan di sana.


Walaupun hal yang paling parahnya, dia adalah tipe orang yang begitu malas pergi jika sudah mager, dan akan lebih baik menahan lapar. Pekerjaan tanggung, lebih suka di selesaikan ketimbang mengisi perutnya, makannya akhirnya dia pun punya maag.


"Apa kau tidak mau makan jika lapar?" suara berat milik Arvin perlahan mempertahankan setengah dari kesadaran yang Ashera miliki.


"Ngantuk, jangan ganggu aku. Jika aku tidur, laparnya juga hilang," jawabnya dengan nada yang begitu malas.


Bahkan mendengar jawaban dari perempuan ini, Arvin sudah sangat yakin kalau dibalik kehidupan Ashera menjadi seorang pelayan selama ini, ada sisi tidak seimbangnya, yaitu tidak rutin makan.


"Kalau kau sakit, aku juga yang susah, sekarang kau harus makan," peringat Arvin. 'Padahal aku mengharapkan dia ini masak sih, tapi kalau sudah seperti ini, aku lebih baik beli makanan dulu.'


"Tidak mau, malas ah~" mode malasnya pun kambuh, meskipun dia masih di gendong, tiba-tiba Ashera yang merasa otot tubuhnya terlalu tegang, dia langsung meregangkan otot-ototnya dengan merentangkan kedua tangan dan kakinya sekuat-kuatnya.


Begitulah, satu manusia dengan tubuh kecil itu tiba-tiba meregangkan tubuhnya di atas gendongan kedua tangannya, Arvin pun jadi seperti sedang memegang sebuah ranting pohon yang menghalangi jalan.


"Ah, terserah bicara apa, jangan ganggu aku lagi tidur, berisik!" merasa terusik dengan suara Arvin yang terus mengganggu kenyamanannya, salah satu tangan Ashera pun sampai hampir aja menampar wajah Arvin.


Tapi untung saja, dia bisa menghindari tamparan kuat dari tangannya Ashera ini sebelum tangannya itu membuat wajahnya yang paling berharga itu sakit.


Tentu saja, wajahnya jauh lebih berharga, karena itu adalah salah satu aset berharga yang dia miliki untuk menggoda banyak lawannya, maka dari itu, dia selalu menjaga wajahnya.


Meskipun itu tidak akan berarti kalau dirinya berkelahi dengan orang lain yang mau melawannya, beberapa kali ia pernah kena pukul di wajahnya.


"Diam-diam tangannya lincah sekali, untung aku bisa menghidarinya," gerutu Arvin, sangat tidak etis melihat perempuan tidurnya benar-benar asalan seperti ini. Bagi Arvin sangatlah tidak pantas atau kurang cocok. 'Sebentar, kenapa aku terus-terusnya memikirkan perempuan ini terus? Aku sendiri juga sebenarnya sudah lapar dan gerah, aku ingin mandi, dan makan, tapi melihatnya tidur tapi juga belum makan, aku sampai sekhawatir ini, apa ini benar-benar aku?

__ADS_1


Arvin, yang kau khawatirkan sebenarnya karena perempuan ini atau karena nenekku yang galak itu?'


Karena semakin di pikirkan, itu akan membuat pikirannya semakin rumit, dia pun memutuskan untuk meletakkan Ashera lebih dulu ke atas sofa dan pergi mandi serta menunggu makanan yang di pesannya datang.


"Tubuhnya benar-benar seperti ranting pohon yang menghalangi jalan," ledek Arvin seraya meletakkannya ke sofa, dan dia tinggal pergi.


"Hmm..." Ashera berdehem tanpa sadar.


Tapi melihat respon Ashera yang terlihat lucu, Arvin pun tak kuasa untuk menahan tawanya, "Pfft, berarti kau mau mengakui kalau tubuhmu itu adalah ranting?"


"Ha? Apa sih?" Ashera yang tidak tahan dengan semua ocehan yang begitu berisik itu, tangannya pun langsung meraba-raba sesuatu yang bisa dia jadikan sebagai penutup telinga, dan karena yang berhasil di ambil itu adalah bantal sofa, Ashera pun meletakkan bantal sofa itu di atas telinganya.


"Hei, ada orang yang sedang bicara, tap-"


PLAK....


Namun, belum Arvin selesaikan ucapannya, tangan Ashera yang cukup aktif itu, tiba-tiba saja menampar adik kecilnya Arvin dengan kekuatan yang lumayan mengancam.


"Ashera-" panggil Arvin, seketika ekspresi wajah Arvin pun jadi redup, karena lagi-lagi salah satu asetnya yang paling berharga itu justru kembali menjadi sasarannya Ashera. 'Ini sudah kedua kalinya, awas saja nanti kalau kau bangun, kau akan merasakan apa yang aku rasakan ini dengan caraku sendiri.'


Arvin yang punya sifat pendendam ini pun diam-diam sudah memiliki rencananya sendiri untuk membalas perbuatan Ashera yang sudah dua kali terus menyiksanya.


'Walaupun satu set aset itu tidak begitu besar, tapi sebenarnya itu tidaklah masalah selain yang ada di bawah. Walaupun aku ingin mengatakan apa yang terjadi pada diriku ini, tapi tetap saja, aku merasa kalau aku ingin merasakan sensasi yang terakhir kali aku rasakan saat bisa menidurinya.


Walaupun sudah berlalu beberapa minggu, tapi aku tetap masih mengingat apa yang terjadi di sana.

__ADS_1


Ketat, aku benar-benar ingin mencobanya lagi. Tapi yang jadi masalahnya, apa dia mau? Aku sebenarnya ingin memaksanya, tapi aku tidak mau hubunganku bisa jadi lebih buruk dari ini.' pikir Arvin saat dia terus menatap Ashera untuk sesaat, sebelum dia akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.


__ADS_2