Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
114 : Kecemasan


__ADS_3

-"Eh?"-


Suara milik Neneknya yang terdengar terkejut itu, segera membuat sebuah peluang besar untuk Arvin sendiri kalau jelas sang nenek tidak akan membiarkan Ashera pergi, karena di sisinya sekarang saja ada Arvin.


"Julio, apa itu tadi suaranya Arvin?" tanya Neneknya Arvin.


Julio pun menatap Arvin dengan tatapan datar, sebelum dia akhirnya menghela nafas dengan sedikit kasar, dia pun menjawab : "Ya, dia ada di sini bersamaku. Dia hanya kebetulan lewat di saat aku sedang membujuk Ashera untuk ikut denganku, jadi bagaimana?"


Sejujurnya Julio agak penasaran juga, kenapa begitu Arvin tiba-tiba saja angkat suara, nenek Tina langsung mengenali Arvin.


-"Julio, tapi aku sedang ingin makan masakannya sekarang,"- kata kakaknya Julio, yang memang ada di rumahnya Neneknya Arvin.


Seperti anak kecil yang merengek ingin minta makan permen, tapi belum bisa mendapatkan yang sesuai dengan seleranya, kakaknya Julio pun jadinya benar-benar membuat suara memelas kepada Julio untuk membujuk Ashera untuk masak lagi, seperti yang di lakukan Ashera terakhir kali.


"Hah? Julio? Tadi itu, suara perempuan, dia siapa?" tanya salah satu temannya itu, karena penasaran.


"Aku pikir orang yang menginginkan Ashera adalah seorang laki-laki yang sedang jatuh hati ingin menembak," sindirnya, dengan artian orang yang di maksud itu adalah Julio sendirilah yang sedang membutuhkan Ashera untuk menjadi kekasihnya, atau apapun itu, tapi rupanya tebakan mereka semau pun benar-benar salah kaprah.


"Kan, kalian ini memang selalu saja memikirkan aku secara sembarangan. Orang yang menginginkan Ashera bukan aku, tapi dia," jawab Julio dengan kalimat yang cukup ambigu, karena masih saja merahasiakan kakaknya itu. "Karena ingin makan dari hasil masakannya," lirik Julio terhadap Ashera yang masih diam untuk menyimak. "Seperti yang terakhir kali itu. Karena di rasa sangat enak, jadi dia masih menginginkannya lagi, dan mungkin saja tidak akan bisa berhenti untuk meminta bantuannya, sampai harus merepotkanku dan kalian," tambahnya, dengan terus terang.


-"Dasar kau ini, padahal aku kan sangat ingin merasakan makanannya lagi, tidak sampai setiap hari juga. Tapi kau mengatakan seolah aku ini benar-benar membebanimu ya"- sela kakaknya Julio yang sedang ngidam itu.


-"Hmm, bagaimana ini? Di satu sisi ada dia, di satu sisi ada yang ingin Ashera datang untuk masak,"- gerutu neneknya Arvin, jadi bingung dengan keputusan yang dia ambil itu.


Sampai Arvin yang tidak mau membuang banyak waktu untuk pembahasan yang tidak berguna itu, dia pun angkat bicara lagi. "Ashera sedang tidak bisa masak, jarinya terluka, apa hal itu masih membuat anda ingin membuatnya bekerja tanpa di upah?"

__ADS_1


-"A-ashera? Apa kau terluka? Apanya yang terluka? Kapan? Bagaimana kau bisa terluka? Jawab nenek ini,"- tanya neneknya Arvin dengan buru-buru.


'Kenapa dia tiba-tiba saja membantuku keluar dari masalah ini? Atau jangan-jangan setelah ini selesai, ketika di rumah, dia akan menagih imbalan padaku? Aku tidak tahu apa yang akan dia inginkan kali ini, tapi sebaiknya itu bukan sesuatu yang buruk.' Pikir Ashera, dia pun jadi cemas dengan maksud dari kedatangan Arvin ini. "Hanya patah tulang di jari,"


"H-hanya?" pikir mereka semua secara serentak.


Bahkan Arvin dan Julio pun sampai sama-sama melotot, mengingat jika patah tulang bukanlah luka yang kecil, tapi apa yang di ucapkan oleh Ashera, justru lagi-lagi membuat mereka tercengang.


-"A-apa?! Kalau begitu Julio, kau tidak usah membawa Ashera kesini. Tidak mungkin juga memaksa orang yang sakit untuk melakukan pekerjaan, jadi biarkan saja,"- sela kakaknya Julio, jadi tidak tega dengan kondisi dari Ashera.


-"Kau sudah dengar kan? Kau tidak perlu datang, Ashera."- ucap Nenek Tina.


Lalu, setelah berkata demikian, Julio pun akhirnya memutuskan panggilan tersebut.


Karena misi miliknya tidak jadi, julio pun akhirnya mundur. "Kalian dengar kan? Kita mundur, biarkan mereka pergi, dan kita pergi ke tempat selanjutnya." kata Julio kepada teman-temannya.


Setelah kepergian mereka semua, kini di dalam gang tersebut pun hanya tinggal Ashera dan Arvin saja.


Ashera melirik tajam ke ara Arvin seraya bertanya : "Jadi setelah kau rela datang kesini untuk membantuku keluar dari situasiku tadi, sekarang apa yang kau inginkan?"


"Meskipun kau sedang tidak bisa beraktifitas banyak karena kondisi jarimu, tapi kau pastinya masih bisa melakukan sesuatu yang besar, kan?" tanya balik Arvin, tanpa mengalihkan pandangannya terhadap gadis yang lebih pendek darinya itu.


Meskipun Ashera masih menggunakan sepatu rodanya itu, tetap saja perempuan di depannya masih dalam posisi yang lebih pendek dari diri Arvin.


"Itu tergantung apa yang sebenarnya kau inginkan," jawab Ashera singkat.

__ADS_1


Namun, melihat Arvin menatapnya dengan begitu serius, Ashera pun jadi sedikit cemas dengan apa yang akan dilakukan Arvin terhadapnya.


"Apa kau mau membantuku mendapatkan uang?" tanya Arvin.


"...?" Ashera langsung melongo.


Bagaimana bisa, seorang Arvin menginginkan Ashera untuk membantunya mendapatkan uang?


"K-kenapa?!" tanya balik Ashera, lalu Ashera kemudian bergerak mendekati Arvin sambil berbisik dengan nada yang cukup lirih, "Kau itu kan punya banyak uang? Kenapa tiba-tiba memintaku untuk membantumu menghasilkan uang?"


Mendengar Ashera terlihat takut dan mulai bertanya dengan deretan alasan yang ingin Ashera dengar dari Arvin, Arvin perlahan membungkukkan tubuhnya ke arah Ashera, lalu dia pun menjawab : "Apakah kau sedang berpikir kalau apa yang aku gunakan itu karena aku minta uang dari kedua orang tuaku?"


"Apa? A-apa maksudmu itu kau mengatakan kalau kau menghasilkan uang sendiri untuk membiayai hidupmu sendiri, begitu?" tanya Ashera ingin menuntut penjelasan yang lebih bagus dari yang tadi.


"Kecuali rumah, kendaraan dan biaya sekolah, aku bisa makan dan membayar tagihan listrik, air, bahkan semua uang yang aku miliki itu, hasil karena aku cari uang sendiri. Apa kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan ini?"


Arvin, satu-satunya cucu dari keluarga Ravarde, yang di pikir Ashera, Arvin ini memiliki segalanya karena tentu saja sebab Arvin adalah orang yang harus di perhatikan dari segala finansial, rupanya di sisi lain, Arvin punya kehidupan sendiri yang membuatnya harus mencari uang sendiri?


Jika memikirkan hal itu, Ashera sebenarnya kurang percaya saja.


Tapi, mengingat Arvin sudah lama tinggal berpisah dengan kedua orang tua sekaligus neneknya, ada kemungkinan untuk menjadi seorang yang mandiri.


'Kelihatannya, dia memang seperti itu,' pikir Ashera, melirik wajah Arvin yang ada tepat di samping kirinya persis.


Namun, yang menjadi satu pertanyaan paling mendasar untuk Ashera, bagaimanakah Arvin bisa mendapatkan uang sendiri?

__ADS_1


Dengan cara apakah Arvin membiayai hidup sendiri, padahal Arvin sendiri terlihat seperti orang yang cukup penyantai tapi punya sifat yang cukup tegas.


__ADS_2