
"Hmmm..." Dengan mata yang sudah mulai kantuk, Ashera terus mencoba berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. 'Obat apa yang di berikan oleh kak Daseon kepadaku? Katanya dia membelikanku obat sakit kepala yang ampuh, tapi kenapa mah ada efek samping membuat orang tidur? Pekerjaanku kan masih banyak, apalagi semua pakaian milik Arvin.'
Karena Daseon sudah mengatakan akan lepas tanggung jawab sebagai pelayan pribadinya Arvin, sebab sudah ada Ashera yang sudah pantas untuk melayani semua kebutuhan dari Arvin sendiri, maka dari itu, Ashera pun harus melakukan pekerjaan rumah, sebelum-, dia ingin agar dirinya tidak ken omel lagi.
Malas untuk mendengarnya, seperti seorang emak-emak.
Tapi karena Arvin saat ini sedang sekolah, dan dirinya mendapatkan skors, ia pun ada di rumah terus, sambil bekerja juga belajar.
Tapi semuanya kandas, karena obat yang di berikan oleh kak Daseon kepadanya, memiliki obat tidur yang cukup besar.
'Yakin, rasanya kalau aku tidak tidur sekarang, aku serasa ingin mati. Tapi baru kali ini, ada obat dengan efek orang mengantuk sampai tahap seperti ini. Ahhh...aku ingin tidur, tapi aku tidak ingin kena omel. Pakaian juga masih ada di mesin cuci, bagaimana ini?' Ashera jadi mewek sendiri, ingin tidur tapi pekerjaannya saja belum selesai.
Dengan sekuat tenaga, Ashera pun mengerahkan kesadaran yang ia tahan itu untuk menyelesaikan semua urusannya, sampai di detik ia sudah ada di depan sofa, perasaan ingin tidur di sofa, malah berakhir dengan tidur di lantai yang di lapisi karpet tebal berbulu.
"Hoammh...!" Dan Ashera menguap lebar, sebelum akhirnya dia tidur. 'Bahkan tidur di lantai, bisa lebih nyaman ketimbang di kasur. Orang kaya itu memang menyenangkan ya?' Pikir Ashera di detik terakhirnya.
Setengah jam kemudian, Arvin pulang sekolah, dan rumah sudah gelap-gelapan. Tentu saja, karena langit cukup mendung, maka ruangan otomatis gelap, itu jika memang tidak ada orang.
'Kenapa gelap seperti ini? Apa dia pergi?' Dalam sekejap, dirinya bagaikan masuk kedalam rumah horor. Sayup-sayup, ada angin yang sedikit besar, masuk kedalam rumahnya, membuat tirai tipis putih itu berkibar, karena terpaan angin yang langsung masuk.
Ya, hingga Arvin yang saat itu hendak menutup pintu jendela balkon, langsung tercengang.
'A-ashera, apa yang dia lakukan dengan semua pakaianku? Kenapa malah di jemur di sini?!' Dari seragam, pakaian santai seperti kaos, celana boxer, hingga celana da lam yang sudah Arvin pikir, belum di cuci selama tiga hari lebih, sehingga sedikit banyak, dan semuanya menggantung di tali jemuran yang di ikat di setiap sisi besi pembatas!
Apalagi setelah Arvin mendengar adanya suara hujan yang mulai mengguyur kota, sebelum hujan itu benar-benar sampai di tempatnya, Arvin langsung melempar tas sekolahnya ke sembarangan arah, dan dengan kelabakan langsung memungut semua pakaian miliknya, saja.
'Apa yang dia pikirkan sih? Kenapa malah menjemur di luar seperti ini?! Kalau pakaianku kabur gimana? Tidak, aku tidak begitu mempermasalahkan kalau pakaianku hilang, tapi yang penting itu celana da lamku.' Batin Arvin, dia sangat buru-buru mengangkat jemuran nya sendiri, sampai tidak lama kemudian, hujan pun datang, dan Arvin sama sekali tidak menyelamatkan jemuran milik Ashera.
ZRASSHH.....
__ADS_1
'Untung saja aku pulang tepat waktu.' Dan Arvin pun langsung masuk kedalam rumah, lalu menutup pintu kaca.
BRAK....
Dengan penampilan kacau, tubuhnya hampir saja sepenuhnya basah kuyup, tapi setidaknya ia bisa menyelamatkan pakaian.
"Hahh...hah...hah...., padahal cuman angkat jemuran, kenapa aku bisa jadi sepanik ini?" Gerutu Arvin dengan mata membulat sempurna. Dia masih bersandar ke belakang pintu dan mencoba menenangkan diri, hanya karena sebuah jemuran? 'Gila-gila, aku baru pertama kali mengalami ini.'
Arvin langsung mengusap wajahnya dengan kasar, lalu begitu sudah tenang, Arvin berjalan menuju sofa, untuk meletakkan semua pakaiannya lebih dulu di sana dan duduk, setidaknya untuk istirahat, sampai salah satu kakinya, tanpa sengaja malah menginjak sesuatu yang besar tapi agak empuk.
".....?!"
"Akhh...!" Dan teriakan yang begitu nyaring langsung mengisi seluruh tempat. "Siapa yang menginjak pan*atku!" Teriak Ashera secara spontan.
Masih dalam kegelapan itu sendiri, Arvin yang lumayan terkejut kalau kakinya tadi sempat menginjak pan*at milik Ashera yang kenyal, dalam diam langsung mundur. 'Jadi itu pan*at nya, lagian, kenapa dia malah tidur di tempat yang tidak bisa aku lihat?' Pikirnya, tidak merasa bersalah sedikitpun.
"A-"
"Aduh..duh.., jangan di injak lagi, itu sakit."
"Segini sakit? Lalu apa alasanmu malah menjemur pakaianku di balkon? Kau mau pakaianku terbang semua?" Tanya Arvin, masih bermain di sana, karena merasa asik saja, bisa ada teman bicara yang bisa Arvin ajak untuk menghilangkan kebosanannya di rumah.
"Ya, sekalian bisa berbagi pada orang yang membutuhkan." Jawab Ashera dengan lugas.
"Kau-" Arvin jadi kehilangan kata-katanya, dia menghentikan aksi jahilnya dan menimbun Istrinya itu dengan setumpuk pakaian miliknya. "Jangan tidur terus, setrika lalu lipat yang benar."
'Dia benar-benar membuatku jadi pembantu. Sudahlah, lagian dia bisa angkat jemuran, aku mau tidur lagi.' Tapi karena Ashera tidak mampu untuk bangun, sebab kantuknya masih ada, meskipun di timbun dengan setumpuk jemuran milik Arvin yang memang wangi, Ashera pun lanjut tidur.
"Ashera, bangun." Panggil Arvin, dia mengusik salah satu kaki Ashera dengan kakinya, tapi semua itu sama sekali tidak manjur.
__ADS_1
"Nggak." Benar-benar, ia berhasil membuat kata penolakan untuk pertama kalinya.
"Ashera! Kau itu harus mengerjakan tugasmu, jangan bermalas-malasanan." Arvin yang sudah tidak sabar, mencengkram salah satu kakinya Ashera dan menyeretnya dari tempat nyaman itu. "Sini aku biarkan aku memberikanmu sedikit pelajaran."
Dengan senyuman jahil, Arvin sungguhan menyeret Ashera dari tumpukan pakaian tadi, hingga akhirnya Ashera keluar dari wilayah karpet dan membawanya pergi menuju pintu balkon.
Meskipun sempat membuat ujung baju Ashera menggulung naik ke atas, Arvin tetap melakukan perbuatannya.
"Saya masih ngantuk, mau di bawa kemana?" Matanya benar-benar masih merasa berat, sehingga untuk mencerna situasinya saat ini saja, sama sekali tidak bisa. Dan membiarkan tubuhnya terseret, hingga beberapa detik berikutnya, kilatan yang begitu menyilaukan langsung menyambut mereka berdua sampai suara petir yang begitu menggelegar terdengar sangat keras.
JDEERR...
"Kyaaa...!" Ashera yang terkejut setengah mati, spontan langsung bangun dan memeluk kedua kakinya Arvin.
JDEERR....
"Hiii...!" Ashera merasa ngeri dengan suara petir yang sangat dekat itu, sehingga tubuhnya sempat gemetar ketakutan.
"Lepaskan."
"Nggak!" Ashera menggeleng kuat, dan semakin mengeratkan pelukannya untuk memeluk kedua kaki Arvin. "Aku takut!"
JDERR....
Suara petir yang terus menggelegar, menghancurkan suasana diantara mereka, membuang emosi marah dan apapun itu, menjadi ketakutan yang ingin di hilangkan. Ashera, dia hampir sekali pernah mengalami hal yang cukup buruk, hampir mati karena petir itu sendiri, makannya sekarang dia sangat ketakutan, karena setiap kali petir itu datang, ajal miliknya serasa sedang menjemputnya.
"Aku sangat takut, jangan buat aku sendirian, jangan ..., jangan lagi, hiks....jangan lagi Ayah, jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau...hiks...hiks.." Racau Ashera, dia sangat trauma, karena di hari dimana dirinya di tinggal oleh sang Ayah, tepat di hari itu juga hujan deras dengan petir terus berdatangan.
Satu-satunya orang yang bisa menemaninya ketika Ibu nya bekerja, hanya Ayah nya saja. Tapi, sekarang dia sudah di tinggal pergi, dan sekarang dirinya juga tinggal di tempat yang masih asing. Membuat situasi miliknya, sangat kacau, dia tidak bisa berpikir siapa yang sedang dia peluk, yang sedang di ajak bicara, karena hanya satu yang sangat Ashera inginkan, yaitu 'Jangan pergi'.
__ADS_1
"..." Arvin yang tidak begitu mengerti kenapa Ashera tiba-tiba berubah jadi lebih takut ketimbang saat dirinya memarahinya, memilih untuk diam.