Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
17 : Teriakan Frustasi


__ADS_3

Di tengah kota, Ashera terus menyusuri tepi jalan raya khusus jalur sepeda untuk dirinya yang sedang menggunakan sepatu roda.


Dia sendirian, mencari jalan untuk pulang. Tapi sekalipun sudah satu jam berseluncur dengan sepatu rodanya, ia sama sekali belum menemukan gedung apartemen milik Arvin.


'Apa aku nyasar?' Pikir Ashera dengan wajah pucat karena saking dinginnya malam hari.


Sampai ada salah satu kendaraan mobil yang tiba-tiba saja datang melewati genangan air, sehingga Ashera yang kurang cepat dalam mengambil tindakan, langsung terkena cipratan air itu.


BYURR.....


'Apa dia tidak lihat ada orang di pinggir jalan?' Tatap Ashera terhadap mobil sedan berwarna putih yang baru saja melintas. 'Untungnya aku pakai mantel hujan, jadi mau ke siram air comberan, aku tidak akan kotor.' Pikir Ashera.


Di bawah hujan yang begitu deras, sesekali Ashera mendongak ke atas, ia nya melihat gedung yang asing.


'Handphoneku mati, jadi aku sama sekali tidak bisa menghubungi siapapun.' Raut wajahnya begitu sedih. Baginya, hari ini adalah hari yang cukup berat, dan membuat segala emosi, tubuh, maupun batinnya terus di guncang dalam berbagai suasana yang tidak terduga.


Malam ini sebenarnya adalah malam pertama dari pernikahan mereka berdua. Tapi sekali lagi, karena hubungan dari pernikahan ini adalah pernikahan kontrak yang di dasari dengan sebuah hubungan paksa, maka sudah jelas, baik itu dirinya maupun Arvin, mereka akan tetap pada posisi mereka masing-masing, yaitu sebagai majikan juga pelayan.


Peran yang sama sekali tidak berubah, sekalipun hubungan mereka sudah berubah jadi suami istri.


"Hahaha...., hubungan yang mengerikan." Ucap Ashera, mencibir dirinya sendiri.


_______________


2 jam kemudian.


Malam semakin larut, dan Arvin yang sudah lelah karena terus dalam suasana hati yang buruk serta emosi yang terus saja di sulut gara-gara tidak mendapatkan hadiah kemenangan sesuai dengan ekspektasinya, Arvin pun sudah tertidur di dalam kamarnya sambil mendengarkan musik.


Di dalam rumah yang sudah gelap, di luar pintu rumah alias apartemen, Ashera akhirnya bisa pulang, ya..., setidaknya bisa kembali ke tempatnya yang baru.


Tok...tok....tok....


"Tuan muda?! Buka pintunya!" Ashera mulai mengetuk-ngetuk pintu dengan sedikit keras. "Tuan muda Arvin?! Tolong, pintunya di buka!"


Tapi teriakannya itu tidak terjawab sama sekali oleh si empu, membuat Ashera jadi semakin risau kalau malam ini dirinya tidak mendapatkan pintu.


"Tuan muda?! Saya sudah bawakan kopi, anda ada di dalam kan? Tolong buka pintunya, saya tidak tahu nomor sandinya!" Ketukan pintu terus berlangsung.


Karena apartment itu ada di lantai 25, dan itu adalah kawasan khusus milik Arvin, maka tidak ada penghuni lain di kamar-kamar tersebut selain Arvin sendiri.


Membuat suasana jadi semakin suram serta cukup hening, sampai menganggap kalau dirinya saat ini sedang ada di sebuah lantai kosong yang dipenuhi dengan kesan mistis yan amat besar.


Apalagi ketika, tiba-tiba saja lampu di koridor tersebut mati secara mendadak.


"Gelap, apa pemiliknya tidak membayar tagihan listrik? Atau karena tidak ada perawatan yang bagus, sampai lampu pun mati?" Tanya Ashera pada dirinya sendiri.


Ashera, dia sebenarnya tidak takut kegelapan. Tapi mau bagaimanapun, kegelapan adalah suasana yang cukup membuatnya merasa risih. Dan lagi- dari tadi Arvin sama sekali tidak menanggapi panggilannya.


'Pada akhirnya apa ini akan jadi waktuku yang paling sia-sia selama hidupku? Aku ..., membuang banyak waktu untuk sebuah kopi yang tidak di minum olehnya. Aku benar-benar benci ini.


Aku memang ingin, agar dia bertanggung jawab soal masalah yang kemarin. Tapi ini benar-benar membuatku merasa lebih rendah daripada saat aku melayani Nyonya besar.

__ADS_1


Aku ingin kembali ke rumah itu lagi, dari pada disini.' Pikirannya pun terus saja menyalahkan dirinya sendiri, tidak bisa menjaga diri sendiri, dan sekalinya kehidupannya sudah berubah, itu hanyalah status yang tertera di atas kertas saja, dan selebihnya ia tetap berada di posisinya sebagai pelayan.


Pada akhirnya, karena ia tidak memiliki siapapun dan apalagi tempat yang ia tuju, Ashera pun tetap berada di depan pintu rumah dari kamar apartemen nya Arvin.


____________


Setelah hujan deras terus mengguyur semalaman, hari berganti menjadi hari yang cerah dengan kenyataan bahwa matahari berani memunculkan dirinya di tengah langit bumi yang begitu luas itu.


PIP...PIP...PIP....


Dering dari suara jam beker, langsung membangunkan si empu dari tidur nyenyak nya.


"Hoammhh...." Dan Arvin, setelah semalaman sibuk terus menggerutu dirinya sendiri, akhirnya ia bisa bangun dan melewati malam yang buruk itu dengan suasana hati yang lebih baik. 'Hoammh, kenapa bisa-bisanya aku masih bisa tidur nyenyak setelah mendapatkan hinaan itu?'


Satu pikiran yang terlintas setelah mengistirahatkan otaknya yang berharga.


Tapi hal yang paling menyebalkan saat dirinya membuka mata dan melihat ke arah plafon kamarnya, dirinya tiba-tiba saja mengingat kejadian tempo hari.


'Ah..ah....A-Arvin, jangan lagi. A-aku lelah!'


'T-tunggu! J-jangan! Jangan masukkan ke dalam! A-angghh!'


Suara teriakan dan de*sahan yang begitu jelas, masih mampu Arvin dengar.


'Kenapa aku masih saja ingat dengan suaranya yang menyebalkan itu?' Pikir Arvin, wajahnya menatap datar langit-langit kamarnya, dan tubuhnya pun terlentang dengan kondisi sudah bertelanjang dada.


Ya, dia suka tidur dengan tanpa pakaian, selain menyisakan celana boxer.


'Pasti yang terjadi kemarin itu adalah mimpi. Iya, itu pasti mimpi saja.' Tapi saat Arvin mencubit kulit tangannya sendiri, ia merasakan sakit yang lumayan.


"Arggh! Kenapa ini bukan mimpi sih?!" Teriak Arvin, tiba-tiba emosinya naik karena dirinya sudah menikah, bukan lagi sebuah angan-angan yang seharusnya terjadi sekitar sepuluh tahun ke depan, tapi sekarang statusnya sungguh sudah berubah.


"Pasti dia senang, karena aku akan jadi mesin ATM nya. Hahaha, dasar perempuan licik. Baiklah, kita lihat kau sekarang sedang apa, apa kau memerankan jadi pelayan yang bagus atau tidak." Dengan emosi yang masih tertahan sedikit, Arvin membuka earphone miliknya dan langsung turun dari tempat tidurnya.


Mengambil handuk kimono nya, Arvina akhirnya keluar dari kamar dan mencoba mencari keberadaan dari perempuan yang seharusnya ada di rumah untuk melakukan rutinitas dari pekerjaan Ashera itu, yaitu menjadi pembantu.


"Dia kemana?" Gumam Arvin, matanya mencari-cari keberadaan dari perempuan yang sudah sah menjadi Istrinya itu. "Hei pelayan? Sekarang kau dimana? Aku sedang lapar, buatkan makanan untukku!" Teriak Arvin tanpa tahu malu.


Tapi saat Arvin sudah sampai di ruang tamu yang terhubung dengan dapur pun, Arvin sama sekali tidak tahu dimana keberadaan dari Ashera.


"Tch, padahal perutku sudah lapar, dan aku bahkan sudah berharap kalau anak itu masak, tapi gara-gara dia juga, sampai hari ini aku harus kelaparan lebih dulu. Tidak berguna. Apa sih yang sedang dia lakukan?" Arvin terus saja mengomel sendiri, hingga ketukan pintu rumahnya, berhasil menghentikan mulutnya untuk terus bicara.


TOK...TOK...TOK....


"Tuan, ini saya."


"Ternyata dia diluar." Arvin mendelik tajam ke arah pintu, berjalan menghampiri pintu tersebut, Arvin pun segera membuka pintu itu dan akhirnya orang yang baru saja Arvin bicarakan, muncul di depan matanya. "Darimana saja kau? Aku itu sudah lapar, dan kau malah keluar seenaknya."


Ashera yang hanya terdiam dengan wajah pucat, bicara sedikit. "Kopi." Memberikan termos kepada Arvin.


Arvin mengernyitkan matanya dan bicara lagi. "Ini masih pagi, dan kau mau memberikanku kopi yang bahkan semalam saja kau tidak membelikanku kopi?

__ADS_1


Sebenarnya ada apa dengan kepalamu itu? Apa kau tidak pernah berpikir kalau semalam aku sudah menunggu kopi sangat lama, sampai aku tertidur. Buang itu, dan masuk lalu buatkan aku sarapan, kau mengerti?!" Ucap Arvin panjang lebar, akhirnya Ashera yang sebenarnya baru saja bangun tidur itu, hanya mengangguk saja, lalu berjalan melewati Arvin yang sudah memberikan pengawasan ketat kepadanya dalam mode seperti seorang mandor.


'Kenapa mulutnya terus bicara hal buruk terus? Ahh..., tubuhku rasanya sakit semua gara-gara aku tidur di lantai. Untung aku masih bisa bangun cepat, walaupun aku tidak tidur di tempatku, bahkan tanpa alarm.


Dan untung saja sekarang hari libur, jadi aku bisa istirahat dengan benar.' Seperti layaknya pelayan pada umumnya yang akan membuat sarapan untuk majikannya dan melakukan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah, Ashera pun melakukan pekerjaan tersebut hari ini, dan untuk pertama kalinya di tempat asing.


"Hei, apa kau tidak punya mulut? Padahal majikanmu sedang bicara kepadamu, tapi kau malah memberikan anggukan saja." Kalimat yang begitu sarkas pun tetap keluar dari mulutnya, memarahi dan memberi hinaan kepada Ashera.


"Saya sedang malas bicara."


Jawaban datar dan benar-benar jawaban seala kadarnya.


Bahkan Arvin sendiri sampai tercekat kaget mendengar jawaban Ashera yang begitu berani. "Kau~ ap-"


"Jika Tuan terus mengomeli saya, saya tidak yakin sarapannya bisa cepat selesai." Sela Ashera detik itu juga.


Arvin jadi malas berdebat lagi, karena perut juga sudah keroncongan, tapi selain itu omelannya juga sama sekali tidak di tanggapi Ashera dengan benar, Arvin pun memutuskan untuk mundur.


Dia memilih untuk diam dan menonton tv.


'Padahal kedua orang tuanya dan Nyonya besar mempunyai tempramen yang baik, tapi kenapa hanya dia saja yang suka marah-marah? Apa dia tidak punya tekanan darah tinggi jika sering marah-marah seperti itu? Haish, kenapa aku harus serumah dengan anak seperti dia? Walaupun tubuhnya besar, tapi tidak membuat jalan pikirannya jadi lebih dewasa.' Gumam Ashera dari dalam hatinya.


Sampai 15 menit kemudian.


"Kenapa lama sekali sih? Sebenarnya kau bisa masak atau tidak?" Ucap Arvin dengan lantang. Bahkan sampai mengisi ke segala penjuru rumah.


"Bisa, tapi hanya seadanya saja." Jawab Ashera, lalu berbalik dan memperlihatkan dua piring nasi goreng.


"A-apa?!" Arvin langsung berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan cepat menghampiri Ashera yang sudah selesai masak.


Arvin mengamatinya dengan begitu lekat, lalu Arvin dengan sengaja merebut piring tersebut.


"Kau mau membuatku makanan seperti ini?!" Bentak Arvin, pagi-pagi emosinya berhasil naik.


Matanya menyorot wajah Ashera dengan sangat tajam,


"T-tapi kan bumbu yang ada di dalam rumah ini hanya ada sedikit dan cocok untuk nasi goreng." Ashera jadi kalap, ketakutan dengan nada Arvin yang begitu tinggi.


"Aku ini bukan keluarga rendahan sepertimu! Bagaimana bisa kau mau membuat majikanmu ini memakan nasi goreng kalangan orang sepertimu?! Jangan pikir kalau kita sudah menikah, statusmu itu naik, ataupun statusku jadi ikut rendah sepertimu! Itu sama sekali tidak mungkin ja*lang!" Selesai bicara, Arvin melempar piring yang ia pegang ke tubuh Ashera.


PRANK....


"Kau makan sendiri itu, dan bersihkan sampai bersih, jangan sampai ada minyak yang tertinggal di lantai!" Perintah Arvin. "Hah, dasar ..., apanya yang pelayan, bahkan masak saja malah masak nasi goreng yang tidak aku sukai." Imbuh Arvin, lalu jari telunjuknya pun menunjuk ke arah kening Ashera dan menekan kening itu dengan kuat. "Ingat itu! Aku benci nasi goreng. Jika sekali lagi kau membuat makanan yang tidak aku suka, aku akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan, karena gara-gara kau, aku jadi harus kehilangan masa mudaku!" Tegas Arvin, lalu dengan emosi yan masih di milikinya, Arvin memutuskan untuk pergi keluar mencari makan.


BRAK....


'Kenapa aku terus di salahkan! Dasar orang kaya! Kalian selalu saja seenaknya!' Pikir Ashera.


Dia yang tadinya diam, dan hanya di posisi untuk terus mendengarkan omelan nya Arvin, setelah Arvin keluar, dirinya pun jadi merasa bebas. Tapi di situlah, air mata yang sudah terbendung, akhirnya pecah juga, tidak mampu lagi membendung air mata yang terus menumpuk. "Arhh! Arvin! Kenapa aku harus seperti ini!" Jerit Ashera frustasi, dan langsung berjongkok dengan kedua tangan memegang kepalanya sendiri.


Ia sangat takut, cemas, khawatir, dan jelas sangat menyedihkan, sebab dirinya benar-benar tidak menyangka kalau ia harus mengarungi nasib yang tidak di inginkan nya itu.

__ADS_1


__ADS_2