Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
152 : Malam Pengakuan ( 2 )


__ADS_3

‘Jadi memang begitu, pantas saja dari awal aku memang merasa ada yang janggal, kalau saat pulang nanti aku pasti akan menghadapi masalah. Jadi ternyata ini.


Tapi kenapa aku begitu memikirkan apa yang dia rasakan? Sampai membuatnya takut, aku jadi merasa bersalah saja. Padahal aku hanya bertanya saja, tapi kelihatannya di sudut pandang dia, aku pasti seperti seorang penjahat yang ingin menghukumnya, ya?’ pikir Arvin, terus menatap Ashera yang terus saja menyembunyikan wajahnya ke dalam tumpukan tangan yang berada di atas kedua lututnya sendiri. 


‘Pasti dia akan bicara pedas kepadaku, pasti. Hanya dia saja yang mulutnya lebih kasar ketimbang orang lain, bahkan sam-’ belum selesai berpikir mengutuk nasibnya sendiri, tiba-tiba saja tubuhnya di angkat oleh Arvin. “L-lepaskan, turunkan aku, turunkan!” Ashera pun langsung memberontak ingin lepas dari gendongannya Arvin ini. 


“Kalau aku lepaskan, memangnya kau mau apa? Dan aku akan beritahu satu hal kepadamu, aku tahu, kalau saking tampannya aku, jadi banyak wanita yang patah hati karena aku duduk berdua dengan wanita lain, termasuk Vani. 


Tapi Ashera, apa kau punya pikiran, kalau aku benar-benar dekat dan menjalin kembali dengan wanita yang lebih tua tiga tahun dariku itu?"


"Entahlah," ketus Ashera.


Tidak memperdulikan jawaban Ashera yang cukup ketu situ, Arvin menambahkan, "Aku itu tidak akan pernah kembali pada orang yang sudah pernah meninggalkanku lebih dulu, dia hanyalah seorang teman saja,” Arvin yang baru saja menyela ucapannya Ashera dengan sebuah peringatan, tiba-tiba sadar sendiri, kenapa dirinya harus menjelaskan alasan di balik dirinya pergi bersama Vani? 


Padahal jika itu dirinya yang dulu, dia akan menganggap kalau Ashera yang merupakan anak pelayan rendahan ini, tidak akan punya hak untuk cemburu, ataupun diberikan penjelasan seperti tadi oleh Arvin sendiri.


Lantas bagaimana dengan sekarang?


Hatinya justru terbesit sebuah rasa bersalah yang tidak bisa dia ungkapkan secara terang-terangan, Arvin merasa kalau dirinya tidak segera menjelaskan apa yang terjadi di luar sana, seolah hal itu akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari.


Jadi, kira-kira apa ekspresi dari Ashera saat di berikan penjelasan darinya?


“Tapi kalian berdua sepertinya memang cocok. Jadi apa salahnya jika harus kembali dengan mantanmu?” sama hal nya dengan apa yang terjadi pada Arvin itu, Ashera, lain mulut juga lain hati. Dia pun jadi terdiam sendiri ketika mendengar ucapannya sendiri yang terdengar seperti perempuan yang putus asa, ya kan? ‘Ashera, kenapa kau malah bicara seperti itu? Bodohnya aku.’

__ADS_1


“Yang sudah jadi bekas tidak layak di ambil lagi, paham?” ketus Arvin dengan nada yang cukup tegas, membuat ucapannya itu secara tidak langsung jadi menyinggung hatinya Ashera. 


“J-ja-jadi apakah aku termasuk begitu?” tanya Ashera dengan ragu-ragu. 


“Jika kau menganggap dirimu sudah menjadi bekas, memang iya. Tapi kau kan bekasku sendiri yang lain dari yang lain,” sahut Arvin, lalu melempar tubuh Ashera ke atas tempat tidur dengan begitu sembarangan. 


BRUKK…


“Akhw..” Ashera tersentak kaget dengan cara Arvin menurunkannya. “Lain dari yang lain? Apa maks- kyaa..!” Ashera seketika langsung terkejut setengah mati saat Ashera yang baru saja hendak duduk dan menoleh ke arah Arvin yang ada di belakangnya itu, dia justru diperlihatkan oleh Arvin yang sudah membuka bajunya di depannya persis. “Kenapa kau buka baju?!”


Ashera yang ketakutan itu, langsung menarik selimutnya dan bersembunyi di bawah selimut. 


Arvin yang melihat tingkah mengejutkan dari Ashera yang terlihat takut itu, langsung menjawab dengan jelas : “Aku buka baju kan karena aku mau mandi, memangnya kau pikir aku mau apa ha? 


Lagi pula walaupun aku pernah mencicipimu, tapi aku pikir jika kau ingin lagi, kau harus setidaknya lebih cantik dulu, biar aku bisa lebih naf*u.” ucapnya panjang lebar, lalu dia pun melempar kaosnya ke sembarang tempat, dan dengan jahil langsung merangkak naik ke atas tempat tidur yang sedang dijadikan tempat persembunyiannya Ashera itu. 


‘Dia ini benar-benar tidak bisa mengontrol ucapannya sendiri apa?’ batin Ashera. Walaupun takut, dan membuat pikirannya kembali mengulas masa kelam miliknya waktu itu, tapi tidak membuat Ashera tidak bisa mengutuk Arvin yang perlahan sebenarnya sudah berada di atasnya persis. ‘Kalau memang tidak suka kepadaku, seharusnya dia kan jauh-jauh dariku, tanpa membuat hatiku penuh dengan harapan palsu seperti ini.’ pikirnya lagi.


“Apa kau mau terima tawaranku?” tanya Arvin dengan bisikan kecil yang cukup menggugah itu.


“Tidak, aku akan tetap seperti ini, biar kau tidak menyentuhku lagi.” jawabnya dengan lugas.


Sayangnya, merasa tertantang dengan ucapannya Ashera, Arvin yang sudah berekspresi datar itu, tangannya tiba-tiba saja malah meraih pant*at nya Ashera. 

__ADS_1


GREP…


“Kyaa…!” hal tersebut pun di susul dengan Ashera yan buru-buru keluar dari dalam selimut. “A-Arvin, singkirkan tanganmu!” 


“Kenapa aku harus menyingkirkan tanganku ini? Bukannya kau yang memintanya untuk diperlakukan seperti ini?” secara kasar, Arvin pun benar-benar mempermainkan Ashera dengan caranya sendiri yang bagi Ashera cukuplah brutal. 


“M-memngnya kapan aku memintanya? Jangan banyak om-..akh~” Ashera jelas semakin ketakutan dengan sikap Arvin yang tiba-tiba saja berubah menjadi kasar itu, sebab dengan sengaja nya, malah menekan pangkal pahanya Ashera dengan jari-jemarinya itu. 


“Tadi, kau meminta menantangku dengan penolakanmu, ya kan?” sahut Arvin. 


“A-apa maksudnya? Apa itu ar-..artinya kau berharap aku menerima tawaranmu itu?” tanya balik Ashera sambil menahan apapun yang sedang dilakukan oleh Arvin ini kepadanya. 


Terdiam, Ashera pun menemukan jawabannya. 


Sebuah jawaban yang justru di lempar langsung oleh Arvin kepada Ashera, lewat dengan ekspresi wajahnya yang begitu dingin dan tatapan mata yang penuh dengan gairah?


“K-kenapa? Kenapa kau tiba-tiba saja menatapku seperti itu?” dengan ekspresi wajah Ashera yang tidak percaya dengan keterdiaman itu adalah buah dari jawaban yang tadi sempat Ashera tanyakan, matanya pun jadi melotot ke arah Arvin, meskipun di dalam hatinya dia merasa ketakutan. 


“Karena-” Arvin dengan sengaja memotong ucapannya sendiri, dan perlahan dia pun menarik selimut yang menutupi tubuh nya Ashera.


'D-dia-, wajahnya kenapa semakin mendekat?' ketakutan dalam tekanan yang tidak bisa dia ungkapkan lewat kata-kata, setiap detik Arvin mendekatkan wajahnya ke arahnya, Ashera pun semakin mendorong tubuhnya sendiri ke belakang, menghindari jarak yang membuat mereka berdua semakin dekat, dan dekat.


"Ashera-" panggil Arvin, nadanya yang begitu lirih, dengan suaranya yang berat, hal itu pun mengundang hasutan yang langsung di pahami oleh Ashera sendiri. "Apa kau-"

__ADS_1


'Aku apa?' takut tapi penasaran, Ashera pun menatap mata Arvin yang sedang memperhatikannya dengan begitu intens itu.


__ADS_2