
“Kau ini kenapa?”
“Ucapanmu memalukan,”
“Yaelah, kenapa malu, kau biasanya juga malu-maluin.” kata Arvin dengan gamblang, tanpa memperhatikan perasaannya Ashera yang langsung tertusuk pisau tapi tak kasat mata.
Apalagi begitu mendengar banyaknya tawa yang terus menertawakannya, Ashera pun benar-benar jadi malu sekaligus tidak ada niatan untuk berdiri.
‘Waduh, aku salah bicara.’ Arvin yang tidak sengaja keceplosan itu, segera menarik lengannya Ashera agar kembali duduk. Tapi Ashera sendiri tetap bersikeras untuk jongkok di situ. “Bangun-”
“Tidak mau,”
“Hayo, ngambek tuh,” ledek salah satu penonton.
Arvin yang tidak kehabisan ide, langsung memeluk Ashera dari belakang dengan menyatukan kedua tangannya ke depan kakinya Ashera, lalu dengan sekuat tenaga, dia pun mengangkatnya, seperti mesin capit yang berhasil mendapatkan boneka buruannya.
BRUK…
“Kau semakin berat ya-”
Tapi Ashera hanya diam, dia tidak bicara atapun berteriak takut saat tiba-tiba tubuhnya di angka.
“Hera-”
“Ngambek itu, makannya mulutmu itu jangan seperti ember pecah,”
“Kau mau urus tunanganmu itu apa taruhanmu?”
Mendengar hal itu, Arvin melirik ke arah wanita yang hendak pergi dengan membawa sebagian besar uang yang masih tersisa banyak itu.
“Jadi mau nyerah tuh?”
Beberapa orang pelayan yang sedang berlalu lalang itu ada yang menepuk jidatnya sendiri, ada juga yang menggelengkan kepalanya karena Arvin malah kembali memancing amosi orang, setelah emosi Ashera.
“Takut tidak bisa bayar hutang ya?”
“Terserah kau mau bicara apa, aku hanya sudah terlalu lama di sini, aku butuh istirahat.” jawabnya.
Dia memang pada dasarnya sudah terlalu lama di situ, makannya dia pun memilih untuk pergi dari sana.
‘Yah, dasar, aku jadi rugi tiga juta, padahal baru menang sekali. Dan Ashera ini, dia malah jadi ngambek dengan kata-kataku tadi. Bagaimana ini? Sialan, aku harus cari siapa lagi ya?’ Arvin pun melirik ke arah kanan dan kiri, dia sedang mencoca untuk mencari tumbal baru untuk malam ini, karena dia sendiri sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membawa lebih banyak uang.
__ADS_1
Karena lagi pula di korea, judi itu sudah jadi hal umum, bahkan karena ada di dalam kapal pesiar, Arvin sama sekali tidak begitu mempermasalahkannya.
‘Kenapa dia kalau bicara tidak pernah di filter sih? Sakit hati tahu.’ Ashera menggerutu di dalam hatinya.
“Apa yang sedang terjadi?” datanglah seorang pria tua tapi punya tinggi dan tubuh yang lumayan mumpuni.
“Tidak apa-apa, dia hanya tersinggung dengan ucapanku saja,” Arvin menjawabnya dengan jujur seraya memasukkan chip miliknya ke dalam kantong.
“Ohh, anak muda seperti kalian memang rentan untuk terus bertengkar. Padahal sudah bertunangan, kalau tidak segera mengendalikan emosi, ini bisa berbahaya untuk hubungan kalian berdua.” beritahu pria ini kepada Arvin juga Ashera.
‘Hah, padahal yang ada kami berdua sudah menikah, ternyata manusia memang suka percaya dengan apa yang di lihat dan di dengar saja, ketimbang mencari alasan faktanya.
Sudahlah, aku tidak mau ambil pusing dengan hubungan ini, aku harus cari tumbal yang lain.
Gara-gara Luna menghasutku, aku kan jadinya membawa Ashera kesini.’ pikir Arvin.
Sebenarnya awalnya Arvin ingin pergi sendiri, tapi begitu dia harus membawa Ashera ke situasi apapun, Arvin pun tanpa di sadari mau-mau saja menuruti perkataan dari bodyguard neneknya itu.
“Hera, ay-”
“Wahh! Ada apa ini?! Dari tadi kelihatan ramai, dan keramaiannya muncul dari sini.” satu orang anak buah dari pria yang sedang bicara dengan Arvin pun muncul dengan nadanya yang begitu cetar, sangat keras dan bersemangat.
“Ya ampun, ternyata ada pertengakaran kecil antara sepasang kekasih ya?” muncul lagi satu orang perempuan berambut pink, karena di warnai dengan sedemikan nyentrik, agar bisa menarik perhatian mata orang lain.
‘Kenapa disini malah jadi banyak orang?’ Ashera yang takut dengan suara milik mereka yang terdengar antara merendahkan, meremehkan, serta mencibirnya, Ashera pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping kanan dan kiri.
Ada lebih banyak orang di sekitarnya, dan itu cukup mengganggunya.
Tapi di saat seperti itulah, salah satu dari mereka berempat langsung angkat suara, begitu melihat wajahnya Ashera.
“Wow, kau cukup cantik, siapa namamu? Aku Ornis, kau siapa cantik?”
PLAK…
“Hei, kau menggoda tunanganku ya?” Arvin langsung menepis tangan yang ingin bersalaman dengan Ashera.
“Mana mungkin, aku kan cuman mau kenalan saja-” balasnya.
“Tapi suaramu terdengar seperti mau menggodanya,”
“Itu hanya persepsimu sendiri bocah,” cibir pria ini kepada Arvin.
__ADS_1
“Bocah? Aku sudah bukan lagi bocah.”
“Tapi kau sendiri masih SMA tuh-”
‘Bagaimana dia bisa tahu? Apa karena perbicangan kami tadi dengan nenek itu ya?’ batin Arvin.
Ashera yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran dari mereka, langsung berdiri dan mencoba untuk pergi dari sana.
Tapi, Arvin langsung mencegatnya lebih dulu dan memeluknya dari belakang. “Siapa yang menyuruhmu pergi?”
“Aku tidak nyaman dengan mereka-” lirih Ashera, dan jarak bicara mereka berdua pun jadi membuat banyak orang mengira kalau Arvin dan Ashera seperti hendak berciuman.
Ashera sadar dengan jarak itu sendiri, dan jantungnya saja sekarang benar-benar berdebat sangat cepat, seakan kalau jantungnya itu sebentar lagi akan meledak.
Ya, itu mengingat kalau setiap nafas yang di lakukan oleh Arvin itu membuat Ashera jadi teringat dengan kejadian malam tadi.
‘Memalukan.’
Itulah yang dirasakan oleh Ashera saat berdekatan dengan Arvin si bermulut pedang ini, gara-gara mulutnya terus saja berkata kasar, sering memprovokasi orang, dan bahkan setiap kalimat yang keluar itu, sama sekali tidak bisa di filter.
Makannya, Ashera pun selalu saja setiap menit yang berlalu, suasana hatinya seolah terus saja di permainkan dengan mulut yang bisa manis, tapi juga bisa jadi pahit, tanpa adanya tambahan apapun.
“Kalau seperti ini saja kau sudah menyerah, apa kau itu pantas bersanding di sisiku?”
DEG….
Perkataan dari Arvin berhasil mengocok semua isi perut, pikiran dan perasaannya.
Sekasar apapun yang diucapkan oleh Arvin, tapi apa yang di katakannya selalu tepat sasaran.
Dia sudah cukup banyak menyeldikinya, dan banyak yang sudah Ashera dengar selama sekolah di sekolah yang sama dengan Arvin, jadi Ashera pun lagi-lagi di buat bungkam, karena perkataannya memang tepat sasaran untuknya.
“T-tapi-” Ashera sebenarnya ingin mengatakan hal tabu itu.
Tapi dia sadar, kalau itu bahkan adalah kalimat yang tidak pantas keluar dari mulutnya, karena sebelumnya saja karena mulutnya itu, dia bisa menikah dengan anak ini, tapi apakah dengan tidak tahu dirinya, Ashera akan bicara hal paling tabu untuk hubungan mereka berdua?
Ashera pun memejamkan matanya dengan kuat. Walaupun ucapannya Arvin selalu menyinggung perasaannya, akan tetapi dia harus menahan ucapannya yang satu itu, karena itu tidak baik untuk hubungannya ke depannya.
Dan lagi pula, dirinya juga sudah di beri kepercayaan oleh Nenek Tina untuk bisa berada di sisinya Arvin, entah dalam kondisi dan situasi apapun.
“Tapi apa?” tanya Arvin penasaran, karena Ashera lagi-lagi bicara setengah-tengah dan sangat menggantung pula.
__ADS_1
“Tidak jadi-”
“Ingin sekali aku menjitak kepalamu. Sudah aku katakan, jangan berbicara menggantung seperti itu,” geram Arvin dengan bisikan penuh dengan tekanan dalam setiap kalimatnya itu.