
“Wajah berhargamu tidak apa-apa kan?” tanya Ashera seraya menurunkan handphone nya, dan mencoba memeriksanya, apakah adanya retak atau tidak, karena mau bagaimanapun hantamannya memang cukup terasa.
“Tidak apa-apa.” sahut Arvin.
‘Hmmm…, kenapa tingkahnya kelihatannya berubah ya?’ pikir pria tua ini.
‘Dia dengan refleks malah memakai handphone nya untuk menghalangi lemparan kotak kartu poker itu? Tidak terduga sekali dia.'
‘Hah, apa ini akan jadi malam yang menarik?’
‘Keren juga cara berpikir gadis itu, memanfaatkan handphone nya sendiri melindungi wajah tunangannya. Sungguh, diluar perkiraanku.’
Ketika mereka berempat masing-masing sedang berpikir takjub sekaligu heran dengan tindakan yang di ambil oleh Ashera untuk menolong Arvin tadi, Ashera justru dalam hati sedang berterik mengutuk dirinya sendiri.
‘Apa? Tanganku kenapa refleks jadinya mengambil handphoneku untuk jadi tamengnya? Lalu apa tadi? Apa aku tadi bisa bicara tegas seperti itu kepada kakak perempuan itu?! Waduh-waduh, bagaimana kalau setelah ini mereka akan terus memusatkan perhatian mereka kepadaku, karena gerekaan refleksku tadi?’ panik Ashera dalam hati.
Dia sendiri tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Padahal dirinya berharap kalau kartu poker yang di lempar ke arah Arvin bisa di halau, namun siapa yang akan menduganya, kalau dia malah mempergunakan handphonenya sendiri secara refleks?
“Kau memang hebat,” Arvin tiba-tiba saja memujinya sambil memukul pahanya Ashera.
PLAK…
‘HIiii!’ Ashera langsung merinding sendiri dengan pukulan dari tangannya Arvin yang terasa cukup merangsang itu. ‘Kenapa pukulannya malah embuat pikiranku traveling kemana-mana? Apa otakku sudah sangat bermasalah?’ batin Ashera dengan rona pipi sudah menyebar sampai ke belakang telinganya.
Lagi-lagi karena Ashera menundukkan kepalanya, karena saking malunya, Arvin pun langsung menegurnya dengan mencium tengkuknya Ashera dengan cukup sensual.
CUP…
“Hahh?!” Ashera kelabakan, dan langsung menutupi tengkuknya sendiri.
“Aku bilang jangan menunduk, kan?” bisik Arvin tepat di belakang telinganya Ashera.
‘Iya-, tapi kenapa juga harus mencium tengkukku? Apa ini caranya bermain dengan perempuan di luar sana, saat sebelum aku menikah dengannya?’ pikirnya.
Dia jadi kepikiran soal itu, padahal itu adalah pikiran yang tidak berguna, sebab di sini Ashera untuk pertama kalinya malah di ajak ketempat yang begitu luar biasa.
Tempat dimana semua orang kaya, punya banyak uang berkumpul id satu tempat.
Dan disinilah tempat yang cocok untuk di bajak bukan? Merampas semua harta mereka tanpa pandang bulu.
“Ya ampun, kau menggodanya terlalu berlebihan tahu?”
“Heh? Entahlah, aku hanya inisiatif melakukannya. Tapi jia dia tergoda berarti imannya saat di goda memang belum tebal,” sahut Arvin, membalas ucapan dari seorang ibu-ibu yang tidak sengaja lewat dan melihat betapa mesranya Arvin dan Ashera duduk, karena Ashera duduk dengan cara di pangku di atas pahanya Arvin.
“Aku taruhan tujuh juta, biar adil.”
__ADS_1
“Aku juga,”
“Aku ingin tahu rasanyabermain dengan si anak baru, jadi aku akan taruhan tujuh juta juga.”
“Aku sama.”
Merka berempat pun sama-sama menyodorkan chip dengan nilai tujuh juta.
Hal itu pun membuat Arvin senang dan Ashera adalah orang yang ia jadikan sebagai tumbalnya.
“Apa kita akan bermain poker lagi?” tanya si wasit tersebut.
“Aku sudah bosan dengan poker, ganti saja dengan lima dadu.” perintah pria paruh baya yang menjadi pemimpin dari ketiga orang rekannya di sampingnya itu.
“Dadu? Jadi bisa pakai dadu ya?” Ashera malah tertarik dengan dadu, makannya dia pun jadinya bertanya dengan polosnya.
“Iya sayang, sebenarnya tidak hanya bermain dengan poker atau dadu saja, masih ada banyak lagi yang bisa di gunakan untuk di mainkan. Tapi apa kau mau mencobanya setidaknya sekali untuk mencoba mencari tahu keberuntunganku malam ini lewat dirimu?” tawar Arvin terhadap Ashera.
BLUSHH….
‘Semua yang keluar dari mulutnya, terus saja di buat manis.’ benak hati Ashera, lagi-lagi jadi tergoda oleh perkataannya Arvin.
“lima dadu. Siapa yang ingin mendapatkan giliran pertama?” tanya wanita ini kepada ke enam orang yang ada di depannya.
“Biarkan kau dulu.”
Awalnya mereka berempat terdiam, tapi akhirya mereka sama-sama menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu aku dulu.” wanita berambut pink itu pun ingin mengajukan dirinya sebagai orang pertama.
“Baiklah.” memberikan gelas kayu berwarna hitam itu kepada wanita tersebut.
Wanita itu pun mengocok lima dadu di dalam gelasnya dengan membalikkan gelas itu di dengan posisi ke arah bawah, sehingga dua dinding dari gelas dan meja pun jadi objek untuk membuat semua dadu itu di kocok.
“Satu, tiga, empat, satu, lima, dua.”
“Tch.. kenapa hasilku malah kecil?” mendengus kesal, karena hanya mendapatkan nilai yang begitu sedikit.
Di papan layar yang ada di belakang wasit itu pun memperlihatkan sebuah foto bersama dengan angka dadu serta jumlah yang di dapatkan.
Satu per satu mereka lakukan dengan bergiliran, sampai saatnya gilirannya Arvin.
“Kau yang kocok.”
“Jangan salahkan aku jika nilainya besar.” ungkap Ashera.
__ADS_1
“Pfft, aku pikir mau mengatakan jangan di salahkan jika nilainya kecil.”
Ashera yang tidak mau mendengar lawakan dari Arvin lagi, lantas mengocok dadu tersebut di atas meja dengan gelas kayu itu.
Dan hasilnya….
“Enam, enam, lima, enam, lima,” wasit itu pun menyebutkan semua angka yang dia lihat itu, dan menaruhnya di layar monitor. “Totalnya dua puluh delapan.”
“Hahh?!”
“Apa?”
“Dia menang?”
Semua orang pun jadinya melirik ke arah Ashera.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” Ashera mulai tertekan dengan tatapan dari mereka.
“Karena kita menang.”
“Tidak, tidak mungkin ada keberuntungan sebesar itu. Ulangi!” marah wanita berambut pink ini.
“Kalah tetap saja kalah, kenapa di anggap curang? Apakah yang menang selalu di anggap melakukan kecurangan?” balas Arvin, dia tidak suka dengan respon dari wanita tersebut karena tidak mau kalah darinya, sehingga seenaknya menudingnya tanpa alasan yang mendasar.
“Kau- mulutmu it-”
“Kau juga, mulutmu itu seharusnya di jaga. Karena kau bahkan punya sikap emosian seperti itu, makannya tidak ada pria yang mau melirik ke arahmu. Itulah kenyataan yang ada pada dirimu.” sela Ashera. Padahal di dalam hatinya dia sedang panik sendiri, karena bicara hal yang cukup kasar dan terdengar seperti sedang menantangnya.
“Hahaha, iyasih, siapa juga yang mau dekat-dekat dengan wanita yang hobinya terus emosian seperti itu.”
“Tina, kau diamlah, dari pada terus bicara kau lebih membuat kegaduhan di sini, mending tidak usah bicara.” tegur pria paruh baya ini kepada wanita tersebut yang dia panggil Tina.
“Jawaban yang bagus, kau sangat ahli dalam bicara juga ya? Kau memang pintar,”
CUP…
Pujian dari Arvin tiba-tiba saja langsung di peruntukan untuk Ashera sambil mencium salah satu bahunya Ashera, yang membuat gadis itu kembail di buat merinding dengan suasana di sekitarnya yang sangat bercampur aduk.
“Aku tidak puas, ayo main lagi!”
“Tina-”
“Wah-wah, Tina, kau begitu bersemangat sekali ya?”
“Apa kau mau terus mencobanya sampai uang pendapatanmu malam ini habis?”
__ADS_1
Tanya dua orang temannya itu.
“Entahlah, tapi aku benar-benar belum puas, masa aku kalah dengan perempuan itu.” dan lagi- Tina pun mengeluarkan sejumlah tujuh juta lagi.