Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
199 : Pembalasan


__ADS_3

"Bagaimana dengan rencananya? Apakah kalian sudah siap?" tanya gadis ini. Setelah mendapatkan skors selama satu bulan, Dini akhirnya bisa masuk ke sekolah lagi.


Tapi dari situlah, balas dendam miliknya akan dia tunaikan dalam waktu yang tidak akan lama lagi.


-"Hanya seorang gadis saja kan?"-


"Iya, aku hanya perlu membuat dia mendapatkan skandal yang lebih besar, agar anak ini bisa di keluarkan dari sekolah sekalian." jawab Dini. Saat ini dia pun sedang menelepon suruhannya, yang sudah stay di lokasi yang sudah Dini rencanakan. "Sekaligus, mencoreng namanya sendiri di depan semua orang." imbuh Dini sekali lagi. "Aku baru saja mentransfer setengahnya. Jika usaha kalian sukses, aku akan mentransfer sisanya." kata Dini lagi.


Sebagai bukti perjanjian, Dini pun memberikan uang DP kepada temannya itu.


-"Ok, aku baru saja menerimanya. Aku pastikan hasilnya akan jauh lebih bagus. Kau lakukan saja bagianmu,"- ucap laki-laki ini.


Selesai saling bertukar kata, sambungan telepon diantara mereka berdua pun terputus.


"Ashera, tidak lama lagi kau akan di keluarkan dari sekolah, dengan nama baikmu yang akan langsung di coreng dengan sangat mengerikan!" Dini pun tertawa lepas dengan ucapannya sendiri.


TING....


Tidak lama setelah itu, Dini mendapatkan pesan singkat dari seseorang yang dia suruh untuk mengawasi pergerakan dari Arvin. Dan mengejutkan, berita yang baru saja Dini dapatkan itu, sukses membuat Dini tersenyum semakin lebar.


'Wah...wah..wah, ada apa ini? Ashera, kau ternyata keluar masuk ke gedung apartemen itu? Yang benar saja, ini berita besar, pasti ada berita lain yang masih tersembunyi belakangnya.' girang dengan hasil kinerja dari orang suruhannya, Dini pun langsung menenggelamkan tubuhnya di dalam bathtub dari kamar mandi milik majikannya sendiri.


"Din- kau benar-benar tidak tahu diri sekali, ini kamarnya Arliana, tapi kau menggunakannya dengan seenaknya?" tegur Doni yang berada di luar kamar mandi.


"Apaan sih? Lagian Arliana juga sedang keluar, aku kan ingin menikmati berendam di sini." balas Dini.


"Kau harus tahu posisimu itu."


"Aku tahu kok,"

__ADS_1


"Tahu apanya? Kau itu hanya bisa membual saja." cetus Doni.


Doni yang sebagai kakaknya, sungguh merasa malu dengan sikap adiknya yang sembarangan menggunakan vasilitas milik dari dari Arliana yang tidak lain adalah Nona majikan mereka, langsung memungut pakaiannya Dini yang berserakan di depan kamar mandi dan membawanya keluar dari sana.


'Dia semakin menjadi-jadi. Padahal sudah kena skors satu bulan, tapi sikapnya bahkan sama sekali tidak berubah. Aku sudah pernah memperingatkanmu, jadi jika kau terkena apapun, kau tidak punya hak untuk menyeretku lagi, Dini.' batin Doni.


Dia bersikap demikian karena dia sudah mulai lelah dengan sikap Dini yang perlahan mulai kurang ajar. Tanpa perintah apapun dari Arliana untuk menjahili Ashera, dengan rencananya sendiri, Dini secara tidak langsung mencoreng wajahnya Doni juga, sebagai seorang kembarannya.


'Menyebalkan, bahkan dia berani memakai pakaiannya Arliana. Kalau Ayah tahu, bisa jadi masalah ini.' pikirnya lagi, lalu dia pun membawa pergi pakaiannya Dini dari kamarnya Arliana. 'Hmph, tapi tidak masalah juga sih. Bukankah orang yang cukup kurang ajar, setidaknya di berikan cambukan sekali dua kali? Dia harus merasakannya suatu saat nanti, jadi terpaksa, aku akan mengambil pakaianmu ini, Dini."


Sepuluh menit kemudian.


KLEK...


Dini pun keluar dengan handuk yang melilit tubuh polosnya.


"Doni! Awas saja kau, aku akan memburumu nanti!" geram Dini dengan kedua tangan sudah mengepal dengan cukup erat. 'Bahkan selimut juga di lipat?! Doni ini, niat sekali mengerjaiku!' marah, karena dia tidak mungkin keluar dengan penampilannya yang seperti itu saja, Dini pun mencoba mencari cara lain untuk bisa keluar dari kamarnya Arliana tanpa membuat dirinya terekspose dengan penampilannya itu.


_______________


Suatu hari saat pulang sekolah.


Arvin, setelah dia mendapati banyak makanan yang tidak bisa di makan tapi bisa di nikmati, dia pun jadinya sering pulang tepat waktu.


Tentu saja untuk sekarang, karena dia libur untuk mengerjakan tugas pribadinya di rumahnya, dia pun dengan sengaja mencoba mengelilingi kota, seraya mencari inspirasi yang bisa dia lakukan ketika dia pulang ke rumah.


Akan tetapi, dia yang baru saja menempuh separuh perjalanan, tiba-tiba saja di cegat oleh beberapa kendaraan bermotor lainnya.


BRRMM.....

__ADS_1


Ada sekitar lima orang yang naik motor sport dan berkendara di sekelilingnya Arvin.


"Woi, kau pasti ingat denganku kan?" seorang Enzo, tiba-tiba saja angkat bicara sambil menoleh ke arah kanan, dimana Arvin terus fokus ke depan, seakan Arvin ini sama sekali tidak memiliki keterkejutan apapun.


Arvin membuka kaca helm nya, dan berkata : "Jangan bertanya hal yang membuatku ingin tertawa, Enzo." ledek Arvin, dengan sengaja hobinya kembali dia keluarkan untuk memprovokasi Enzo.


"Kalau saja aku bawa pisau, aku jadi ingin sekali memotong lidahmu itu." balas Enzo.


"Sepertinya aku baru sadar, kalau orang misterius yang waktu itu kalah, ternyata adalah kau, ya kan?" salah satu teman Enzo pun menuturkan pendapatnya, membuat Arvin langsung berekspresi wajah datar, karena rupanya ada yang tahu soal identitasnya?


Yah, yang namanya rahasia, pasti ada kalanya akan terbongkar, tapi yang jadi pertanyaannya, bagaimana caranya merea tahu?


Arvin jadi semakin serius memikirkannya.


"Ya kan? Aku pasti tidak salah tebak, karena aku ingat sekali waktu itu ada motor yang punya bandul kunci seperti itu." salah satu temannya Enzo pun menunjuk ke arah bandul kunci miliknya Arvin yang punya desain ada gantungan tassel berwarna hitam bercampur merah.


"Hanya mengandalkan ingatan dengan bukti seperti ini, apa kau ini sedang mencoba menarik perhatianku?" balas Arvin.


"Hahaha, apa kau sedang mengelaknya? Lagi pula, bukan hanya gantungan kuncinya saja kok, yang bisa membuatnya menebak kalau kau adalah pengendara misterius saat balapan satu bulan lalu." Enzo kembali angkat bicara. "Tapi suaramu-"


'Hmm? Suaraku? Padahal waktu itu, bukannya setelah acara balapannya selesai mereka langsung pergi ke tempat karoke? Apa waktu itu, jangan-jangan masih ada orang lain lagi yang belum pergi dari sana?' terkejut dengan pikirannya sendiri yang tiba-tiba saja muncul itu, Arvin pun langsung teringat dengan seseorang yang mana di tempat arena trek balapan motor waktu itu, ada satu orang yang Arvin pikir sedang buang air kecil.


"Hahaha, kelihatannya kau baru saja sadar ya?" Enzo malah menertawai Arvin yang memang baru saja menyadari sesuatu yang baru saja dia ingat, soal malam dimana di hari itu juga, dia dan Ashera mengadakan pernikahan tersembunyi.


Mendengar Enzo tertawa, temannya Enzo itu pun kembali bicara : "Seperti yang kau pikirkan, waktu itu aku tidak bawa motor, tapi karena aku tertinggal karena alasan pribadiku, aku jadinya sempat mendengar perdebatan diantara kau dan gadis yang di jadikan taruhan waktu itu, Arvin."


Arvin langsung menyipitkan matanya. Hatinya tiba-tiba saja tidak tenang saat salah satu dari mereka berempat, ada menyebut gadis taruhan yang tidak lain adalah Ashera.


'Berarti malam itu, jangan-jangan mereka tahu apa yang aku katakan?' sebenarnya bukan permasalahan yang Arvin katakan kepada Ashera waktu itu, melainkan soal identitasnya.

__ADS_1


__ADS_2