Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
77 : Rencana hadiah


__ADS_3

"Phuah...!" Ashera dan Arvin akhirnya keluar bersama.


"Aku pikir Ashera tenggelam."


"Ashera, kau tidak apa-apa kan?" Tanya pak Reno.


"Iya pak, saya tidak apa-apa." Jawab Ashera dengan cepat, seolah barusan tidak terjadi apapun.


"Baiklah, akan aku anggap semua pemanasan nya sudah selesai. Disini bapak akan menilai cara kalian semua berenang, jaraknya dari ujung sana sampai ujung sana." Jelas pak Reno kepada semua anak muridnya.


'Hah...kenapa tadi aku tiba-tiba jadi berna*su sekali. Ada apa ini? Jangan-jangan dibibir nya, dia menggunakan opium dulu ya? Jika tadi aku tidak menarik akal sehatku lagi, jelas aku akan terus menc*umnya terus, dan apalagi-' Tidak sengaja Arvin pun sempat menyentuh sepasang aset milik Ashera, dan kekenyalannya itu membuat Arvin jadi terus saja terngiang dengan perasaan itu sendiri.


'Padahal di tengah banyak orang seperti ini, bisa-bisanya tangannya mau masuk menggerayang kedalam tubuhku. Tangannya memang terlihat tidak bisa di kontrol tuh. Apa? Apakah dia sekarang sedang memikirkan apa yang terjadi tadi? Apa dia bahkan sama sepertiku yang masih saja merasakan sensasi itu?' Ashera tanpa sadar jadi mengernyitkan matanya, sebab ia sendiri juga masih merasakan sisa dari sensasi geli yang di buat oleh Arvin tadi di salah satu buah dadanya.


Sungguh, Ashera merasa kalau Arvin bisa saja melakukannya di dalam kolam juga, setelah bisa menempuh perjalanan panjang di atas tempat tidur juga.


"Kalau begitu, untuk kelas sebelas A, absen pertama sampai sepuluh, kalian semua bersiap di posisi." perintah Pak Roni, dan mereka yang masuk dalam absen pertama sampai sepuluh, langsung ambil posisi mereka di ujung kolam.


"Pak. Apa ini termasuk dalam sesi balapan juga?" Tanya salah satu diantara peserta yang terpanggil dalam absen tadi.


"Anggap saja begitu. Cepat, aku terpaksa mengajari dua kelas sekaligus karena Pak Etra tidak berangkat." Balas pak Reno.


Karena hanya di jawab seperti itu, mereka semua pun menjalani penilaian renang mereka di tangan pak Reno yang seharusnya hanya mengajar kelas D saja.


Satu persatu mereka semua menjalani sesi penilaian renang, sampai di kelas D juga, Ashera yang berhasil untuk istirahat lebih dulu, akhirnya mendapatkan gilirannya juga, dan dia juga harus bersaing dengan Dini juga.


'Gara-gara nama awalanku huruf A, jadinya aku pasti akan selalu sekelompok dengan dia.' perasaan tidak suka jelas tertanam pada diri mereka berdua.


"Semua siap? Mulai!"

__ADS_1


BYURR.....


___________


Di dalam kantor guru, pak Reno saat ini sedang istirahat setelah mengarungi jam panjang untuk dua kelas secara sendirian.


"Ada apa pak? Kenapa anda terlihat sedang berpikir keras? Nih, minum kopinya dulu pak." menawarinya segelas kopi susu yang dingin. Dan itu sangat cocok untuk suasana di hari yang terik seperti ini.


"Hm, terima kasih kopinya Bu." Menyahut pemberian es kopi dari rekan kerjanya. "Tadi, Ibu kenal dengan Ashera kan?"


"Tentu saja, aku kan wali kelas mereka, masa anak murid sendiri tidak kenal." jawabnya dengan cepat. "Tapi memangnya ada apa dengan Ashera?"


Dengan mengelus dagunya yang bersih, pak Reno menjawab : "Ashera, bukankah dia seharusnya masih di skors? Tapi kenapa dia sudah bebas dari hukuman itu?"


"Oh, kalau itu sebaiknya tanya pada orang itu, yang menjabat sebagai guru BK, siapa dia? Aku sering lupa namanya, gara-gara suah di sebut. Dia kenal dekat dengan Arvin, jadi jika mau tanya, tanya dia langsung, karena saya sendiri juga tidak diberitahukan alasannya." jawabnya.


Mereka berdua pun jadinya sempat berpikir keras, karena guru BK yang belum lama ini menggantikan guru yang sudah pensiun itu memang terlihat cukup dekat.


Dan wali kelas dari 11-D itu pun terdiam dengan pertanyaan dari pak Reno itu memang benar, kalau sikap dan kepribadian dari Ashera berubah, bahkan bisa di bilang lebih berani.


___________


Sore itu, adalah waktu di mana jam pelajaran mereka semua akhirnya sudah selesai.


Tapi, di saat ketika Ashera sudah ada di luar sekolah, ia pun mencoba untuk memeriksa barang yang seharusnya ada di dalam tasnya, tapi barang tersebut sudah tidak ada lagi.


"Undangannya, hilang." Gumam Ashera, lalu ia pun mendongak ke arah atas, tepat ke arah dimana kelasnya berada. 'Dia pasti yang mengambilnya.' Pikir Ashera. 'Sudahlah, lagian itu juga undangan palsu. Biarkan saja apa yang mau dia lakukan dengan undangan palsu itu.'


Karena sudah memprediksi kalau Dini ada kemungkinan besar merasa dendam, iri, dan ingin pergi ke pesta ulang tahun milik Fajar tapi tidak memiliki undangannya, Ashera pun memang sengaja membuat undangan palsu untuk mengecoh Dini.

__ADS_1


Karena ia tahu karakter Fajar itu selalu hati-hati, makannya Ashera membawa undangan itu sebagai pancingan.


Dan undangan palsu yang ia gunakan sebagai umpan itu pun berhasil di makan oleh Dini juga.


'Hah~ Mana mungkin ada yang mau memberi undangan pada orang sepertinya? Sekalipun Arliana merupakan majikan dari Dini dan Doni, Arliana juga tidak mungkin akan membawa Dini yang sellau mengacau itu. Tapi untuk hari ini, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Biarkan imajinasinya bisa menjadi putri di pesta nya Fajar, hancur di tangannya sendiri. Selamat makan tuh undangan palsu.' Pikir Ashera lagi.


Dengan perasaannya yang lega, dia pun pergi menggunakan sepatu rodanya untuk mengunjungi suatu tempat untuk mencari sesuatu untuk dijadikan hadiah nya Fajar.


Sebagai anak dari keluarga konglomerat, Ashera tahu kalau sudah jelas Fajar sudah memilki banyak barang kebutuhan yang mahal, bermerk, serta mana mungkin membutuhkan barang lain yang sudah di miliki atau biasa di lihat oleh laki-laki seperti Fajar.


Karena itu, Ashera pun akan membuat setidaknya satu hadiah yang layak untuk di jadikan hadiah darinya untuk Fajar.


Dan urusannya, dia pun harus pergi ke mall untuk mencari referensi apa yang kira-kira akan ia buat.


"Akhh...! Senangnya! Yuhu!" Dengan wajah gembiranya, karena ia pulang pergi dengan menggunakan sepatu roda, ia pun pergi berputar-putar, mendorong tubuhnya ke arah kiri secara santai lalu ke arah kanan, dan setelah itu ketika ada batu yang menghalangi jalannya, dengan akrobatik yang bisa Ashera lakukan, Ashera pun bergerak meluncur ke depan dengan posisi kaki menyilang, dan setelah berhasil melewati batu itu, Ashera pun berputar lagi dan kembali meluncur ke depan. "Saatnya belanja." Ucap Ashera dengan senang.


Sedangkan di sisi lain, Arvin yang masih duduk di kelasnya, memandang keluar jendela dari tempat duduknya dengan wajah melamun.


"Sepertinya kau terus memperhatikannya." Ucap Alfian, memecah keheningan diantara mereka berdua yang masih berada di dalam kelas. "Dan apa saat kau di dalam kolam itu, kau benar-benar menci*umnya? Itu seperti bukan gayamu sekali, terlihat memperhatikan dia terus menerus." Imbuhnya.


"Itu bukan urusanmu."


"Iya, ok..ok, itu bukan urusanku. Tapi akan jadi urusanku ketika aku penasaran dia mau pergi kemana!" Begitu setelah selesai bicara, Alfian pun langsung pergi dengan berlari dari sana. "Aku harus pergi cari kado, kau mau ikut atau tidak?"


Tapi tidak seperti pertanyaan yang seharusnya menunggu jawabannya, Alfian justru sudah pergi jauh lebih dulu, meninggalkan Arvin yang sedikit memasang wajah terkejut karena rupanya Alfian ingin mengikuti Ashera pergi sekalian ingin beli kado?


'Aku memang di undang, bahkan walaupun Ashera sudah aku larang untuk pergi ke pesta, apakah dia akan tetap mencari hadiah untuk anak itu?' Pikir Arvin detik itu juga.


Dan karena ia tidak mau ketinggalan oleh mereka berdua yang sudah pergi lebih dulu dari dirinya, Arvin pun segara beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kelasnya.

__ADS_1


Tapi, di sisi mereka semua akhirnya sudah pulang, maka tidak dengan Dini, dia baru saja melepaskan undangan hasil curiannya itu dari samping meja guru lalu ia simpan ke dalam tas.


'Akhirnya aku dapat juga, untung saja dia tidak sadar kalau aku sudah mengambil undangannya. Rasain kau, tidak bisa pergi ke pesta.' Pikir Dini dengan bangga, dan setelah ia sudah merasa puas dengan jeri payahnya itu, Dini pun pulang juga.


__ADS_2