
"K-kenapa aku malah di belikan ini juga?" Tercengang Ashera melihat dirinya mendapatkan hadiah dari kak Luna, yaitu sebuah Lingerie.
Sebuah baju seksi berwarna hitam, merah, biru, serta ada juga yang berwarna ungu, yang baginya terasa cukup norak, jika dia memakainya.
Ah tidak, bahkan jika dirinya di bujuk untuk memakainya, dia memilih untuk memakai jubah mandi saja ketimbang Lingerie ini, pakaian Iblis penuh godaan.
"Karena anda belum aku beri hadiah pernikahan, jadi saya sekalian beli juga." jawab Luna. Selagi diberikan titipan dari Ashera untuk meminta di belikan pakaian da lam, dia pun jadinya punya inisiatif berupa membelikan Ashera hadiah juga, tanpa perlu memikirkan apakah Ashera akan menerimanya atau tidak. "Lagi pula setelah akhir bulan ini, kalian berdua akan pergi bersama." Imbuh Luna, memberitahu kalau tidak lama lagi, Ashera dan Arvin akan pergi bulan madu.
Sebenarnya sudah ada rencana kalau mereka berdua harus terbang ke beberapa negara, dan mengayomi masa berdua dalam setengah bulan full, kalau bisa.
Tapi jika memikirkan kembali kalau jadwal dari anak SMA tidaklah selonggar itu, maka Nenek Tina memutuskan agar Arvin mencari tujuan negara yang akan di jadikan destinasi wisata bulan madu mereka sendiri saja.
Ashera dan Arvin pun saling melirik satu sama lain.
"Pergi kemana?" Tanya Arvin. Dia sama sekali belum tahu apapun soal pergi bersama seperti yang di maksudkan oleh Luna.
"Kalian berdua sudah di daftarkan oleh Nyonya besar untuk pergi bersama bulan madu setelah akhir bulan ini. Semua persiapannya sudah selesai, kalian hanya perlu pergi berangkat saja." Jelas Luna. "Tapi- dari pada itu. Apakah kalian berdua tidak pergi ke pesta ini?" Luna tiba-tiba memperlihatkan sepucuk undangan yang mana undangan itu sama persis seperti milik mereka berdua.
Undangan yang menyatakan kalau Luna ikut di undang dalam acara pesta ulang tahun milik Fajar yang terjadi di malam ini juga.
"Dari mana kau mendapatkan itu? Itu kan undangan dari ulang tahunnya Fajar?" Tanya Arvin. Dia sebenarnya bertanya karena sedikit was-was, pasalnya Luna ini bodyguard nya sang Nenek, dan kalau Luna bisa mendapatkan undangan, jelas ada hubungan dengan Fajar.
Sedangkan Arvin sendiri adalah cucu dari keluarga Ravarden, dia takut kalau usahanya selama ini untuk menyembunyikan jati dirinya terbongkar.
__ADS_1
Luna yang melihat Arvin memperlihatkan ekspresi wajahnya yang nampak panik, karena Luna tahu kalau Tuan muda nya itu selama ini menyembunyikan jati dirinya, dia pun segera menjawab. "Dari Tuan Fajar. Dia sendiri yang memberikannya pada saya agar pergi ke pesta ulang tahunnya juga. Tapi alasan di balik undangan ini juga bukan karena identitas anda ketahuan, melainkan karena saya pernah membantu beliau menyelesaikan masalah, maka dari itu saya di kasih ini."
Luna pun akhirnya mau menjelaskannya, sebab mau bagaimanapun, ia tidak boleh membuat Tuan muda nya merasa kesusahan hanya karena pikiran yang belum pasti itu.
"Aku juga punya sih, tapi dia melarangku pergi." Ashera pun menunjuk pada satu undangan miliknya kepada Luna, dan sekalian menunjuk Arvin sebagai dalang kalau dirinya tidak boleh pergi ke pestanya Fajar.
"Apa kau sedang menuduhku sekarang? Jika bukan karenamu yang membatasi urusanku, aku juga tidak akan mengatakan itu padamu." balas Arvin. Dia tetap saja membuat alasan untuk membela diri dan tidak mau kalah debat dengan Ashera lagi.
"Tapi karena barangnya juga sudah datang, jika ka-"
"Tidak perlu, keputusanku sudah bulat, aku tidak akan pergi." Sela Arvin saat itu juga. Keputusannya memang sudah bulat, dia tidak akan pergi ke pesta, maka dari itu dia pun benar-benar melepaskan jas yang sempat dia pakai itu, membuangnya ke samping sofa, dia langsung menyetel Tv. "Dan tentu saja, kau tidak perlu pergi juga. Tetap di sini saja dan temani aku sampai aku merasa bosan." imbuhnya, membuat Ashera jadi menelan semua kalimat yang hendak dia ucapkan tadi.
Ashera sempat menoleh ke arah Luna. Karena kebetulan Luna mau pergi, Ashera yang sudah mempunyai keputusan untuk tidak pergi dari rumah, memilih untuk menitipkan kado yang sudah dia buat itu kepada Luna.
"A-aku mengerti," jawab Ashera dengan gugup.
__________
"Fufufu, lihat ini, aku akhirnya jadi berangkat ke pesta ulang tahunnya Fajar." Gumam Dini. Setelah bisa memiliki gaun yang cocok, dia pun berputar di depan cermin lemari.
Gaun malam berwarna biru Navy di padukan dengan sepatu high heels berwarna senada, serta rambut hitam panjang yang di gerai, tapi dia mengatur rambutnya dengan mencatok sendiri, membuat gaya sendiri pula, dengan make up tipis serta parfum yang sudah dia pakai, Dini pun akhirnya sudah bersiap untuk pergi ke pesta.
Bersamaan dengan undangan yang sudah dia miliki, dia sama sekali tidak kekurangan apapun lagi kecuali waktu yang harus dia gunakan untuk pergi.
__ADS_1
KLEK....
Begitu Dini keluar dari dalam kamarnya, dia melihat Arliana yang sudah berpenampilan cukup cantik itu tengah di tuntun pergi bersama dengan Doni.
BRAK....
Doni yang sudah berpakaian cukup rapi dengan jas berwarna hitam layaknya seorang pangeran, dia berhasil mengantarkan Nona majikannya masuk kedalam mobil, lalu tidak lama setelah itu Doni lah yang masuk kedalam mobil untuk menyetirnya.
"Doni! Kau tidak menga-" Dini yang sudah hampir sepenuhnya berteriak memanggil kakaknya itu, seketika kalimatnya dia telan kembali setelah mobil berwarna putih yang di naiki oleh mereka berdua sudah pergi dari sana.
BRRMMMM.......
"Kenapa dia tidak mengatakan padaku kalau dia di undang juga sih?! Kalau seperti ini, aku harus pergi dengan apa?" Tanya Dini pada dirinya sendiri.
Pada dasarnya dirinya memang tidak membuat janji bahwa dirinya ikut dengannya. Akan tetapi, mau bagaimanapun itu, dirinya sama sekali tidak bisa menerima kenyataan kalau saudaranya sendiri bahkan tidak mengatakan apapun kepadanya soal dirinya yang ternyata ikut peri ke pesta bersama dengan Arliana.
"Dini, kau mau pergi kemana?" tanya sang kepala pelayan, dia adalah ayah dari Dini yang bekerja untuk melayani Arliana, karena Arliana dan keluarganya itu adalah majikan mereka.
"Aku mau pergi ke pesta, tapi Doni malah pergi meninggalkanku." rutuk Dini, dia menjawabnya dengan perasaan yang tidak puas hati.
"Doni itu ikut pergi untuk mengantarkan Nona Arliana, apa kau bahkan mau merasa iri dengan saudaramu sendiri yang sedang bekerja?" tanya pria ini.
"Tidak tahu ah, pokoknya aku juga harus pergi ke pesta juga." tegas Dini. Karena keras kepala ingin pergi ke pesta juga, Dini pun akhirnya keluar dari rumahnya Arliana seraya menelepon seseorang untuk mengantarkannya pergi ke tempat pesta yang di adakan oleh Fajar.
__ADS_1