Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
118 : Awal keributan


__ADS_3

"...!" Arvin sontak jadi melotot, melihat kelakuan dari perempuan nakal yang bahkan tidak menyadari kalau orang yang di ciumnya itu sebenarnya sama-sama perempuan.


Begitu menjijikan, itulah yang di rasakan oleh Arvin, yang alih-alih merasa jijik, sebenarnya terbesit rasa iri yang tidak bisa dia ungkapkan begitu saja secara terang-terangan.


"Jangan lupa itu," setelah berkata seperti itu, perempuan ini pun pergi dari sana, meninggalkan Arvin dan Ashera yang sama-sama memasang wajah terkejutnya.


"A-apa itu tadi?!" Ashera langsung bertanya dengan nada seperti orang yang tertekan, dan dengan buru-buru langsung membuka kamera handphone, karena takut kalau kissmark itu menempel di pipinya Ashera.


"Kau tadi di cium. Salahmu sendiri menggoda wanita, apa kau nantinya juga mau menggoda pria lain?" tanya Arvin dengan nada kurang senang. Entah kenapa itu terjadi, namun Arvin masih mampu untuk menyembunyikannya dengan baik, sehingga perasaannya itu pun tidak akan terekspose lewat raut wajahnya.


"Padahal kau sendiri juga pasti sering menggoda wanita juga," kata Ashera, sebelum mereka tiba-tiba saja mendengar suara knalpot dari mobil lain yang cukup menarik perhatian mereka berdua.


BRRMM....


BRRMM.....


Suara knalpot yang begitu berenergi dan bertenaga, Ashera yang memang suka dengan mobil itu, segera mengeluarkan kepalanya lewat pintu jendela dan melihat ke arah belakang.


"Apa kau yakin mau menggunakan mobil ini untuk ikut balapan mobil? Mobil mereka semua tergolong mobil terkenal dengan mesin yang bagus, bisa-bisa ka-"


Arvin yang sebal melihat tingkah Ashera yang seenaknya main mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil, segera menarik kerah belakang pakaian Ashera agar kembali duduk dan menjawab : "Apa kau berpikir aku ini bodoh, sampai menyuruhmu ikut balapan mobil juga, tapi menggunakan mobil biasa?


Padahal kau perempuan yang biasa-biasa saja, tidak ada yang menarik dari atas sampai bawah, tapi setelah di make over, kau bahkan bisa mengelabuhi orang lain sampai menggoda perempuan tadi, lalu kenapa tidak dengan mobilku?


Jangan meremehkan mobilku ini, asal kau punya skill yang bagus, kau bisa memenangkan balapan ini, bahkan sekalipun yang kau lawan itu menggunakan mobil mewah keluaran terbaru seperti mereka, pasti bisa menang," beber Arvin dengan panjang lebar.


"Huh? Padahal kelihatannya seperti mobil pada umumnya," gerutu Ashera. Dia memang sudah mencoba menggunakan mobilnya, tetapi dia masih penasaran dengan perkiraan kalau sebenarnya Arvin merombak mobil mewah menjadi mobil biasa. Karena dia tidak mau pembicaraannya ketahuan oleh orang lain yang kemungkinan saja masih bisa di dengar, Ashera pun memiringkan tubuhnya ke arah Arvin dan bertanya dengan lirih, "Memangnya sebenarnya mesin apa yang kau gunakan di dalam mobil BMW ini tipe M8 ini?"


Melihat wajah Ashera yang entahnya jadi terlihat tampan itu, Arvin pun menjawab : "BMW i8"

__ADS_1


"...!" Ashera seketika jadi terkejut, "P-padahal itu body mobil bagus, kenapa malah di desain untuk mobil BMW m8 apa kau bahkan tidak mengerti sama sekali tentang model paling keren?" gerutu Ashera, tiba-tiba saja terobsesi dengan mobil.


"Memangnya aku pikirin? Yang penting kan tidak mencolok, dan bisa jalan. Kenapa aku yang punya, tapi kau malah yang terlihat frustasi seperti itu?" sindir Arvin secara langsung.


"I-iya juga ya," sadar dengan posisinya sendiri hanya bertugas sebagai supir sementaranya saja, Ashera pun memutuskan untuk tidak mengungkitnya lagi, sebab Arvin yang terlihat cuek dengan mobil, tapi Ashera sendiri yang terlihat heboh, padahal yang punya juga Arvin sendiri. 'Mentang-mentang Bos, dia memang bisa melakukan seenaknya pada semua barang dan kendaraanya.


Hanya saja, kan model mobil BMW I8 itu kan bagus, sayang sekali, mobil ini tidak jadi pusat perhatian.' pikir Ashera, masih saja tidak puas hati dengan cara Arvin memperlakukan barang-barangnya sendiri, terutama kendaraannya, yang malah dengan sengaja di desain agar seperti biasa saja.


Namun, dengan pemikiran itu, Ashera pun jadi punya sudut pandangnya sendiri soal alasan sebenarnya Arvin yang bahkan tidak mengungkapkan identitasnya.


TOK..TOK...TOK....


Kaca pintu mobil di sisi Arvin tiba-tiba di ketuk oleh seseorang.


Arvin dengan segera, langsung menurunkan kacanya, dan akhirnya jadi memperlihatkan seseorang yang mereka berdua kenal, yaitu Arliana.


"Arvin, ternyata kau? Aku pikir kau tidak akan pernah ikutan balapan mobil," kata Arliana.


"Pfftt, kenapa gara-gara aku? Salahkan saja mereka, aku kan cuman datang untuk menyapamu," kata Arliana dengan senyuman kecilnya itu.


"Kelihatannya kau masih tidak jera hukuman yang terakhir kali aku berikan padamu," kata Arvin, malas berbicara dengan Arliana, karena pengalaman terakhir yang cukup memalukan itu masih tidak bisa menghilang dari dalam kepalanya.


"Memangnya kau memberikan hukuman apada padanya?" tanya Ashera, tiba-tiba kepalanya sudah ada di samping wajah Arvin, dan hal tersebut pun membuat Arvin sempat terkejut untuk beberapa saat.


"Huh? Wah, Arvin kau punya teman baru ya? Kenapa tidak mengenalkan padaku?" dengan caranya sendiri, Arliana malah langsung membungkukkan tubuhnya ke arah Arvin, namun di satu sisi, salah satu tangannya Arliana justru menarik rantai kalung yang digunakan Ashera, sehingga mereka bertiga sekarang ini pun benar-benar saling menatap satu sama lain. "Kau-"


Seketika, kata-kata yang hendak terlontar dari mulut dengan bibir merah itu, langsung Arliana telan kembali di saat Arliana mendapatkan tatapan tajam dari Arvin.


"Dengar, aromamu cukup menjengkelkan, pergi dari hadapanku," cetus Arvin dengan nada yang cukup rendah.

__ADS_1


"Ya ampun, padahal cantik-cantik seperti itu, bisa-bisanya dia menghina Arliana," ucap salah satu penonton yang tidak suka dengan cara Arvin bicara.


"Rasanya aku ingin menghajar mulutnya yang tidak tahu diri itu," salah satu dari mereka yang lainnya, juga punya kesan tersendiri yang membuatnya cukup kesal juga, karena tidak suka dengan ucapannya Arvin yang berhasil menghina Arliana.


"Siapa sih dia? Wajahnya saja yang tampan, tapi sikapanya itu benar-benar arogan sekali," sindirnya sekali lagi.


Di dalam keramaian yang dipenuhi dengan anak muda dari kalangan SMA atau anak kuliahan, Arvin yang kini lagi-lagi mendapatkan pusat perhatian berkat dari pesona yang di tebar oleh Arliana, sontak membuat Arvin yang jadi ikutan kesal.


"Apa kau mau keluar dan bicara berdua denganku?" tanya Arliana kepada Ashera yang menyamar menjadi seorang laki-laki.


'Dari tatapan matanya itu, apakah dia menyadari kalau aku ini perempuan?' pikir Ashera, merasa cemas.


GREP....


"Tidak ada tempat di sini, sebaiknya kau pergi sekarang juga," tekan Arvin seraya mencengkram pergelangan tangannya Arliana yang sedang mencengkram kalung yang di pakai oleh Ashera itu.


"Woi, jangan main kasar dong dengan perempuan," akhirnya salah satu dari mereka pun maju juga, dan hendak mencengkram tangannya Arvin.


Tapi, sebelum itu terjadi, Arvin lebih dulu langsung memberikan tatapan sengitnya, "Lagian dia juga yang mulai duluan, tiba-tiba mampir kesini dan membuat orang kesal. Dengarkan baik-baik, padahal sifatmu sendiri beda denganku, memangnya aku bisa mentoleransi orang yang mengganggu ataupun temanku? Kau dan aku saja beda, jadi apa kau mau menganggap aku ini harus memberikan kesabaranku yang punya batasan?" ungkap Arvin dengan tegas tanpa memberikan orang tersebut kesempatan untuk bicara.


'D-dia ini, memang sulit di kendalikan, seperti kuda liar.' detik hati Arliana, melihat sikap dari Arvin yang begitu bar-bar dan suka seenaknya sendiri.


"Apa kau bisa melepaskan tanganmu dari kalungku?" tanya Ashera dengan suaranya yang benar-benar berubah menjadi laki-laki.


"Jika kau mendengarnya, dan tidak tuli, kau seharusnya melepaskannya. Jangan mempermalukan diri sendiri dengan sok dekat denganku," tutur Arvin dengan angkuh.


"Ternyata kau memang tidak bisa di bicarakan secara damai,"


Hingga tiba-tiba seorang laki-laki berkacamata yang baru saja keluar dari mobil sport mewah berwarna biru metalik, berjalan cepat menuju ke arah Arvin, menyingkirkan laki-laki yang hendak mencengkram tangannya Arvin tapi tidak jadi, jadi sebagai gantinya, anak laki-laki berkacamata inilah yang menggantikan perannya sebagai pahlawan.

__ADS_1


"Minggir," menarik laki-laki yang tadi berada di samping Arliana, lalu dia pun menggantikan posisinya sampai dia akhirnya langsung mencengkram kerah bajunya Arvin. "Kau, sebenarnya datang kesini hanya ingin membuat keributan dengan Arliana kan?! Beraninya kau mencengkram tangannya!"


"Hahaha, apa kau barusan menganggap aku datang kesini untuk mengundang keributan, padahal kau sendiri lebih dulu memicu keributan denganku," kata Arvin dengan senyuman miringnya. "Lihat apa yang sedang tanganmu lakukan di kerah bajuku? Kau sedang menantangku kan?"


__ADS_2