Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
182 : Menyerahkan Arvin?


__ADS_3

“Tuan, apa anda ingin minum?”


Arvin menoleh ke belakang, dan mengambil segelas wine merah, lalu mencoba bertanya kepada Ashera apakah mau atau tidak. 


“Kau mau ini atau tidak?” tanya Arvin kepada Ashera yang malah sekarang sedang menundukkan kepalanya lagi sambil memejamkan matanya. 


“Tidak usah,” jawab Ashera singkat. 


‘Dia ini kenapa lagi?’ Arvin sendiri tidak menyadari apa yang membuat Ashera bersikap demikian. 


Karena Ashera menolaknya, Arvin pun meletakkan gelas yang sempat dia ambil tadi untuk dikembalikan ke si pelayan tersebut. 


Dan di situlah, gesekan antara kartu andalan pun terjadi.


“...!” Ashera sesaat jadi terkejut sendiri dengan gerakan tubuh Arvin yang tidak mau diam itu. ‘Apa dia tidak bisa diam? Kenapa terus saja bergerak? Aku- ini, ah…, rasanya aku seperti sedang terangsang sendiri, kenapa aku jadi semesum ini?’ gerutu Ashera dalam hatinya. 


Dia sungguh, merasakan adanya tekanan di bawah sana, dan dia sangat sulit untuk mengkondisikan raut mukanya untuk tidak tersipu. 


BRUK…


“Hahh…” dan apa yang dilakukan oleh Ashera sekarang, dia meletakkan tangannya di atas meja kasino. Sambil menundukkan kepalanya kesepuluh jarinya pun dia satukan untuk menyangga dahinya sendiri. ‘Aku lelah, lelahnya bukan karena permainan ini, tapi karena Arvin ini, apa aku sungguh tidak bisa pergi dari pangkuannya ini?’ 


“Sebenarnya kau kenapa sih?”


“Apa aku bisa keluar mencari udara segar?” tanya Ashera, dia sudah cukup frustasi dengan kondisinya yang sedang ditekan oleh miliknya Arvin tanpa Arvin sadari itu. 


“Tidak, kau harus tetap di sini.”


“Tapi setidaknya aku ingin duduk sendirian.” sahutnya. 


‘Padahal selama ini saja banyak yang ingin duduk di pangkuanku, tapi dia ini-’ curiga dengan sikap Ashera yang satu ini, Arvin pun mencoba berpikir lebih keras dan lebih cepat. 


Dan tidak perlu waktu yang lama, Arvin pun mulai menyadarinya. 

__ADS_1


“Hah~” Arvin menghela nafas secara kasar. Sambil tersenyum simpul, dia pun menarik Ashera agar duduk lebih ke belakang dan kemudian Arvin kembali membisikkan sesuatu yang cukup penting di belakang telinganya persis. “Apa jangan-jangan kau terangsang ya?”


BLUSHH…


Ashera yang tidak tahan dengan cara Arvin menggodanya, sontak dia pun langsung mendorong dirinya agar bisa menjauh, dan membuatnya seketika jadi langsung berdiri. 


“Berhentilah menggodaku, aku lelah.” Ashera yang sudah ngambek itu, langsung duduk di kursi kosong yang ada di belakang jauh sepuluh meter dari tempat Arvin duduk itu. 


“Lihat itu, tunanganmu sudah ngambek, makannya jangan sok mesra, ada kalanya pasti lelah.” tegur salah satu penonton. 


“Ya, dia hanya lelah karena semalam baru saja terjebak di medan perang bersamaku, makannya dia jadi seperti itu.” dengan percaya dirinya, Arvin malah bicara dengan sangat terus terang, yang mana hal tersebut membuat sebagian besar orang di sana punya pikiran yang sama. 


Padahal mereka semua tidak kenal satu sama lain, tapi anehnya jika ada kalimat alibi seperti itu, otak mereka sama-sama punya pendapat yang sama. 


Beberapa perempuan entah itu tamu maupun seorang pelayan yang sedang lewat untuk bekerja, mereka sama-sama menunjukkan reaksi wajah tersipu yang sama juga. 


“Apa maksudnya sesi adegan itu?” ketika salah satu diantara mereka bicara seperti itu, satu imajinasi pun muncul di dalam otak mereka. 


“Wow, berarti dia cukup beruntung juga ya, bisa mendapatkan pria seperti dia.” matanya bergantian memperhatikan Ashera dan Arvin yang berada di titik yang saling bertolak belakang. 


“Padahal mereka berdua masih terlihat sangat muda, tapi sepertinya melakukan hal itu sudah jadi rutinitas biasa untuk mereka.” ucapan itu pun muncul juga, membuat Arvin kembali di ingatkan kalau dia memang pernah meniduri beberapa perempuan. 


Tapi jujur, dari sekian perempuan yang pernah Arvin cicipi, Ashera adalah perempuan pertama yang dia cicipi dengan rasa yang lebih hebat, karena masih perawan. 


Bahkan, meskipun sudah melakukannya waktu itu, malam tadi pun Arvin jujur merasa puas juga, walaupun dia melakukannya cukup berebihan kepada Ashera. 


Jadi cukup beruntung juga, karena meskipun semalaman begadang bersama, Arvin masih bisa membawa Ashera pergi untuk jadi gacoannya. 


“Ha…hahahah..”


Tiba-tiba saja mendengar Arvin tertawa, mereka semua pun melirik satu sama lain. Sungguh, keberadaan Arvin memang cukup mencolok, bahkan terus menarik perhatian banyak orang. 


‘Kenapa dia malah tertawa sih? Apa dia sedang menertawakanku karena aku ketahuan?’ Ashera masih duduk di kursinya, akan tetapi tawa milik Arvin pun bahkan masih terdengar cukup jelas di telinganya.  

__ADS_1


“Hera, waktunya kita lanjutkan apa yang malam tadi kita lakukan!”


“Hah?! Kau gila ya?!” pekik Ashera, terhenyak dengan sikap Arvin yang sungguh tidak tahu malu, bahkan bicara seperti itu dengan terang-terangan. 


Apakah urat malu milik laki-laki itu sudah dibabat habis?


“Pfft, aku memang gila, karena bisnis kita lancar disini, bukannya waktunya bersenang-senang?” goda Arvin, dia pun memungut semua kantong kain berisi chip yang hanya tinggal di tukar. 


“Apakah kau hanya bisa bersenang-senang dengan uangmu yang sedikit itu?” tiba-tiba saja seorang pria yang tadinya duduk di sudut ruang kasino tersebut.


Dia adalah orang yang harus Arvin waspadai.


“Oh tunggu sebentar Hera, sepertinya ada yang mau bermain lagi denganku.” sela Arvin, agar Ashera menahan amarahnya dulu, agar dirinya bisa bermain lebih dulu, dan mendapatkan lebih banyak uang. 


‘Dia otaknya sebenarnya sedang kenapa? Bisa-bisanya bicara terus terang seperti itu. Ini sangat memalukan sekali!’ racau Ashera, dia tidak yakin kalau mereka berdua pulang, akan berakhir dengan penampilan rapi seperti ini, karena tanpa Ashera sadari, dia merasa tahu kalau laki-laki itu memiliki maf*su yang cukup tinggi.


Ya, jika di provokasi maka akan jadi menggila, tapi meskipun begitu Arvin juga punya daya tahan tinggi untuk tidak terjebak dalam naf*sunya sendiri, jika akal sehatnya mengatakan tidak cocok dengannya. 


Jadi apa yang bisa dikatakan, kalau Arvin memang punya pikiran seperti monster yang bisa lapar, tapi masih bisa menahan diri juga, jika tidak sesuai dengan kehendaknya. 


_____________


Karena Arvin lebih suka bermain di kasino, Ashera yang susah di bilangin untuk tidak pergi itu, malah pergi mencoba, untuk setidaknya berkeliling di dalam kasino, dan berhenti di dek kapal di lantai tersebut. 


Angin besar yang berhembus ke arahnya seketika membuat pikirannya jadi sedikit lebih jernih lagi. 


“Kau- beruntung juga ya, punya tunangan seperti dia.” tiba-tiba saja suara milik seorang perempuan berhasil menarik perhatian Ashera untuk menoleh ke samping kanannya. 


‘Dia siapa?’ Ashera pun tidak tahu dengan gadis yang sedang berdiri tapi bersandar ke dinding, dan mulutnya pun di sumpal dengan permen lolipop.


“Tapi, apa kau mau memberikan pria itu kepadaku?” satu pertanyaan di sertai dengan kepala yang lantas menoleh ke arahnya, sontak membuat Ashera terhenyak. 


Kenapa, gadis yang bahkan terlihat sedikit jauh lebih tua darinya itu, meminta untuk menyerahkan Arvin kepadanya?

__ADS_1


__ADS_2