Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
98 : Batasan


__ADS_3

Hari dimana Fajar ulang tahun.


"Kau mau pergi kemana?" Tanya Ashera, dia masuk kedalam kamarnya Arvin, dan mengitari Arvin yang sedang berpakaian rapi seperti seorang model.


"Aku pergi ke pesta."


"Kau mau ke tempat pesta nya Fajar? Kalau begitu aku harus ik-"


"Tidak. Kau sudah mengiyakan untuk tidak pergi, jadi kau harus menurutinya."


"Kenapa aku harus menuruti orang yang bahkan tidak mau menurutiku?" Tanya Ashera sedikit cuek.


Arvin yang baru saja mengancing kemeja hitam yang dia pakai, langsung menoleh ke arah Ashera.


'Padahal dia rapi seperti itu, masa aku tidak? Dia pergi, tapi aku tidak? Masa begitu? Tidak bisa, aku harus pergi bersama. Jika dia pergi aku pergi, tapi jika aku tidak pergi, dia juga harus tidak pergi.' pikir Ashera terhadap Arvin. "Aku tetap harus ikut."


"Jika kau ikut, itu akan jadi urusanmu pergi ke sana sendiri." Jawab Arvin. Tapi begitu Arvin melirik ke arah bawah, tiba-tiba tangan kanannya itu langsung dia letakkan di permukaan dadanya Ashera persis.


"...! Apa yang sedang kau lakukan itu?!" Ashera yang kesal, langsung menepis tangan Arvin yang gatal itu dengan cukup keras.


"Kau mau pergi tanpa menggunakan bra?" satu pertanyaan yang cukup mengguncang mental Ashera, membuat dia segera mendelik tajam ke arah Arvin.


"Itu kan salahmu. Aku lupa beli, dan saat aku mau titip pada Daseon, dia malah sibuk dengan urusannya sendiri. Kalau kau mengembalikannya, mana mungkin aku berkeliaran tanpa menggunakan bra." meskipun dia bicara demikian, sebenarnya dia bukan tidak memakainya, dia memakai yang menggunakan stiker itu, tapi mau bagaimanapun itu cukup aneh, dan tadi siang dia lupa membelinya.


"Tidak, kau tidak bisa pergi dengan penampilanmu yang seperti itu. Apa kau mau jadi tontonan mereka yang menyadari kau tidak memakai bra?"


"Ha? Kenapa kau begitu memikirkannya? Yang pakai atau tidak pakai kan aku, aku juga yang menghadapinya, tapi kenapa kau bertingkah seperti khawatir seperti itu?" Perdebatan diantara mereka berdua pun kembali berlangsung. "Kau khawatir denganku, ya kan?"


Demi menyangkal apa yang dipikirkannya, Arvin pun menepis tubuh Ashera agr menyingkir dari hadapannya. "Kau tetap tidak bisa pergi, lagi pula aku mengatakan ini agar kau tidak mempermalukan dirimu sendiri, jadi kau duduk diam saja di rumah."


"Eitt! Jika nasibku di sini, kau juga harus punya nasib sepertiku juga." Ashera menahan lengannya Arvin agar pria ini tidak pergi dari hadapannya.


"Apa sih? Jadi perempuan kau itu ribet sekali." Mencoba untuk menyingkirkan tubuh Ashera dari pelukan lengannya. Akan tetapi apa yang dia lakukan itu justru membuat dia tiba-tiba merasakan adanya rasa kenyal yang cukup hakiki di lengannya itu. 'Dia- benar-benar mau menggodaku ya?'


"Dengar ya, jika kau tidak membatasiku aku juga tidak akan membuatmu ribet seperti ini, Jadi salahkan dirimu sendiri itu." ujar Ashera tidak bisa melepaskan apa yang sudah dia peluk itu, karena takut kalau Arvin akan pergi dari sisinya.


Melihat hal itu, Arvin jadi benar-benar terdiam di tempatnya sambil menatap ke arah Ashera. "Kau kan juga membatasiku."


"Itu karena kau kan orang yang suka berkeliaran seperti orang yang tidak di urus. Dan sebagai Istrimu, akulah yang mulai mengurusmu, jadi kau jangan membanding-bandingkan antara posisiku dengan posisimu."


"Ashera! Kau makin lama-makin membuatku pusing!" Teriak Arvin, dia yang sudah tidak mampu menahan emosinya sendiri, akhirnya memberikan bentakan yang cukup keras dan seketika itu juga membuat nyali dari Ashera yang tadinya besar jadi kecil.


Itu untuk awalnya, karena dia cukup terkejut dengan suara keras milik Arvin ini, sampai di detik berikutnya, Ashera yang tidak mau di posisikan sebagai orang yang bersalah, dia yang tadinya hendak di tepis lagi oleh Arvin, segera menarik tangannya Arvin dengan kuat.

__ADS_1


Meskipun dia hanya menggunakan tangan kanannya saja, tapi itu tidak membuat Ashera terlihat lemah.


BRUK...


"Itulah, karena kau selalu mengandalkan emosimu, kau pasti merasa pusing. Kalau pusing, berarti kau tidak usah pergi, istirahat saja di sini." Seringai Ashera, setelah dia berhasil membuat Arvin terjatuh ke atas tempat tidur, dan salah satu kaki Ashera terangkat dan di letakkan di samping pinggang sebelah kanan Arvin.


"Jika kau bahkan tidak mau mengizinkanku pergi juga, artinya kau harus melayaniku."


"Melayanimu seakan aku ini seorang pembantu? Begitu?"


"Aku tidak akan menganggapmu sebagai pembantu asal kau bisa menemaniku olahraga sekarang juga."


"Kau selalu saja menawari hal yang tidak berguna." ucap Ashera dengan selamba.


"Tdiak berguna apanya, apa kau mau melupakan kau bahkan bisa merasakan nikmat yang aku berikan padamu waktu itu?"


"Waktu itu ya waktu itu, bukan untuk sekarang atau selanjutnya." sahut Ashera.


Tidak begitu suka dengan apa yang di ucapkan oleh Ashera kepadanya, Arvin yang hendak mencengkram tangan Ashera agar bisa di tarik dan jauh ke atas tubuhnya, justru sudah lebih dulu Ashera tarik, alias menjauh lebih dulu.


"Apa isi otakmu itu hanya naf*su saja?"


"Hanya atau tidak itu tidak apakah itu sangat berarti untukmu? Lagi pula karena permintaanmu agar aku menikahimu agar aku bertanggung jawab padamu, bukankah artinya kau sudah bersedia untuk bertanggung jawab dengan apa yang aku inginkan?


Jika sekalinya kau mengadu pada nenekku dan sampai membuat dia sakit, berarti itu karena kesalahanmu.


Saat itulah aku tidak akan tinggal diam."


'Apa yang di katakan kak Luna kepadanya? Bukankah neneknya itu sehat wal'afiat?' pikir Ashera.


Padahal selama dirinya bekerja sebagai pelayan di sana, Ashera sering melihat nenek nya Arvin ini jalan ke sana ke sini, bahkan sampai berkebun sendiri.


'Tapi memang sih, ini kan urusan kita berdua, tapi mau bagaimanapun kan keputusan juga ada di tangannya, Arvin pada akhirnya di tempatkan di posisi yang sudah semestinya, jadi tetap saja aku harus mengurusnya dan melaporkan setiap masalah yang terjadi kepadanya, agar bisa di tindak lebih lanjut, dan aku bisa melanjutkan tugasku sesuai pilihan yang sudah di buat.' pikirnya lagi. "Tapi- gara-gara bra, kenapa urusannya jadi sepanjang ini?" gerutu Ashera. "Apa kau mengambilnya untuk memakannya?"


"Tidak, aku pikir karena jelek, dan merusak pemandangan, jadi aku buang."


Tambah suram wajah Ashera mendengar jawaban dari Arvin ini.


Karena itu pula, Ashera langsung menelepon kak Luna. "Kak Luna, kakak sedang ada di mana?"


-"Aku sedang di luar, ada apa?'-


"Apa bisa aku titip belikan bra?"

__ADS_1


-"Kenapa mendadak? Pulang sekolah kan bisa?"-


"Aku tidak akan memintanya, jika aku masih punya. Tapi semua bra milikku di curi oleh Tuan muda."


-"A-apa? Apa sampai sebegitunya? Ya sudah, tidak masalah, akan aku belikan."-


"Makasih kak." dan panggilan itu pun langsung di putus secara sepihak. "Kak Luna akan datang ke sini, sebaiknya jangan pergi."


'Padahal sudah rapi seperti ini, tapi aku lagi-lagi tidak boleh keluar. Dia wanita yang merepotkan. Merepotkan, jika bahkan dia tidak mau tanggung jawab dengan kebutuhanku. Yah, aku akui aku waktu itu salah mengira kalau dia itu seperti parasit yang tiba-tiba menempel padaku.


Tapi jika aku bahkan tidak menggunakan dia sebaik mungkin, pernikahan ini sama sekali tidak ada manfaatnya sama sekali.' pikir Arvin. 'Tapi ini benar-benar, aku tidak tahu dia memakai parfum apa, tapi rasanya manis.'


Arvin yang tiba-tiba saja menggertakkan giginya, langsung bangkit dari tempat tidurnya dan menarik tangan Ashera dengan cepat.


Ya, cepat, awalnya dia memiliki niat untuk memutar balikan keadaan agar Ashera dia tarik dan dia jatuhkan ke atas tempat tidurnya, tapi kenyataannya saat Arvin menarik tangan Ashera, Ashera sama sekali tidak bisa dia seret pergi.


"...!"


"Hah, kau pasti berpikir aku di tarik dan di lempar ke tempat tidurmu kan? Mimpi saja sana, aku tidak akan membuatku jatuh dalam pelukanmu." ucap Ashera dengan percaya dirinya yang tinggi.


"Ok, kalau tidak bisa di tarik juga aku bisa membopongmu." Dan benar saja, karena Arvin memang tidak bisa menarik tubuh Ashera, pilihan lain miliknya pun dengan memikul tubuh Ashera dan meletakkannya ke atas kasur.


BRUK...


Langsunglah, aroma semerbak yang cukup manis itu menyerang indera penciumannya, dan begitu Ashera sudah ada di atas tempat tidurnya, giliran Arvin pula yang menempati atas tubuh Ashera.


"Ashera, sebenarnya parfum apa yang sebenarnya kau pakai?" tanya Arvin pada Ashera yang ada di bawahnya itu dengan tatapan matanya yang cukup tajam.


"Jadi orang emosian sekali, aku tidak memakai apapun." ketus Ashera.


'Tapi wanginya itu memang cukup memabukkan. Tunggu, jika dia pergi dan apalagi sampai punya aroma tubuh seperti ini, bisa-bisa banyak laki-laki yang mengincarnya.' Kata hati Arvin, tiba-tiba dia jadi memikirkan kemungkinan yang terjadi jika Ashera pergi ke pesta ulang tahunnya Fajar. 'Lagi pula aku tidak sedekat itu untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Dari pada membuang waktu di sana dengan banyak orang, kelihatannya justru lebih baik di rumah dan bermain dengannya.' Pikirnya.


Arvin pun tiba-tiba jadi berubah pikiran pasal undangan yang sebenarnya Arvin terima untuk pergi ke pesta ulang tahunnya Fajar.


"Tapi apa kau tahu? Aromamu ini-" dengan sengaja menggantungkan kalimatnya itu, Arvin tiba-tiba tersenyum dan mengambil sedikit helaian rambut panjang milik Ashera, mengangkatnya dan menghirup aroma sampo yang di pakai oleh Ashera. "Bisa membuat orang yang ada di pesta pasti mabuk, terutama para pria. Bahkan sekarang saja, kau sudah membuatku mabuk dengan aromamu, jadi apa kau yakin akan pergi ke pesta yang bahkan isinya hanya orang-orang yang ingin pamer.


Katamu kau tidak suka membuang-buang waktu dengan hal yang tidak berguna, jadi aku tanya, manakah munurutmu yang lebih kau prioritaskan, apakah aku atau si Fajar itu?"


DEG....


'Dia pintar sekali bicaranya. Jika dia tidak mengatakan itu, aku sudah pasti melupakan prioritasku.' Ashera jadi tidak bisa membuat sangkalan apapun, karena ucapannya Arvin sangatlah benar.


"Aku tidak akan pergi, karena mendengarkan bahwa waktu yang paling berguna adalah waktu untuk menghibur diri, bukan menghibur orang lain. Jadi, karena aku tidak pergi, kau tidak perlu pergi." Imbuhnya lagi.

__ADS_1


CUP...


__ADS_2