
Setelah menyelesaikan urusan yang sempat terjadi di jalan, Arvin pada akhirnya membawa pulang Ashera dengan memboncengnya.
BRRRMMM.....
Dengan kecepatan tinggi, Arvin pun berhasil menembus jalanan kota dengan sekali jalan.
"Arvin, apa kau tidak bisa pelan-pelan?" tanya Ashera, karena terus mengebut di jalan, Ashera pun refleks saja tangannya itu terus memeluk punggung Arvin dengan begitu at, sampai mereka berdua sama-sama merasakan hangat yang terjadi karena tubuh mereka berdua yang saling menempel.
Tapi apa yang ditanyakan oleh Ashera itu sama sekali tidak di respon oleh si empu yang terlihat sedang berkonsentrasi tinggi.
'Sekarang jadwal untuk balapan, aku harus pergi ke bengkel, sepertinya mereka sudah selesai membongkar pasang mobilku.' sedangkan di dalam pikiran Arvin sendiri, sebenarnya dia sedang memikirkan soal mobilnya.
Mobil yang dia tempatkan di salah satu bengkel kenalannya.
Tapi bukan berarti mobil masuk bengkel artinya mobilnya rusak, melainkan Arvin meminta kenalannya itu untuk membongkar pasang mobil kelas baru dengan model kelas lama.
"Arvin! Kau dengar aku atau tidak! Hei bocah!" pekik Ashera tepat di samping helm Arvin, sampai Arvin yang sempat terkejut setengah mati dengan teriakan dari suara Ashera yang begitu keras serta melengking tinggi, sontak membuat Arvin langsung mengerem mendadak, dan akibatnya, motornya pun sempat hampir terjatuh, tapi dengan kepiawaian dari Arvin dalam menyeimbangkan motornya yang mana belakang motornya sempat terangkat, mereka berdua pun tidak jadi jatuh. "G-gila, apa kau mau membunuhku?" tanya Ashera, suaranya langsung kembali normal.
"Kau yang gila! Angan berteriak mendadak di telingaku!" marah Arvin, hampir saja mereka berdua mengalami kecelakaan.
"Heh? Kenapa aku yang di salahkan? Kan situ sendiri, nama di panggil tapi tidak di sahut juga? Jadinya kan aku rela menaikkan nadaku yang paling tinggi ini, agar kau bisa sadar dari lamunanmu," ucap Ashera, membebel Arvin yang serba salah, karena memang pada dasarnya Arvin melamun, jadinya Ashera pun berteriak.
"Berisik, kau hampir membuat telingaku tuli," sahut Arvin dengan nada malas.
"Kau ini. Jika tidak mau aku berisik, jangan melamun!" tegur Ashera.
"Jadi apa yang ingin kau katakan kepadaku sampai berteriak ha?" mash tidak puas hati dengan sikap Ashera yang bar-bar sekali.
__ADS_1
"Kita mau kemana? Saking asik melamun, sampai salah jalan ya?"
Arvin yang lelah karena harus menghadapi Ashera yang cukup merepotkan itu, membuat Arvin langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi hanya itu saja kau sampai berteriak menghinaku, Ashera sialan ini, imajinasiku jadi kabur tahu?!"
"Hei-hei, kenapa malah memarahiku? Kau sendiri yang salah tempat untuk berimajinasi," protes Ashera.
TIINNN......TINNNN.....!
Suara klakson yang begitu keras dan saling bertautan satu sama lain, akhirnya membuat mereka berdua sadar, kalau mereka berhasil menghalangi jalan mereka semua.
"Woi! Kalau mau pacaran jangan di tengah jalan! Minggir!" pekik salah satu pengendara mobil.
"Tuh, sudah di tegur." kata Ashera, memberitahu.
"Tahu, jangan bicara lagi, nanti juga tahu kita akan pergi kemana." cetus Arvin.
Lalu karena tidak mau menjadi bahan teriakan orang lain karena menghalangi jalan mereka, Arvin pun kembali melajukan motornya lagi dengan kecepatan tinggi, dan Ashera sendiri, dia pun kembali memeluk punggungnya Arvin dengan erat.
Malam hari yang seharusnya menjadi malam untuk semua orang untuk beristirahat, maka tidak dengan mereka yang memulai aksi mereka untuk mendapatkan kesenangan mereka dalam menjalani hidup.
Tidak ada yang namanya kesengsaraan diantara mereka yang memiliki posisi yang setara untuk bisa berkumpul dengan kelompoknya.
"Hei, kau nanti akan taruhan berapa?"
"Yah, tidak banyak, hanya lima juta saja," jawabnya, atas pertanyaan dari salah satu rekan perkumpulannya.
"Hanya? Itu banyak woi," tukas temannya tersebut, merasa tersinggung secara tidak langsung, sebab uang sebanyak lima juta adalah nominal yang sudah lumayan.
__ADS_1
"Haih, lima juta banyak? Kau itu seharusnya tanya sama dia, dia taruhan sampai sepuluh juta," laki-laki ini pun menunjuk pada seorang wanita yang ada di depan sana, seorang wanita yang memakai rok rimpel pendek bergaris putih, lalu memakai baju jeans yang sama pendeknya, sehingga memperlihatkan perutnya.
Dengan ditemani mobil berwarna pink yang begitu mewah, karena bagian dari bagasi mobilnya yang seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan barang, tapi justru di gunakan sebagai tempat beberapa speaker yang cukup canggih, hal tersebut pun membuat banyak orang melirik ke arahnya, sebab lagu yang di mainkan dengan speaker dari mobil tersebut, cukuplah keras.
Senandung lagu dj yang cukup keras itu, berhasil membuat banyak orang juga menari-menari di sana, meramaikan suasana dari arena balap yang sudah siap untuk menyambut seluruh orang yang ingin ikut dalam perlombaan tersebut.
"Arliana, kau betulan ingin ikut dalam lomba ini juga?" tanya salah satu kenalan dari Arliana, sebab ketika minggu lalu Arliana adalah orang yang menjadi sponsor dalam perlombaan balapan motor liar, maka tidak dengan sekarang.
Arliana justru ikut andil dalam perlombaan yang di adakan oleh kenalan dari Arliana juga, dan tentu saja syarat utamanya adalah, setiap peserta harus punya uang taruhan minimal tiga juta, dan semua orang yang benar-benar sudah niat, tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, dan ingin ikut dalam arisan paling fenomenal yang pernah ada. Sebab arisan yang di adakan oleh kalangan anak muda zaman sekarang, justru adalah mengambil undian dari si pemenang dari balapan tersebut.
Tentu saja, karena Arvin waktu itu bisa mendapatkan informasi tersebut dari temannya, dia pun benar-benar ikut.
Tapi-
Arvin tidak pergi sendirian, sebab di tengah-tengah mobil berwarna putih itu muncul masuk kedalam arena dimana semua orang tengah berkumpul, di dalam sana juga, ada satu orang lagi yang harus melakukan pekerjaannya, yaitu Ashera.
"Apa kau tidak punya tangan dan kaki sendiri? Kenapa aku juga yang malah ikutan balapan, dan kau duduk disitu?" tanya Ashera, dia langsung menghentikan mobilnya setelah dia mendapatkan tempat parkir yang cukup bagus, setidaknya bagus untuk membuat mereka berdua saling berbicara satu sama lain.
"Bukannya ini kemauanmu juga? Aku bisa mandiri, tapi seperti inilah caraku hidup agar aku tidak terlalu bergantung pada harta keluargaku. Dan kau bilang ingin terus mengawasiku agar aku tidak melakukan hal ini dan itu, karena perintah dari nenek, jadi seharusnya tidak ada masalah ya kan? Jika kau menggantikan posisiku, setidaknya untuk hari ini?
Apalagi sesuai dengan taruhan diantara kita berdua, yang kalah akan menuruti apapun yang menang, jadi sudah jelas dong, kau ada di posisi untuk apa?" jelas Arvin dengan wajah santainya, lalu dia pun memberikan sebuah wig kepada Ashera agar segera memakainya.
Mendapatkan penjelasan yang begitu menyakitkan juga, karena jadi pamali untuk dirinya sendiri, Ashera pun jadinya terdiam, dan menyambar wig itu dengan kasar.
Demi keamanan pada diri sendiri, dan sesuai kesepakatan yang sudah mereka berdua sepakati untuk tidak menunjukkan identitasnya di depan umum, Ashera pun mengiyakan diri untuk menyamar.
Sebuah penyamaran yang bisa di bilang cukup sempurna.
__ADS_1
Penyamaran yang membuat diri Ashera benar-benar seperti seorang pria, membuat Arvin yang duduk di sebelahnya itu seketika terus meliriknya tanpa henti.
'Apa dia benar-benar perempuan? Kenapa sekalinya dia pakai make up dan pakai rambut palsu, dia benar-benar terlihat mirip dengan laki-laki?' benak hati Arvin.