Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
46 : Ancaman


__ADS_3

"Jadi begitu ya?" Ashera yang tadinya sudah bersabar untuk mendengarnya ocehannya, tapi rupanya ujung-ujungnya jika dirinya bertukar balik dengan Ashera yang asli, maka Ashera yang asli itu akan menanggung akibatnya, maka ia pun jadi kesal. "Kau yakin tidak mau menarik ucapanmu?"


"Tidak, aku yakin dengan jawabanku. Dan apapun yang sudah aku katakan, tidak mungkin aku tarik kembali." Senyum Arvin dengan nada mengejek.


"Kau-"


"Aku kenapa?" Tanya Arvin, kini salah satu alisnya terangkat, lalu langkah kakinya yang bergerak lebih dekat ke samping kanan dan kiri tubuh Ashera yang ada di bawahnya persis, membuat Arvin kembali berkata : "Kau pikir aku mau menarik ucapanku? Itu tidak mungkin.


Memangnya kenapa kalau soal nenekku yang memberimu perintah untuk mengatur dan membatasi hidupku dengan aturan konyol yang membosankan itu, kau pikir aku akan takut?


Jangan mentang-mentang kau ini ada dukungan dari nenekku aku tidak akan berani. Ashera, memangnya jika kau perempuan, bahkan aku akan berbelas kasih kepadamu? Jagan berharap itu." Papar Arvin.


Dia sudah duduk di atas tubuhnya Ashera, dengan ekspresi wajah angkuh, Arvin pun memberikan tatapan yang mengintimidasi Ashera sendiri.


Menawari kesempatan menarik kembali ucapannya, Arvin bukanlah orang yang akan melakukan itu, karena bagi Arvin, apapun yang keluar dari mulutnya, yaitu ucapannya sendiri, sudah Arvin selalu anggap benar.


Maka dari itu, selama ini tidak ada yang berani melawannya, sebab aura Arvin yang cukup kuat itu selalu saja berhasil membuat lawan bicaranya antara nyalinya menciut, ataupun kehabisan kata-kata.


"Aku-"


"Siapa yang menyuruhmu bicara hm? Lihat ini, apakah nyalimu masih saja besar setelah membuatku marah." Tekan Arvin sambil mencengkram wajah Ashera dengan kuat dan berbicara dengan kata-kata bernada rendah yang cukup menekannya.


"Arvin, kelihatannya aku belum mengatakan kalau aku juga tidak akan segan-segan jika kau melakukan sesuatu pada diriku yang satunya lagi ya?" Balas Ashera dengan pertanyaan. Tidak ada kata ataupun mata ketakutan, bahkan di saat dia sudah terpojok oleh sikap Arvin yang lagi-lagi selalu saja semena-mena terhadapnya.


Arvin tersenyum, dia sudah menunggu-nuggu apa yang akan di lakukan oleh Ashera yang ini, jika Ashera yang satunya lagi ia tindas.

__ADS_1


"Silahkan saja, kalau memang bisa, karena aku sendiri juga penasaran." Jawab Arvin. Dia pun tidak memilik ketakutan walaupun mendengar kalau Ashera baru saja mengucapkan sesuatu yang bermakna untuk mengancamnya.


"Ok." Jawab singkat Ashera. Dan Ashera pun diam saja sambil menatap Arvin sepenuhnya tanpa berkedip.


'Apalagi yang dia rencanakan?' Arvin tidak mau kalah, dia pun membalas tatapan tajam dan sangat intens itu kepada Ashera.


Sampai satu menit berlalu, Ashera masih diam untuk menatapnya.


Membuat Arvin yang sudah tidak tahan itu, langsung menarik kerah baju seragamnya Ashera dengan kuat, bahkan sampai kedua kakinya melayang, karena saking tingginya.


"Jika memang ingin membuat perhitungan denganku, coba lakukan!" Tantang Arvin, dia tidak mau menyita waktunya lagi dengan hal yang baginya tidak berguna.


Ashera yang bahkan tidak tersenyum pun, langsung mendelik ke arah kiri. "Ok, berarti aku tidak akan sungkan lagi." Senyuman tipis yang bahkan hampir tidak terlihat itu, menghilang sedetik kemudian. "Daseon!" Teriak Ashera dengan sedikit keras namun penuh dengan penekanan. "Lempar!"


SYUNG....


Ketika Arvin matanya melotot terhadap barang yang baru saja di lempar ke arahnya itu, Ashera yang saat ini dalam keadaan di cengkram kerah bajunya, tiba-tiba saja Ashera mencengkram kedua lengan kekar milik Arvin.


Ashera langsung menahan tubuhnya dan mengayunkan salah satu kaki kirinya lebih dulu ke atas, lantas, tepat ketika benda kecil itu ada di atas kepala Arvin, Ashera langsung mengangkat tubuhnya lebih tinggi dan mengayunkan kakinya itu lebih tinggi lagi sampai akhirnya tendangan itu langsung menjadi pusat gerakan untuk menendang benda mungil itu ke tempat lain dengan dorongan yang cukup cepat.


PRAAKK....


Setelah Ashera berhasil menendangnya dengan keras, secara tidak langsung, Ashera pun sukses jadi melepaskan dirinya dari cengkraman tangannya Arvin, gara-gara laki-laki ini sedang tercengang.


"Bagaimana? Apa kau masih mau mengancam diriku yang satunya lagi untuk kau tindas? Jika iya-" Ashera kembali melirik ke arah Daseon, dimana di dalam kotak itu sebenarnya ada banyak miniatur kecil, alias boneka figur yang harganya puluhan juta. "Daseon, kau bisa melemparnya kembali, dan aku akan membersihkannya."

__ADS_1


"ASHERA! Kau ini- kau-" Arvin tercekat, suara yang ingin Arvin keluarkan dalam bentuk kata-kata langsung tersangkut di lehernya saat Daseon sudah kembali melempar boneka figur milik Arvin yang harganya bahkan melebihi harga handphone yang Arvin pakai saat ini.


"Baiklah ini yang ke dua." Dengan begitu senang, Ashera sudah membuat bogem mentah untuk membuat pukulan telak pada boneka figur dari sebuah anime.


"Jangan!" Arvin yang tidak ingin ada barang berharganya yang di rusak lagi, dengan cekatan Arvin lebih dulu menangkap boneka figur itu sebelum di pukul dengan bogem mentah itu.


GREP....


"Dseon, lagi!" Perintah Ashera, masih tidak puas dengan hasil dari lemparan Daseon, karena berhasil di gagalkan oleh Arvin.


Tapi seperti yang terjadi sebelumnya, Arvin pun dengan lebih gesit, lebih dulu menangkap barang mahal miliknya sebelum di hancurkan oleh Istrinya itu.


BRUKK...


Sampai di satu titik, Arvin kehabisan langkah untuk pendaratan, sehingga Arvin pun akhirnya terjatuh ke lantai.


"Sial, bagaimana kau bisa tahu aku menyimpan benda ini di sana?" Tanya Arvin dengan wajah penat.


Bahkan boleh dikatakan, penampilannya cukuplah menyedihkan, mengingat Arvin saat ini tidak memakai pakaian selain celana pendeknya.


Jadinya, olahraga tidak terduga itu pun berhasil membuat keringat Arvin bercucuran dan membasahi lantai.


"Jadi apa kau menyerah? Aku masih punya banyak simpanan yang tidak sengaja aku temukan." Ancam Ashera dengan wajah bangga, hingga kebanggaannya itu ia tuangkan dengan duduk di punggung Arvin dan berakhir dengan tiduran di atas punggung yang cukup lebar itu.


'Kenapa jadi seperti ini? Bahkan aku sama sekali tidak tahu kalau Tuan muda menyimpan boneka figur ini.' Tatap Daseon sambil melihat boneka ukuran sebesar separuh telapak tangannya, menjadi barang tabungan milik majikannya itu.

__ADS_1


__ADS_2