
“Lidia, kenapa kau berteriak?” Salah satu teman Lidia yang baru saja kembali ke kelas, langsung bertanya kepada Lidia yang terlihat marah?
“Ashera, dia mencuri dompetku.” Jawab Lidia kepada sahabatnya itu.
Lantas, mendengar Lidia menjawab bahwa dompetnya di curi oleh Ashera, ia pun langsung menoleh ke arah Ashera yang sedang berdiri di depan mejanya sendiri.
“Kalian salah paham, aku sama sekali tidak mencurinya.” Jawab Ashera dengan cepat.
“Salah paham seperti apa? Dompetnya Lidia saja ada di tanganmu. Ternyata orang miskin ya tetap saja miskin. Dari luar sih kelihatan seperti orang baik, tapi tetap saja siapa yang tahu dengan apa yang ada di dalamnya.” Kata temannya Lidia.
Lidia yang sudah kesal karena dompetnya ada di tangannya Ashera, langsung berjalan cepat menghampiri Ashera dan merebut kembali dompetnya.
“Aku akan melaporkanmu ke wali kelas.”
“Tidak, Lidia, aku benar-benar tidak tahu kalau dompetmu tiba-tiba ada di dalam tasku.”
“Ha…, maling sepertimu, mana mungkin akan mengaku.” Sindir Lidia.
“Lidia, apa ada yang hilang dari dalam dompetmu?”
“Tidak. Karena keburu ketahuan, sudah pasti belum ada yang hilang.” Jawab Lidia dengan cepat.
Lalu mereka berdua pun kembali menatap benci Ashera. “Aku yakin, jika Ashera tidak segera dilaporkan, pasti akan ada kejadian yang lainnya. Lidia, lebih baik beberkan saja dia ke segala penjuru sekolah, kalau hari ini ada satu orang yang ketahuan mencuri di kelas.”
“Lidia, Jesscia, aku mohon, aku sama sekali tidak mencuri. Aku berani bersumpah, ada orang yang menjebakku.” Pinta Ashera dengan wajah memelas.
“Menjebakmu? Ya, mungkin menjebakmu agar kau bisa dikeluarkan dari sekolah ini. Tapi yang namanya mencuri tetap saja mencuri. Lagian, salahmu sendiri tidak waspada.” Kata Lidia dengan senyuman sinisnya.
Dengan kata lain, meskipun Lidia dan temannya tahu kalau Ashera di jebak, mereka akan tetap pada rencana untuk melaporkannya.
Dan menyatakan kalau ia memang tidak ada tempat di sekolah tersebut.
‘Kenapa mereka membenciku hanya karena aku dari keluarga miskin?’ Ashera yang tidak punya kekuatan untuk berbicara lagi karena ia tetap pasrah pada nasib yang pastinya akan terus berada di titik untuk di hina oleh siapapun, hanya diam. ‘Lagian, tidak ada seorang pun yang menyukaiku. Bahkan sampai kebaikan yang hendak aku lakukan malah membuat kesucianku direnggut, takdirku pasti memang ada di titik untuk terus berada di posisi yang buruk. Tapi, sampai kapan?’ Batin Ashera.
“Lidia, laporkan pada wali kelas sekarang juga. Buat dia menerima hukumannya karena berani mencuri dompetmu.” Kata teman Lidia, menyuruh Lidia untuk segera melaporkan kejadian yang sudah di rencanakan ini kepada wali kelas mereka.
___________
Sedangkan di dalam gedung olahraga, teriakan akan kemenangan yang diharapkan oleh sebagian besar pendukung Arvin, terus terdengar.
“Yahh! Tim Arvin menang!”
PRITT…!
“27 dan 26! Pemenangnya tim Lion!” Seru sang wasit.
“Ahh! Kalah! Kalau seperti ini, kita pasti di olok-olok.” Rungut temannya Fajar, dia rekan satu tim yang dipimpin oleh Fajar sang wakil ketua osis.
__ADS_1
“Menang kalah itu sudah biasa. Kenapa harus di olok-olok?” Tanya Fajar bingung dengan cara berpikir dari sahabatnya itu.
“Lebih tepatnya pacarku loh, dia pasti mengolok-olokku sekarang.” Wajah sedihnya pun terlihat cukup jelas.
“Alvian! Apa gunanya punya otot gede tapi kalah sih!” Teriak salah satu wanita di antara bangku penonton, membuat pria bernama Alvia yang baru saja merungut sedih kepada Fajar, lanngsung terkejut. “Padahal aku berharap besar kepadamu! Satu minggu tidak ada kencan! Ingat itu!”
“Arhh! Yuli!” Teriak Alvian. “Jangan seperti itu!” Dan Alvian pun berlari untuk mengejar Yuli yang baru saja keluar.
“Ahahaha, ternyata ada taruhan seperti itu. Kasihan sekali Alvian.” Salah satu teman Yuli juga orang yang memang kenal dengan Alvian, hanya tertawa ringan dengan akhir senyuman tawar, sebab merasa kasihan dengan Alvian yang ditinggal pergi pacarnya karena Alvian mengalami kekalahan.
“Yuk kita kembali ke kelas.”
“Ahh! Rasanya menyenangkan sekali bisa melihat pertandingan basket setelah sekian lama.”
Satu persatu dari mereka beranjak dari bangku penonton, dan pergi keluar untuk kembali ke kelasnya masing-masing.
“Iya, bisa melihat mereka beraksi dengan wajah dan tubuh mereka yang atletis semua, hari ini benar-benar jadi jam cuci mata paling mengesankan.”
Tapi tentu saja diantara mereka semua yang sebagian besar sudah mengantri untuk keluar dari gedung, Arlina yang tadinya duduk di bangku penonton, berjalan turun, dan pergi menghampiri Arvin yang sedang mengeringkan rambut nya yang basah karena keringat.
“Kau hebat bro. Memang ya, memilihmu sebagai kapten kita, adalah pilihan yang tepat.” Kata Jimmy, teman sekelas Arvin sekaligus teman dekatnya.
“Hmm…, ak-”
“Arvin,” Ucapan milik Arvin pun berhasil di sela oleh Arlina.
“Ciyeee, ada yang perhatian banget nih, jadi seperti Istri saja, sampai mau memberikan air kepada Arvin yang kelelahan ini.” Kata Jimy sambil tersenyum bangga kepada Arvin yang yang terlihat terkejut? “Hahaha, ada apa vin? Wajahmu sampai seterkejut ini.” Jimmy dengan sengaja merangkul bahu Arvin, lalu tangan kanannya digunakan untuk memegang wajah Arvin sambil menarik pelan pipi itu agar tersenyum.
Tapi respon yang Arvin buat kepada Jimmy adalah sorotan mata yang cukup tajam, seakan Jimmy sudah menjadi musuhnya, karena sudah memegang wajahnya yang berharga itu.
“Lepaskan.” Arvin tidak suka jika dirinya dirangkul oleh orang lain, apalagi saat wajahnya disentuh dan dipermainkan seperti apa yang dilakukan oleh Jimmy sekarang.
“Tch…, kenapa serius amat seperti ini sih? Lihat, Arlina sudah menunggu agar kau mengambil air pemberiannya.” Jimmy tidak begitu takut dengan respon Arvin yang terlihat begitu membencinya itu.
“Apa kau sudah punya air minum?” Tanya Arlina, melihat di belakang mereka sebenarnya sudah ada beberapa botol air mineral siap minum.
“Kalau kau ta-mph..!” Mulut Arvin seketika di bungkam oleh tangan Jimmy.
Dan jimmy pula langsung menyela ucapannya Arvin dengan memberikan jawaban lain untuk meyakinkan Arlina. “Semua air minum di sana tidak dingin, jadi tentu saja Arvin belum punya air minum.” Kata Jimmy.
Dan benar saja, ketika Jimmy menoleh ke belakang dan memberikan kode kepada beberapa temannya itu, mereka semua langsung mengambil air minum itu sampai tidak ada satu sisa pun untuk Arvin, sehingga Arvin pun mau tidak mau harus menerima air pemberian dari Arlina itu.
“Dan lihat, Arvin justru tidak kebagian.” Imbuh jimmy.
Selena pun memberikan senyuman lembut penuh dengan kemunafikan, lalu memberikan botol itu kepada Arvin. “Kau belum punay air minum, nih ambil ya.” Arlina mengambil salah satu tangannya Arvin, lalu menyerahkan botol itu ke tangannya Arvin.
“Arvin, kenapa kau malah diam saja, ucapkan terima kasih atau apa kek. Lihat, Arlina sudah mengharapkan jawaban darimu. Keluarkan suaramu itu.” Bisik Jimmy kepada Arvin.
__ADS_1
‘Kenapa aku harus menerima air ini?’ pikirnya. Padahal Arvin sama sekali tidak begitu menginginkan air dingin biasa, yang ia inginkan adalah air isotonik.
Tapi karena sudah menerima air itu, Arvin pun langsung berbalik tanpa memberikan jawaban apapun kepada Arlina yang sudah memberikannya air.
“A-arvin!” Jimmy berteriak memanggil Arvin.
“Tidak apa-apa, terima kasih sudah membujuknya ya Jimmy. Apa kau mau permen?” Dengan senyuman lembut yang memikat hati para laki-laki yang melihatnya, Arlina pun memberikan permen kepada Jimmy.
“Woah, permen kacang. Aku suka permen kacang ini. Bagaimana kau tahu seleraku adalah permen seperti ini?” Tanya Jimmy merasa berbunga-bunga dengan pemberian dari Arlina.
“Karena aku menyukainya juga, jadi aku memang sering membawanya. Jadi itu untumu, daah…., aku mau kembali ke kelas dulu.” Jawab Alina sambil pergi dan melambaikan tangan kepada Jimmy.
Jimmy yang memang menyukai Arlina, hanya tersenyum senang.
Namun di sisi lain. Arvin yang tidak begitu ingin minum air mineral dingin itu, langsung membuangnya ke tong sampah, dan memilih untuk membelinya langsung lewat Vending machine. Disana ia bisa memilih sesuka hatinya hanya dengan memasukkan selembar uang sepuluh ribu.
KLANG….
Air yang di belinya pun keluar dari tempatnya, dan Arvin segera mengambilnya.
‘Arlina, pintar juga dia, sampai bisa membuat dua wajah sekaligus di saat yang bersamaan.’ Pikir Arvin seraya membuka tutup botolnya. ‘Air minum yang dia berikan tadi, sebenarnya ada lubang kecil, seperti bekas lubang suntikan. Aku tidak tahu apa rencananya, tapi aku tetap harus waspada dengan anak itu. Hanya dengan sekali lihat saja, aku sudah merasa tidak suka dengan dia.
Aa karena gara-gara malam tadi ya? Apapun itu, aku tidak mau berhubungan dia.’
“Waduh, apa dia disana karena di hukum?”
“Iya. Dia ketahuan mencuri di kelas, jadi langsung di hukum untuk berdiri di depan tiang bendera.”
“Mencuri? Woah, ternyata dia tipe perempuan yang berani mencuri. Nyalinya besar juga ya untuk ukuran orang miskin seperti dia bersekolah di sini.”
“Dia benar-benar mencemarkan nama baik sekolah kita. Dan hukumannya? Itu terlalu ringan, masa berdiri hormat di depan tiang bendera saja? Seharusnya dia di skors seminggu, dan memberikannya surat peringatan. Tapi apa yang aku dengar, dia tidak mendapatkan skors, hanya surat peringatan dan berdiri di sana saja.”
“Apa? Yang benar saja. Tapi siapa yang menjadi korban dari barang yang anak itu curi?”
“Lidia.”
“Apa?! AKu tidak terima, aku tidak menerima dia jika di hukum seringan itu. Sepulang sekolah nanti, kita harus memberikannya tambahan hukuman, apa kau mau?” Tanya perempuan ini, kepada temannya itu.
Dan ketiga orang yang sedang berkumpul di sana hanya menganggukkan kepalanya dengan saran yang diberikan oleh salah satu dari temannya tersebut, yaitu untuk memberikan tambahan hukuman kepada Ashera.
Arvin, setelah mendengar semua percakapan tadi, dan melihat mereka semua sudah pergi dari sana, Arvin pun berjalan menghampiri jendela, dan di bawah sana, terlihat Ashera sedang berdiri dengan memberikan hormat kepada bendera yang berkibar.
‘Dia mencuri?’ Arvin pun hanya diam dengan terus melihat Ashera yang sedang di hukum itu.
Ada perasaan kurang percaya, namun lagi-lagi Arvin harus mengingat bahwa apapun yang penampilan orang seseorang, tidak bisa dijadikan bahan acuan kalau orang itu baik. Jadi seperti dirinya yang tidak begitu menyukai Arlina yang ternyata di belakangnya punya sifat asli yang cukup lumayan untuk menjadi seorang ja*ang muda, maka Arvin pun punya kesan yang sama kepada Ashera.
‘Rasakan itu. Kau memang pantas untuk mendapatkannya. Lagian, sudah jelas dia memang suka uang, makannya setelah di rumahku dia mencuri uang yang aku buang ke tong sampah, dia juga pastinya mencuri uang teman sekelasnya.’ Tanpa memperdulikan lagi apa yang terjadi kepada Ashera, sambil minum, Arvin pun berjaln pergi menuju ruang ganti.
__ADS_1