Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
96 : Penarik Perhatian.


__ADS_3

ZRASSHHH.....


"Yah, kenapa malah hujan?" Rutuk Yuli kepada Alfian, melihat di luar sekolah sedang hujan deras, padahal jelas ada matahari yang bersinar terang.


"Kenapa? Apa kau sudah punya rencana untuk mengajakku kencan?" Tanya Alfian dengan percaya dirinya yang cukup tinggi itu.


"Huh, pede sekali kencan. Aku itu mau pergi ke mall, belanja- tahu kan shoping. Itulah yang aku inginkan, lagian aku kan juga harus beli hadiah untuk Fajar nanti." Jelas Yuli kepada sang kekasihnya itu.


Karena kelas mereka berdua berbeda, maka Yuli dan Alfian kini ada diluar koridor kelas di lantai satu.


Sambil duduk santai di kursi yang ada di sana, mereka berdua pun sedang menikmati pemandangan dari para murid sekolah yang sedang lari kelabakan karena hujan deras yang begitu tiba-tiba itu.


"Aduh...hujan, pakaianku kan jadinya basah."


"Ah, kenapa tiba-tiba seperti ini sih? Make up ku pasti jadi berantakan." masih belum kapok dengan razia make up yang pernah Arvin lakukan kepadanya.


"Yes, kalau hujan, artinya tidak jadi olahraga lari."


"Ahh! Rambutku jadi kusut nih."


Banyak dari keluhan milik mereka yang tidak suka dengan keadaan dari mereka.


Walaupun begitu, meskipun mereka terena air hujan sebentar, maka tidak dengan Arvin dan Ashera yang akhirnya datang bersamaan dengan pakaian mereka yang sudah hampir basah sepenuhnya?


Arvin hanya kakinya saja sebab Arvin menggunakan mantel hujan yang sering di bawa oleh Ashera. Hanya saja karena celananya tidak muat, makannya Arvin hanya menggunakan atasannya saja.


Sedangkan Ashera, sebagai ganti dari mantel hujan yang di pakai oleh Arvin, dia menggunakan jaket milik Arvin.


"Bukannya mereka berdua tiba-tiba jadi terlihat dekat untuk ukuran satu minggu lalu atau tepatnya beberapa tahun ini mereka sepertu dua orang asing yang tidak saling kenal?" Tanya Yuli sambil menunjuk ke arah mereka berdua.


"Iya sih, tapi apa peduliku? Yang aku ingin tahu kau ingin beli apa untuk kadonya Fajar?"


"Rahasia." jawab Yuli dengan nada cuek, lalu dia pergi dari tempat ia duduk, sebab bel masuk akan segera berbunyi.


_____________


Di dalam kelas.


"Arvin, sebentar lagi kan ulang tahunnya Fajar, kau mau beli apa untuk dia?" tanya Alfian kepada Arvin dengan nada berbisik, sehingga seperti yang terlihat dari mata orang lain, karena Alfian berbisik di telinganya persis, maka Arvin dan Alfian pun terlihat begitu mesra.


"Apa kau bisa, tidak usah berbisik dekat telingaku, itu mengganggu." Arvin langsung meletakkan telapak tangannya itu di depan wajahnya Alfian dan mendorongnya dengan lebih kuat agar wajah diantara mereka berdua jadi lebih jauhan sedikit.


"Hehehe, kan aku hanya ingin tahu dan agar tidak di dengar oleh orang lain selain kita berdu-"


"Alfian, kau bahkan bisikan kecilmu itu masih bisa aku dengar, jadi tidak usah berharap ucapanmu tidak di dengar olehku." Sela salah satu teman dari mereka berdua.


Maka dari itu, Alfian jadinya menutup mulutnya lalu langsung mendelik tajam ke arah Arvin agar segera menjawab pertanyaannya tadi.


"Dengar, aku akan menjawabnya satu kali saja. Sekalipun aku di undang, walupun aku sebenarnya tidak ingin berangkat, aku tidak akan membawa hadiah apapun. Lagi pula memangnya dia meminta kita untuk membawa hadiah? Apakah di undangan mengatakan agar aku membawa hadiah untuknya? Tidak kan?" ucap Arvin dengan sebegitu sejelas-jelasnya, sampai semua teman-temannya yang ada di kelas itu langsung terdiam.


Mungkin karena sudah jadi tradisi, karena setiap ada yang ulang tahu, pasti datang ya harus bawa kado sebagai hadiah.


Tapi, sekali lagi, apapun yang keluar dari mulut pedas milik dari laki-laki bernama Arvin itu, selalu sesuai dengan logika, dan selalu ada dalam nalar yang segera mereka tangkap dengan baik.


Maka dari itu, mereka yang membawa undangan mereka, langsung membukanya dan membaca isi dari undangan tersebut.


"Eh, iya sih. Di sini memang tidak ada permintaan untuk membawa hadiah."


"Ya, tapi kan, karena kebiasaan, aku jadi sudah beli hadiah untuk Fajar."

__ADS_1


"Aku juga."


"Aku juga sudah beli hadiah. Masa tidak kita berikan sih?"


"Yaelah, tidak apa-apa juga kali. Lagi pula selama ini dia yang mau jadi wakil ketua Osis, anggap saja sebagai penghargaan, terlepas dari urusan pribadinya itu." ucap salah satu diantara mereka semua.


Dan hal itu pun membuat mereka kembali berpikir bahwa ucapan itu pun sama saja ada benarnya.


"Kau ada benarnya juga." salah satu temannya pun mendukung ucapan dari temannya itu.


Dan akhirnya membuat mereka semua setuju dengan usulan tersebut.


Arvin hanya diam dan mendengarkan saja. "Hanya urusan hadiah, bisa seribut itu." Gerutu Arvin.


Karena hari ini benar-benar hujan pagi dan celananya basah, Arvin pun terpaksa mengganti celananya dengan membeli yang baru.


Tapi, apa yang terjadi dengan Ashera?


"Wah, dia perempuan kan? Kenapa dia pakai celana?"


"Tapi kenapa lumayan juga ya?"


Di karenakan pagi ini guru masih mengadakan apel pagi sekaligus rapat yang akan memakan waktu satu jam lamanya, mereka pun masih bebas, tidak mendapatkan pelajaran setelah mereka semua berhasil mengarungi ujian yang begitu sulit untuk mereka.


Tapi karena itu pula, hal tersebut di gunakan oleh semua murid untuk berkeliaran ke sana kemari, dan salah satunya adalah Ashera yang melintasi tiba-tiba saja melintasi kelasnya, atau bahkan lebih tepatnya masuk ke dalam kelasnya.


"Permisi." kata Ashera sebagai salam untuk masuk kedalam kelas tetangga.


Dan jujur saja, setelah Ashera mengatakan permisi dan menampakkan sosoknya di depan semua orang yang ada di dalam kelas, Ashera berhasil menarik perhatian semua orang yang ada di dalam sana.


"Arvin, aku ing-" Sampai suaranya terhenti begitu dia sudah mendaptakan tatapan yang cukup serius dari si empu yang baru saja ia panggil itu.


Dengan gaya duduknya itu, yang mana kakinya ada di atas kursi yang satunya lagi, dengan bersandar ke dinding, Arvin yang duduk di bangku paling belakang tepat di pojok sebelah jendela, di mata Ashera, pria itu pun benar-benar seperti pemimpin geng di kelasnya itu.


Tentu saja, sebab utamanya adalah saat ini memang banyak teman-temannya yang duduk di sampingnya, seolah Arvin ini adalah seorang Bos besar.


Meskipun kenyataannya itu Arvin akan menjadi seorang Bos besar.


Tapi, mereka semua benar-benar masih tidak tahu dengan identitas sebenarnya yang di miliki Arvin, karena sesaat tadi, Ashera melihat mereka bisa bersenda gurau di dekat Arvin.


Padahal jika tahu siapa Arvin sebenarnya, jelas mereka akan memilih diam saja.


"Ini, aku ingin mengembalikan jaket ini padamu."


"Kau mau mengembalikan jaket yang sudah basah itu kepadaku? Apa ka-"


Tatapan sengit langsung Ashera berikan kepada Arvin itu, sebab Arvin lagi-lagi mau mengatakan banyak ucapan yang tidak akan mengenakkan hati.


Dan hal itu membuat Arvin berhasil diam membisu.


"Ya sudah, sini." Arvin merubah kata-katanya agar Ashera segera menyerahkan jaket yang sudah di bungkus dengan kantong plastik.


Lebih tepatnya, karena Ashera tidak ingin membawa pakaian yang basah dan terasa berat itu di dalam tas nya, maka dari itu Ashera pun mengembalikan jaket itu kepada sang pemilik.


"Cie, ada apa ini?" satu orang temannya itu langsung mengungkapkan situasi yang baru pertama kali mereka lihat itu.


Salah satu temannya Arvin yang lainnya, dengan sengaja mengendus-endus udara sekitarnya, seakan dia merasakan aroma berbeda. "Hmm, aku merasakan aroma musim semi nih."


"Oh, aku juga merasakannya nih. Aroma musim semi yang cukup manis. Bahkan lebih manis dari gula. Bagaimana nih, ap-"

__ADS_1


"Ini, terima kasih." Ashera yang tidak mau tahu apa yang sedang di lakukan oleh mereka semua, dengan deretan ucapan pancingan yang terdengar sedang menggoda itu, Ashera langsung ada pada tujuannya saja, yaitu menyerahkan jaket pada sang pemilik sebelum akhirnya Ashera pergi begitu saja setelah Arvin menerima jaket itu.


"Lah, dia malah pergi begitu saja?"


"Diam kalian, memangnya kalian mau apa dengannya?" Sela Arvin, bosan mendengar segala ocehan dari teman-temannya itu karena penasaran.


"Tidak mau apa-apa sih, ya kan?" anak ini menanyakan ucapannya itu bahwa jawabannya pasti sama dengan temannya tersebut.


"Iya. Kami hanya merasa aneh saja, dia yang tadinya terlihat seperti perempuan baisa-biasa saja yang bisa menghilang kapanpun tanpa kita sadari, tiba-tiba dia jadi terlihat seperti orang yang berbeda." jelasnya.


"Benar, itu sangat benar. Karena aku sendiri juga merasakan kalau Ashera itu terlihat berbeda dari pada yang sebelumnya. Bahkan lihat saja sorotan matanya tadi, dia terlihat begitu berani menatapmu, padahal kau sendiri selalu saja memasang wajah seram, seakan apa yang kau lihat adalah musuhmu."


"Terus?" Tanya Arvin, jadinya tiba-tiba saja ingin mendengar kelanjutan yang apakah cerita mereka bisa di lanjutkan sampai habis atau tidak.


"Terus-"


Karena teman Arvin cukup banyak, sekalipun dia ganas seperti beruang, tapi satu per satu dari mereka terus menyambung cerita mereka, sehingga terjadilah cerita bersambung tentang Ashera.


"Terus, karena tadi dia bahkan menggunakan celana laki-laki, gara-gara tidak ada rok ganti untuknya, aku pikir dia jadi kelihatan sedikit keren."


"Keren?" Tanya Arvin. 'Dia? Ashera? Di bilang keren?' Arvin sangat tidak percaya dengan apapun yang mau di puji oleh satu temannya itu.


"Ya, aku pikir jika mengetepikan wajahnya yang tidak sebanding dengan pacarku, tentunya, dia yang punya rambut hitam panjang di ikat satu ke belakang, dan memakai celana yang pas dengan proporsi kaki serta pakaian seragam yang pas di tubuhnya, dia cukup ideal sebagai orang atlet pemanah."


"Huh? Kenapa tiba-tiba jadi pemanah?" tanya salah satu temannya Arvin lagi, juga mewakili Arvin yang semakin penasaran juga.


"Ah, kalian tidak akan tahu, kalau memanah itu punya posisi gerakan yang cukup anggun." jawab laki-laki ini. "Dan itu cukup cocok untuk Ashera." satu pujian pun mendarat lagi untuk Ashera.


Dan Arvin hanya mengamati, dan mendengarkan apa yang dia dengar juga apa yang sudah dia lihat selama dia tinggal bersama dengan istrinya itu.


'Sampai memuji seperti itu, padahal dia pendek.' batin Arvin.


____________


Sedangkan setelah sepulang sekolah, Arvin tiba-tiba di suruh pergi oleh sang Nenek untuk pergi ke pacuan kuda dan harus pergi bersama dengan Ashera.


Tapi begitu sampai di sana, Arvin yang ternyata mendapatkan sebuah tantangan dari Luna untuk melakukan pacuan kuda bersama, di saat yang bersamaan karena di sana ada lapangan tembak yang letaknya bersebelahan dengan lapangan pacuan kuda, ia justru melihat apa yang tidak pernah Arvin lihat sebelumnya.


DORR...DORR....DORR....


Beberapa tembakan yang mengeluarkan peluru itu sama sekali tidak mengganggu nyali sang kuda, karena para kuda yang ada di sana sudah cukup terbiasa dengan suara kerasa itu.


Tapi, yang jadi hal pentingnya adalah orang yang melakukannya itu adalah Ashera.


"Sekali lagi!" Teriak Ashera.


Dan beberapa piringan yang sengaja di terbangkan oleh seseorang namun menggunakan bantuan alat, langsung terbang melayang di udara.


Sebelum piringan itu jatuh, Ashera langsung menembakkan pelurunya itu ke atas sana.


DORR...DORR....DORR....


"Ashera?"


"Ada apa Tuan muda? Apa anda menyerah? Mau menemui kekalahan anda dalam melawan saya?" tanya Luna kepada Arvin yang beberapa saat tadi melamun melihat ke arah Ashera.


"Tidak ada kata menyerah dalam kamusku. Aku menang, kau berikan aku uangmu."


"Anda ternyata pandai merampas, baiklah, itu tidak akan jadi masalah." jawab Luna, lalu dengan menyentak tali kuda nya itu, laju kuda yang ia gunakan pun semakin cepat.

__ADS_1


Dan Arvin yang tidak mau kalah dari bodyguard milik nenek nya itu, dia segera menaikkan kecepatan laju dari lari kudanya itu, sampai akhirnya Arvin lah yang menang dalam pacuan kuda itu, karena ia juga memiliki kuda berwarna hitam yang menjadi andalan miliknya, yang bernama Cleo.


__ADS_2