Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
94 : Ancaman


__ADS_3

"Sudah malam seperti ini, seharusnya dia sudah tidur." Arvin menilik ke arah jam, dan di jam tangan yang dia pakai, hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Aapa akhirnya anda mau pulang?" Tanya Daseon, sedang menyiapkan camilan untuk mengemil, sebab tadi Tuan muda nya itu menginginkan makanan yang bisa di makan malam hari seperti ini.


Arvin mengangguk, "Iya. Ini sudah lebih dari cukup mengerjai dia. Aku akan pulang, jadi makan saja camilan yang sudah kau buat itu." kata Arvin, menoleh ke arah Daseon yang sudah memakai celemek. "Dan awas saja kalau kau mengatakan aku dari tempatmu, aku akan membuatmu keliling wilayah apartemen ini sebanyak sepuluh kali." kata Arvin, memberikan ancaman terlebih dahulu kepada Daseon.


"Saya akan mengingat ancaman anda itu, jadi tenang saja." Ucap Daseon.


Arvin awalnya terus menatap wajah Daseon ini, karena ia terus saja merasa kalau pria ini selain melakukan pekerjaannya menjadi butler, Daseon seakan menyembunyikan masalah lain juga.


Karena tidak ada gunanya juga terus menatap orang tersebut, Arvin pun pergi keluar dari apartemen milik Daseon.


____________


KLEK...


Satu pintu yang menjadi sebuah jurang kehidupan, terbuka setelah Arvin memutar knop pintu nya, setelah itu dia pun pergi melangkah masuk kedalam rumah nya itu dengan perlahan.


Hanya ada kegelapan di dalam rumahnya tersebut, dan selain itu pula, Arvin juga melihat ada gundukan di dalam selimut yang terdapat di atas sofa, sehingga Arvin pun menganggap kalau sosok di dalam sana adalah Ashera.


'Dia sudah tidur, hihihi, menyenangkan juga mengerjai dia. Aku jadi penasaran ekspresi wajah dia saat tidak menemukan barang berharga miliknya itu.' Pikir Arvin. Rencana busuknya itu pun berhasil membuat Ashera kesulitan sendiri karena ulah Arvin, Ashera jadi tidak memakai apa yang seharusnya dia pakai.


"Kau kelihatannya senang ya?" Hingga suara milik Ashera yang seharusnya tidak ada, karena Arvin mengira sedang tertidur itu, sekarang tiba-tiba saja ada di belakangnya persis.


'Kenapa dia belum tidur?!' Arvin yang baru saja memutar tubuhnya ke belakang, dia langsung di hadapi oleh Ashera yang tiba-tiba saja melangkahkan kakinya dengan cepat ke arahnya, sampai akhirnya, Arvin yang refleks berjalan mundur ke belakang, langsung di pojokkan oleh Ashera.


BRAK....

__ADS_1


Tangan kanannya Ashera pun langsung bertumpu pada pintu yang ada di belakangnya Arvin, begitu Arvin berhasil di pojokkan ke pintu dengan Ashera yang menggunakan tubuhnya itu untuk menyudutkan posisi Arvin ini.


"Kan aku baru saja makan enak, tentu saja aku senang. Apa kau merasa susah karena kau tidak bisa menggunakan tangan kirimu?"


"Tidak juga, aku justru merasa biasa-biasa saja, walaupun aku harus terus menggunakan tangan kananku terus, untuk ke depannya. Tapi- apa yang sebenarnya kau pikirkan Arvin? Kau yang mencuri bra milikku, ya kan?!" Begitu Ashera sudah menjawab pertanyaan dari Arvin, dia langsung mengganti topik itu ke topik lain yang sedang jadi permasalahannya Ashera.


"Kenapa kau seyakin itu padaku? Bukankah dengan begitu-" Sengaja menggatungkan kalimatnya di ambang udara, Arvin tiba-tiba menjentiikan kedua jarinya.


KLIK...


Seketika lampu di dalam rumah itu menyala, dan Arvin berkata lagi : "Kau bisa melayaniku?" sebuah pertanyaan untuk meminta jatah, sepasang matanya yang menyipit itu terus terpaku pada pakaian kemeja pendek yang di pakai oleh Elly.


Satu pemandangan yang bisa Arvin lihat saat ini hanya satu saja, sepasang ujung yang begitu menonjol di balik pakaian tersebut.


Ashera terdiam sejenak dan bertanya : "Arvin, di dalam kontrak sama sekali tidak tertera untuk melakukan itu, jadi apa kau baru saja meminta jatah padahal kau, bukankah kau membencinya, karena itu aku?"


Tapi dengan cepat, Ashera langsung menolak. "Tidak usah. Dari pada posisiku di anggap sebagai sebuah mainan, maka itu hanyalah mimpimu belaka. Jadi tidak usah berharap." Ketus Ashera.


Di sungguh menolaknya, karena dia tetap pada prinsip pertama yang pernah Arvin katakan, kalau Arvin tidak suka dengan diri Ashera, maka mau sekalipun mereka berdua sudah menikah, maka satu hal yang pasti, dia tetap akan menolak permintaannya. Yah, itu setidaknya jika Arvin mau berubah tidak seenaknya sendiri seperti itu.


"..." Mendapatkan penolakan dari Istrinya, Arvin jadi terdiam. "Apa kau baru saja menolakku?"


"...!" Ashera langsung menjawab. "Memangnya kenapa kalau aku menolaknya? Kau kan sudah mencicipiku, jadi ya sudah, kau hanya punya satu kali kesempatan itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih, sudahlah, aku tidak akan mempermasalahkan kau yang sudah mencuri bra milikku, kalau kau mau pakai- ya pakai saja, aku tinggal beli lagi."


Namun, saat Ashera mau menjauhkan tangannya dari daun pintu yang sedang Ashera tekan itu, Arvin tiba-tiba saja mencengkram tangannya Ashera.


"Kau harus menuruti perintahku, layani aku atau tidak, terlepas dari surat kontrak kau ini adalah pelayan, tetap saja kau adalah Istriku." ucap Arvin, dia tiba-tiba saja sangat menginginkannya, sebab begitu Ashera menyudutkannya di posisinya seperti tadi, Arvin jelas merasakan aroma manis yang tercium dengan cukup jelas.

__ADS_1


Aroma yang terasa seperti permen, tapi juga bukan. Bahkan aroma itu seperti bukan aroma sabun, seakan itu adalah aroma feromon tersendiri yang menyeruak keluar khusus dari tubuh Ashera dan mengusik hidungnya Arvin.


"Begitukah? Kau bahkan tetap menganggapku pelayan, kenapa aku harus menuruti perintahmu?" Kilatan dari mata yang saling memandang dengan tatapan tajam milik mereka berdua, sukses membuat suasana diantara mereka berdua jadi tegang. "Kan? Kau hanya maunya sendiri untuk memuaskan keinginanmu sendiri tanpa memandang aku ini sebenarnya apa. Itulah yang tidak aku sukai dari orang sepertimu. Aku tahu kita berdua sudah menikah, tapi jika kau tidak mengeraskan egomu itu, aku mungkin bisa memikirkan perintahmu itu. Tapi karena kau seperti ini, jadi tidak usah berharap lebih."


'Sial, padahal awalnya aku menganggap dia seperti benalu, parasit, lintah, dan duri, tapi begitu aku masuk dan merasakan aroma tubuhnya yang harum itu, aku jadi tidak bisa mengontrol keinginanku untuk memilikinya malam ini.


Padahal akulah yang awalnya membuat surat kontrak itu, gara-gara saran dari Daseon. Tapi lihat sekarang, akulah yang terjebak dengan rencanaku sendiri.


Tapi- dia benar-benar terlihat manis, aku sangat menginginkannya. Hah, ku jadi terlihat seperti vampir saja. Tenang Arvin, tenang, kau tidak boleh lengah hanya karena aroma seperti ini.' ucap Arvin pada dirinya sendiri, sehingga dia akhirnya melepaskan cengkraman tangannya itu dari pergelangan tangan kanannya Ashera."Selain semua peraturan yang sudah di buat, pihak A tetap sebagai pihak terkait yang menentukan perubahan isi kontrak." ucap Arvin secara mendadak.


"Apa?" Ashera bertanya dengan wajah terkejutnya itu.


"Karena aku pihak A, maka semua peraturan yang ada di dalam kontrak bisa berubah sewaktu-waktu." Arvin berkata lagi untuk mengkonfirmasi ucapannya tadi.


"Licik." Ketus Ashera.


"Kalau tidak licik, bukan Arvin namanya." kata Arvin dengan bangga.


"Jadi begitu ya? Caramu untuk memerasku? Kalau begitu saatnya aku memerasmu." Ashera tiba-tiba mengeluarkan handphone dari dalam rok nya, dan menekan tombol play, untuk memutar rekaman yang baru saja dia ambil.


Dan rekaman dari percakapan antara Ashera dengan Arvin sendiri, kembali di dengar oleh mereka berdua.


Ketika Ashera sesaat tadi merasa terancam dengan sikap Arvin, dan membuat Arvin tersenyum bangga dengan ucapannya sendiri soal kontrak, sekarang masalahnya sudah berbalik, Ashera berhasil membalikkan keadaan dengan memperdengarkan Arvin hasil dari percakapan tadi.


"Ashera!" panggil Arvin dengan keras seraya merebut handphone nya Ashera.


"Ya, aku ini adalah Ashera. Jadi ada apa dengan Ashera yang ada di depanmu ini?" Tanya Ashera, menatap sinis Arvin yang sedang memasang muka terkejut itu. "Lihat kan? Aku bisa membalikkan keadaan, kau secara tidak sungkan menganggapku pelayan, meskipun aku ini istrimu, jadi kira-kira apa komentar dari Nyonya besar, alias nenekmu itu?" Kata Ashera dengan sebuah ancaman yang jelas sudah terkirim ke pesan singkat berupa rekaman tadi ke nomor milik Nenek Tina.

__ADS_1


Benar, bahkan sebelum Arvin benar-benar merebut handphone nya Ashera, Arvin kalah cepat dengan pesan yang sudah terkirim ke Neneknya Arvin.


__ADS_2