
Sebelum Ashera terjatuh, salah satu tangannya mencengkram pakaiannya Arvin.
Tapi di sebabkan tidak mampu menahan tarikan itu, alhasil pakaiannya Arvin pun robek dan Ashera terjatuh ke lantai dengan cukup menyakitan.
"Ahw...lagi?" Rintih Ashera, dia cukup kesakitan karena dia jadinya kembali jatuh terduduk, apalagi dengan salah satu jarinya yang cukup sakit karena sempat tertekuk, hal itu pun membuat Ashera jadi tidak mampu untuk berdiri lagi, karena ia sedang menahannya.
KLEK...
"Tuan Muda-" Ucapannya langsung mengambang di udara saat matanya menangkap dua orang anak muda yang sudah tidak berpakaian dengan benar. 'Apakah Tuan mau melakukan itu? Tapi-'
Namun, karena Daseon melihat Ashera ada di lantai dengan wajah meringis kesakitan, Daseon segera membulatkan matanya saat melihat salah satu jari milik Ashera yang kebetulan memang tulang di dalamnya retak, melihatnya tertekuk di bawah tekanan lantai, Daseon segera menghampirinya.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Daseon.
"Dia yang memulai duluan."
"Kau yang mulai duluan, kau membuang hadiahku, dan tiba-tiba kau menyerangku." balas Ashera detik itu juga. "Dan aku hanya membela diriku, tapi, aku...akh...sa-sakit huwaa!"
Melihat tiba-tiba saja Ashera menangis kejer seperti itu, Arvin langsung kebingungan.
"Daseon, s-sakit! Jariku sakit!" Teriak Ashera, dia sungguh merasa sakit yang teramat sangat ketika salah satu jari kirinya benar-benar tertekan saat jatuh tadi, dan dia jadi merasa ingin mati karena tulang di dalamnya terasa cukup sakit.
"Apalagi yang sedang kau sandiwarakan? Kau butuh simpati dari Daseon?" tanya Arvin tiba-tiba, tanpa menanyai penyebab kenapa atau ada apa pada Ashera yang tiba-tiba menangis itu.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit." Ucap Daseon, dia dengan cukup berani dan dalam mode sebagai pelayan profesional, membantu Ashera kembali mengancingkan baju dan rok nya.
"Daseon! Dia hanya jatuh tapi apa perlu dia sampai harus di bawa ke rumah sakit?" Tanya Arvin dengan marah sekaligus tidak percaya kalau Daseon memberikan satu perhatian penuh pada Ashera yang menangis kesakitan itu.
"Itu bukan masalah jatuh biasa Tuan, salah satu jarinya sudah ada yang retak, dan sekarang ada kemungkinan patah. Jadi saya harus membawanya ke rumah sakit jika memang anda tidak mau. Apa anda mau, sampai ketahuan Nyonya besar?"
'Kata-katanya benar. Tapi- kalau begitu kenapa dia terus melakukan pekerjaannya jika jika memang tulangnya retak? Entah Ashera yang ini atau yang itu, mereka berdua sama-sama membuatku kerepotan sampai seperti ini.' gerutu Arvin di dalam hatinya.
"S-sakit. Hiks...hiks..." tangis Ashera pun masih saja belum berhenti, membuat Arvin jadi terbebani dengan keadaan dari Istri muda nya itu, karena selalu saja berhasil membuat diri Arvin merasa susah.
"Kau saja yang bawa sana." Perintah Arvin.
Daseon pun hanya diam sambil memejamkan matanya sesaat dan mengangguk iya.
Tapi, begitu baru saja Daseon dan Ashera mau pergi, Arvin tiba-tiba saja menyadari sesuatu.
"Ada yang datang." ucap Arvin dengan serius. Dia pun menatap ke arah pintu, dan di ikuti dengan Ashera juga Daseon, Arvin yang sudah merasakan akan ada sesuatu yang buruk jika tidak segera bertindak, Arvin tiba-tiba saja membopong Ashera ala bridal.
"A-ar."
"Shhtt..." Desis Arvin, agar Ashera terdiam. "Deson, katakan pada mereka kita berdua sedang tidur." perintah Arvin kepada Daseon.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Daseon, Arvin segera membawa Ashera pergi naik ke lantai dua, dan masuk kedalam kamar.
"Arvin, apa yang mau kau lakukan, turunkan aku, ini masih sakit." Rengek Ashera, karena Arvin yang buru-buru menggendongnya itu, membuat tubuh Ashera yang masih sakit, jadi tersentak dengan rasa sakit dari perubahan posisinya yang cukup mendadak.
"Ini perintah, kau tahan saja." Tegas Arvin.
Setelah sampai di dalam kamar, Arvin segera meletakkan Ashera di atas tempat tidurnya, lalu Arvin pun melepaskan pakaiannya yang sobek itu dan segera membawanya masuk kedalam selimut untuk di sembunyikan, sebelum Arvin dengan cara paksa malah membuka pakaian Ashera yang membuat Ashera langsung memberikan tatapan sengit kepada Arvin.
"Kau-"
"Kau hanya perlu tidur saja, agar nenekku tidak banyak komentar lagi." jelas Arvin sebelum Ashera bertanya lagi.
"Kau mengambil kesempatan di dalam kesempitan." Ucap Ashera dengan air mata yang masih saja mengalir karena ia memang tidak kuasa untuk menahan salah satu jarinya yang cukup sakit itu.
"Kau juga akan mengambil kesempatan dariku juga, jadi tidak usah banyak bicara, masuk kedalam selimut." perintah Arvin.
Ashera yang tadinya menangis tersedu-sedu, akhirnya terdiam dan dengan menurut masuk kedalam selimut dan di susul dengan Arvin.
Setelah masuk kedalam selimut, agar tidak merasa gerah karena mau bersembunyi di dalam selimut, Arvin segera menyalakan AC di suhu terdingin, dan barulah setelah sempurna, Arvin pun menyimpan remotnya di dalam bantal, dan segera memeluk Ashera.
KLEK....
Sedangkan di bawah. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Nenek Tina kepada Daseon yang sedang membersihkan pecahan beling ke pengki dan membuangnya ke tong sampah.
"Saya hanya di suruh untuk membersihkan kekacauan di rumah ini Nyonya." Jawab Daseon dengan tenang.
"Tuan dan Nona ada di lantai atas."
"Padahal aku datang ingin bertemu dengan mereka berdua. Sekalian mau memberikan ini." Nenek Tina pun menyuruh Luna untuk memberikan rantang kepada Daseon.
"Ini." Luna memberikan rantang berisi makanan itu kepada Daseon.
"Luna, temani aku ke lantai dua." Karena Nenek Tina sudah tua, dia pun di bantu dengan Luna, jadinya menaiki tangga dan begitu sudah sampai di depan pintu kamar, dia langsung masuk.
KLEK....
Suhu kamar yang cukup dingin itu berhasil membuat mereka berdua mengerti, apalagi ketika Nenek Tina dan Luna melihat dua orang sedang tidur berpelukan dan terlihat separuh telanjang, membuat Nenek Tina tersenyum.
"Apa mereka berdua akhirnya sudah saling menerima satu sama lain?" tanya Nenek Tina kepada Luna.
"Mungkin." jawab Luna singkat.
"Apa Ashera menangis karena saking sakitnya?" Nenek Tina sempat melihat pipi Ashera yang basah itu.
'Ya, aku sakit, tapi bukan karena hal lain, tapi jariku.' Batin Ashera, dia memerankan akting penting untuk memeluk Arvin, sampai karena ia cukup kesakitan, dia jadinya mencakar punggung Arvin dengan tangan kanannya itu.
__ADS_1
'Kenapa dia malah mencakarku?' Arvin mulai merasa kesakitan dengan cara Ashera menahan diri itu.
"Luna, kalau seperti ini, apakah sebentar lagi aku akan punya cicit? Kalau bisa sih kembar, kan biar tambah rame." Tutur Nenek Tina sekali lagi. Luna yang bertugas untuk terus berada di samping majikannya itu, hanya menjawab jawaban yang sama.
"Mungkin. Tapi semoga saja harapan Nyonya bisa terwujud." Jawabnya.
'Anak kembar apa? Nenenkku ini selalu saja mengambil kesimpulan seenaknya sendiri.' pikir Arvin.
'Rasanya sakit, aku tidak tahan lagi. Tapi aroma tubuh anak ini malah seperti membuatku mabuk, jika aku lama-lama memeluknya seperti ini.' Batin Ashera.
Dua orang dalam dua pikiran yang berbeda itu terus berkecamuk, ingin agar Nenek Tina segera pergi, karen mereka berdua sudah mulai merasa pengap sekaligus Arvin yang sudah terus saja menahan rasa sakit dari cakarannya Ashera ini.
"Aku sih berharap kalau mereka berdua tetap sekolah, tapi di satu sisi, umurku juga sudah tidak panjang lagi. Aku ingin segera memeluk cicit, tapi aku tidak tahu apakah itu akan terwujud atau tidak." Nenek Tina tiba-tiba bercerita, sampai Ashera dan Arvin sedikit tersinggung dengan ucapannya tersebut.
"Nyonya, anda jangan berkata seperti itu. Bagaimana kalau Tuan muda dan Ashera mendengarnya?"
"Ya, aku harap mereka berdua mendengarnya, agar bisa mengabulkan permintaan nenek tua ini. Itu jauh lebih bagus, ya kan?" Kata Nenek Tina lagi, membuat Luna jadi bungkam. "Ayo pulang, aku tidak ingin keberadaanku mengganggu mereka berdua." Perintah Nenek Tina.
"Baik Nyonya." Luna pun mengekori majikannya itu pergi, sebelum dia akhirnya menutup pintu kamarnya Arvin dengan perlahan.
KLEK....
"Deseon, titip makanan itu untuk mereka berdua. Jika sudah bangun, suruh untuk panaskan saja."
"Baik Nyonya." Jawab Daseon.
Selepas itu, dua orang tersebut pun pergi dari sana.
Merasa sudah dua orang itu benar-benar pergi dari rumahnya, Arvin akhirnya membuka matanya dibarengi dengan Ashera.
"Kau dengar itu? Nenekmu, Nyonya besar menginginkan anak, kembar pula? Kau akan bagaimana mena khh..!" Ashera langsung bangun, tidak jadi bicara dan segera mengaduh sakit dengan salah satu jarinya itu.
Arvin yang melihat hal itu, entah kenapa jadi ikutan meringis juga.
__________
Walaupun dari luar memang tidak terlihat kenapa-kenapa tapi begitu di periksa di rumah sakit, itu tulang dari salah satu jarinya memang benar-benar patah.
"Saya sudah memberikan obat bius, jadi untuk sementara waktu anda tidak akan merasa sakit. Tapi sebagai gantinya, mulai saat ini anda tidak boleh menggunakan tangan kiri anda, agar bisa sembuh. Paling satu sampai satu setengah bulan.
Hindari minuman berakohol, kopi dan garam. Jadi ini harus benar-benar diperhatikan, anda mengerti?" Kata sang dokter kepada mereka bertiga.
"Kalau masak tanpa garam, rasanya jadi hambar." Gerutu Ashera.
"Itu yang harus anda perhatikan jika memang anda ingin benar-benar sembuh dengan cepat. Tapi jika garamnya dalam porsi sedikit, dan sebagai gantinya anda makan-makanan seperti ikan, daging, susu atau yoghurt, serta telur, itu tidak akan jadi masalah.
__ADS_1
Tapi tetap perhatikan pantangan anda dalam makan dan minum." Imbuhnya lagi.