
Malam menjadi hari yang di peruntukan sebagain besar orang untuk Istirahat.
Tapi, tidak jarang pula, jam malam tersebut justru di gunakan untuk bekerja.
"Lempar kepadaku!"
"Ini!"
Lalu sebuah bola berwarna oren, melambung tinggi ke arah seorang pria yang hanya berpenampilan celana pendek olahraga, serta kaos putih yang sudah di penuhi dengan keringat.
BUKH ...!
Sebuah tangkapan yang begitu sempurna, menciptakan kesempatan besar untuk mendapatkan kemenangan.
"Arvin! Ayo, lempar!" teriakan itu menyerukan kepada pria bertubuh tegap, tinggi, dan punya perawakan yang besar untuk menuntaskan permainan diantara mereka.
Pantulan demi pantulan, membuat suara keributan semakin keras.
Di samping harus menghindari banyak lawan yang ingin merebut bola dengannya, setiap gerakan lincah yang digunakan oleh anak bernama Arvin, selalu berhasil mengecoh lawan.
Alhasil, ketika lawannya sudah bersiap untuk merebut bola nya, dari jarak kurang dari sepuluh meter, sebuah gerakan yang begitu kasar tapi tetap terkoordinasi dengan baik, akhirnya membuat bola basket yang dia mainkan melambung cukup tinggi, dan ..
PRITTT....
Peluit berhasil di tiup, tepat setelah bola basket itu masuk ke dalam sebuah ring.
"28 dan 25, tim merah menang!" teriak sang wasit.
"Yeah! Arvin! Kita menang!" teriak Vian, dia adalah teman dekatnya Arvin.
__ADS_1
"Hah, sial. Kenapa bisa kalah dengan anak SMA?" keluh salah satu orang yang menjadi lawan kelompoknya Arvin.
"Iya, aku dengar. Jangan berteriak keras lagi, kau mau membuat orang memburumu karena mengganggu pasien?" suara serak nan berat karena kehausan, menjadi sisi paling biasa yang dialami oleh orang yang lelah.
"Apa kau pemain basket di sekolahmu?"
"Apakah kau penasaran?" seringai Arvin.
"Wei, jangan tersenyum seperti orang jahat, kenapa?" bisik Vian, memperingatkan Arvin agar tidak membuat onar dengan anak orang lain.
"Tidak usah, lagi pula aku juga tidak akan melihatmu lagi," ucapnya dengan nada cuek, lalu dia dan kedua temannya yang lain pun pergi dari sana, karena mereka merasa sudah cukup untuk berolahraga.
"Arvin, kapan-kapan tanding denganku lagi," kata teman dari pria tadi, sebelum akhirnya mereka bertiga pun pergi meninggalkan Arvin bersama dengan Vian di dalam lapangan basket yang letaknya memang tidak begitu jauh dari gedung rumah sakit.
"Untung saja mereka cepat pergi. Kau pikir menyenangkan ya, memprovokasi orang dengan kata-kata pedasmu itu? Bagaimana jika mereka yang tidak terima, menghajarmu?' oceh Vian.
'Sebenarnya kau ini anak SMA atau bukan sih?" tanyanya.
"Iya lah, mungkin karena gen aku yang terlalu baik, makannya aku tumbuh subur seperti ini, ketimbangmu,"
JLEB ...
Perkataan itu cukup menusuk hati nuraninya Vian, sampai secara tiba-tiba ada suara tepuk tangan dari luar pembatas lapangan.
PROKK... PROK... PROKK...
"Siapa disana?" tanya Vian, sedangkan Arvin diam menunggu.
"Pertunjukkan kalian masih bagus seperti dulu, ya?" suara lembut dan cukup sopan, langsung terdengar dan mencakup semua indera pendengaran mereka berdua.
__ADS_1
"Vani, apa yang kau lakukan disitu?" tanya Arvin dengan lugas.
'Vani? Bukannya itu mantannya ya? T-tunggu, ada apa ini? Kenapa mereka berdua tiba-tiba saling bertemu seperti ini? Lagian, ini memang sudah mulai jam tengah malam, apa yang akan mereka berdua lakukan jika aku pergi?
Tapi- aku juga tidak bisa menghindari untuk tidak memberikan waktu diantara mereka berdua, ya kan?' pikirannya Vian pun cukup penuh.
Dan benar saja, begitu Arvin bertanya, perempuan cantik dengan penampilan feminim tapi di balut dengan mantel coat berwarna abu, muncul dari balik kegelapan dan berdiri tepat di bawah lampu.
Jarak yang hanya di pisahkan oleh pagar pembatas, menjadi sebuah pemandangan yang lebih dari sekedar pertemuan biasa.
"Aku hanya kebetulan lewat, dan tidak sengaja melihatmu disini. Arvin, apa kau punya waktu sebentar?" tanya Vani dengan wajah penuh harap.
Arvin diam seraya menghentikan waktu dia untuk minum, sambil menatap wajah mantan pacarnya itu yang benar-benar mengharapkan sebuah pertemuan secara empat mata dengannya.
'Hmm ... Arvin sedang bicara dengan siapa? Dia terlalu menggoda sampai di dekati oleh seorang wanita di tengah malam seperti ini.?'
Di satu sisi lain, Ashera dengan kepribadian Hera, mengawasi Arvin dari kejauhan dengan bantuan sebuah teropong.
Dari sebuah kamar, dia setidaknya mampu menjangkau jarak 100 meter itu dengan baik.
Tapi, Ashera, dia cukup penasaran, siapakah wanita yang sedang mengajak Arvin bicara itu?
'Playboy tetap saja playboy. Padahal Istrimu ada disini, tapi kau malah bermain dan bertemu dengan wanita lain.
Kehidupan menjadi seorang pria memang tidak ada duanya, ya?
Dengan penampilannya, dia mampu menyeret semua wanita di dunia dalam genggamannya.
Dasar, pantas saja Ashera tidak kuat denganmu. Di belakang saja, kau seperti itu terus. Kapan kau bisa berubah, Arvin?' pikir Ashera, menyayangkan cara Arvin membuat kehidupan dengan cara yang cukup salah.
__ADS_1