
Seperti yang di sarankan, Arvin pun pulang ke rumah. Tapi, bahkan sekalipun dia sudah pulang, dia tidak menemukan tanda-tanda dari keberadaan Ashera.
'Apa mungkin anak bodoh itu menjanjikan aku hadiah, tapi dia bahkan tidak bisa cepat pulang?' detik hati Arvin, dia melihat lampu rumahnya gelap, makannya dia pun menyalakannya.
Arvin berjalan masuk, dan tidak terlihat adanya hal mencurigakan apapun yang ia jumpai, selain ia tidak sengaja melihat ada paper bag yang sudah sobek ke tong sampah, dan bahkan tong sampah tersebut tutupnya jadi terpaksa di buka, sebab ada sampah lain di dalamnya, dan itu berupa kantong plastik dengan isi pecahan kaca.
Tiba-tiba saja, Arvin pun jadi teringat dengan apa yang terjadi sore tadi, dimana dia tidak sengaja jadi menjatuhkan barang belanjaannya Ashera, sampai barang tersebut pecah.
"...' Arvin terus menatapnya dengan perasaan yang bercampur aduk.
Di satu sisi, dia merasa bersalah, karena belanjaannya Ashera pecah, tapi di satu sisi lagi, ia juga punya perasaan tidak suka, sebab Arvin berpikir kalau itu adalah belanjaan dari hadiahnya Fajar, sebab ia memang sempat melihat Fajar dan Ashera belanja bersama.
"Tapi apa dia bahkan masih belum pulang?" Arvin pun meneleponnya, dan nomornya tersambung, tapi yang jadi masalahnya adalah tidak di angkat. "Mungkin dia hanya membual saja, sudahlah, aku lebih baik tidur saja. Aku terlalu lelah untuk memikirkan dia melakukan hal yang mencurigakan terus, sampai dia mau menguntitku, berani sekali dia, ya?" Gerutu Arvin, dia pun pergi meninggalkan ruang tamu dan naik ke atas.
__________
"Hei..hei, tunggu dulu kau mau pergi kemana sayang?" Tanya pria ini.
'Padahal bukannya mereka sudah di usir oleh Arvin? Tapi kenapa dia bisa menemukanku di sini? hanya mau pulang saja kenapa aku punya banyak halangan sih?' Pikirannya jadi kacau balau ketika ia sepertinya harus menghadapi dua orang dari geng motor yang sempat Arvin usir tadi.
Tidak seperti Arvin yang memakai jalan utama dan bisa pergi dengan cepat ke tujuannya, Ashera, dia yang ingin lebih dulu belanja, justru harus bertemu dengan dua orang ini lagi.
"Jika bukan berkatmu yang memanggil Enzo sialan itu, kami semua sudah pasti akan mengobrak-abrik seisi rumah itu. Tapi, apa yang kau lakukan di sini sendirian? Ini sudah malam loh." Ucap pria pemilik dari motor berwarna putih, dia adalah si pemimpin dari kelompok geng motor snake tadi.
"Aku kan hanya menerima perintah untuk memanggilnya, kenapa jadi berkat aku?" Tanya balik Ashera, dia sama sekali tidak takut dengan keberadaan dari dua orang pria di depannya itu, karena ia punya rasa percaya diri yang cukup tinggi untuk mengalahkan mereka jika mereka berbuat macam-macam.
Dan, bahkan jika mereka tiba-tiba saja melakukan sesuatu secara mengejutkan seperti menyemprotkan obat bius, maka Ashera sudah punya ketahanan untuk mengatasi obat tidur itu.
'Tapi, yang jadi pertanyaannya adalah, apa yang sedang mereka berdua lakukan, sampai menghalangiku pergi?' pikir Ashera. Walaupun di dalam kepalanya, dia berusaha untuk berpikir positif, tapi dia tetap saja memiliki pandangan negatif, karena bagaimanapun, di tempat sepi, di malam hari seperti ini, dirinya yang merupakan satu-satunya perempuan, di cegat oleh dua orang pria asing yang tidak Ashera kenal sama sekali. 'Oh ya, aku ingat kalau Arvin kenal mereka, apa ada hubungannya dengan Arvin juga ya? Bahkan saat Arvin bicara dengan wajah senangnya, karena bisa membiarkan Enzo di siksa, secara tidak langsung dia justru seperti berterima kasih kepada mereka karena bisa menggantikan posisinya untuk membuat Enzo babak belur?'
Karena pikirannya Ashera tidak ada habis-habisnya, salah satu dari dua orang itu pun tiba-tiba saja menyerobot tas belanjaannya.
"Sini, kelihatannya kau akan kerepotan, karena kau punya perjalanan panjang untuk pulang." Ucap dari pria pemilik motor putih.
"Kenapa kau mencuri tas belanjaku? Sini." Ashera yang tidak suka ada barang miliknya yang tiba-tiba saja di rebut, langsung mencoba untuk merebut balik tas miliknya itu.
Tapi, dengan sengaja pria itu malah membuatnya di permainkan, dengan mengalihkan tas belanjaannya dari tangan kiri ke tangan kanan.
Karena pria itu berpikir kalau Ashera akan berjalan berputar untuk mendapatkan tas belanjaan di tangan sebelah kiri pria itu, justru itu adalah kesalahan besar.
"Sini, jangan main-main denganku ya." Tutur Ashera dengan tegas, dia langsung meraih stang motor putih itu, dan dengan sengaja dia malah mencoba untuk memiringkannya, sehingga pria yang sedang bermain-main dengan Ashera dan masih duduk di atas motor, langsung panik karena takut jatuh.
"Tangkap." Tapi tanpa kehilangan akal, pria ini justru melempar tas itu ke temannya.
Dan dengan senang hati temannya itu langsung menangkap tas belanja yang sudah berisi sayuran itu.
GREP....
Ashera yang sudah mulai emosi itu, langsung bicara dengan tegas. "Jangan lempar-lempar sayuran, dia itu bukan mainan, jika di lempar seperti itu kesegaran nya akan berkurang, apa kalian mau bertanggung jawab jika masakanku nantinya tidak enak?"
Dua orang itu langsung terdiam sejenak sebelum mereka berdua sama-sama tertawa.
"Hahahaha, kau ini, hanya sayuran aku bahkan bisa membelikanmu sampai ladangnya sekalian. Tapi sesuai dengan ucapanmu itu, jika kau ingin sayuran itu lagi, apa kau mau masak untuk kami?"
"Ha?" Ashera seketika langsung melongo. "Huh, kenal juga tidak, kenapa aku harus memasak untuk kalian? Sana, aku tidak butuh lagi sayuran, aku bisa memberikan dia makanan yang lebih enak ketimbang sayuran." Ucap Ashera ceplas ceplos, membuat dua orang tersebut langsung kembali diam dan saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
'Perempuan ini, kelihatannya dia benar-benar serius dengan apa yang di ucapkannya itu.' Pikir pria ini, sebab dia tahu maksud dari ucapannya barusan. 'Jadi, apa dia mempunyai hubungan dengan anak itu?' Iris matanya yang berwarna coklat itu lantas melirik ke arah temannya.
Temannya langsung mengangguk paham, dan segera menyalakan mesin motornya lalu bergegas menyusul Ashera yang sudah berseluncur menggunakan sepatu roda nya.
"Sebentar, jangan pergi dulu."
"Kenapa aku harus menurutimu?" Ketus Ashera. Dia tidak menuruti perkataan dari orang tersebut, karena tidak mau berurusan dengannya lagi.
"Kami tidak akan mengganggumu jika kau mau berhenti dan dengarkan permintaan dari Bos aku itu." Ucapnya lagi, lalu Ashera pun mulai terpancing dengan menoleh ke samping belakang, dimana pemilik dari motor berwarna putih itu sudah mengikutinya dari belakang.
Rada-rada percaya juga tidak percaya, tapi pada akhirnya Ashera pun berhenti dan mencoba mendengarkan apa yang sebenarnya ingin di minta oleh orang si ketua geng tersebut.
"Apa kau akhirnya mau mendengarkan ucapanku?"
"Aku mau mendengarkannya, tapi aku akan memutuskan apa yang kau minta dariku asal itu bukan sesuatu yang merugikanku." Jelas Ashera, dia tetap membuat batasan dari permintaan oleh pria itu.
Dengan senyuman simpulnya, dia akhirnya mau melepaskan helm nya, lalu bicara serius dengan Ahsera.
"Kau sama sekali tidak akan rugi. Justru ini adalah keuntungan besar. Lagian permintaanku juga mudah." katanya.
___________
Sedangan di rumah, Arvin yang terus menunggu itu, karena tidak bisa tidur, dia pun duduk di sofa depan telivisi. Dengan sofa yang dia rubah menjadi sebuah tempat tidur itu, dia duduk bersandar, memakan keripik sambil goyang kaki.
'Kenapa anak itu lama sekali? Di hubungi juga tidak di angkat, aku juga tidak bisa tidur.' Pikir Arvin. Karena ia merasa gerah, meskipun AC sudah di nyalakan, dia pun saat ini sedang bertelanjang dada, memperlihatkan otot tubuhnya yang cukup sempurna untuk di pandang terus tanpa jeda sedikitpun.
Sampai tak berapa lama kemudian, suara pintu yang terbuka itu membuat Arvin langsung mengalihkan pandangannya.
"Kau akhirnya pulang, semoga kau tidak lupa dengan janjimu itu." Tukas Arvin, dia segera beranjak dari tempat dia duduk dan pergi menuju pintu untuk melihat sosok dari pelayan sekaligus berperan jadi Istrinya itu.
Tapi, tidak seperti yang di pikirkan Arvin bahwa Ashera pulang dengan baik-baik saja, nyatanya perempuan ini justru pulang dalam kondisi basah kuyup.
Rambut hitam kusut yang sudah sepenuhnya basah, dingin itu langsung menyelimuti tubuh Ashera saat pertama kali masuk kedalam rumah, sebab tubuhnya yang sudah basah dari atas sampai bawah.
Wajah pucat dengan rahang gemetar, dan sebuah rantang yang di bungkus dengan kantong plastik di pegang di kedua tangannya.
"Kau habis dari mana saja? Kau masuk dengan tubuh basah kuyup? Apa artinya kau membasahi seluruh lantai yang kau lewati?" Tanya Arvin dengan mata menyipit.
"Iya, lagi pula ada yang mengeringkan lantainya juga, jadi kenapa kau terlihat marah seperti itu? Apa kau bermaksud untuk menyuruhku untuk mengepel lantai yang basah karena aku yang basah kuyup ini?" tanya Ashera balik.
'Ternyata dia punya pikiran seperti itu. Padahal maksudku dia seharusnya mengeringkan tubuhnya di bawah agar tidak terpeleset.' pikir Arvin. Tapi karena Ashera punya berpikir seperti itu, Arvin pun tidak bicara lagi dan mengambil dua rantang itu lalu dia bawa pergi.
"Cepat mandi, jangan sampai sakit lalu kau malah demam dan ganti kepribadian dengan yang satunya lagi." Kata Arvin dengan cepat.
'Apa dia sebegitu bencinya dengan kepribadianku yang satunya lagi?' Tatap Ashera.
Padahal sampai beberapa hari yang lalu, Arvin begitu sebal padanya sebab punya kepribadian yang lebih merepotkan, sebab punya sikap yang lebih blak-blakan serta ketegasan yang cukup membuat Arvin sempat kewalahan. Tapi sekarang, pria itu tiba-tiba saja khawatir kepadanya, agar jangan sampai jadi Ashera yang takut lagi.
'Kau memang pria yang egois. Padahal aku saja sedang ingin mencoba membangunkan sisiku yang satunya itu, agar dia yang harus menghadapi semua perasaan dan segala percobaan ini. Tapi, sepertinya kepribadianku yang satunya lagi benar-benar menolak untuk bangun.' Pikir Ashera. Dia seolah adalah orang lain, padahal ia adalah satu orang yang sama, namun hanya punya kepribadian ganda.
__________
Di sisi lain, rumah keluarga besar Ravarden.
"Hahaha, ini enak omah." gelak tawa milik seorang wanita muda yang sedang hamil muda itu mengisi seluruh sudut ruang makan, karena di depannya sudah ada banyak makanan, baik itu sop iga sapi, steak, ada juga ratatouilee, cepres, krim brulee, bahkan nasi goreng, semur ayam, di atas meja itu, semuanya sudah lengkap dengan makanan yang sudah siap di santap.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kau suka, Desty. Dan yang lebih penting lagi, anak di dalam perutmu pasti ikut merasa bahagia." Ucap Nenek Tina. Dia dengan begitu senangnya, mengelus perut dari wanita bernama Desty ini.
Desty sebenarnya cucu dari teman nenek nya Tina. Kebetulan Desty ini tengah hamil tiga bulan, dan di jam malam seperti ini, Desty sedang ngidam makanan yang sudah di sajikan di depannya itu. Hanya saja ada satu syarat, yang masak itu perempuan yang masih sekolah.
Dan satu-satunya orang yang Nenek Tina tahu, tentu saja Ashera lah yang bisa masak semua makanan dari berbagai negara, ataupun masakan lokal.
Karena itu, adik dari Desty ini pun secara khusus diberikan perintah oleh Desty untuk menjemput Ashera agar mau jadi koki sementaranya.
"Julio, kau bagus, bisa membawa Ashera kesini." ucap Desty, selaku kakak dari Julio ini.
"Ya, Nenek juga senang, ternyata kau bisa membujuk anak itu." nenek Tina tersenyum senang kepada Julio, anak dari ketua geng motor yang baru saja membuat perkara di tempat orang lain.
"Kalau kakak senang, aku juga ikut senang. Tapi dengan begini pekerjaanku sudah selesai kan kak?" Tanya Julio kepada kakaknya, Desty.
"Ya, kau sudah mengerjakan pekerjaan bagus, apa yang kau inginkan? Kakak akan bisa memberikanmu hadiah karena mau menuruti kakakmu ini." Ucap pria ini, dia adalah suami dari Desty, dan sekarang ia sebenarnya sedang menyuapi Istrinya itu.
"Aku tidak ingin apapun, asal kalau mau memerintahku, harus ingat waktu. Karena aku harus repot-repot menjemput seorang gadis di tengah jalan. Dia pikir aku pasti seorang yang menculiknya." Kata Julio, dia tidak mau makan bersama karena sudah keburu kenyang melihat kemesraan yang di pertontonkan oleh kakak dan kakak iparnya itu.
"Yah, itu kan karena tampangmu saja, kenapa serius seperti preman. Jangan-jangan dia awalnya takut ya?" Tanya Desty penasaran.
Dengan santai, Julio menjawab : "Dia tidak memiliki perasaan takut, dan justru mulutnya itu cukup blak-blakan. Dan kelihatannya dia juga mau memberi makan seseorang, entah siapa, dia malah menjawab ada makanan yang lebih enak dari sayuran.
Mulutnya itu memang tidak bisa di kontrol. Kalau itu pria lain, sudah pasti akan langsung di babat habis." Oceh Julio, dia mengenakkan jaket nya lagi, memakai sarung tangan dan pergi dengan mengambil helm yang langsung ia pasang ke kepalanya.
"Hahaha, Ashera yang itu memang seperti itu. Tapi kalau kau ketemu dengan dia dengan kepribadiannya yang satunya lagi, dia justru akan ketakutan. Tapi terima kasih ya Julio, karenamu aku jadi bisa melihat Ashera lagi setelah sekian lama." Kata Nenek Tina dengan tawanya yang cukup ringan itu.
"Sama-sama omah. Kalau begitu aku pergi dulu." Kata Julio sambil melambaikan tangannya dengan posisi sudah memunggungi mereka bertiga.
BRRMM....BRRMMM.....
Lalu tidak lama setelah itu, Julio pun pergi dengan motornya dalam kecepatan tinggi.
Begitu sudah pergi, Nenek Tina pun melihat kedua orang di sampingnya itu dengan rasa iri.
"Omah, sebenarnya Ashera itu siapa? Kenapa aku baru melihatnya?" Tanya Desty.
Dengan senyuman penuh makna, Nenek Tina pun menjawab : "Dia menantuku." Jawabnya.
Dan dua orang yang sedang makan serta berbagi kasih itu, tiba-tiba langsung mematung.
"Y-yang benar omah?" Tanya suami nya Desty.
"Iya, dia menantuku. Walaupun dia bukan berasal dari orang kaya seperti kami, bagiku itu tidaklah penting selain dia memiliki tanggung jawabnya yang bisa dia kerjakan dengan sepenuh hati." Jawab Nenek Tina.
"B-berarti, apakah maksudnya cucu omah yang nakal itu-" ucapannya Desty seketika menghilang.
"Hohoho, benar sekali. Cucuku sudah punya pasangan sendiri, dan itu Ashera. Dan aku yakin, kenakalannya pasti akan berangsur berkurang, walaupun tidak berkurang secara drastis." Imbuh Nenek Tina.
____________
"Hchuuumm..!" Bersin Ashera dan Arvin secara bersamaan.
'Jangan-jangan aku mau masuk angin?' Pikir Ashera, dia sedang berendam di dalam bathtub di dalam kamar mandi atas.
'Siapa yang sedang membicarakanku dari belakang?' Pikir Arvin, dia saat ini ada di dapur sedang makan sendirian.
__ADS_1