
"Arvin, kau mau jalan-jalan denganku malam ini tidak?" Satu pelukan berhasil mendarat di lengan tangan kanan Arvin.
Setelah pulang sekolah, Arvin dan dan pacarnya pun makan sore bersama di sebuah restoran yang memang tidak begitu jauh dari sekolah mereka berdua. Tentu saja, itu sebagai waktu kencan sesaat mereka berdua setelah beberapa hari ini Arvin tidak mengajaknya pergi jalan-jalan.
Tapi, restoran yang mereka berdua kunjungi itu juga satu tempat dengan bar yang biasa mereka berdua gunakan untung nongkrong.
"Memangnya kau mau pergi dengan siapa lagi?" Lirik Arvin kepada pacarnya itu, lalu dia menepis pelukan dari pacarnya dan duduk di kursi yang sudah mereka berdua pesan sebelum ini.
"Ya, aku pergi bersama dengan teman-temanku sih. Kali saja kau mau, biar mereka iri gitu. Mau ya, mau." jawabnya sambil memberikan ekspresi imut untuk memohon kepada Arvin agar mau pergi jalan-jalan bersama. "Lagian mereka juga akan pergi bersama dengan pacar mereka, dan jika kau ikut, pasti jadi lebih seru, ya kan?" imbuhnya lagi, membuat senyuman lebar yang begitu di selimuti sebuah harapan yang begitu besar kepadanya.
Arvin yang saat ini sedang makan udang kesayangannya setelah sah satu pelayan di restoran begitu mengetahui pesanan yang bisa Arvin pesan, mencoba berpikir-pikir lagi, karena ada satu masalah di rumah, yaitu Ashera.
'Tapi- jika aku tidak pulang dan langsung pergi, tidak masalah ya kan? Lagi pula karena jam pulang sekolah hari ini dua jam lebih awal, aku rasa tidak masalah jika aku langsung pergi jalan-jalan, dan batasku paling tidak dua setengah jam sampai tiga jam. Aku pikir itu cukup agar aku tidak kena semprot oleh perempuan itu.' Pikir Arvin panjang lebar.
Tidak seperti sebelumnya, jika dirinya itu sangat santai, memiliki banyak waktu luang untuk pergi ke sama dan kemari sesuka hatinya dengan pacar bayarannya, karena ia masih belum terikat dengan apapun.
Tapi, karena saat ini dirinya sudah terikat dengan satu orang perempuan yang tidak sengaja ia nodai, dan apalagi di tambah dengan posisi dari Ashera yang sikapnya begitu berubah seratus delapan puluh derajat, Arvin pun merasa terkekang.
Dia sadar, kalau ia sekarang setidaknya harus berhati-hati. Makannya, saat di ajak pergi jalan-jalan oleh pacarnya itu, Arvin pun merasa harus berpikir dua kali lebih dulu sebelum membuat keputusan.
"Ok, aku mau. Tapi aku hanya bisa pergi dua jam saja." Jawab Arvin, lalu menyuapi sang pacar untuk memakan udah yang sudah Arvin kupas. 'Kalau saja perempuan itu secantik dia, aku mungkin bisa lebih memperhatikannya.' Pikirnya.
"Ehh! Kenapa?" Cemberut dengan perkataan Arvin yang tiba-tiba punya batasan waktu untuk kencan nanti.
Dengan begitu entengnya, Arvin malah bicara tanpa pikir panjang lagi, "Aku ada urusan dengan sepupuku, jadi aku akan pulang seelah dua jam itu."
__ADS_1
Begitu mendengar Arvin rupanya sudah punya janji dengan sepupunya, ia sebenarnya cukup penasaran dengan kehidupan pribadi milik Arvin ini.
Tapi, karena memang dirinya itu sekedar pacar bayaran untuk menemani pria ini menjalani kesenangannya dalam menjalin kasih sebagai sepasang kekasih, ia pun sadar kalau dirinya seolah memang dibatasi dalam pemilihan hak yang ia miliki.
Tapi, ia benar-benar cukup penasaran dengan kehidupannya Arvin ini.
"Kalau kau mau, kau bisa ajak sepupumu sekalian, biar aku bisa kenal lebih dekat dengan salah satu keluargamu juga." Goda perempuan ini, dia tersenyum cerah sambil menyuapi Arvin udang hasil kupasannya untuk balasan dari Arvin tadi.
"Dia bukan orang yang akan suka jalan-jalan jika memang tidak punya keperluan, jadi jangan berharap dengan harapanmu itu." Jawab Arvin.
'Yahh~ Padahal aku juga ingin agar aku terlihat dekat dengan Arvin di mata semua orang. Tapi sepertinya Arvin ini memang terlalu banyak menyembunyikan rahasianya.' pikirnya.
'Aku mana mungkin mau membawa Ashera pergi, kalau iya, yang ada aku pasti akan kena semprot marah lagi. Akhir-akhir ini dia terllau berisik, jadi aku lumayan kurang tahan dengan sikapnya itu.'
Maka dari itu, Arvin pun memutuskan untuk tetap ikut dan memilih untuk langsung menemani pacarnya yaitu Marlina untuk pergi jalan-jalan.
___________
"Cepat! Yao-ayo! Lebih cepat lagi! Arvin! Jangan sampai kalah ayo!" Teriak Marlina memberikan semangat kepada Arvin agar Arvin meraih kemenangan dalam perlombaan simulasi balap motor yang ada di lantai 6 tepatnya di Game Center.
"Wih~ Arvin, kau bisa-bisanya terus menang."
"Wah, ini sudah ketiga kalinya. Kalau seperti kita juga yang akan tekor."
"Yehe~ Siapa suruh menantang Arvin untuk balapan motor? Kan taruhannya jadinya aku terus yang menang." Ucap Marlina dengan cukup bangga, sebab berkat Arvin yang berhasil memenangkan permainan setiap ronde, Marlina mendapatkan uang taruhan dari kedua temannya itu.
__ADS_1
"Kita salah lawan." decih laki-laki ini, orang yang berani melawan Arvin untuk balapan motor dalam simulasi.
"Hahah, salahmu sendiri, kau tadinya meremehkannya kan? Sekarang karmamu jadinya kalah terus dengannya."
Kedua pria ini yang tidak lain adalah pacar dari mereka berdua akhirnya mempercayai kalau pacar Marlina ini bukan sekedar pacar bisa, sebab semua permainan yang coba mereka tantang, bisa Arvin kerjakan dengan cukup baik.
"Hmph, jadi kalian sadar kan, aku bukanlah orang yang bisa kalian anggap remeh hanya dengan melihat penampilannya saja." Sela Arvin, turun dari motornya.
"Ya, ya, kau memang cukup jenius. Lagian, kau juga ternyata seorang ketua dari kelompok seksi keamanan di sekolahmu. Jika seperti itu, berarti kau bisa bela diri dong."
"Oh iya ya. Berarti kau memang pasti jagonya bela diri kan?"
Arvin yang jelas tahu dengan pekerjaannya di sekolah, langsung angkat suara : "Memangnya dengan seseorang berhasil menjabat menjadi seksi keamanan, mereka harus bisa bela diri? Yang ada itu hanya untuk bersikap tegas." Ungkap Arvin, lantas ia pun meminum air yang di berikan oleh Marlina.
Mereka pun menganggu paham dengan penjelasan dari Arvin.
'Ternyata hanya jalan-jalan seperti ini, memang cukup kekanakan juga, aku sampai mau membuang waktuku untuk bermain di sini. Tapi bag-' Belum sempat selesai berpikir, tiba-tiba saja sudut matanya menemukan Ashera sedang bersilang tangan di depan dada, dan memandang ke arahnya dengan sorotan mata yang cukup tajam. 'A-Ashera?! Bagaimana dia bisa ada disini?'
"Hei Arvin, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Marlina, khawatir dengan Arvin yang tiba-tiba saja menghentikan mulutnya untuk minum, seolah Arvin baru saja seperti melihat sebuah penampakan.
"Iya, kau baik-baik saja kan?"
"Tampan-tampan, jangan sampai ternyata kau ini mudah sakit loh." Ungkap perempuan yang satunya lagi.
Begitulah, ketika Arvin sedang disudutkan dengan keberadaan Ashera, mereka malah mengira kalau Arvin sedang sakit.
__ADS_1