Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
107 : Pertolongan


__ADS_3

Jessie, orang yang barusan menghubungi Arvin karena permasalah yang dia temukan ketika dia berpatroli di tempat yang berbeda, kini, di depannya sudah ada dua perempuan dan tiga orang laki-laki terbaring di lantai.


Entah apa sebabnya, Jessie yang masih belum tahu penyebabnya, karena tidak mau mengambil kesimpulan sebelum Arvin datang, hanya bisa menunggu sambil mengecek kondisi dari mereka semua.


'Mereka masih bernafas, tapi apa yang membuatnya tidak sadarkan diri?' pikirJessie, dia saat ini berjongkok di depan tubuhnya Ashera yang kondisinya sama seperti ke empat orang lainnya. 'Ah, ada beberapa pukulan telak di sini, sini dan ini? Wah, siapa yang melakukannya?' pikirnya lagi.


Jika bukan karena dia melihat adanya bercak dari sisi pakaian yang ada noda kotor tanah, Jessie pun tidak kan bisa menyimpulkan akibat dari ketiga laki-laki itu terbaring di tanah.


Tapi, rupanya di satu sisi lain, keadaan kondisi dari Ashera yang di pikir Jessie terlihat baik-baik saja, rupanya hanyalah pikiran ringan belaka, setelah dia melihat adanya gips yang menggulung salah satu jari di tangan kirinya itu.


DRAP...DRAP....DRAP....


Sampai akhirnya, suara dari derap langkah kaki yang begitu cepat itu datang dan menghampiri Jessie.


"Jessie," panggil Arvin, dia langsung melirik tajam ke arah Jessie itu, sampai si empu sendiri, langsung berdiri dan menghadap ke arah Arvin yang baru saja sampai itu. 'Kenapa dia barusan berjongkok di depannya Ashera?' pikirnya.


Tapi, Arvin harus menyita segala pikiran tentang Ashera seorang, karena mau di lihat dari sudut manapun, lima orang di depannya itu harus Arvin tangani.


"Kau masih belum menyelidiki apa yang baru saja sudah terjadi di sini?" tanya arvin, sudut matanya ternyata tidak bisa dia rubah untuk tidak melirik ke arah seorang gadis yang terbaring di atas rumput itu.


Benar, walaupun pikirannya ingin menolak untuk tidak khawatir dengan perempuan bernama Ashera tersebut, rupanya itu adalah hal yang tidak bisa di sepelekan, sebab hatinya terus berkata untuk segera menolongnya.


"Sebenarnya belum, tapi dari gambaran kasarnya, mereka berlima baru saja bertengkar hebat. Lalu aku tidak sengaja menemukan ini," kata Jessie, dia pun mengeluarkan plastik kecil berwarna transparan yang menyimpan satu botol kaca kecil di dalamnya.

__ADS_1


Arvin langsung menghampiri Jessie dan merebut plastik pembungkus itu dari tangan Jessie.


Arvin memperhatikannya, dan segera memperhatikan kelima orang yang tergeletak di atas tanah itu.


"Karena di sekitar sini tidak ada CCTV, kita jadi tidak bisa menemukan bukti kuat apa yang sudah terjadi. Tapi untuk sekarang ini, pindahkan mereka ke ruang BK yang lama lewat jalan lain yang tidak bisa di lihat orang. Sisanya biar aku yang urus, kau hanya perlu menjaga mereka saja," perintah Arvin kepada Jessie.


Itu adalah solusi yang paling bagus, karena dengan begitu, tepat dimana mereka semua berhasil sadar, maka mereka akan bisa langsung di interogasi oleh guru BK.


"Ok, aku akan melakukannya, tapi-" melihat Arvin tiba-tiba saja berjongkok di depan Ashera, Jessie pun bertanya dengan raut muka penasarannya itu. "Mau kau bawa kemana, Ashera? Bukannya dia juga harus ikut juga untuk di bawa ke ruang BK?"


Mendengar Jessie bertanya, Arvin justru memberikan respon balik dengan sebuah pertanyaan, : "Apa kau ingin tahu apa yang akan aku lakukan padanya? Dan memberitahunya kepada teman-temanmu?"


Arvin sudah menggendong tubuh Ashera ala bridal, tapi begitu sudah di gendong, dia menunggu jawaban dari Jessie dengan sebuah jelingan yang cukup tajam.


Sebenarnya Jessie cukup penasaran dengan apa yang terjadi kepada Ashera juga, dan terutama kenapa Arvin mau menggendong orang yang bahkan tidak pernah terlihat berhubungan satu sama lain.


Tapi jika melihatnya dari apa yang sedang di lakukan oleh Arvin sekarang ini, dia pun sadar, kalau ada rahasia besar yang jelas di sembunyikan dengan rapi oleh mereka berdua.


'Aku penasaran, tapi jika aku ketahuan kalau aku bisa menyelidiki rahasia mereka berdua, aku bisa-bisa habis di tangannya Arvin.' kata hati Jessie, dia pun tidak ingin mengambil resiko tersebut, karena apapun yang keluar dari mulut Arvin, semuanya tidak pernah main-main.


Jika haru, maka harus terjadi, itulah sifat mutlak yang harus ada pada diri dari Bos mereka itu.


"..." terdiam sejenak setelah mendengar janji yang di ucapkan oleh Jessie, Arvin segera menyahutnya, "Aku harap kau menepati apa yang barusan kau jawab itu,"

__ADS_1


Dengan ekspresi wajahnya yang terlihat begitu datar dan dingin, Arvin akhirnya membawa Ashera pergi dengannya


TAP...TAP....TAP.....


Setelah kepergian dari mereka bertiga, Jessie pun kembali mengurus ke empat orang yang tergeletak di atas rerumputan itu.


"Itu, hendphone siapa?" gumam Jessie, melihat ada satu handphone berwarna pink yang tergeletak di bawah pohon rambutan.


Karena sempat tertutup dengan daun kering, pasti tidak akan ada orang yang akan menyadari keberadaannya jika matanya tidak jeli.


Tapi, karena Jessie sudah berhasil menemukan handphone yang kira-kira adalah milik dari Dini, dia pun segera mengambilnya.


Dan dengan sengaja, dia pun membuka apa yang ada di dalam handphone itu.


"...!" seketika itu juga, matanya langsung membulat lebar, saat melihat adanya video yang memperlihatkan Dini pernah pergi ke klub malam dan parahnya lagi sampai berpelukan dengan anak dari sekolah tetangga, lalu di bawa ke hotel.


Ada seseorang yang berhasil mengirimnya ke nomornya Dini, tapi Jessie dengan cepat langsung memindahkan beberapa dokumen penting itu ke komputer pribadi milik Arvin yanga ada di dalam markas mereka. Dengan begitu, jika urusan Arvin dengan Ashera sudah selesai, Arvin akan segera mengurusnya.


Yah, sebenarnya itu adalah senjata pamungkas untuk menjatuhkan Dini, akan tetapi sepertinya akan di telusuri dulu, agar tidak mengakibatkan kerugian dari beberapa pihak.


"Diam-diam ternyata memang menghanyutkan. Untung saja aku tidak jadi jatuh cinta pada perempuan seperti Dini ini. Tapi kira-kira siapa yang mengirim Video ini?" gerutu Jessie, sebagai pria yang pernah jatuh cinta tapi tidak pernah menyatakan perasaannya itu kepada Dini.


Karena ada banyak folder yang penting, dia pun dengan mudahnya membuka semua sistem keamanan yang mana setiap aplikasi akan di kunci, dan Jessie bisa masuk dan mencuri semua yang ada di dalam handphone itu sebagai senjatanya juga.

__ADS_1


"Wahaha, ternyata ada juga yang seperti ini? Kalau foto ini beredar, pasti satu sekolah akan heboh," ucap Jessie sekali lagi sambil melihat betapa vulgarnya melihat Dini sedang duduk di pangkuan laki-laki lain di salah satu pelosok tempat yang tidak jauh dari gang.


__ADS_2