
"Kalau aku bilang, aku pacarnya, gimana?"
DEG...!
Mereka bertiga sontak langsung terkejut.
"Dia kan seorang yang cukup playboy, tapi karena dia punya banyak pengalaman soal dekat dengan pasangannya, jadi aku ingin sekalian belajar juga darinya.
Cara yang cepat bukannya adalah belajar dari orangnya secara langsung, ya kan, Arvin?" jawab Ashera, dan Arvin yang menjadi objek percakapannya tadi, langsung memasang wajah paling dingin di dunia.
'Berani-beraninya, kau menjawab seperti itu kepada mereka berdua.' batin Arvin.
____________
30 menit kemudian, setelah Yuli dan Vian pulang, sekarang hanya tinggal mereka berdua yang ada di dalam kamar tersebut.
"Apaan-apaan dengan jawabanmu tadi? Lalu kenapa kau malah yang mengatur semua ini, apa tujuanmu, Hera? Kenapa kau yang malah keluar. Ada apa dengan Ashera?!" tegas Arvin, dia sangat kesal karena pertemuan tadi dalam posisi kendalinya Asherea.
Namun, asal tahu saja, perempuan yang ada di hadapannya Arvin kali ini bukanlah Ashera yang asli, melainkan lainnya Ashera yang bisa di sebut sebagai kepribadian ganda, dan nama dari perempuan yang kali ini sedang Arvin ajak bicara, adalah Hera itu sendiri.
Sisi Ashera yang kali ini, dominan cukup kuat, dan cukup percaya diri dalam semua keputusan serta tindakan yang di ambil.
Maka dari itu, Arvin pun jadi marah karena orang yang baru saja di ajak bicara oleh Yuli dan Vian, serta dirinya, ternyata bukanlah Ashera itu sendiri, melainkan Hera.
"Ei, sabar kenapa? Jika tidak sabar dan menekan emosimu dulu, aku tidak akan menjawab pertanyaanmu itu," ancam Hera kepada Arvin.
Dialah satu-satunya orang yang bisa mengancam Arvin dari segala situasi yang di buat oleh mereka sendiri.
__ADS_1
Arvin yang melihat Hera tersenyum penuh dengan kemenangan, sungguhlah memuakkan.
"Ayo, tenang dulu, sabar dulu ini dadamu, oi," ledek Hera sambil mengusap dadanya Arvin yang seolah di dalamnya ada arang yang sedang menyala.
GREPP ...
Tapi, Arvin yang memang tidak mudah untuk bisa bersikap tenang dalam beberapa detik itu, langsung mencengkram tangan kirinya Ashera dan segera membungkukkan tubuhnya ke arah Hera sambil berkata, "Katakan saja langsung, jangan buat aku menunggu, kenapa kau yang mengendalikan tubuhnya Ashera?"
Hera yang tidak kenal takut dengan ekspresi wajah Arvin yang sangat garang, justru meresponnya dengan senyumannya yang cukup lembut, lalu dengan susah payah, dia mengangkat tangan kanannya dan mengusap wajah dari suaminya itu.
"Aku hanya ingin mengamankan isi hatinya, dia masih cukup terluka, Arvin. Jika bukan karena kau yang bahkan tidak bisa menjaganya sama sekali dan hanya suka bermain dengan tubuh ini, maka aku tidak mungkin menggantikan posisinya," jawab Hera dengan jelas.
Semakin dekat wajah mereka berdua, semakin terasa pula deru nafas yang mereka buat untuk menerpa wajah mereka masing-masing.
"Kenapa? Apa kau sekarang takut? Karena akulah yang menguasai tubuh ini dan kau tidak bisa menyentuhnya lagi, hm?" tanya Ashera, dia malah dengan sengaja memprovokasi Arvin yang sudah naik darah itu.
"Sungguh, kau wanita licik,"
"Sampai kapan?" tanyanya.
"Entahlah, lagian ini kan salahmu sendiri. Jawaban yang kau berikan soal Ashera yang ternyata di tiduri olehmu waktu di bar itu, sebenarnya membuat hatinya kembali terluka.
Betapa cemasnya, takutnya, sekaligus marahnya dia kepada dirinya sendiri tapi juga kepadamu." ungkap Hera.
Arvin tersentak kaget, dia pikir kalau masalahnya sudah selesai, tapi ternyata sama sekali tidak.
Bahkan yang ada, justru membuat dia mendapatkan masalah yang baru.
__ADS_1
"Kau hanya mengandalkan emosimu saja, tanpa memperhatikan isi hati Ashera yang sebenarnya. Itulah alasan kenapa aku di sini, mengambil alih tubuhnya.
Jangka waktu yang tidak bisa di tentukan, bukannya ini menyenangkan?
Aku bisa bermain-main denganmu, seperti kau bermain-main dengan Ashera dibawah tekanan karena kau sering menakutinya. Ini akan jadi situasi yang sama-sama impas, Arvin." jelasnya lagi.
Menatap mata Arvin dalam kesunyian, Hera lantas menarik belakang lehernya Arvin.
Jarak yang terkikis karena dorongan dari niatnya Hera, perlahan membuat Arvin semakin larut dalam nuansa emosi yang tidak bisa dia artikan.
Dia kesal, tapi juga merasa tertantang.
Perasaan yang cukup bercampur aduk, membuat Arvin sendiri bingung, apakah dia harus senang karena bisa bertemu dengan Hera yang cukup menantang setiap kali bertemu, ataukah harus marah karena image nya langsung berbeda dan membuatnya akan terlihat aneh di depan orang lain yang jelas mengenal Ashera itu punya sifat yang seperti apa.
Namun, terlepas dari itu semua, kecenderungan Arvin yang tertarik pada kata-kata yang terus menyiratkan pertentangan padanya, membuat Arvin terlena.
Dia hanya diam, bahkan tidak bergerak sedikitpun saat Hera menarik tengkuknya ke arahnya, sampai sebuah kecupan mendarat di bibirnya.
CUP ...
Jika itu Ashera, maka perempuan itu tidak akan pernah menciumnya terlebih dahulu.
Tapi karena itu Hera, dia adalah sisi dari Ashera yang cukup bebas untuk melakukan apa yang di inginkan nya.
"Kenapa kau begitu dingin? Kau benar-benar marah?" tanya Hera, dia terheran dengan Arvin yang malah tidak merespon ciumannya. "Apa karena aku bukan Ashera?" tanyanya lagi.
Memejamkan matanya sejenak, Arvin benar-benar harus menghadapi Hera yang begitu banyak akal ini.
__ADS_1
"Memangnya apa yang akan aku dapatkan jika aku membalas ciumanmu?" tatap Arvin terhadap Hera.
Tatapan mata yang sangat menusuk, dan cukup membuat Hera jadi tersinggung detik itu juga.