Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
36 : Putus karena Ashera


__ADS_3

Dengan terus merangkak, Ashera mengingat ada tempat kecil yang digunakan untuk tempat penyimpanan alat-alat kebersihan, yang letaknya tepat di bawah tangga persis. Dengan keberanian yang tersisa, Ashera pun masuk kedalam sana.


KLEK......


Dengan kegelapan yang begitu mendominasi, Ashera pun merasa lebih nyaman untuk tinggal di tempat sempit itu, selain sedikit kedap suara, kegelapan itu seolah, justru adalah selimut untuk membuat matanya lebih tertutup rapat, dan akhirnya membuatnya tertidur, hingga suara dentuman yang cukup keras, datang juga. 


JDERR….


______________


Ingatan terakhir itu langsung menghantui dan menjadikan Ashera langsung berteriak kencang.


“Akhh!” Ashera yang tadi terlelap tidur, tiba-tiba langsung terlonjak berteriak terkejut. Keringat dingin bercucuran di wajah pucatnya, nafas yang begitu memburu disertai perasaan takut yang kembali muncul secara tiba-tiba, membawa Ashera terbangun juga. Dan matanya yang bergetar, menyelinap masuk ke dalam situasi yang tidak bisa Ashera pahami, ketika melihat mulutnya ternyata sedang disumpal dengan jari jemari milik seseorang yang langsung Ashera pahami, siapa orang ini, yaitu Arvin. “Apwa ywang andwha lwhakukan?” 


Arvin mengernyitkan matanya, melihat kedua jarinya memang benar-benar masuk kedalam mulut mungil milik Ashera. 


Wajah pucat, tatapan mata yang kebingungan dengan suara serak karena tersumpal dengan jari-jemarinya Arvin. Arvin, dia benar-benar melihat wajah bodoh dari gadis yang sedang bingung dengan apa yang sudah terjadi pada tubuhnya?


Kenapa?


‘Kenapa aku sampai mau melakukan ini?’ Arvin menatap kedua jarinya yang terbungkus dengan saputangan dan dimasukkan kedalam mulut itu lagi, mulut yang pernah Arvin jamah juga dalam kebersamaan yang sempat mereka berdua habiskan bersama. 


“Mulutmu itu terlalu berisik, makannya aku sumpal.” Jawab Arvin saat itu juga, tidak ingin memberikan Ashera berpikir yang tidak-tidak. 


‘Kalau berisik, seharusnya aku di sumpal saja dengan saputangan atau apapun, kenapa jarinya ikut masuk kedalam mulutku? Lalu di man ak-’ Hingga semua kalimat yang sempat Ashera pikirkan, tiba-tiba saja menghilang setelah tenggorokannya jadi merasakan aneh, dan akhirnya Ashera yang tidak kuat untuk menahan perasaan itu, langsung muali. “Hueekk, heukk..”


“Arvin! Keluarkan jarimu dari sana, dia langsung eneg dengan jarimu yang hampir masuk kedalam tenggorokannya.” Beritahu Vani, buru-buru mencengkram tangan Arvin untuk segera mengeluarkan jari tangan anak ini dari dalam mulutnya Ashera. 


“...” Arvin pun megeluarkan jarinya, dan akhirnya membiarkan Ashera yang masih merasa tidak nyaman di mulut dan tenggorokannya itu, mual-mual sendiri. 


“Huekk…, huekk…” 


Dan cairan berisi nasi yang entah sejak kapan Ashera merasa pernah makan mengisi perutnya, langsung keluar semua, termasuk dengan obat yang sempat sudah di minum Ashera tadi?

__ADS_1


Itu juga termasuk, karena Ashera merasa belum pernah makan obat lagi setelah obat pemberian dari Daseon beberapa jam yang lalu. 


‘Sejak kapan aku makan dan minum obat?’ Pikir Ashera, dia ada di dalam kebingungannya sendiri. 


Setelah selesai memuntahkan semua makanannya, Ashera buru-buru untuk turun.


“Kau mau kemana?” Tanya Vani, melihat pasiennya sendiri malah ingin turun. 


“Saya minta maaf, lantainya jadi kotor, saya akan segera membersihkannya.”  Jawab Ashera, tanpa dia ketahui, rasa sakit di punggung tangan kirinya, tiba-tiba langsung menjalar dan membuat Ashera tersadar kalau dia ternyata sedang di infus. 


“Apa kau sungguh mau membersihkan lantai di kondisimu seperti itu? Mau menyusahkan orang lain lagi?” Ucapan Arvin yang begitu menusuk hati Ashera, membuat Ashera sendiri jadi langsung terdiam. 


Dan Vani yang tidak ingin di kantornya adanya keributan, langsung menyela ucapannya. “Kau itu di sini pasienku, tidak perlu membersihkannya.” Kata Vani, mencoba menenangkan Ashera yang begitu merasa bersalah, juga ketakutan, apalagi dengan wajah pucat serta rahang yang terus gemetar. “Istirahat lagi, tubuhmu tidak memungkinkanmu untuk bergerak lebih dari bicara.” Imbuh Vani, mendorong pelan tubuh Ashera agar tidur lagi. Dan selagi itu pula, Vani pun memberikan beberapa lembar tisu untuk menyeka sudut bibir Ashera yang kotor itu. 


“T-tapi-”


“Dia bicara, kau dengarkan, itulah gunanya telinga, jadi turuti saja, jangan buat dia mengulangi perkataanya lagi.” Sela Arvin, mendelik tajam Ashera yang sedang ragu-ragu menerima kebaikan yang dilakukan oleh Vani kepada Ashera sendiri.


“Apa ucapanmu bisa di filter dulu?” Protes Vani, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Ashera. 


Dan- Ashera pun merasa sedikit ragu dengan hubungan antara perempuan dengan jas dokter ini dengan Arvin itu sendiri, terlihat begitu dekat.


Arvin bersilang tangan di depan dada dan mendengus kesal sambil berkata : “Kenapa aku memfilter ucapanku, padahal aku memberikan dia peringatan sesuai dengan standar agar bisa di nalar dengan otak, ya kan?”


JLEB…


“Maaf~” Ashera yang tidak ingin membuat pembicaraan tidak mengenakkan dari Arvin itu berbuah panjang, Ashera memilih untuk mengalah saja. 


Vani sesaat melirik ke arah Ashera yang terlihat takut-takut tapi ada sedikit keberanian di mata yang begitu sayu itu, sampai wajah pucat itu langsung ditutup dengan baik oleh selimut yang ditarik langsung ke atas, sampai menutupi seluruh tubuh.


‘Padahal aku tadi awalnya pura-pura tidur, tapi kenapa jadi tidur beneran? Dan tadi? Kenapa mulutku disumpal dengan kedua jari tangannya?’ Ashera pun jadi di buat bergidik ngeri, karena sebelum ini, mulutnya juga pernah dipermainkan seperti itu di pagi itu, sangat menyiksanya, sampai ia tidak tahan dan akhirnya membuatnya mual lalu muntah. 


Dan tidak sampai satu menit kemudian, ada seorang OB alias pembantu yang sudah siap dengan ember dan lap pel untuk membersihkan lantai kotor itu. 

__ADS_1


‘Ihh! Baunya, kenapa aku juga yang harus repot dengan muntahan yang menjijikan ini?’ Pikir perempuan ini, mencoba membersihkan lantai yang diakibatkan dari Ashera yang muntah itu. 


“Kau istirahat saja di sini, jangan keluyuran buat orang repot.” Kata Arvin, sebelum dia memutuskan untuk pergi dari sana, sebab bau tak sedap yang menyeruak memenuhi ruangan itu. 


“Iya.” Jawab Ashera singkat.


Karena melihat Arvin akan pergi dari sana, Vani pun memutuskan untuk keluar dari sana juga, karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan nya dengan Arvin. 


KLEK…


‘Nona dan Tuan itu sudah pergi.’ Lirik pelayan ini, melihat kedua orang itu pergi, pelayan ini akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Lantas, dia pun mulai mengusik Ashera yang sedang tiduran itu. “Hei, kau kan yang membuat lantai ruang kerja Nona jadi kotor?” Mengguncang-guncang tubuh Ashera, sehingga Ashera pun merasa terganggu juga. “Bangun.” 


“Apaan sih?” Karena Arvin dan Vani sudah pergi dari sana, Ashera pun memunculkan sifat miliknya. 


“Bersihin ini, ini kan ulahmu.”


“Bukannya itu tugasmu?” tanya balik Ashera. 


“Ini menjijikan, cepat, kau yang bersihkan muntahanmu.” Pelayan ini pun mencoba memaksa Ashera untuk membersihkan lantai itu sendiri. 


“Kalau menjijikan kan seharusnya kau tidak bekerja sebagai pelayan.” Balas Ashera, membuat darah dari pelayan norak di depannya itu semakin tinggi, alias kesal. 


“Kau ini, cepat bersihkan ini, atau aku akan membuatmu menyesali perbuatanmu yang menolakku.” Tegas perempuan ini terhadap Ashera.


“Menyesali apa sih? Jangan ganggu aku.” Tolak Ashera. Sampai di saat tangannya berusaha untuk dia dekap sendiri karena dingin, pelayan ini malah terus berusaha untuk meraih tangannya dan memegang alat pel nya. 


“Oh begitu ya? Jadi kau tidak mau ya? Kalau begitu ini, rasakan ini…kau akan menyesal karena menolak ucapanku dasar wanita penggoda.” Dan dengan begitu kasarnya, pelayan ini malah memberikan alat pel bagian bawah yang sudah terkena kotoran dari muntahan Ashera ke tubuh Ashera sendiri. 


“Akhh.., itu kotor, jangan..!” Rintih Ashera, mualnya jadi langsung kambuh lagi karena aroma tidak sedap itu malah sekarang ada di tubuhnya, gara-gara alat pel itu terus digunakan sebagai serangan ampuh untuk membuat Ashera menerima serangan dari pelayan itu sendiri. 


Sehingga, tubuh dan wajahnya pun jadi kotor, benar-benar kotor dengan entah semua campuran makanan yang Ashera makan, malah sudah seperti di guyur ke tubuhnya itu. 


“Heukk…”

__ADS_1


“Hei, jangan pura-pura sakit, dasar ja*ang, pasti karenamu makannya Nona ku jadi putus dengan pacarnya. Ha, ya kan, ngaku saja.” Oceh pelayan ini, begitu geram, karena ia tahu kalau Nona majikan yang dia layani itu sempat pacaran dengan Arvin, tapi karena tiba-tiba putus, dan di malam seperti ini Arvin datang bersama dengan perempuan lain, maka hal itulah yang menjadi pemicu dirinya sangat membenci Ashera yang terlihat berpura–pura berbaring sakit.


__ADS_2