
Tepat di jam tiga malam, Arvin yang belum pulang itu, membuat Ashera yang sudah tertidur di dalam kamar sendirian penuh dengan nostalgia paling kejam, tiba-tiba dia mengerang mendapatkan mimpi yang cukup buruk.
"Kau! Aku tidak ma ahh~" ronta Ashera. Mimpinya itu membuat dirinya mengigau, sampai tubuhnya berkeringat dingin, dan kedua tangannya pun mencengkram dengan kuat sprei berwarna biru muda itu.
Seprei yang tadinya rapi, sekarang benar-benar sudah cukup kusut, bahkan sampai kedua ujung dari selimut itu lepas dari bawah sudut kasur.
"Aku tidak mau, tidak...hahh..hah..., tunggu!" racau Ashera, sampai dia menggertakkan giginya, karena saking tidak tahan dengan alam mimpi yang sedang melanda alam bawah sadarnya itu.
Malam yang cukup dingin, membawa Ashera masuk dalam mimpi paling kejam. Menurutnya memang seperti itu, karena didalam mimpi tersebut, dia kembali ke masa-masa silam paling hitam, ketika dia harus melepaskan kesuciannya kepada seorang laki-laki yang tidak lain adalah Arvin.
Ashera yang pada dasarnya belum pernah tidur kembali di tempat tidur itu, karena selama beberapa hari ini dirinya tidur di sofa yang bisa di rubah menjadi tempat tidur, begitu dia tidak sengaja melepas rasa penat dan kesalnya dengan langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur, itulah yang dia dapatkan.
___________
Esok harinya.
Pagi yang begitu cerah itu berhasil mengusik keberadaan dari Arvin yang sudah berbaring tidur dalam posisi telungkup di atas tempat tidurnya sendiri.
Tentu, dengan aroma alkohol yang menyeruak memenuhi kamarnya sendiri, hal itu pun menjadi bukti kalau Arvin baru saja minum alkohol.
TOK....
TOK...
KWAK...
"Uhm....berisik sekali," gerutu Arvin, mendengar suara seekor burung.
Arvin yang sudah mulai terusik dengan suara itu pun akhirnya membuat ia merubah posisi tubuhnya jadi miring ke kanan.
KWAKK...
TOK...
TOK...
Seekor burung gagak terus mengetuk permukaan kaca jendela dengan paruhnya, hal itu pula yang membuat Arvin terus terusik dengan suara yang cukup berisik itu.
Arvin yang sudah kesal dengan suara itu, seketika langsung meraba kasurnya, dan ketika dia mendapatkan sabuk celana yang hampir jatuh itu, dia dengan sengaja langsung melemparnya ke arah jendela.
BRAK
Suara yang cukup keras itu berhasil mengagetkan burung tersebut.
__ADS_1
KWAKK!
Burung gagak itu seketika pergi terbang kocar kacir karena kaget. Tapi hal itu juga, di susul oleh Arvin yang akhirnya memutuskan untuk bangun juga.
"Ah, kepalaku pusing sekali," gumam Arvin, memegang kepalanya yang terasa pusing itu, karena dia semalam sempat minum alkohol. Gara-gara dia bosan, dan ingin punya semacam pelampiasan. "Jam berapa ini?" tanya Arvin, dia samar-samar melihat ke arah jam dinding.
Tapi karena rasa pusing yang masih mendera isi kepalanya, dia pun jadi tidak bisa melihatnya dengan jelas, selain ingin minum lebih dulu.
Tapi, air yang biasanya penuh di dalam teko, rupanya bahkan teko itu tidak ada di atas nakas.
"Hah, ingin minum saja jadi susah. Repot-repot harus turun," gerutu Arvin, dia masih tidak puas hati saja, sebab dia terpaksa harus turun ke lantai satu.
Arvin akhirnya turun juga dari tempat tidurnya, dan karena kebiasaannya yang tidur tanpa menggunakan pakaian kecuali celana boxer, dia pun hanya berpenampilan seperti itu.
Setelah turun dan minum air, dia yang janggal dengan keheningan di dalam rumahnya itu, tanpa sengaja sudut matanya jadi langsung melihat ke arah daun pintu yang terletak tidak jauh dari TV, kamar yang di huni oleh Ashera.
"Biasanya pagi-pagi sebelum jam lima, dia selalu bangun dan membangunkanku? Apa dia masih marah karena yang terjadi malam tadi?" ucap Arvin pada dirinya sendiri.
Karena merasa aneh saja, Ashera belum kunjung bangun juga, padahal jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, tanpa sungkan Arvin segera pergi untuk menilik Istrinya itu.
Ya, walaupun awalnya ia tidak suka dengan keberadaan dari Ashera itu, sebab dirasa sudah merebut masa mudanya juga, karena sampai harus membuatnya menikah muda, tapi sekarang dia perlahan sudah mulau sedikit mengerti, memakluminya, dan mencoba menghargainya?
'Entahlah, aku hanya coba-coba saja dulu mengikuti kata hatiku,' pikir Arvin.
Begitu Arvin masuk, dia justru melihat satu orang yang benar-benar masih terlelap tidur.
Namun, dengan penampilan acak-acakan, sampai ternyata Ashera masih memakai jubah mandi dalam tidurnya, hingga penampilan kacau itu membuat kedua sisi dari handuk tersebut tidak tertutup dengan benar, Arvin pun diam-diam menatapnya dengan cukup lekat.
'Dia, kenapa kelihatan menggoda sekali?' detik hati Arvin, apalagi saat ini masih pagi, dan dirinya baru bangun, sejujurnya saudara kecilnya pun sudah bangun dari awal juga.
Refleks, karena dia penasaran, Arvin pun berjongkok dan menatap dengan lekat wajah polos Ashera. Di situ dia akhirnya jadi terbayang dengan ekspresi terakhir kali saat dirinya berhasil menidurinya.
kilatan dari ingatan itu membuat Arvin jadi semakin spontan dalam menonton Ashera yang sedang tertidur itu.
"Angh~ Berhenti, tidak..ah! Sakit, jangan..jangan! Jangan di keluarkan!"
Suara des*ahan yang cukup erotis dengan berbagai kalimat yang begitu menyinggung Arvin detik itu juga, sontak membuat sudut bibirnya tiba-tiba saja mengembang.
Hanya saja, sekarang kenapa dirinya melihat ekspresi wajah Ashera yang kelihatannya cukup tersiksa?
Itulah yang membuat Arvin tiba-tiba saja mengernyitkan matanya.
'Kenapa tidur saja dia sampai mengerutkan keningnya?' batin Arvin, ujung jarinya pun menyentuh keningnya Ashera.
__ADS_1
Rasa panas yang cukup menyita benak hatinya, sontak langsung membuat Arvin punya pendapat sendiri, kalau Ashera sedang demam?
'Sebentar, dia demam? Apa karena masuk angin gara-gara aku membawanya keluar malam-malam, sekarang dia baru mendapatkan imbasnya?' Arvin yang sedikit cemas itu, mencoba mengecek kembali dahinya Ashera. Dan seperti percobaan yang pertama, dia pun masih mendapatkan hal yang sama, di mana dia merasakan telapak tangannya yang cukup panas, akibat dari demam yang sedang di rasakan oleh Ashera ini.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ashera secara tiba-tiba, saat melihat wajah Arvin yang sudah ada di depan matanya, ketika dirinya bangun tidur.
"Kau demam,"
Ashera yang bingung itu, buru-buru menyentuh dahi dan lehernya, dia merasakan tubuhnya cukup panas, tapi meskipun begitu, dirinya justru merasa kedinginan.
"Aku akan minum obat, jadi sil-" begitu Ashera memposisikan tubuhnya untuk duduk, seketika matanya membelalak cukup lebar, saat melihat Arvin yang baru saja berdiri itu terlihat seperti orang yang akan menerkamnya lagi.
Dengan penampilan separuh telanjang selain hanya menggunakan boxer saja, dan apalagi ada menara yang sudah berdiri tegang di depannya, Ashera sontak langsung jadi mundur.
"A-apa yang mau kau lakukan?!" teriak Ashera dengan spontan, karena saking takutnya dengan sosok dari Arvin saat ini yang begitu menguji nyalinya yang masih trauma dengan apa yang terjadi terakhir kali waktu itu.
"Aku kan hanya berdiri saja, memangnya apa yang mau aku lakukan?" tanya Arvin belum mengerti situasi yang di maksud oleh Ashera yang sebenarnya baru pertama kalinya melihat Arvin bertelanjang dada di depannya persis secara terang-terangan seperti itu.
"T-tapi i-itu...itu, kenapa berdiri coba? Kau mau apa dengan itumu?! Pergi dari sini!" tunjuk Ashera pada satu aset di balik celana boxer yang di pakai oleh Arvin.
Arvin yang terdiam itu tentu saja langsung melirik ke arah bawah, dan rupanya Ashera benar-benar memperhatikan dengan penuh semangat aset tersembunyi yang di miliki oleh Arvin.
"Kenapa kau tidak keluar dari sini?! Pergi!" Ashera yang cemas dengan keberadaan dari Arvin yang berada di kamarnya, segera mengambil bantal dan turun kemudian memukul Arvin dengan bantal tersebut dengan begitu semangat. "Arvin, pergi!" pekik Ashera.
"Ah, kasarnya. Jangan GR juga, aku tidak mungkin melakukan itu pada istriku yang bahkan sedang demam, memangnya kau pikir aku ini laki-laki macam apa?" protes Arvin, tapi dengan sengaja dia pun menyebutkan panggilan Istri kepada Ashera, yang lagi-lagi membuat Ashera kembali tercengang.
"Sejak kapan kau menganggapku sebagai Istrimu? Jangan menggodaku lagi, cepat san- ahh!" belum selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan, Ashera langsung berteriak merintih kesakitan, gara-gara salah satu jarinya yang begitu sakit serta ngilu yang cukup luar biasa.
Makannya, pukulan dari bantal yang di lakukan oleh Ashera ini langsung terhenti dengan menjatuhkan bantalnya dan segera melihat ke arah salah satu jari dari tangan kirinya yang ternyata di gips.
"A-Arvin, kenapa jariku seperti ini? Apa kau bisa menjelaskan ini?! Kenapa rasanya sakit! H-hiks...huwaa...sakit, rasanya mati rasa, ini sakit sekali!" racau Ashera secara tiba-tiba, tanpa memperdulikan lagi penampilannya yang sebenarnya sudah cukup acak-acakan, sampai kedua sisi dari handuk kimono yang di pakai oleh Ashera itu sudah terbuka lebar, dan memperlihatkan tubuhnya yang sudah separuh telanjang, dengan keadaan dimana Ashera hanya memakai CD di balik handuk kimono tersebut, Arvin pun jadi di buat bingung dengan hal tersebut.
Arvin di satu sisi cukup terkejut juga dengan penampilan menggoda itu, tapi di satu sisi lagi dia tiba-tiba jadi merasa khawatir dengan kondisi dari Ashera yang sudah menangis karena sakit di jarinya yang patah tulang itu.
"I-ini sakit sekali, hiks...hiks....huhuhu..." Ashera kini benar-benar menangis kejer, sampai sesenggukan, Arvin pun jadi tidak tega melihat Ashera yang nampak pasrah karena tidak bisa melakukan apapun selain meracau dalam tangisannya itu.
"Tahan dulu, aku punya obat bius," Arvin yang punya kotak obat cukup lengkap itu, langsung pergi dari sana dan mengambil perlengkapan untuk menangani masalahnya Ashera.
Begitu sudah mendapatkannya, Arvin pun segera menyuntikkan sedikit obat bius di beberapa titik di tangan kirinya Ashera, dan tidak lama setelah itu, Ashera yang tadinya terlihat takut dan merasa tersiksa dengan rasa sakit itu, langsung terdiam saat rasa sakitnya mereda.
"Sudah, apa kau mau ke dokter? Biar aku antar kau," kata Arvin, masih serius merapikan perlengkapan P3K nya, untuk di masukkan kedalam kotak obat.
"I-iya. Walaupun sudah tidak sakit, gara-gara obat bius, tapi nanti pasti kambuh lagi. Apa kau bisa mengatakan kenapa jariku bisa patah seperti ini? Perasaan aku tidak melakukan apapun," ucap Ashera menuntut penjelasan kepada Arvin yang sudah pasti adalah saksi juga.
__ADS_1
Hanya saja, begitu Arvin mendengar pertanyaan dari Ashera dengan pertanyaan sedemikian begitu, Arvin pun jadi melongo. 'Jangan-jangan kepribadiannya sudah kembali ke seperti yang dulu lagi?'