
Sedangkan di dalam sebuah kamar mewah itu, terlihat dua orang sedang bergelut di atas tempat tidur.
Kamar itu sebenarnya memiliki beberapa Ac, bahkan sudah di tempatkan dalam temperatur yang cukup dingin.
Namun, bukan berarti suhu dingin akan membuat si penghuni kamar itu akan merasakan kedinginan bagai di kutub, itu adalah ekspektasi yang sangat berjauhan dengan kenyataan yang sebenarnya.
Akibat dari olahraga yang sedang mereka berdua lakukan, hal itu tidak menyulitkan kulit mereka berdua untuk menghasilkan keringat yang cukup banyak.
Dan akibat dari pergulatan mereka berdua lah, Ashera yang sudah cukup kelelahan itu akhirnya merintih ingin berhenti. "Hahh...hah...hah..., a-aku mohon, aku sud-"
"Hachumm!"
Tapi bahkan ketika keinginan hatinya sedang di ucapkan kepada Arvin, di tengah-tengah Arvin sedang bercocok tanam kepadanya, tiba-tiba saja dia malah bersin dengan keras, membuat Ashera sontak langsung membelalakkan matanya sambil mengerang sakit.
'Kenapa harus bersin?' tanya Ashera dengan tenaga benar-benar sudah terkuras habis gara-gara Arvin. 'I-ini benar-benar sakit, apa dia tidak bisa mengatur ukurannya sendri? Ukh...! AKu tidak tahan lagi, ini terlalu sesak.' ungkap Ashera dalam hatinya.
Sedangkan Arvin yang tidak menyadari dengan ukurannya sendiri, hanya menggerutu dalam hati dengan prasangka buruknya, 'Jangan-jangan ada yang sedang membicarakanku?' kata hati Arvin, merasa curiga dengan bersin tadi.
Karena merasa gatal, Arvin pun mengusap hidungnya lagi, agar setidaknya jangan bersin lagi, karena mengganggu olahraganya.
"Ukhh..., Arvin lepas, lepas itumu," pinta Ashera sambil memejamkan matanya, sebab dia benar-benar tidak menyangka kalau dirinya malah harus berbagi ranjang dengan arti yang sebenarnya.
"Ha? Kau menyuruhku berhenti? Aku itu masih belum selesai, bahkan ini masih separuh jalan," kernyit Arvin, tidak sadar kalau miliknya sedang berada di posisi membuat Ashera semakin gila sendiri, karena tak kuasa menahan sensasi aneh yang terus memuncak, maka dari itu Ashera pun terus memejamkan matanya sambil mencengkram kain seprei yang bahkan sudah benar-benar kusut sampai sudah tidak berada di posisinya lagi, karena sudah terlepas dari tempatnya.
"T-terus kapan selesainya? Aku sudah lelah," tutur Ashera dengan gamblang.
'Polos sekali dia tanya.' pikir Arvin. 'Bahkan sekalipun kau pingsan, aku tidak peduli juga kalau aku akan terus melanjutkannya.' pikirnya lagi, ujung lidahnya pun tiba-tiba saja menjilat bibirnya, dan membuat Ashera semakin panik, di saat sela-sela dia tengah mengintip dan melihat niat terselubung milik Arvin tiba-tiba saja jadi terlintas di benaknya. "Selesainya saat aku sudah kenyang,"
Ashera langsung membelalakkan matanya, 'Terus, kenyangnya sampai seberapa lama lagi?' batin Ashera, dia pun jadi semakin gelisah.
__ADS_1
"Kau hnaya perlu tahan ini-" Arvin yang tiba-tiba saja membungkukkan tubuhnya ke arah Ashera yang sedang berbaring menghadap ke arahnya, ujung jari tangan kanannya menunjuk ke arah kepalanya Ashera. "Ini-" menunjuk ke arah perut, "Serta ini-"
dan yang terakhir kali, Arvin pun menyentuh pangkal paha yang sudah Arvin masuki itu dengan ujung jarinya.
"Mental, tenaga, dan kakimu, tahan ketiga itu, maka kau tidak akan terlalu lelah, karena akulah yang akan mengurus tempat ini," masih belum selesai bicara, Arvin kembali menunjuk pangkal pahanya Ashera dan menyusuri tubuh Ashera sampai ke atas, " Sampai ke titik ini," imbuh Arvin, menjelaskan kalau dialah yang akan mengurus soal mendapatkan kesenangan sampai titik puncak untuk mereka berdua sendirian saja, sedangkan Ashera hanya tinggal menikmatinya saja.
Ashera yang mendengar pengakuan Arvin soal pekerjaannya yang benar-benar berat itu, membuat Ashera seketika langsung tersipu malu.
Bagaimana bisa Arvin mengatakan hal seperti itu secara terang-terangan, menandakan kalau anak di atasnya itu adalah orang yang lebih tahu segalanya soal permainan orang dewasa?
Sejak kapan Arvin memulainya, banyak sekali pertanyaan yang terlintas di dalam benar hati Ashera.
Tapi karena tidak mungkin dirinya bertanya secara terang-terangan di tengah mereka berdua melakukan itu, Ashera pun hanya diam.
"Apa kau sek- hachumm!" Arvin yang tiba-tiba saja kembali di buat bersin, seketika secara refleks di dalam sana, mereka berdua malah saling menghimpit lebih kasar satu sama lain lagi.
'Sebenarnya miliknya itu terbuat dari apa? Kenapa setiap kali bersin, malah jadi semakin besar?' kata hati Ashera, menatap wajah Arvin dengan tatapan horor.
'Seberapa kuat dia menahan ototnya sampai seperti ini? Apa dia mau memotong milikku? Ini benar-benar sangat ketat. Padahal biasanya jika sekali sudah pernah di gunakan, pasti akan sedikit longgar, tapi apa-apaan dengan milik Ashera ini? Dia membuatku benar-benar jadi orang gila.' racau Arvin dalam hati, sembari menyibak rambut serabainya yang menghalangi pandangannya itu dengan jari-jari tangannya.
Sehingga, dalam sekali sisir itu, di mata Ashera pun semakin melihat kalau penampilan Arvin yang di banjiri keringat, apalagi sampai ke rambutnya itu, membuat sosok dari anak itu semakin seperti Iblis yang sedang berwujud manusia, dan diam-diam tengah menggoda mangsanya.
'Dia memang orang aneh, dengan penampilannya itu, dia seharusnya sudah menjadi orang yang lebih tidak bisa di kendalikan, karena lebih cocok dengan perempuan yang lebih cantik dan seksi daripadaku.
Tapi kenapa aku malah bersyukur kalau anak dari majikanku sendiri malah jadi milikku?
Sudah seberapa serakah aku jadi seorang manusia yang tadinya hanya di posisi pelayan tapi jadi seorang yang malah menempati posisi di sebelah Arvin dengan hubungan yang sudah sah?' tidak tahu dengan jalan pikirannya sendiri, serta pikiran dari anak di atasnya yang sedang mengatur nafasnya lebih dulu sebelum melanjutkan pekerjaannya, Ashera pun diam membisu untuk beberapa waktu, sampai di waktu berikutnya, mulutnya pun bertanya. "Kenapa?"
"Hah? Apa yang sedang kau tanyakan itu?" tanya Arvin balik dengan nada ketus, bahkan delikan matanya yang cukup tajam itu, tidak membuat Arvin terlihat orang yang bisa di ajak bicara baik-baik.
__ADS_1
Sangat ketus, bahkan nadanya yang tegas, sangat terasa untuk beberapa alasan, kalau Arvin sedang kesal, lelah, serta sedang berusaha menghilangkan stresnya sendiri.
"Kenapa kau mau melakukannya denganku?"
"Ashera! Kau benar-benar ingin mengujiku ya?" balas Arvin, menahan emosinya sendiri karena pertanyaan yang Arvin dengar itu terasa cukup konyol, seakan gadis yang ada di bawahnya itu adalah gadis terbodoh yang pernah ada.
Ashera yang terkejut dengan bentakkannya Arvin, langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan ia berusaha untuk mengendalikan mentalnya yang mana nyalinya tiba-tiba saja jadi ciut, dan bahkan setipis benang.
Arvin yang tidak mendapatkan tanggapan berarti dari Ashera, dia pun menatap terus Ashera dengan cukup tajam, dan berbicara dengan nada angkuh: "Entah apapun yang aku lakukan, tidak di anggap melanggar aturan. Aku tidak perlu pergi keluar mencari perempuan lain dan membuang uang untuk membayar mereka, lalu satu lagi, kau bisa di manfaatkan dengan cukup baik jika aku sedang lapar. Apa kau masih perlu penjelasan yang lain?"
Ashera yang merasa kalau ucapannya Arvin sudah cukup jelas, dia pun segera menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau kau sudah paham, berarti kita lanjutkan," ucap Arvin tanpa tahu malu.
Ashera yang hanya diam membisu itu, seketika langsung di sentak oleh gerakannya Arvin, dan saat itu pula suara desa*han yang cukup menggoda, membuat Arvin merasa baru saja di berikan pemicu yang sangat besar.
'Ini kedua kalinya dalam bulan ini, apa jika aku melakukannya tanpa pengaman lagi, dia akan hamil? Tapi aku sudah mempersiapkan obat kontrasepsi, jadi seharusnya tidak masalah.
Tidak masalah juga, jika aku harus menggunakan pengaman, tapi sayangnya, dia yang punya rumah yang berbeda dengan yang lain, membuatku ingin melakukannya secara langsung.
Tch, bahkan aku sampai ketagihan. Walaupun dia saat ini tampangnya cukup polos, tapi bukan berarti tubuhnya lemah, dia yang masih menyisakan demam, ternyata masih bisa tahan sampai satu jam ini.
Jangan hilangkan kesempatanmu, Arvin. Lakukan sampai kau puas, ya..., berikan kepuasan sampai titik tenaga terakhir.'
Dari situlah, kamar itu pun terus di pengaruhi raungan tak jelas dari dua orang yang terus bergelut untuk mendapatkan kemenangan mereka sendiri.
Sedangkan Daseon, dia yang tidak memperdulikan apa yang sedang di lakukan oleh dua anak muda itu, memilih untuk main game VR.
__ADS_1