Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
164 : Tumbal Pagi Hari


__ADS_3

DRRTT.....


DRRTT....


Pagi yang seharusnya menjadi pagi yang tenang, di dam rasa lelahnya itu, tiba-tiba saja Arvin harus mendapatkan gangguan dari handphone nya sendiri yang terus berdering itu.


'Siapa sih malam-malam begini, terus meneleponku? Apa dia tidak punya otak, lagi lelah, tapi harus di ganggu seperti ini.' Arvin terus menggerutu kesal dengan suara dering dari handphone nya yang cukup mengganggu itu.


Dengan begitu malasnya, Arvin yang memang benar-benar dalam kondisi yang cukup lelah karena banyak olahraga itu, langsung mencari-cari handphone nya.


Tapi, bukannya di angkat, begitu dia sudah menemukan handphone nya yang dia letakkan di atas nakas, Arvin malah mematikannya dan langsung menyimpannya di dalam laci.


"Menggaggu.' keluh Arvin, matanya kembali terpejam, dan dia pun kembali tidur dengan masuk kedalam selimut, sampai seluruh tubuhnya itu tertutup dengan sempurna.


Tapi karena kebetulan juga salah satu tangannya itu merasakan adanya kulit lain yang terasa hangat, dengan segera Arvin langsung menangkap sosok dari seseorang yang memang tertidur di sebelahnya persis, dan segera memeluknya.


Ashera yang tiba-tiba saja merasa kalau tubuhnya di seret ke belakang, seketika langsung terbangun.


"Tangan siapa ini?" gumam Ashera, dia masih separuh sadar, sehingga tangannya pun berusaha untuk meraba tangan siapa, yang ada di depan perutnya itu?


Dan begitu Ashera menoleh ke belakang, saat itulah mata Ashera langsung membulat dengan cukup sempurna.


"Apaan sih, gerak terus? Kau masih ingin menggod-" Arvin langsung menutup telinganya.

__ADS_1


"Akkhh...!" dan suara milik Ashera yang begitu melengking itu benar-benar membuat Arvin kehilangan kantuknya.


"Kenapa kau berteriak?!" pekik Arvin.


"Kenapa kau ada di sini?!" Ashera yang terkejut dengan keberadaan dari Arvin yang benar-benar tidur di belakangnya persis itu, refleks saja kedua kakinya langsung menendang tubuh Arvin sampai Arvin langsung jatuh dari tempat tidurnya.


BRUKK...


'Hah?!' Ashera yang tidak tahu kalau ternyata tenaganya begitu kuat untuk menendang tubuh Arvin sampai terjatuh, sontak jadi melongo. 'Kenapa aku bisa membuat dia jatuh dari tempat tidur? Bukannya badannya itu gede?' T-tapi, aku menendang tubuhnya, b-bagaimana ini? Dia akan apakan aku?' cemas Ashera dengan Arvin ini.


Sedangkan Arvin yang sudah terdiam membisu dengan tubuhnya yang baru saja di tendang keras oleh Ashera, dengan cepat dia langsung berdiri.


"Ashera, kau berani sekali! Aku ini tidur di sini itu karena aku baru saja menidurimu, tapi kau-" tidak bisa berkata lebih banyak dari apa yang bisa Arvin lakukan, Arvin lebih memilih untuk langsung kembali naik ke atas tempat tidur dan segera memberikan pelajaran kepada Ashera.


Ashera yang kehabisan kata-kata saat Arvin bicara dengan terus terang, seketika jadi terdiam, begitu Arvin tiba-tiba saja langsung melompat ke arahnya seperti seekor katak.


Kepadanya?


"Ar-mph..!" Sampai Ashera yang hendak angkat suara itu, mulutnya seketika di bungkam dengan bibirnya Arvin.


"Kau tanggung sendiri, inilah akibatnya jika kau bahkan melupakan apa yang terjadi malam tadi," kata Arvin lagi, dan begitulah, Ashera yang bahkan tidak di berikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya, seketika bibirnya kembali menjadi tumbal untuk Arvin.


'Apa dia tidak lelah? Aku saja masih sangat lelah, a-aku salah pilih seseorang! Dia hewan buas!’ pekik Ashera dalam benaknya. 

__ADS_1


Dan tanpa ampun lagi, kedua tangannya pun kembali di cengkram, dan dalam keadaan dimana mereka berdua tanpa busana, Arvin yang nampak benar-benar ingin memberikan Ashera sebuah hukuman, sebab sudah menendangnya dari tempat tidurnya, pada akhirnya Arvin pun melampiaskan rasa kesalnya dengan rasa nyaman yang bisa dia dapatkan jika dia melakukannya berdua dengan seorang perempuan, dan pagi itu pun Arvin melakukannya dengan Ashera lagi, lagi dan lagi. 


Tidak peduli bahkan ketika Ashera kembali meneteskan air matanya lagi karena rasa sakit yang di dapatkannya gara-gara Arvin, Arvin pun terus melanjutkan perbuatannya itu sampai dia kembali kelelahan. 


‘Di luar dugaan, dia memang enak.’ detik hati Arvin, menatap wajah penat milik Ashera dengan begitu intens dan lidah yang tiba-tiba saja menjilati bibirnya.  


_____________


“Aish.., kenapa dia tidak mengangkatnya? Parahnya lagi dia malah sudah tidak bisa di hubungi lagi.” ucap Alfian, dialah orang yang baru saja menghubungi Arvin, tapi bukannya bisa di angkat, sekarang dia malah mendapati nomornya Arvin yang sudah tidak bisa di hubungi lagi. “Padahal aku pikir jika bisa menghubungi anak itu, liburan kita bisa lebih seru. Tapi hasilnya bahkan di luar ekspektasi.” gerutu Alfian. 


Yuli yang sebenarnya sudah memiliki persiapan penuh dengan penampilannya, sebab mereka bertiga akan pergi ke taman bermain, hanya bisa mendengus kesal sambil menyipitkan matanya. “Dia pasti sedang sibuk kencan dengan kak Vani, tidak usah mengganggunya. 


Ganggu saja dia saat kita kembali masuk ke sekolah, atau bermain ke rumahnya, itu lebih baik. Ini itu liburan kita, jangan sia-siakan waktu hanya untuk menghubungi anak itu. Alfian, Fajar, kalau kalian sudah siap, segera turun. Aku akan keluar untuk cari makan lebih dulu,” sela Yuli, dan dia pun segera pergi keluar dari kamarnya, membiarkan dua orang laki-laki yang sedang mampir ke dalam kamarnya itu tertinggal.


Fajar yang memang sudah siap dengan penampilan dan tujuannya hari ini, hanya bisa terdiam sambil diam-diam menatap layar handphone nya, dimana dia baru saja mendapatkan pesan singkat dari Vani itu sendiri. 


//”Ok, saat kau pulang kau bisa langsung mampir ke klinikku saja. Aku hanya ada waktu luang untuk istirahat saja, jadi aku tidak bisa pergi menemuimu di tempat lain.”//


Itulah pesan yang baru saja Fajar dapatkan dari Vani. 


Mendapati dia ternyata harus menemuinya di kliniknya Vani secara langsung, Fajar pun mulai berpikir ulang.


Akankah dirinya akan benar-benar mengunjungi Vani yang dia panggil sebagai kakak?

__ADS_1


Tapi, mengingat dirinya saat ini benar-benar cukup penasaran dengan cerita yang di miliki oleh kak Vani, Fajar pun sudah memutuskan untuk menjumpai kak Vani di tempatnya.


'Dari pada rasa penasaranku ini terus mengangguku, lebih baik aku pergi saja. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Ashera ya? Kira-kira dia pergi liburan kemana?' pikir Fajar, tiba-tiba saja dirinya saat ini benar-benar memikirkan tentang kondisi dari Ashera, sebab dari kasus terakhirnya saja, dimana Dini dan Ashera sempat berkelahi, Fajar pun secara otomatis jadi penasaran dengan kondisi dari Ashera, sebab ada yang mengatakan kalau Ashera sampai di bawa Arvin secara pribadi.


__ADS_2