
"Aku apa? Katakan yang jelas, jangan di potong-potong sep-"
"Padahal sendirinya juga seperti itu," pungkas Arvin, menatap Ashera dengan lebih lekat lagi.
Ashera langsung terkesiap, padahal dia beberapa saat tadi memang saking gugupnya untuk menjawab pertanyaan dari Arvin, dia pun juga bicara setengah-setengah seperti itu.
Jadi, apakah ini yang namanya pembalasan?
"Jadi aku apa?" tanya Ashera lagi, dia menarik selimut yang sempat di tarik oleh Arvin sesaat tadi.
Mendapati pertanyaan yang sama, Arvin tiba-tiba saja sedikit memiringkan kepalanya, mengambil sedikit rambut milik Ashera yang terurai itu, menghirupnya dan mengecupnya sesaat, tatapan mata Arvin yang nampak seperti baru saja menemukan mangsanya, akhirnya langsung menjawab : "Apa kau- di saat demam pun, kau masih saja mandi dan keramas?"
"Apa?" Ashera yang terkejut kalau yang di tanyakan Arvin hanya itu saja, Ashera pun buru-buru menarik rambut miliknya dari tangannya Arvin, dan segera menghindari Arvin yang terlihat tidak ingin membiarkannya pergi. "A-aku, aku suka kebersihan,"
Jawaban yang begitu konyol.
Ketika banyak orang yang benar-benar ingin segera sembuh, dan tidak akan mandi di saat mereka merasa kalau air adalah musuh untuk tubuh mereka, sekalipun mereka bisa saja menggunakan air hangat, tapi rupanya memang benar, tidak dengan gadis ini, Ashera.
Sifatnya yang suka dengan kerapian, kebersihan, membuat gadis itu punya sisi aneh yang tidak di miliki kebanyakan orang, dimana di saat demam, pasti akan tetap mandi.
"Aku yakin, dari ribuan gadis yang banyak aku temui, kau adalah satu-satunya gadis paling aneh yang pernah aku hadapi." ungkap Arvin, lalu dia pun akhirnya menjauhkan tubuhnya dari hadapan Ashera, beranjak dari sana dan langsung berdiri. "Tapi sebaiknya hindari itu, atau sakitmu bisa lebih parah. Hindari hal yang bisa membuat orang yang paling di perhatikan oleh nenekku mendapat masalah yang lebih besar secara tidak langsung kepadaku." tambahnya lagi.
Dan setelah bicara seperti itu, Arvin pun akhirnya memunggungi Ashera dan segera masuk kedalam kamar mandi, untuk melakukan ritual pribadinya.
BRAK..!
Tidak lama setelah itu, suara deras dari air shower, langsung memudarkan lamunan Ashera yang dari tadi terus memperhatikan sikap Arvin yang benar-benar nampak tidak biasa itu.
Benar, seperti yang Ashera rasakan selama beberapa hari ini, dari pada sikap Arvin yang terakhir kali sebelum kepribadian Ashera yang satunya lagi itu bangkit, Arvin justru terlihat seperti irang yang begitu liar, ganas, tanpa bisa mengontrol ucapannya untuk menyakiti hatinya.
__ADS_1
Tapi sekarang? Ashera justru tidak begitu mendapatkan ancaman sebesar sebelumnya.
Ashera kali ini benar-benar merasakan kalau Arvin ini benar-benar berubah.
Bukan berarti berubah total, tapi lebih condong ke arah, Arvin mulai begitu memperhatikannya.
'S-sebenarnya aku harus senang atau bagaimana ini? Apa yang sebenarnya sudah kepribadianku yang satunya lagi lakukan kepada Arvin? Sampai membuat dia mulai memperhatikanku, pasti bukan karena hubungan yang biasa, ya kan?' pikir Ashera, bingung sekaligus penasaran.
___________
Sedangkan di dalam kamar mandi, Arvin yang sedang berdiri tanpa busana di bawah shower itu, hanya diam sambil menatap dinding keramik dengan tatapan paling datar.
Bagaikan air hujan yang mengguyur tempatnya secara pribadi, lamunan Arvin pun terus membawa Arvin pergi ke ingatan dari apa yang terjadi malam itu.
Malam dimana dirinya melakukan perjanjian kepada Ashera dengan kepribadian keras itu.
'Walaupun kali ini kepribadiannya sudah kembali seperti dulu, tapi bukan berarti kepribadian Ashera yang satunya lagi yang sedang tertidur itu tidak tahu apa yang di lakukan aku sekarang.
Seperti perjanjian yang terakhir kali di buat oleh mereka berdua, Arvin pun melakukan sesuai perjanjian itu.
Meskipun tidak sepenuhnya bisa melakukannya dengan benar, tapi karena Ashera terlihat begitu terkejut dengan semua yang barusan Arvin katakan, itu menandakan kalau dia akhirnya berhasil membuat Ashera tersentuh.
"Baiklah, karena sekarang Ashera sudah tahu apa yang aku lakukan hari ini dengan Vani, dan aku juga sudah menjelaskan dengan alasan untuk memperhatikan Ashera lebih baik seperti perjanjian yang aku buat denganmu, kau seharusnya sudah merasa puas, kan? Hera?" gumam Arvin, seolah dia sedang bicara dengan kepribadian Ashera yang punya nama panggilan Hera.
Lalu dia pun kembali melakukan ritual mandinya.
____________
"Kira-kira apa yang sebenarnya di lakukan oleh Arvin saat dia pergi dengan Vani ya?" gerutu Ashera. Di bawah selimut yang dia gunakan untuk menutupi seluruh tubuhnya itu, Ashera pun terus memikirkan Arvin yang mana hari ini pergi berdua bersama dengan Vani.
__ADS_1
Posisi Vani saat ini jelas adalah mantan kekasih Arvin, jadi jelas kalau Ashera terus terusik dengan wanita yang bahkan lebih dewasa dari mereka berdua, karena Vani sudah berumur lebih dari dua puluh tahun.
Perbandingan umur yang terdengar tidak cukup umum, sebab Arvin pernah berpacaran dengan kakak kelasnya sendiri.
"Vani, dia memang cantik sih. Dan apalagi yang namanya cinta pertama, tidak bisa di hilangkan begitu saja, meskipun dia mengatakan tidak akan pernah kembali pada orang yang sudah di anggap sebagai bekas." semakin memikirkannya, Ashera pun jadi semakin pusing.
Hingga, secara tidak sadar Ashera beranjak dari tempat tidur dan berjalan kembali menuju sofa yang sempat Ashera duduki beberapa waktu lalu.
BRUKK....
'Hahh, kenapa kau terus saja memikirkan dia? Mau dia dengan siapa, seharusnya tidak aku pedulikan, karena yang penting tanggung jawabnya sebagai orang yang sudah menodaiku, sudah lebih dari cukup. Tapi-' tapi sayangnya, di dalam dada yang sedang dia rasakan, terbesit keinginan luar biasa yang melebihi keinginan Ashera yang pertama, yaitu bisa mendapatkan hati Arvin yang seperti batu itu. 'Jadi cenat-cenut.' pikirnya lagi.
Lelah dengan segala hal yang berkaitan dengan Arvin juga Vani, Ashera pun lagi-lagi melemparkan handphone nya ke sudut sofa, dan segera menutup tubuhnya dengan selimut yang dia bawah dari tempat tidurnya tadi.
'Meskipun aku ingin agar Arvin lebih baik tidak berhubungan dengan perempuan lain, tapi aku sendiri juga tahu, kalau di usia 17 tahun seperti ini, mana mungkin bisa menghalangi keinginan besar dari rasa penasaran seorang remaja?
Jika dia bahkan suka dengan perempuan cantik, jelas aku juga suka dengan laki-laki tampan.
Tapi- bahkan karena orang itu ada terus di depan mataku, tentu saja aku jarang melihat ke arah laki-laki lain.
Ah, Ashera-Ashera..., bangunlah dari khayalanmu itu. Kau itu sekedar pelayan rendahan, jadi kau bahkan tidak punya hak untuk menuntut orang yang statusnya lebih tinggi darimu. Ashera, kau harus ingat itu, hanya pelayan, bahkan jika memang sudah jadi Istri, bukan berarti punya hak untuk bisa melakukannya dengan bebas.' terus dalam pikirannya yang membuat kepalanya semakin lelah untuk berpikir lagi, seiring waktu berlalu, mata Ashera pun akhirnya terpejam dengan sendirinya.
___________
Di luar kamar.
Daseon yang masih berdiri di depan kamar dari majikannya itu, hanya diam sambil terus merenung pada satu alat tes kehamilan yang Daseon punya.
Dia sebenarnya ingin memberikan barang yang sebenarnya masih ilegal untuk usia dari gadis yang ada di dalam kamar itu.
__ADS_1
Barang yang seharusnya ilegal, tapi tiba-tiba jadi legal karena satu hubungan yang sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai hubungan yang mudah, sebab antara Ashera dan majikannya sendiri berdua punya ikatan yang di awali dengan kejadian kelam.
'Tidak, jika aku memberikan ini, Ashera akan semakin tertekan. Lebih baik aku tidak usah memberikan ini dulu.' merasa berat untuk memberikan barang kecil itu kepada Istri dari Tuan yang Daseon layani, Daseon pun pada akhirnya menyimpannya kembali ke dalam saku jas miliknya, dan kemudian dia pun pergi dari sana untuk menenangkan hati dan pikirannya.