
'Kalau aku melakukannya berarti sama saja aku akan menjadi santapannya setiap malam dong.
Tapi jika aku tidak melakukannya sama saja Malam ini aku jadi santapannya? kenapa aku tidak bisa punya pilihan yang benar sih?'
Ashera pun jadi dibuat terus untuk berpikir padahal kepalanya benar-benar masih pusing
"Bagaimana tawaranku? kau mau pilih yang mana? Yang pertama atau yang kedua? Yang pertama kau harus menuruti aku, kau perlu melakukan perawatan kulit sedangkan yang kedua kau harus melakukannya denganku malam ini."
"Aku tidak mau dua-duanya. Jika aku memilih yang pertama, sama saja aku akan menjadi santapanmu dan yang kedua juga menunjuk pada peraturan yang pertama.
'Ternyata dia cerdik juga.' Arvin jadi tersenyum sendiri dia menunduk dan tiba-tiba senyuman itu berubah menjadi tawa yang lumayan menggelegar "Hahahaa kau pintar Juga ya. Tapi aku sarankan agar kau bisa memilih pilihan yang pertama.
Karena mau bagaimanapun juga kedepannya kau akan menjadi peran penting di posisimu selanjutnya setelah ini. Ibuku tidak mendapatkan posisi menjadi nyonya besar, karena nenekku masih hidup. Tapi setelah ini akulah yang akan mewariskan semua harta Ravarden.
Maaka dari itu aku sarankan kau mulai sekarang harus belajar, tapi ingat tetap rahasiakan hubungan kita berdua dari semua orang." tutur Arvin seraya menjelaskannya dengan nada berbisik tepat di samping telinganya Ashera yang kini Ashera sedang menundukkan kepalanya.
"Anggukan kepalamu jika kau paham."
Ashera yang tahu kalau arah pembicaraannya saat ini begitu serius, dia pun jadinya terdiam. Dia menyimaknya dengan sangat baik dan mencoba untuk meresapinya kalau dirinya saat ini sudah bukan lagi seorang pelayan melainkan sudah menjadi istrinya Arvin.
Maka dari itu Ashera pun menganggukkan kepalanya, mau bagaimanapun dia memang harus menuruti apa yang dikatakan oleh Alvin, karena anak ini lebih tahu daripada dirinya yang merupakan seorang mantan pelayan, atau bahkan sebenarnya akan jadi pelayannya, kaena dirinya harus sering melayani anak ini setiap malam.
"Iya iya aku mengerti."
Tersenyum puas mendengar jawaban dari Ashera, Arvin pun mengecup bibirnya Ashera, dan Ashera sendiri langsung terhenyak karena kaget kenapa pria ini tiba-tiba mau menciumnya?
"Kalau begitu sekarang pilih-pilihanmu nomor 1 atau nomor 2?"
"Nomor satu saja." Arvin semakin tersenyum lebar karena benar-benar mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan
"Pilihan yang bagus Ashera, besok kau akan mulai melakukan perawatan kulit di tempat yang aku rekomendasikan."
Ashera lagi-lagi menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban. Dan saat itu pula Arvin langsung mengusap ujung kepalanya ashera, membuat sebagian besar rambutnya langsung berantakan seperti rambut singa. Tapi Ashera sendiri tidak melakukan perlawanan karena entah mengapa dia merasa cukup senang dengan perlakuan itu.
"Tapi sebagai gantinya malam ini kau harus tidur denganku." Imbuhnya dengan senyuman liciknya.
"Aku bilang tidak mau," Ashera langsung mencoba untuk turun dari atas meja makan tersebut. Namun Arvin justru lebih dulu langsung menangkap tubuh Ashera dan membantunya pergi naik ke lantai 2.
Ashera mencoba memberontak, tapi sayangnya seperti yang sudah diperkirakan antara tenaga dirinya dengan tenaga yang dimiliki Arvin benar-benar jauh berbeda, jadi usahanya pun tetap saja sia-sia.
__ADS_1
_______
Beberapa hari setelah libur panjang
Dan di hari itu pula sebuah papan pengumuman memberitakan hasil dari ujian mereka semua dalam bentuk peringkat.
Karena itu pula semua murid yang baru saja datang, seketika langsung berkumpul untuk mencari namanya sendiri apakah ada di papan pengumuman itu atau tidak Dan jika ia Mereka ingin tahu berada di urutan berapa
"Wih Arliana, kok lumayan juga ya bisa berada di peringkat 10 besar." puji salah satu temannya Arliana.
"Huhuhu tentu saja dong. Aku kan anak yang pintar setidaknya harus masuk 10 besar. Walaupun sebenarnya peringkat seperti itu tidaklah berguna karena masa depanku memang sudah ditentukan jadi mau aku berada di peringkat berapa sebenarnya sudah tidak dipermasalahkan lagi oleh kedua orang tuaku." jawab Arliana dengan percaya diri yang tinggi
Tapi meskipun meskipun begitu, masih banyak dari mereka yang mengagumi dengan kepintaran Arliana.
"Lidya juga hebat bisa-bisanya kau menempati peringkat lima. Ternyata kau memiliki bakat terpendam ya? Padahal aku tidak pernah melihatmu belajar, tapi selalu mendapatkan peringkat tinggi seperti itu." salah satu temannya Lidya pun memujinya.
Namun tidak seperti teman-temannya yang nampak senang dengan peringkat yang diperoleh oleh Lidya, Lidya justru terlihat biasa-biasa saja. Mungkin karena dia memang anak yang pintar dan sering mendapatkan peringkat tinggi seperti itu maka dari itu Lidya tidak memperlihatkan ekspresi antara senang sedih atau apapun itu.
Dia sudah terlalu biasa untuk mendapatkan peringkat tersebut.
'Kenapa aku tidak bisa berada di peringkat 3 atau 2 bahkan lampau Arvin sih?' pikir Lidya dia sebenarnya terus melihat ke satu nama yang berada di peringkat pertama yaitu Arvin.
"posisimu lumayan juga." Puji Alfian.
Alfian pun mencoba meminjam teropong milik Fajar untuk melihat dirinya berada di peringkat berapa. Dan setelah ditelusuri dari sekian banyak nama yang terpampang di papan nama, Alfian pun melihat dirinya berada di tingkat nomor 49 sedangkan Yuli berada di peringkat nomor 8.
"Ya ampun Kenapa perbandingan antara peringat aku dan Yuli sangat jauh sih" ucap Alfian pada dirinya sendiri, dia benar-benar sangat malu karena kekasihnya mendapatkan peringkat nomor 8. "Oh ya kira-kira Ashera mendapatkan peringkat berapa ya?" Alfian pun mulai mencari nama dari gadis tersebut dan rupanya berada di dua puluh. "Yah dia malah jauh lebih pintar dari aku dan Arvin tidak usah ditanya lagi, dia malah dapat nomor satu."
Alfian pun merasa iri kepada teman-temannya itu. ketika rekan-rekannya mendapatkan peringkat yang bagus tapi dirinya malah berada di peringkat nomor yang sangat jauh itu sungguh menjengkelkan.
BRUK
"Apakah kau jalan tidak pakai mata?" kata Arvin dengan sarkas kepada orang yang baru saja menabraknya. Bahkan gara-gara itu juga pakaiannya pun jadi kotor karena mendapatkan tumpahan kopi yang dibawa oleh anak tersebut.
"M-maaf, maaf Arvin aku tidak sengaja." ucapkan anak laki-laki ini dengan gugup karena orang yang baru saja dia singgung adalah ketua dari seksi keamanan dan sama saja dia seperti sedang menghadapi preman sekolah.
"Memangnya maaf saja cukup ya? Kau bahkan sudah menodai seragam dan sepatuku. Lihat apa aku pantas berada di sini dengan pakaian dan penampilan seperti ini?"
Pertanyaannya itu langsung dijawab dengan sebuah gelengan dari anak yang saat ini terjatuh dalam posisi seperti orang sedang berlutut, padahal posisi itu adalah karena kesalahannya sendiri. Tapi mau dilihat dari manapun Arvin memang jadi terlihat seperti sedang menghukum si tersangka dengan cara harus berlutut di hadapannya.
__ADS_1
"lihat dia Arvin lagi-lagi membully anak lagi."
"Apa sikap kasarnya tidak bisa dirubah? Dia selalu saja mengintimidasi orang yang terlihat lemah."
"Aku pikir suatu hari nanti jika Arvin mendapatkan masalah, tidak akan ada banyak orang yang akan menolongnya karena lihatlah, sifatnya saja sangat urak-urakan. Siapa juga yang mau dekat dengannya?"
Bisikan demi bisikan terdengar dan masuk ke dalam Indra pendengarannya.
Walaupun terdengar cukup menyebalkan, tapi apa yang dikatakan mereka memang ada benarnya dirinya terlihat menakutkan.
Tapi apa yang terlintas itu berlaku kepada Ashera juga?
"Jika kalian ingin bicara denganku, bicaralah sekarang juga. Tidak usah berbisik-bisik seperti itu, aku cukup membencinya" dan teguran dari Arvin berhasil membuat mereka semua terhenyak tidak ada satupun dari mereka yang berani bicara lagi.
"Dia seperti pawang ya? Aku baru menyadarinya."
Mendengar ucapan tersebut Arvin, langsung menoleh ke arah kanan di mana di sebelah kanannya ada ruang kelas dan rupanya di dalam kelas ada 1 orang yang sedang mengintip ke arahnya.
Arvin langsung menyipitkan matanya, mencoba menebak orang yang barusan bicara seperti itu.
"Hei apa yang kau lakukan?" Arvin langsung mengalihkan perhatiannya yang tadinya ke arah kelas jadi kembali ke arah anak yang baru saja menabraknya, dan anak tersebut sekarang malah sedang mencoba mengeringkan sepatu serta blazer yang dipakai oleh Arvin dengan menggunakan tisu.
"Maaf aku hanya ingin mengeringkan seragam dan sepatumu yang basah ini,"
Merasa jengkel dengan perilaku anak tersebut, Arvin langsung jongkok dan menempatkan tangan kanannya di bahu kiri anak tersebut sambil berbicara : "Kalau kau memang mau minta maaf kepadaku, kau seharusnya menggunakan otak juga. Sepatuku basah dan blazer ku basah. Kira-kira apakah tisu ini bisa mengeringkan sepatu dan juga blazerku?"
Menyadari kesalahannya sendiri, anak tersebut langsung menunduk dan menjawab, "Aku akan mengganti seragammu dengan yang baru."
"Tidak perlu, aku tidak butuh seragam baru. Untuk apa punya seragam banyak-banyak. Yang bisa kau lakukan sekarang adalah mencuci blazer ku dan keringkan sekarang juga," satu perintah langsung diberikan kepada anak tersebut.
Maka dari itu Arvin segera melepaskan Blezernya dan langsung melemparnya ke arah anak tersebut.
BRUK…..
"Aku tunggu blazernya sampai batas waktu jam istirahat ke tiga." yang artinya sampai jam makan siang ke dua, sekitar jam dua.
Kemudian Arvin pun pergi dari sana meninggalkan mereka yang masih saja terfokus kepadanya.
Tap....Tap....Tap....
__ADS_1
Arvin pun kemudian melangkah pergi dengan langkah kaki yang cukup santai, lalu di setiap jalan yang dia lewati, beberapa anak buahnya pun langsung mengikutinya di belakang karena jadwal rutin dari seksi keamanan adalah untuk berkumpul lalu berdiskusi soal permasalahan yang bisa mereka temui.