Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
198 : Harian


__ADS_3

"Eh, kelihatannya masa skors dia sudah habis."


"Iya, tuh. Yah, ketenangan di kelas kita sepertinya akan berakhir saat ini juga."


"Lihat dia, perempuan tidak tahu diri, kenapa dia harus kembali ke kelas kita sih? Seharusnya dia kan pindah kelas saja."


Satu per satu, teman sekelas Dini mulai mencibir Dini secara terang-terangan, begitu Dini rupanya sudah berada di dalam kelas dan bahkan sedang duduk diam dengan begitu santainya.


'Gara-gara aku kena hukuman skors, mereka sudah jadi tidak lagi menganggapku. Dasar, ini menyebalkan.' pikir Dini. Selesai menjalankan skors kurang lebih satu bulan, Dini akhirnya kembali ke kelas.


Tapi tidak seperti dulu, dimana dia pasti akan jadi pusat perhatian, dan bahkan banyak yang mendekatinya. Sedangkan sekarang, justru tidak sama sekali.


Banyak dari mereka yang sudah menjauhinya, karena ketahuan menyerang, mencuri, dan beberapa diantara lainnya, berkat bukti-bukti yang di terima oleh guru BK dari seseorang yang Dini tidak ketahui siapa pelaku, yang berani membongkar kenakalannya itu.


"Ashera, kau setelah ini mau pergi kemana?" tanya salah satu teman Lidya.


Setelah kejadian waktu itu, dan selepas Dini tidak ada, semua kelas jadi aman terkendali tanpa adanya keributan, yang biasanya di ketuai oleh Dini.


"Pulang- aku harus melayani majikanku."


"Memangnya sebenarnya siapa sih majikanmu itu"


Tidak hanya satu atau dua orang saja yang penasaran. Meskipun tahu kalau Ashera adalah seorang pelayan, akan tetapi diantara mereka ada yang tidak memperdulikannya, tapi ada juga yang memperdulikannya, namun lebih memilih diam, karena jika membuat keributan, sama saja dengan membuang waktu berharga mereka.


"Iya, aku juga penasaran." sahut lagi yang lainnya.


'Tidak melihatnya dalam dua minggu ini, dia sudah berubah saja. Apa iya, dia seorang pelayan, sebenarnya gajinya sebanyak apa, sampai dia punya kesempatan sekolah di sini dan perawatan tubuh seperti itu?


Apalagi-' ketika Dini melihat ke arah para kawanan laki-laki, banyak dari mereka yang juga melirik ke arah Ashera. 'Aku jadi ingin mencabik-cabik wajahnya yang sok- cantik itu.' pikir Dini lagi, merasa iri.


Sedangkan kakaknya Dini yang duduk di ujung kelas, hanya menatap sorotan mata milik adiknya yang di penuhi dengan kebencian.


_______________


"Arvin! Tunggu-tunggu dulu~" Alfian tiba-tiba saja menghentikan Arvin yang sedang jalan sendirian di koridor itu dengan begitu tergesa-gesa.


"Ada apa?" dengan salah satu alis terangkat.


"Aku-" melirik ke arah kanan dan kiri, Alfian pun menarik tangannya Arvin ke bawah agar anak ini bisa lebih membungkukkan tubuhnya. "Aku pinjam uang-"


KRAKK....

__ADS_1


Botol kaleng yang Arvin pegang dan sudah kosong itu, langsung Arvin remas sekuat tenaga, dan melemparnya ke arah tong sampah yang ada di belakangnya persis tapa perlu menoleh ke belakang.


KLANG...


"Kau menghentikanku hanya untuk itu?" matanya semakin menyipit, memberikan tatapan penuh selidik kepada Alfian.


"Ada lagi-" Alfian dengan jahilnya kembali menarik tangannya Arvin, dan berbisik di samping telinganya Arvin. "Aku dan Yuli akan bertunangan minggu depan."


"Ya lalu apa hubungannya denganku?" tanyanya lagi.


"Kau dan Ashera, mau kan jadi saksinya? Tempatnya di rumahku,"


'Sebentar, kenapa anak ini tiba-tiba saja mengajak Ashera pergi juga?' Arvin memberikan tatapan penuh selidik. "Apa kau kekurangan teman sampai mengajakku dan juga dia?" Arvin yang sedikit tidak nyaman dengan posisinya, langsung menarik tangannya dari cengkraman tangannya Alfian, dan langsung berkacak pinggang. "Toh ada kakakmu juga, kenapa harus aku?"


"Kau kan teman dekatku~ Dan Ashera, Yuli ingin bisa lebih dekat lagi dengannya, jadi dia memang sengaja mengundangnya." bisik Alfian dengan wajah gembira.


'Dia menganggapku teman? Padahal aku sering membentaknya, apa dia ini bodoh?' kernyit Arvin. "Tidak ada yang gratis loh di dunia ini, kau mau memberikanku apa nanti?"


"Uang~"


"Aku bosan uang~" Arvin menolaknya dengan cepat.


Arvin langsung mendelik tajam ke arah Alfian. Alfian yang di tatap begitu tajam seperti itu, merasa merinding sendiri, dan berpikir kalau tawarannya akan benar-benar di tolak.


PLAK....


Dengan wajah seriusnya, Arvin menepuk salah satu bahunya Alfian, lalu menjawab : "Aku-"


'Dia kenapa? Apa dia mau menolaknya?' pikir Fian.


"Akan datang." selesai mengatakan hal tersebut kepada Fian, Arvin pun menepuk-nepuk bahunya Fian dan pergi dari sana.


'Hmm?Aku tidak salah dengar kan? Dia bahkan tidak menyangkal apa yang aku ucapkan.' Fian pun membelalakkan matanya. 'Semoga tidak ada yang mendengarnya. Tapi dia benar-benar orang yang bebas. Memangnya dia akan menggunakannya semua?' pikir Fian. Dia pun kembali ke kelasnya.


___________


CESS....


Suara dari masakan yang sedang di masak, langsung mengisi keheningan di dalam rumah itu.


'Nasi goreng, sebentar lagi jadi. Sudah berapa lama ya aku tidak makan nasi goreng.?' begitu Ashera sedang masak, di jam enam sore itu, tiba-tiba saja pintu rumah terbuka.

__ADS_1


klek....


'Arvin pulang?' Ashera yang tidak mau membuat masakannya gosong, lantas tidak menggubris kepulangan dari anak itu.


Namun, juga mau membalikkan nasinya lagi, Ashera mendengar suara yang sedikit keras.


Sebuah barang yang tiba-tiba saja di lempar ke arah meja makan.


PRAKK...


Ashera menoleh ke belakang, dan Arvin yang hendak bicara, langsung beradu kata.


"Kau masak nasi goreng?"


"Itu- kau dapat dari mana dan untuk apa?"


Tanya mereka berdua secara bersamaan, Arvin dan Ashera pun saling pandang satu sama lain.


Tapi karena di tatap serius oleh Arvin, Ashera lebih dulu menjawabnya. "Iya, aku masak nasi goreng. Nasi goreng yang pernah kau buang, tidak akan pernah lagi kau makan. Ini hanya untukku saja."


"Ternyata, kau bahkan masih ingat dengan itu." salah satu sudut bibirnya pun naik ke atas, dan membentuk bulan sabit yang memuakkan. "Dan apa yang aku bawa pulang itu, adalah imbalan dari Fian untukku, jika kau tanya untuk apa?-" Arvin dengan sengaja menggantungkan kalimatnya, langkah kakinya maju satu langkah ke depan.


Dengan tangan kirinya yang mengambil satu kotak tersebut, Arvin menghampiri Ashera yang sudah mulai merasa terancam.


"Ini untuk makan malam kita berdua sebelum kau makan malam masakan nasi gorengmu sendiri." bisik Arvin tepat di depan wajah Ashera yang sudah bengong itu.


"Tidak-" Ashera langsung menggunakan kedua tangannya untuk melindungi daerah kewanitaannya. "Sudah cukup Arvin, kau jangan terlalu terbawa suasana oleh naf*sumu sendiri. Jangan mentang-mentang karena kita berdua sudah menikah, kau terus seperti ini kepadaku."


"Tapi bukannya~" tangan kanan Arvin lantas mendarat di tepi meja, menjadikannya tumpuan, Arvin semakin mendekatkan wajahnya ke hadapannya Ashera. "Kau dulu yang memintaku untuk lebih dulu bertanggungjawab kepadamu? Lantas tugasmu hanya menurutiku saja, jangan menolak. Kau bahkan tidak berhasil membuat semua debu di dalam otakku ini bersih." ancam Arvin.


"Jika kau mengatakan kepada dokter, paling tidak satu minggu itu dua atau tiga kali saja. Tapi kau- aku di sekolah sering kelelahan karenamu, jangan terus paksa aku." Ashera yang merasa lelah karena terus di perlakukan seperti seorang budak se*s, langsung berjongkok, dia sangat lelah, bahkan untuk ikut olahraga saja tidak berani karena takut pingsan.


Arvin yang terdiam, langsung melemparkan satu kotak alat kontrasepsi itu ke kepalanya Ashera, "Kau sama sekali tidak menyenangkan, apa-apa harus aku berikan pelajaran dulu,"


Dan langsung berjalan pergi dari sana, atau tepatnya, baru juga pulang dari sekolah, dia langsung pergi keluar lagi.


BRAK....


Ashera yang terkejut itu, langsung memungut kotak tersebut dan segera melemparnya ke sembarangan arah.


'Tetap saja begitu, kau sama sekali tidak ada perubahan. Bahkan tidak tahu mana batasanmu.' pikir Ashera.

__ADS_1


__ADS_2