
Pagi itu terlihat tidak seperti biasanya, dimana Ashera biasanya akan terlihat dengan jelas di depan matanya begitu Arvin membuka matanya, karena kebiasaan yang tidak bisa di hilangkan oleh Ashera baik itu di kepribadian normal ataupun ketika kepribadian ganda nya datang adalah selalu duduk sambil mencari-cari ikat rambut yang bisanya hilang tanpa di sadarinya, kini hal itu tidak terlihat adanya tanda-tanda dari keberadaan gadis belia itu.
"Hoammhh, apa dia sudah bangun lebih dulu dan pergi masak?" gumam Arvin sambil mengusap wajah tampannya dengan cukup kasar.
Sambil menggaruk belakang kepalanya yang cukup gatal itu, Arvin pun menguap lebar dan segera mencari-cari handphone nya, dimana terakhir kali dia letakkan dia memang meletakkannya di samping bantalnya persis.
Tapi di detik itulah, saat tangan kirinya terus meraba permukaan tempat tidurnya itu, begitu dia merasakan adanya daging yang begitu lembut itu tertangkap dengan sangat cepat, Arvin sontak langsung melirik ke arah samping kirinya.
"Ehmm...," suara lenguhan tak jelas itu seketika itu juga menguasai pikiran Arvin detik itu pula.
Suara lenguhan yang berasal dari Ashera?
'Kenapa aku merasa kalau tangan yang aku pegang ini terasa lebih lembut dari pada yang kemarin?' pikir Arvin, bahwa tangannya yang cukup sensitif dalam segala sentuhan yang dia lakukan, memang merasakan adanya sensasi aneh terhadap kulit Ashera yang samar-samar indera penciumannya itu merasakan aroma dari bunga wisteria juga.
Itu bukan sekedar aroma parfum ataupun sabun biasa, karena ia kenal dengan aroma tersebut.
Tapi, lebih dari sekedar apa yang dia rasakan kali ini, sebab Ashera ternyata tertidur di sampingnya persis itu adalah dari pakaian yang dikenakan oleh Ashera itu sendiri.
'Aku pikir dia malam tadi hanya memakai rok dan kaos saja, tapi ini, bukannya ini yang namanya menggoda pria? Sejak kapan Ashera ganti pakaian dengan lingerie yang di belikan Luna waktu itu?' kata hati Arvin.
Karena merasa curiga kalau perempuan yang ada disampingnya persis itu adalah Ashera, Arvin pun spontan langsung menatap wajah Ashera dengan cukup teliti.
__ADS_1
"Heh~ Lihat ini, kira-kira apa yang membuat kau berubah pikiran untuk menggodaku?" ucap Arvin tepat di depan wajah Ashera yang nampak begitu tenang, saat bisa tertidur di sisinya, bahkan dengan salah satu kaki Ashera yang rupanya mendarat di atas kakinya Arvin. "Kau dengan sengaja memakai warna hitam, apa ini yang namanya strategi tidak mau tapi sebenarnya mau?" imbuhnya lagi.
"Hmm..?" Ashera yang merasa terganggu dengan suara milik Arvin yang langsung menyentuh saklar jutaan sel-sel di dalam otaknya, hal itu pun membuat Ashera akhirnya membuka matanya dengan perlahan. "Kenapa kau ada di depanku?"
"Karena posisimu sendiri memang berada di depan depan mataku, apakah itu salah jika aku melihatmu di depanku seperti ini?"
'Aneh, padahal sofa sempit seperti itu kenapa aku merasa cukup nyaman untuk tidur berdua dengan Arvin?' pikirannya yang masih belum menyadari dengan keberadaan dari dirinya yang sebenarnya sudah pindah tempat ke tempat tidur yang di gunakan Arvin, akhirnya menyeret Ashera untuk mencoba meregangkan tubuhnya. Dan di saat itulah, salah satu kakinya tiba-tiba merasakan sentuhan kulit yang cukup nyata. "Ini apa? Kenapa lututku-"
Ashera yang kehabisan suara untuk bertanya dengan gamblang kepada Arvin, seketika itu dia langsung memilih untuk diam.
"Kenapa kau diam? Padahal lututmu itu baru saja menyapaku dengan cara lain," ledek Arvin, sambil bergaya santai, karena dia cukup menikmati pemandangan dari gadis di sampingnya itu yang nampak cukup kebingungan dengan situasi nya sendiri.
WUSHH~
"Lah, kau sendiri yang datang kepadaku dengan pakaian seksi seperti itu, kenapa tanya aku? Atau kau sedang modus berpura-pura tidak tahu ya?" sahut Arvin, dengan santainya dia pun menekan-nekan pusar Ashera yang terlihat sangat jelas itu.
"...!" Ashera pun kembali mengintip tubuhnya sendiri, malu dengan penampilannya itu, Ashera pun langsung menarik semua selimut yang ada itu untuk membalut tubuhnya sendiri. 'Bagaimana aku bisa ganti pakaian dengan pakaian seperti ini? Ini- memalukan, dia bahkan sampai mengira kalau aku ini sedang modus, padahal kenyataannya saja aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi kepadaku.
Mau seberapa banyak aku menjawab dengan jawabanku sendiri yang benar, dia pasti tidak akan percaya semudah itu.'
"Kenapa kau menutupinya segala? Lepas itu, kau kan sudah terlanjur memperlihatkannya kepadaku, apa kau mau menarik ulur denganku?" Arvin yang merasa tertantang dengan sikap Ashera yang begitu malu-malu itu, membuat Arvin segera menarik selimut yang sempat di rebut itu dengan kuat.
__ADS_1
"Arvin, ini dingin, jangan rebut selimutku!"' protes Ashera, dia benar-benar merasa kalau tubuhnya cukup dingin.
"'Tapi kan kau sendiri yang mancing aku, kenapa pelit? Aku suruh buka ya buka, apa kau tidak tahu bahasa manusia?" merebut kembali selimut yang sempat Ashera rebut lagi tadi.
"Kau ini maksa sekali, aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa ganti pakaian."
Arvin yang tidak punya kesabaran sama sekali itu, dengan kasar langsung menarik sepenuhnya selimut itu dari tubuhnya Ashera dan segera membuangnya jauh-jauh.
"Arvin!" pekik Ashera, dia pun segera turun dari tempat tidurnya, tapi belum juga menurunkan salah satu kakinya itu ke lantai, Ashera seketika langsung di tarik dan di seret agar kembali ke tengah tempat tidur. "Kyaa...!" teriak Ashera, terkejut dengan sikap Arvin yang tiba-tiba saja jadi ganas.
"Ashera, dengar-"
"Tidak! Lepaskan aku!" ronta Ashera dengan penuh semangat, tentu saja demi bisa pergi dari sisi Arvin ini, dia harus segera melepaskan dirinya dari tangan anak tersebut.
"Tunggu sebentar, aku ingin memastikan sesuatu lebih dulu," ucap Arvin dengan kalimat absurd yang bisa langsung Ashera pahami apa artinya itu.
"Memastikan apa? Lepas- lepaskan aku, aku tidak ingin melakukan itu denganmu," racau Ashera.
Arvin yang sudah cukup malas mendengar segala alasan yang keluar dari mulutnya Ashera, Arvin segera melingkarkan lengan tangan kanannya di depan perutnya Ashera, dan langsung menarik tubuhnya agar masuk kedalam pelukannya.
"Makannya diam dulu, jangan panikan terus kenapa? Kalau kau banyak bergerak seperti ini terus, detik berikutnya aku pastikan kalau kau akan habis di tanganku," sahut Arvin dengan segala ancaman yang bisa dia katakan kepada Ashera agar bisa lebih tenang dan tidak terus memberontak kepadanya.
__ADS_1
"T-tapi ucapanmu sangat absurd, siapa yang akan percaya dengan perkataanmu itu?" balas Ashera dengan perasaan yang sudah tidak karuan ingin segera pergi dari sana, karena begitu merasakan tangan kekar Arvin terus menyentuh perutnya saja, sudah berhasil memporak porandakan akal sehatnya, apalagi sudah merasa cemas dengan apa yang akan di lakukan oleh Arvin ini?